Runaway

Runaway
Chapter 16 - Menyadari


__ADS_3

Chapter 16


Menyadari


Novel ini adalah fiksi.


Peristiwa, tokoh, karakter, tempat dan lokasi yang digambarkan dalam novel ini hanyalah fiksi semata.


Adanya kemiripan dengan peristiwa, tokoh, karakter, tempat dan lokasi yang ada di dunia nyata hanyalah kebetulan semata.


Pada dasarnya Rasti adalah gadis yang baik. Pada malam itu ia terlebih dulu mengantarkan Ling Hua ke kamarnya, setelahnya ia membantu Ruanindya berbaring di dalam pondok lalu menyelimutinya agar gadis ayu itu tidak kedinginan.


Rasti sangat tahu kalau Ruanindya adalah saingan cintanya, akan tetapi tidak sedikit pun ia membenci Ruanindya apalagi berniat mencelakainya.


Baru lah setelah itu Rasti memapah tubuh besar Gantara dengan susah payah kedalam kamarnya yang ada di rumah Ling Hua.


Pagi itu Gantara membuka matanya perlahan, pendekar tampan itu mengerang lalu memegang kepalanya yang terasa pening.


Sang panglima duduk kemudian mengatur nafasnya berusaha mengumpulkan kesadarannya. Ketika pandangan matanya yang semula buram perlahan menjadi jelas, ia mengitarkan pandangannya untuk melihat sekeliling ruangan. Ruangan ini jelas bukan kamar dari pondok kecil yang ia tinggali bersama Ruanindya.


Begitu pandangan Gantara jatuh pada orang yang berbaring di sampingnya, matanya terbelalak lebar. Ia mendapati Rasti yang masih tertidur dengan tubuh polos penuh tanda kemerahan.


Mata Gantara memerah karena amarah, dengan cepat ia menggerakan tangannya dan mencekik leher Rasti dengan kuat.


Rasti yang tengah tertidur dan mendapatkan cekikan tiba-tiba di lehernya segera terbangun dengan paksa. Ia dengan reflek memegang tangan yang tengah mencengkram lehernya kuat-kuat. Gadis itu meronta karena kesulitan bernafas, "Kkhh!"


"Apa yang telah kau lakukan padaku?!" Gantara mendesis marah. Dalam ingatan samarnya, semalam ia bercumbu dengan Ruanindya lalu bagaimana bisa dipagi hari orang itu berubah menjadi Rasti. Jelas ada yang tidak beres telah terjadi.


"K-kau ma-buk," Rasti berkata dengan susah payah, wajahnya sudah terlihat merah keunguan akibat cekikan Gantara yang memutus pasokan oksigen ke paru-parunya.


Rasti sadar konsekuensi akan perbuatannya, Gantara akan marah atau yang terburuk pendekar tampan itu akan membunuhnya.


Menyadari dirinya juga dalam keadaan telanjang bulat, Gantara segera melapaskan cekikannya pada leher Rasti. Ia segera mengumpulkan pakaiannya yang berserakan dan mulai mengenakannya kembali.


Dalam hatinya Gantara tidak henti-hentinya mengutuk dirinya sendiri.


Bagaimana hal ini bisa terjadi?


Alkohol.


Mungkin itu adalah jawabannya.


Tadi malam memang bukan pertama kalinya Gantara meminum arak, akan tetapi ia tidak pernah meminum minuman keras seperti itu lagi semenjak ketika pertama kalinya ia mencicipi dan tahu bahwa tubuhnya kurang menoleransi alkohol jadi ia akan cepat mabuk sekalipun hanya meminumnya sedikit.

__ADS_1


Tubuhnya yang semakin kuat, ilmu beladiri, dan ilmu kanuragan yang tinggi bahkan tenaga dalamnya yang besar tidak mampu membuat tubuhnya menoleransi alkohol. Itu seperti alergi yang susah disembuhkan. Seperti harga mati yang diciptakan Sang Maha Kuasa untuk menjadi kelemahan dalam dirinya. Bukan kah tidak ada yang sempurna di dunia ini kecuali Yang Maha Kuasa?


