Runaway

Runaway
Chapter 22 - Keistimewaan Ruanindya


__ADS_3

Chapter 22


Keistimewaan Ruanindya


Karena merasa takut jatuh dari ketinggian, Ruanindya tanpa sadar memanjat tubuh Gantara, memeluk leher sang panglima erat-erat dan melingkarkan kakinya pada pinggang pendekar tampan itu juga tak kalah erat seperti seekor anak koala yang bergelayut manja pada induknya. Sementara itu wajah ayu sang putri tetap terbenam di dada bidang Gantara, enggan untuk melihat sekitar apalagi melihat kebawah, itu akan membuat Ruanindya semakin takut.


Antasena yang melihat adegan Ruanindya jatuh segera melompat ke atas pohon dan berdiri pada dahan tepat di samping di mana Gantara menangkap Ruanindya, "Kemari, berikan tuan putri padaku," Antasena mengulurkan tangannya untuk meraih Ruanindya.


"Tidak perlu," Gantara menatap Antasena dengan tenang, "Biar aku yang menangani putri, kau petik saja mangganya."


Untuk sekilas Antasena merengut tidak suka dan Gantara sempat menangkap eskpresinya, namun sedetik kemudian murid terkuat Nyai Sokawati itu tersenyum dan mengangguk, "Baiklah panglima," setelahnya Antasena segera melompat kedahan yang lebih tinggi dan mulai memetik beberapa mangga yang matang.


Sedangkan Layung Sari yang sedari tadi menyaksikan adegan itu dari bawah, wajah cantik gadis itu sudah memerah karena kesal. Layung sari berpikir bagaimana mungkin Ruanindya yang mendapatkan adegan itu? Dirinya lah yang harusnya ada dalam pelukan Gantara saat ini. Sejak awal ia sudah merencakan adegan seperti itu, ketika Gantara naik ke pohon, ia sendiri akan ikut naik lalu pura-pura tergelincir dan jatuh, sudah dipastikan Gantara akan menolongnya dan ia akan bisa memeluk pendekar tampan itu. Namun sekarang rencananya hanya lah tinggal rencana, yang melakukannya adalah Ruanindya. Layung Sari mendengus kesal. Ia kalah cepat.


Gantara melompat turun dan mendarat di atas tanah dengan halus lalu ia menatap Ruanindya yang masih berada dalam pelukannya, "Kita sudah di bawah."


Ruanindya masih membenamkan wajahnya di dada Gantara, wajah Sang putri memerah karena merasa malu akan kecerobohan dan kebodohannya sendiri. Ruanindya hanya bisa mencicit kecil dengan ragu dan malu, "Ka-kakiku lemas."


Gantara berkeinginan untuk tertawa, namun ia tahan. Setelah menepuk punggung Ruanindya beberapa kali dengan lembut, pendekar tampan itu mengangkat tubuh sang putri dan mendudukannya di atas Beliung.


Begitu ia duduk di atas Beliung, Ruanindya segera memeluk leher Beliung dan menyembunyikan wajahnya yang masih memerah pada surai hitam kuda jantan itu.


Beliung mengibaskan kepalanya sambil meringkik seolah menertawakan kecerobohan dan kebodohan Ruanindya.


Gantara mengangkat tangannya dan membelai rambut hitam Ruanindya, "Kau baik-baik saja?"


Ruanindya mengangkat kepalanya, menatap Gantara lalu mengangguk, "Iya, aku baik-baik saja," tadi ia memang sempat sangat ketakutan, namun sekarang rasa malu lebih mendominasinya.


Gantara membalas tatapan Ruanindya penuh tanya, "Apa kau sebelumnya pernah memanjat dengan cara seperti itu?"


Ruanindya menggeleng, "Tidak pernah. Aku hanya melihatmu dan tanpa sadar aku mengikutimu naik ke pohon dengan cara seperti caramu," ia kembali duduk tegak di atas Beliung, namun menundukan kepalanya, takut kalau Gantara akan marah.


