
Chapter 11
Rahasia Ruanindya
Awalnya Ruanindya akan menolak ketika Gantara meminta Ling Hua untuk memeriksa kondisinya. Namun ketika ia berpikir ulang, bukankah suatu hal yang bagus mengetahui dan memastikan kondisinya sendiri.
Ling Hua tersenyum mendengar permintaan Gantara, "Tentu saja aku bisa melakukannya," lalu perhatian tabib hebat itu tertuju pada Ruanindya, "Bolehkan aku memeriksa kondisi anda?"
Ruanindya mengangguk sebagai jawaban. Kemudian Ling Hua memegang pergelangan tangan Ruanindya untuk merasakan denyut nadinya.
"Hmm?" ketika baru beberapa detik Ling Hua memegang pergelangan tangan Ruanindya, ia menatap Ruanindya dengan pandangan terkejut, "Anda seorang gadis?"
Mendengar perkataan sang tabib membuat Gantara maupun Ruanindya tidak kalah terkejut. Keduanya bahkan sempat saling pandang.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Ruanindya. Ia penasaran. Apakah penyamarannya begitu mudah dilihat? Padahal ia sudah susah-susah membebat dadanya dan membuat dirinya sendiri merasa sesak, demi penyamarannya menjadi seorang pendekar laki-laki.
Melihat keterkejutan yang sama pada kedua orang di hadapannya --Gantara dan Ruanindya-- membuat Ling Hua tersenyum, "Aku seorang tabib, tentu saja bisa mengetahui jenis kelamin seseorang hanya dengan memegang denyut nadinya," jelas Ling Hua menjawab pertanyaan Ruanindya.
Gantara mengangguk mengerti sedangkan Ruanindya menatap Ling Hua dengan kagum, "Woah...hebat! Aku kira penyamaranku terbongkar hanya dengan kau melihatku," puji sang putri.
"Tidak. Awalnya aku mengira anda adalah lelaki yang pertumbuhannya terganggu dan memiliki masalah sakit tenggorokan," ucap Ling Hua dengan jujur dan blak-blakan.
"Ehem!" Gantara mengepalkan tangannya di depan mulut sambil memalingkan wajahnya, menahan tawa sekuat tenaga.
Mendengar perkataan Ling Hua dan melihat reaksi Gantara membuat Ruanindya mencebikan bibirnya dengan kesal.
Sebenarnya Ling Hua ingin menanyakan alasan kenapa sampai gadis di hadapannya ini sampai harus menyamar menjadi seorang lelaki, namun ia merasa tidak pantas untuk bertanya hal sejauh itu karena mereka baru saja saling mengenal. Jadi Ling Hua memutuskan untuk tidak lancang bertanya.
Setelah Ling Hua kembali memegang pergelangan tangan Ruanindya untuk memeriksa denyut nadinya, tabib itu cukup lama terdiam dan sesekali mengerutkan keningnya.
Setelah beberapa lama, Ling Hua menyelesaikan pemeriksaannya. Melepaskan pergelangan tangan Ruanindya lalu menghela nafas.
"Bagaimana?" tanya Gantara dengan rasa penasaran yang sudah memuncak.
"Fisiknya memang lemah tapi bukan karena adanya suatu penyakit, tetapi karena aliran qi-nya[1] kacau."
"Qi?" Ruanindya mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Ah, orang-orang di sini biasa memanggil qi itu dengan sebutan tenaga dalam," Ling Hua menjelaskan secara sederhana.
"Oh..." Ruanindya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, "Ternyata benar apa yang telah aku dengar."
"Apa maksudmu?" Gantara menatap Ruanindya menuntut penjelasan.