Gantara pernah mengeluhkan hal itu pada gurunya, dan Empu Indrayana hanya tertawa dan mengatakan, "Sekuat apa pun dirimu tapi kau tetap lah manusia biasa, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini dan setiap manusia punya kelemahan. Contohnya diriku sendiri, pernapasanku kuat tapi setiap menghirup serbuk bunga aku tetap akan bersin-bersin tanpa henti karena tubuhku tetap tidak bisa menoleransi serbuk bunga sekalipun aku melatih pernapasanku dengan baik. Ingat anakku, sebaik-baiknya tupai melompat pasti akan jatuh juga, tapi kau bisa menghindari hal yang bisa membuatmu menjadi tupai yang jatuh, ya alkohol itu. Hindari dan rahasiakan kelemahanmu," pada saat itu Empu Indrayana menasehatinya dengan kekehan kecilnya lalu mencibir muridnya dengan nada bercanda, "Kelemahan itu harusnya ya harta, takhta atau wanita, kenapa harus alkohol? hahaha.." lelaki tua itu tertawa terbahak-bahak. Menertawai muridnya --yang sudah seperti anaknya--, dan melupakan fakta bahwa dirinya juga alergi dan lemah terhadap hal sepele seperti serbuk bunga.


Pesta selalu identik dengan minuman keras, wanita, dan kesenangan, itu sebabnya Gantara tidak menyukai pesta. Pesta akan membuat orang-orang lupa dan terlena juga menurunkan kewaspadaan terlebih minuman yang dapat membuat mabuk.


Dalam setiap perjamuan ataupun perayaan atas kemenangan perang, Gantara selalu menolak untuk ikut minum arak maupun tuak karena ia tidak mau kesadarannya hilang dan kewasapaannya turun. Tapi semalam karena melihat wajah Ruanindya yang bahagia memintanya minum, ia melupakan pantangannya dan meminum arak dari cangkir bambu yang Ruanindya sodorkan ke bibirnya. Ia selalu akan kesulitan menolak permintaan sang putri.


Ruanindya...putri manja itu sanggup membuat Panglima sepertinya kacau balau.


Ia baru menyadari, selain alkohol ternyata kelemahan fatal dirinya adalah Ruanindya.


Rasti memandang punggung Gantara yang tengah mengenakan pakaiannya. Ia menunduk sedih dan takut lalu ikut memunguti kemudian mengenakan pakaiannya sendiri. Gadis mungil itu merasa bersalah sudah menggunakan afrodisiak pada Gantara, akan tetapi ia tidak merasa menyesal.


Ia tahu bahwa hati Gantara sejak awal adalah milik Ruanindya, dan gadis sepertinya tidak akan mampu merebut hati sang pendekar. Ruanindya adalah pemenang mutlak atas Gantara. Oleh sebab itu, walaupun kesadaran Gantara kabur, sekalipun pendekar tampan itu menganggap dirinya sebagai Ruanindya, meskipun cintanya tak akan pernah terbalas, Rasti tetap merasa senang sudah bisa merasakan kehangatan pendekar tampan itu dan memilikinya walau hanya semalam.


"Kakang... maafkan aku... aku tidak akan berbicara apa pun tentang hal ini. Kau... kau bisa menganggap ini tidak pernah terjadi," Rasti berbicara lirih dengan rasa sakit di hatinya. Biar lah kejadian indah tadi malam akan menjadi rahasia mereka berdua yang akan tersimpan rapat bahkan sekalipun tidak akan dikenang oleh Gantara. Dan tentang afrodisiak, itu akan menjadi rahasianya sendiri yang akan ia simpan mati.


Berbicara tentang Afrodisiak, Afrodisiak milik Ling Hua adalah Afrodisiak kualitas terbaik yang biasa digunakan oleh kaisar-kaisar China. Afrodisiak yang memiliki efek yang kuat, namun tidak memiliki rasa, aroma, ataupun warna. Bahkan pendekar sesakti Gantara tidak akan mampu mengetahui keberadaan afrodisiak di dalam minumannya, terlebih itu dimasukan kedalam arak yang memiliki aroma kuat. Bahkan mungkin tabib hebat seperti Ling Hua sendiri tidak akan mengetahui keberadaan Afrodisiak di dalam minumannya kalau berada diposisi Gantara saat itu.