Gantara mengerutkan keningnya hingga alis tebalnya terajut. Ia berpikir Ruanindya tidak memiliki ilmu silat maupun ilmu kanuragan jadi bagaimana mungkin sang putri bisa meringankan tubuh untuk memanjat pohon seperti cara seorang pendekar.


Melihat ekspresi wajah Gantara, Ruanindya takut telah terjadi suatu kesalahan, "Ada apa?"


Gantara terlihat berpikir sejenak, "Ada hal yang harus kupastikan. Ini tentangmu,"


"Apa itu?" Ruanindya merasa sangat penasaran perihal apa yang ingin Gantara pastikan tentang dirinya.


"Bagaimana--"


"Kakang Gantara, lebih baik kita segera kembali ke Padepokan, hari mulai gelap," sela Layung Sari menghentikan percakapan diantara Gantara dan Ruanindya, "Kakang Antasena juga sudah selesai memetik buah mangga."


Ruanindya mencebikan bibirnya, ia merasa kalau gadis cantik puteri Nyai Sokawati itu sangat ahli dalam menyela omongan orang lain. Apa gadis itu tidak tahu bahwa menahan rasa penasaran itu sangat menyiksa?


Gantara mengangguk, "Baiklah. Ayo kita kembali," pendekar tampan itu melompat naik ketas Beliung dan duduk di belakang Ruanindya, menghentakan kakinya ketubuh Beliung hingga kuda jantan itu mulai berlari dengen cepat keluar hutan membawa Gantara dan Ruanindya kembali ke Padepokan.


Sepeninggalan Gantara dan Ruanindya, wajah Layung Sari terlihat merengut kesal.


Antasena yang melihat ekspresi tidak mengenakan dari adik seperguruannya tidak bisa untuk tidak bertanya, "Dinda Layung, ada apa denganmu?"

__ADS_1


"Aku ingin berdekatan dengan Kakang Gantara tapi ia dan putri Ruanindya selalu bersama, bahkan mereka tinggal di kamar yang bersebelahan."


"Kau menyukai panglima Gantara?"


"Iya," jawab Layung Sari dengan kepercayaan diri yang tinggi tanpa sedikit pun merasa malu telah mengakui tentang perasaannya.


"Baiklah, aku akan membantumu," Antasena mengungkapkan senyum yang sulit diartikan.


"Benarkah?" wajah Layung Sari berbinar karena senang, "Kakang memang yang terbaik."


"Hahaha... tidak sebaik itu," Antasena memandang kedepan, Ruanindya dan Gantara benar-benar sudah tidak terlihat lagi dalam jarak pandangnya, "Aku juga memiliki maksud tersendiri."


"Maksud sendiri? Apa itu?"


"Karena aku tertarik dengan putri Ruanindya."


"Apa?!!" Layung Sari merasa sangat kaget hingga ia tanpa sadar menarik tali kekang kudanya membuat kuda yang ia tunggangi berhenti dengan mendadak.


Antasena juga terpaksa menghentikan laju kudanya dan menatap Layung Sari kemudian mengulangi kata-katanya "Aku tertarik pada putri Ruanindya."


"Tapi... dia seorang putri raja," dari banyak wanita yang mengejar Antasena, kenapa kakak seperguruannya itu malah tertarik dengan seorang putri raja? Terlebih Ruanindya berbeda dengan gadis lain, sang putri tidak terpikat oleh pesonanya, terlihat tidak tertarik dengan Antasena sama sekali. Akan tapi setelah Layung Sari berpikir ulang, karena Antasena menyukai Ruanindya, membuat Antasena bersedia membantunya dan hal tersebut malah akan sangat menguntungkan dirinya dan memuluskan niatnya untuk mendekati Gantara.


"Apa itu masalah besar untukmu?"