"Hmm..." Ruanindya menggaruk pipinya yang tidak gatal lalu dengan cengirannya ia berkata dengan sedikit ragu, "Aku punya kebiasaan... menyelinap..." Gantara memicingkan matanya, selain manja ternyata putri raja di hadapannya ini juga cukup bengal. Akan tetapi Gantara tidak mengatakan apa pun dan menunggu Ruanindya melanjutkan perkataannya, "...dan ketika aku menyelinap pada suatu malam. Aku tanpa sengaja mendengar Ayahanda berbicara dengan Ibunda perihal rasa sedih mereka karena aku tidak bisa mempelajari ilmu beladiri dan ilmu kanuragan untuk melindungi diriku sendiri. Karena memang kalau aku mencoba berlatih ilmu beladiri atau pun ilmu kanuragan, aku akan langsung jatuh sakit bahkan pernah sampai muntah darah. Itu semua akibat dari tenaga dalamku yang kacau. Dan penyebab dari tenaga dalamku yang kacau adalah karena ketika aku masih bayi ada seseorang yang mencoba membunuhku dengan menggunakan ilmu kanuragannya agar tidak meninggalkan jejak, namun entah kenapa orang itu gagal."
"Anda benar-benar beruntung masih bisa hidup setelah mendapat serangan seperti itu, bahkan ketika masih bayi. Itu berarti Anda kuat dan takdir juga masih memihak pada anda," Ling Hua menepuk bahu Ruanindya bersimpati.
Gantara tertegun dan merasa sangat kaget dengan apa yang baru saja dikatakan Ruanindya. Jadi selama ini penyebab sang putri tidak bisa ilmu beladiri dan ilmu kanuragan ada alasan sebesar itu dibaliknya.
Gantara menatap Ruanindya dengan rasa simpati yang mendalam. Ia sudah terlalu berburuk sangka pada sang putri raja selama ini, "Siapa yang mencoba membunuhmu? Apa diketahui?"
Ruanindya menggeleng, "Tidak. Orang itu bunuh diri sebelum sempat tertangkap. Ia lebih memilih mengakhiri hidupnya dibandingkan mengungkapkan siapa pelakunya. Sepertinya lelaki itu pesuruh setia seseorang."
__ADS_1
Rahang Gantara mengeras, "Dilihat dari siapa yang melakukan pemberontakan saat ini, aku menduga, mungkin itu orang yang sama yang mengutus pembunuh itu."
"Patih Gandatala?"
Gantara mengangguk. Pendekar tampan itu akhirnya dengan wajah muram bertanya pada Ling Hua, "Apa Rua bisa disembuhkan?"
Dengan sedikit pertimbangan akhirnya Ling Hua mengangguk, "Tapi ramuan yang akan aku berikan hanya menguatkannya secara fisik, tetapi proses penyembuhannya menggunakan metode lain."
"Metode lain? Seperti apa?"
"Meditasi[2] dan menyalurkan tenaga dalam yang berguna memperbaiki aliran tenaga dalamnya yang kacau."
"Jadi tabib akan menyalurkan tenaga dalam tabib pada Rua?"
Ling Hua menggeleng, "Qi-ku tidak cukup kuat untuk melakukannya?"
Gantara menautkan alisnya, "Lalu siapa?"
"Bolehkan aku memeriksa anda?"
Gantara mengangguk sebagai jawaban lalu mengulurkan tangannya.
Ling hua melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada Ruanindya. Memegang pergelangan tangan Gantara tepat di atas denyut nadinya.
Setelah beberapa lama, mata sipit Ling Hua terbelalak, "Anda...Qi anda sangat amat besar," Ling Hua menatap Gantara dengan takjub, "Baru kali ini saya merasakan aliran qi yang begitu berbeda. Sangat menakjubkan. Bagaimana bisa?"
Gantara tersenyum, "Mungkin hanya kebetulan. Anugerah sang maha kuasa."
"Benarkah?" Setelah menatap Ling Hua, Gantara beralih menatap Ruanindya dan begitu juga sebaliknya. Di mata keduanya ada secercah harapan untuk kesembuhan Ruanindya.
"Iya tentu saja. Anda berdua benar-benar berjodoh," Ling Hua menepukan tangannya sekali dengan gembira.
"Jo-jodoh?" Mulut Ruanindya menganga mendengar apa yang dikatakan tabib hebat itu.