Rasti, gadis itu tidak memiliki kehidupan yang baik sejak kecil. Ayahnya sudah meninggal ketika ia masih bayi. Lalu ketika ia masih belia, Rasti sering melihat ibunya diperlakukan dengan kasar oleh orang-orang hingga jatuh sakit, meskipun begitu ibunya tetap membanting tulang untuk menghidupinya. Setelah sakit-sakitan cukup lama akhirnya ibu Rasti tidak bisa bertahan dan meninggal dunia.


Ia sendiri hampir mati kelaparan ketika Ling Hua tanpa sengaja menemukannya lalu mengobati Rasti hingga sembuh dan menjadikannya asisten sekaligus murid, baru lah kehidupnya menjadi lebih baik. 


Gantara menghela nafas dalam, ia tidak harus terus menerus marah seperti seorang gadis perawan yang baru saja diperkosa. Gantara membalikan tubuhnya dan menatap Rasti, kemarahan di matanya sudah terlihat jauh berkurang, di sana kini terlihat rasa bersalah yang tesirat jelas. Gantara menganggap kejadian ini juga adalah kesalahannya karena terjadi saat ia mabuk, "Aku minta maaf untuk apa pun yang terjadi semalam. Aku tidak bermaksud melakukannya. Aku mabuk. Tetapi kalau terjadi sesuatu padamu, aku akan bertanggung jawab."


Ketika Gantara akan beranjak pergi meninggalkan ruangan, Rasti memegang pergelangan tangan pendekar tampan itu, "Ini sepenuhnya salahku, jangan merasa bersalah. Jangan merasa kau telah mengkhianati nona Rua," Rasti menarik nafas lalu diam sejenak dan mengingat kejadian semalam, "Aku tidak akan meminta apa pun. Semalam kau terus menyebut nama Ruanindya, dari situ aku tahu bahwa hati dan tubuhmu sepenuhnya milik Nona Rua."


Gantara tertegun mendengar apa yang Rasti katakan, memang benar semalam di matanya yang ia lihat adalah sosok Ruanindya bukan Rasti.


Setiap gairah yang mengalir, setiap gerakannya, setiap hembusan nafasnya, seolah seluruh dunianya berputar dan hanya terpusat pada satu nama...


...Ruanindya.


Kejadian memalukan ini dan gadis desa di hadapannya itu telah membuat Gantara sepenuhnya menyadari dan menyakini perasaannya pada Ruanindya tanpa ada keraguan lagi.


Hanya Ruanindya Galuh Winarang yang ia inginkan dan mampu mengisi hatinya.


Gantara melepaskan genggaman tangan Rasti pada pergelangan tangannya lalu menepuk kepala gadis bertubuh mungil itu dengan lembut kemudian pergi tanpa mengatakan apa pun lagi.


Begitu Gantara memasuki pondok kecil, Ruanindya baru saja terbangun.


"Kau baik-baik saja?"

__ADS_1


Ruanindya memegang kepalanya sambil meringis, "Terasa pening."


Gantara duduk di depan Ruanindya dan langsung merengkuh tubuh sang putri ke dalam pelukannya.


Ruanindya masih sedikit linglung, namun akhirnya merasakan hangatnya pelukan Gantara membuatnya merona dan tersipu malu, "A-apa yang kau lakukan?"


Ruanindya sedikit terkejut, sikap Gantara tidak seperti biasanya.


Biasanya dipagi hari pendekar tampan itu hanya akan menatapnya dengan mata elangnya, lalu tanpa ekspresi menanyakan apakah tidur Ruanindya semalam nyenyak atau tidak. Tapi pagi ini ia mendapat sebuah pelukan yang hangat, itu suatu kemajuan. Ruanindya merasa senang karena Gantara sepertinya mulai belajar mengekspresikan perasaannya.