Layung Sari langsung menggelengkan kepalanya dengan bersemangat, "Tentu saja tidak Kakang. Siapa pun yang kau sukai, aku akan tetap mendukungmu. Apalagi gadis yang Kakang sukai bukan gadis biasa, ia seorang putri, itu hebat."


Antasena terkekeh mendengar perkataan Layung Sari, ia sangat tahu kalau adik seperguruannya itu sangat pintar bermain kata-kata, "Ayo bekerja sama Dinda Layung," sebuah seringaian samar terungkap di bibir Antasena.


Mereka berempat juga larut dalam beberapa obrolan tapi tentu saja Layung Sari lebih banyak mengajak Gantara untuk bicara, begitupula Antasena yang berusaha lebih banyak berinteraksi dengan Ruanindya.


Gantara sesekali melirik Ruanindya yang kini tengah menikmati buah mangga yang dikupaskan oleh Antasena. Gantara ingin membicarakan sesuatu dengan Ruanindya, namun tidak dengan adanya kedua orang ini --Layung Sari dan Antasena-- jadi Gantara menahan diri untuk membicarakan hal tersebut dengan Ruanindya sampai ia dan Sang putri kembali ke kamar. Berbicara hanya berdua.


Melihat perlakuan dan tatapan Antasena pada Ruanindya entah kenapa membuat Gantara merasa kesal di hatinya, apalagi sekarang ia melihat Antasena menyeka noda makanan di bibir Ruanindya. Gantara sangat tidak suka ada orang lain yang menyentuh miliknya.


Gantara tertegun.


Apa yang baru saja ia pikirkan?


Dirinya mengklaim Ruanindya sebagai miliknya?


Gantara menggelengkan kepalanya demi menghilangkan pikiran konyolnya. Bagaimana mungkin ia yang hanya seorang panglima berani mengklaim seorang putri raja sebagai miliknya, tetapi...


"Kakang kenapa?"


"Hmm?" Gantara menatap orang yang baru saja bertanya padanya, Layung Sari.


"Kakang kenapa?" Layung Sari mengulangi pertanyaannya karena ia tahu Gantara tidak mendengar perkataannya sebelumnya, "Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"


"Tidak. Tidak ada apa-apa," Gantara mengambil sebuah kendi di hadapannya dan minum beberapa teguk air dalam kendi. Setelah menaruh kembali kendi dalam genggamannya, Gantara segera beranjak kesamping Ruanindya, "Putri, ini sudah larut sebaiknya putri kembali ke kamar untuk beristirahat."


Melihat Gantara, Ruanindya pun mengangguk. Sang putri segera berdiri kemudian melihat Antasena dan Layung Sari bergantian, "Terima kasih atas jamuannya. Aku pamit istirahat," setelah Ruanindya menyunggingkan senyum manisnya ia segera beranjak kembali ke kamarnya bersama Gantara.

__ADS_1


Setelah mereka berdua sampai di dalam kamar, Gantara duduk di kursi dan meletakan Pancasona di atas meja, "Rua, ada yang ingin aku bicarakan."


"Apa itu?" Ruanindya segera duduk di kursi di hadapan Gantara dan memandang wajahnya. Memandangi wajah tampan dan tegas Sang Panglima seperti itu, tidak bisa tidak membuat Ruanindya tersenyum.


Melihat Ruanindya tersenyum seperti itu padanya membuat hati Gantara menghangat, rasa kesal yang ia rasakan tadi saat Antasena berdekatan dengan Ruanindya sudah banyak berkurang, "Bagaimana bisa kau tadi siang memanjat pohon seperti caraku? Hanya seorang pendekar yang memiliki ilmu kanuragan untuk meringankan tubuh yang bisa melakukannya," sudah menjadi permintaan Ruanindya, kalau hanya ada mereka berdua Gantara dilarang bersikap formal padanya dan memanggilnya putri.