Ling Hua menganggukan kepalanya, "Iya. Anda yang sakit," Ling hua menunjuk Ruanindya, "lalu Tuan Gantara yang bisa menyembuhkan anda," kini ia beralih menunjuk Gantara.
"O-oh, begitu hehehe..." Ruanindya menggaruk pipinya yang tidak gatal. Hampir saja ia salah mengira jodoh yang dimaksudkan Ling Hua itu jodoh yang berhubungan dengan asmara, dan kesalahpahaman itu cukup untuk membuat wajahnya memerah.
Disaat orang yang memiliki masalah -Ruanindya- terlihat lebih santai, justru Gantara lah yang terlihat sangat serius.
"Tabib, bagaimana caraku menyalurkan tenaga dalam padanya?"
"Itu mudah. Hanya tempelkan telapan tangan kalian berdua dalam meditasi dan salurkan qi Anda pada Nona Rua. Kebetulan aku menemukan ruang meditasi yang bagus. Terletak tidak jauh dari sini ada air terjun, di belakang air terjun itu ada sebuah Gua. Kalian bisa menggunakannya," Ling Hua menunjuk arah selatan dari rumahnya.
Gantara mengangguk, "Terima kasih tabib. Lalu harus berapa lama penyaluran tenaga dalam ini dilakukan?"
"Satu jam setiap hari selama sepuluh hari."
"Sepuluh hari?!" Ruanindya merasa sedikit kaget. Sepuluh hari adalah waktu yang cukup lama untuk tetap tinggal, mengingat mereka --Gantara dan dirinya-- selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat.
"Iya. Kalau kalian mau, kalian boleh tinggal di pondok kecil di belakang rumahku agar bisa lebih tenang beristirahat, karena di sini banyak suara kesakitan para pasien. Kalian tidak keberatan kan?"
"Tidak keberatan sama sekali tabib, itu juga sudah sangat membantu kami. Terima kasih," Gantara tersenyum, ia benar-benar merasa lega dengan bantuan yang Ling Hua berikan.
__ADS_1
Ling Hua segera memanggil seorang gadis penduduk desa itu yang biasa membantunya mengurus rumah dan para pasien. Ling Hua menyuruh gadis itu untuk membersihkan pondok kecil yang akan digunakan Gantara dan Ruanindya.
Ruanindya hanya mencebikan bibirnya. Bagaimana bisa kedua lelaki itu --terutama Gantara-- memutuskan ini dengan seenaknya? Padahal yang menjadi pasien di sini adalah Ruanindya. Harusnya keputusan paling penting ada pada dirinya, tapi bahkan Gantara mau pun Ling Hua tidak menanyakan apakah ia bersedia atau tidak.
Tapi ia juga merasa senang karena Gantara sebegitu perhatian pada masalah yang tengah ia hadapi dan ingin membantunya untuk sembuh, "Apa aku juga bisa meminta sesuatu padamu tabib Ling Hua?"
Ling Hua mengangguk dengan pasti, "Tentu Nona Rua, anda bisa. Apa yang bisa aku bantu?"
Ruanindya menempelkan jari telunjuknya di bibirnya dengan cepat, "Sttt... Jangan panggil aku nona, nanti penyamaranku akan semakin terbongkar."
"Oh, iya. Maafkan aku," Ling Hua mengusap tengkuknya sendiri dengan cengiran di bibirnya, "Lalu apa yang bisa aku bantu?"
"Temanku ini..." Ruanindya menunjuk Gantara, "Menyukai sesama jenis. Apa kau punya solusi?" Ruanindya berkata dengan enteng soal masalah yang cukup sensitif seperti halnya orientasi seksual, seolah hanya seperti sedang menanyakan kabar tetangganya.
"Uhuk!!!" Gantara tersedak air yang sedang ia minum. Setelah menepuk dadanya sendiri beberapa kali, pendekar tampan itu melotot pada Ruanindya, "Apa yang kau bicarakan?!"