"Aku lega kau baik-baik saja."


Ruanindya menaruh tangan ramping dan putihnya di punggung lebar Gantara, membalas pelukan sang panglima. Ia terkekeh, "Semalam aku hanya minum arak bukannya racun, tentu aku akan baik-baik saja."


Disisi lain, begitu Ling Hua terbangun, tabib itu segera membuat ramuan untuk menghilangkan efek pusing dan mual yang diakibatkan oleh mabuk. Setelah meminum ramuan itu sendiri, ia juga memberikan ramuan itu pada Rasti, baru setelahnya ia mengantarkan dua cangkir bambu berisi ramuan ke pondok kecil untuk Gantara dan Ruanindya.


Di siang hari cuaca tidak terlalu panas dan angin berhembus sepoi-sepoi, Gantara dengan sabar mengajari Ruanindya menunggang kuda.


Sedangkan untuk kejadian antara Gantara dan Rasti, seperti yang gadis bertubuh mungil itu katakan pada Gantara agar menganggap kejadian itu tidak pernah terjadi dan Gantara pun melakukan seperti apa yang dikatakan Rasti. Gantara tidak ingin memusingkan kejadian semalam, itu memang kesalahan yang besar tapi nasi sudah menjadi bubur, akan percuma terus menerus menyesali apa yang sudah terjadi karena waktu tidak akan bisa diputar kembali. Yang terpenting sekarang ia harus memperbaiki kesalahannya, bertindak lebih baik, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.


Biasanya Beliung tidak suka kalau orang lain menaikinya selain Gantara, kuda jantan itu akan mengamuk. Tapi saat ini karena Ruanindya sudah sering menaikinya --bersama Gantara-- dan juga kuda itu seolah tahu bahwa orang yang kini tengah menungganginya adalah orang yang sangat berarti untuk tuannya, Beliung bersikap baik dengan tidak menimbulkan gerakan tiba-tiba yang bisa saja membuat Ruanindya ketakutan. Kuda itu berjalan dengan santai dan tenang.


Gantara yang awalnya menuntun gerakan Beliung, kini hanya diam mengawasi.


Ruanindya memegang erat tali kekang Beliung, wajahnya yang cemas karena takut akan terjatuh dari atas kuda tinggi itu terlihat lucu, "Anak baik...anak baik," ucapnya membujuk Beliung agar besikap baik seolah kuda itu akan mengerti kata-katanya.


Rasti yang sedang mengurusi tumbuh-tumbuhan herbal yang sedang dijemur hanya tersenyum melihat interaksi kedua orang yang terlihat sangat serasi itu, rasa iri merayapi hatinya. Ia berharap suatu hari nanti akan ada seseorang yang memperlakukannya seperti Gantara memperlakukan Ruanindya.


"Tarik tali kekangnya perlahan," Gantara memberikan instruksi pada Ruanindya, dan sang putri segera melakukan apa yang disuruh Gantara, dengan pelan menarik tali kekang Beliung dan membuat kuda itu berhenti melangkah.


Setelah Beliung berhenti, Gantara menghampiri dan memegang pinggang ramping Ruanindya lalu membantunya turun dari atas Beliung.


Ruanindya mencebikan bibirnya, "Aku bisa turun sendiri. Kau pasti sudah biasa memperlakukan para gadis seperti ini, ya kan?"


Gantara menggendikan bahunya acuh tak acuh, "Aku tidak pernah memperlakukan gadis mana pun seperti itu."


Ruanindya berdecih, namun diam-diam ia tersenyum. Dengan kata-kata Gantara barusan, ia tahu bahwa hanya dirinya lah yang diperlakukan penuh perhatian seperti itu oleh sang panglima.


Alis tebal Gantara berkerut, seketika Gantara meningkatkannya kewaspadaannya merasakan begitu banyak gerakan mendekat.


Gantara mencabut Pancasona dengan cepat lalu menangkis serangan dari seseorang yang melompat kearahnya dan Ruanindya sambil melancarkan serangan menggunakan pedangnya.


"Rua, tetap di sisiku!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2