Ruanindya mencoba mengingat kejadian mengejutkan yang dialaminya tadi siang, "Entahlah, aku hanya sangat takjub dan senang melihatmu melompat dari satu dahan ke dahan lain, rasanya ingin melakukan seperti yang kau lakukan dan tanpa sadar aku sudah melakukannya," menjeda sebentar, Ruanindya menggigit bibir bawahnya, "Sebenarnya..."


"Apa?" Gantara mengerutkan keningnya karena bingung, ia masih belum mengerti dengan apa yang terjadi pada Ruanindya.


"Aku merasa... aku merasa seperti telah mempelajari beberapa jurus silat dan ilmu kanuragan lewat meditasi penyaluran tenaga dalam yang kita lakukan. Puncaknya setelah hari terakhir meditasi dan aku muntah darah, semuanya menjadi lebih jelas seiring tenaga dalamku terasa mengalir deras disekujur tubuhku."


Gantara tercengang, "kenapa kau baru mengatakannya sekarang?"


"Karena sebelumnya aku merasa tidak yakin."


"Itu berarti... sepertinya kau telah mempelajari beberapa ilmu silat dan ilmu kanuragan milikku hanya dengan meditasi dan penyaluran tenaga dalam?" Gantara mencoba mengambil kesimpulan yang sangat mengejutkannya.


Ruanindya mengangguk, "Sepertinya begitu," ia menundukan kepalanya karena takut Gantara akan marah sebab ia telah mempelajari ilmu Gantara tanpa ijin, itu sama saja disebut mencuri bukan?


"Rua, ini menakjubkan!"


"Apa?" Ruanindya kembali mengangkat kepalanya dan menatap wajah sumringah Gantara yang baru pertama kali ia lihat.


"Kemampuanmu istimewa! sangat menakjubkan!" Gantara mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Ruanindya karena merasa senang.


"Benarkah?"


"Ya," Gantara mengangguk mantap, "Kau bisa mempelajari ilmu silat dan ilmu kanuragan dengan sangat cepat bahkan melampaui kecepatanku belajar. Yang sekarang harus kita lakukan adalah melatihmu agar tubuhmu kuat, juga mempraktekan ilmu yang sudah kau dapatkan. Teori tanpa praktek, semua ilmu yang kau dapatkan tidak akan berguna."


"Kau tidak marah?"


"Untuk apa aku marah?"


"Karena aku telah memperlajati ilmu yang kau miliki tanpa ijin."


"Tidak, aku malah merasa senang karena dengan ini kau jadi bisa melindungi dirimu sendiri."


"Kenapa begitu? Kau sudah tidak mau melindungiku lagi?" Ruanindya merengut.


"Bukan begitu Rua," Gantara mengulurkan tangannya untuk membelai rambut Ruanindya, "Aku manusia biasa, ada saatnya aku akan lengah atau melakukan kesalahan. Aku tidak mau kau sampai terluka. Aku benar-benar mengkhawatirkan keselamatanmu."


"Kau takut tugasmu untuk melindungiku gagal?" Ruanindya sangat senang mendengar kata-kata dan perlakuan lembut Gantara tapi ia harus memastikan bahwa ia tidak salah paham akan maksud dari perlakuan Gantara padanya.


Gantara menggeleng, "Tidak. Itu diluar dari tugasku. Aku benar-benar mengkhawatirkanmu."


Kali ini rasa bahagia dihatinya benar-benar membuncah, Ruanindya beranjak bangun dari kursi yang ia duduki lalu duduk di atas pangkuan Gantara, memeluk pendekar tampan itu dan membenamkan wajah ayunya yang memerah di dada bidang Gantara, "Aku senang kau mengkhawatirkanku," ucap Ruanindya lirih, namun masih bisa Gantara dengar.


Mendapat pelukan dari Ruanindya tentu saja membuat Gantara merasa senang, tanpa sadar sebuah senyuman mengembang di bibirnya. Gantara segera membalas pelukan tubuh ramping di atas pangkuannya kemudian mencium kepala Ruanindya, "Andai saja kau bukan seorang putri..."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2