Ruanindya mengiba-ngibaskan tangannya, "Tidak usah malu. Bukan kah kita sesama teman harus saling menolong dan saling memperhatikan. Kau membantuku dan aku juga ingin membantumu."
Ling Hua mengamati Gantara, tabib itu terlihat tidak terlalu kaget dengan apa yang dikatakan Ruanindya. Di tempat asalnya, ia sudah sering bertemu dengan praktisi (pendekar) yang menyukai sesama jenis, bahkan ada beberapa generasi kaisar yang memiliki selir seorang lelaki.
Ketika Ling Hua mulai membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Ruanindya, Gantara segera menyela, "Aku tidak apa-apa tabib. Pertanyaan Rua bisa tabib abaikan."
Ruanindya berdecak kesal, namun akhirnya memaklumi. Mungkin panglima besar seperti Gantara merasa sangat malu ketika masalah orientasi seksualnya yang tidak biasa diketahui orang lain. Tetapi bukankan bagus kalau tabib hebat itu bisa memberikan solusi? Ruanindya tidak mengerti kenapa pendekar tampan itu melepaskan kesempatan emas seperti ini.
Setelah beberapa lama gadis yang diketahui bernama Rasti itu kembali, lalu melaporkan kepada Ling Hua bahwa pondoknya sudah dibersihkan dan siap untuk ditempati. Ling Hua segera mengantar Gantara dan Ruanindya ke pondok kecil miliknya.
Pondok itu memang kecil hanya memiliki satu ruangan, namun sangat layak untuk ditinggali. Dengan sebuah dipan yang cukup untuk dua orang tidur, dan sebuah meja kecil yang menyimpan kendi besar berisi air minum di atasnya, serta dua buah camgkir yang terbuat dari potongan bambu.
Setelah makan malam dan memberikan rambuan obat untuk Ruanindya, Ling hua mengantarkan Gantara dan Ruanindya menuju gua yang sore tadi ia bicarakan untuk melakukan meditasi penyaluran tenaga dalam.
Ketiga orang itu menelusuri jalan setapak, dan Ling Hua berjalan di depan sebagai penunjuk jalan. Setelah berjalan sedikit lama akhirnya mereka sampai pada sebuah air terjun yang tidak terlalu besar, namun cukup deras.
Gua itu benar-benar ada di balik air terjun, dan jalan masuk ke dalam gua itu --selain melompat menerobos derasnya air terjun-- adalah sebuah celah kecil tersembunyi di balik batu besar di sisi air terjun.
Ketiga orang itu akhirnya memasuki gua melewati celah kecil satu persatu. Ling Hua segera menyalakan obor yang sudah ada di sana menggunakan api dari obor yang ia bawa.
"Kalian bisa melakukannya di atas lempengan batu besar itu," Ling Hua menunjuk sebuah lempengan batu besar yang landai dan lebar di tengah gua.
Gantara mengangguk dan kemudian mengucapkan terima kasih.
Ling Hua pamit dan meninggalkan mereka berdua untuk kembali pulang kerumahnya.
Ruanindya mengamati keadaan gua. Gua itu cukup indah dengan batu-batu hitam legam yang mengkilap, dan air terjun mengalir di mulut gua seperti tirai sutra yang lembut. Sang putri merasa takjub akan pemandangan yang ia lihat.
"Bisa kita mulai?" Suara berat Gantara menggema di dalam gua yang membuat Ruanindya merinding dan merasa seperti seorang perawan yang akan ditelanjangi.
[1. Qi atau lebih sering dieja sebagai chi atau ch'i atau ki adalah sebuah konsep dasar budaya Tionghoa. Qi dipercayai adalah bagian dari semua makhluk hidup sebagai semacam "kekuatan hidup" atau "kekuatan spiritual".]
[1.Meditasi, terkadang disebut juga semadi, adalah praktik relaksasi yang melibatkan pelepasan pikiran dari semua hal yang menarik, membebani, maupun mencemaskan dalam hidup kita sehari-hari.]
Bersambung...
Mind to vote, tip & comment?
__ADS_1