
Chapter 37
Kemenangan
"A-ayah... ayahanda raja!" Ruanindya berlari menghambur kemudian bersimpuh di samping Raja Arya Tirta Kusuma Winarang yang sudah di baringkan di atas permadani.
Mendengar suara yang sangat amat dirindukannya, perlahan raja Arya Tirta Kusuma Winarang membuka kelopak matanya yang terasa berat, "Putriku... Ruanindya," ucapnya lemah. Sang raja mengangkat tangan kurusnya kemudian Ruanindya meraihnya dan menangkupkan tangan ayahnya pada pipinya sendiri.
"Ayahanda..." tangis Ruanindya kembali pecah, isaknya sarat akan kesedihan melihat keadaan ayahnya. Raja Arya Tirta Kusuma Winarang begitu lusuh dan kurus, tubuh ringkihnya penuh luka. Jika saja orang itu tidak mengenal sosoknya secara baik, mungkin orang tersebut tidak akan bisa mengenalinya sebagai raja Arya Tirta Kusuma Winarang karena penampilannya yang jauh berbeda.
Dewi Ayu Galuh Ningtyas tergopoh-gopoh dengan langkah cepat mendekati kedua orang terkasihnya lalu ikut bersimpuh di samping Ruanindya untuk melihat keadaan suaminya yang selama ini ia rindukan dan cemaskan setiap hari, "Kakanda prabu..." Dewi Ayu Galuh Ningtyas pun sama, tidak mampu untuk membendung tangisnya melihat keadaan mengenaskan Raja Arya Tirta Kusuma Winarang.
Tatapan raja Arya Tirta Kusuma Winarang dari putrinya beralih ke Dewi Ayu Galuh Ningtyas, "Istriku..." Sang Raja tersenyum lemah, ia merasa bahagia dan lega karena istri dan putrinya dalam keadaan baik-baik saja, "A-aku merindukan ka..." suaranya menghilang, tangan sang raja yang ada di pipi Ruanindya pun terkulai dan matanya kembali tertutup.
"Ayahanda! Ayahanda!"
"Kakanda prabu! Suamiku!"
"Tabib Ling Hua! Rasti! Cepat kemari! Tolong Ayahanda!" jerit Ruanindya dengan panik. Keadaan istana Kertalodra seketika menjadi gempar.
Mendengar namanya dipanggil oleh sang putri, Ling Hua dan Rasti segera mendekat.
Ling Hua dengan cekatan memeriksa kondisi Sang Raja, "Tenanglah putri. Gusti prabu Arya Tirta Kusuma Winarang hanya pingsan. Tapi kita harus segera memberikan pengobatan karena kondisinya sangat buruk," Ling Hua mencoba menenangkan Ruanindya, namun ia juga tidak mau berbohong tentang kondisi Sang Raja.
Raja Arya Tirta Kusuma Winarang segera di pindahkan ke kamarnya. Para dayang membantu membersihkan tubuh sang raja dan mengganti pakaiannya sedangkan Ling Hua mengobati luka-luka raja penguasa Kertalodra itu lalu Rasti bertugas membuat ramuan untuk diminum oleh Raja Arya Tirta Kusuma Winarang guna mengobati luka dalam yang diderita Sang Raja.
Dewi Ayu Galuh Ningtyas dan Ruanindya menunggu diluar kamar dengan cemas, kedua ibu dan anak itu masih saling berpelukan dan berlinang air mata.
Gantara menatap Ruanindya dengan perasaan khawatir. Ia sangat ingin memeluk kekasihnya, namun pendekar tampan itu tidak bisa melakukannya karena tata krama yang harus ia perhatikan dan jaga di dalam istana. Ruanindya adalah seorang putri raja sedangkan dirinya hanya seorang panglima. Gantara tahu bahwa Ruanindya tengah kalut karena melihat keadaan Raja Arya Tirta Kusuma Winarang yang buruk. Sang Panglima mengepalkan tangannya kuat, merasa geram karena apa yang dilakukan patih Gandatala pada sang raja.
***
Dalam beberapa hari ini raja Arya Tirta Kusuma Winarang sudah melewati masa kritisnya, namun masih belum bisa banyak bergerak dan sementara waktu harus beristirahat secara penuh sambil menjalani pengobatan dan perawatan oleh Ling Hua dan Rasti.
Sedangkan Ruanindya yang harusnya menggantikan tugas Raja Arya Tirta Kusuma Winarang untuk saat ini tidak ingin jauh dari kedua orang tuanya jadi ia meminta Gantara untuk sementara waktu menggantikan tugas ayahandanya yang seharusnya ia emban. Ruanindya sangat percaya pada Gantara, kekasihnya itu bukan orang yang tamak akan kekuasaan dan takhta seperti si pengkhianat Patih Gandatala.
Gantara mengemban tugas yang diberikan dan dipercayakan oleh Ruanindya kepadanya dengan sangat baik. Seperti kepercayaan Ruanindya pada Gantara, tepat seperti itulah sosok seorang Gantara Wisesa. Tidak sekalipun Gantara pernah duduk di atas singasana raja ataupun bahkan membayangkan menjadi raja Kertalodra saja ia tidak pernah.
Satu bulan telah berlalu, semua kekacauan yang terjadi di kerajaan Kertalodra sudah bisa dibenahi dengan sangat baik di bawah kepemimpinan Gantara.
Rakyat sudah kembali tenang dan hidup dengan damai.
Orang-orang yang terluka sudah kembali sembuh berkat pengobatan tabib handal dan muridnya --Ling Hua dan Rasti-- termasuk raja Arya Tirta Kusuma Winarang.
Hari ini Sang Raja penguasa Kertalodra kembali duduk di atas singasana miliknya walaupun tubuh Raja Arya Tirta Kusuma Winarang belum setegap dan sekekar dulu.
Hari ini akhirnya tiba, hari yang selalu raja Arya Tirta Kusuma Winarang nantikan. Hari dimana ia akhirnya bisa mengadili semua perbuatan yang dilakukan Patih Gandatala.
Patih Gandatala diikat dan dipaksa berlutut di hadapan Sang Raja. Ia sudah kalah, namun api di hatinya masih berkobar seperti neraka.
Patih Gandatala mengangkat kepalanya dan menatap raja Arya Tirta Kusuma Winarang, "Aku ingin bicara," Sang Patih melupakan tata krama dan kesopananya karena ia tahu bahwa dirinya pasti akan segera dihukum mati.
__ADS_1
"Bicaralah," raja Arya Tirta Kusuma Winarang memberikan izin. Sang Raja masih melihat kecongkakan dalam diri Patih Gandatala, namun ia mencoba tetap bersabar dan tenang.
Patih Gandatala berdecih lalu pandangannya segera beralih pada Gantara, "Gantara Wisesa, kau rela mengabdi pada orang yang sudah membunuh ayahmu sendiri? Raja Arya Tirta Kusuma Winarang adalah orang yang telah membunuh ayahmu!"
"APA?!" bukan, bukan Gantara yang membelalakan matanya dan bertanya dengan kaget, tetapi itu adalah Ruanindya, "Apa yang kau katakan?! Jangan bicara omong kosong!"
Raja Arya Tirta Kusuma Winarang terdiam sambil mengepalkan tangannya dengan erat. Ia tahu hari ini akan datang, hari dimana semua kebenaran akan terungkap.
Tatapan Patih Gandatala beralih pada Ruanindya yang masih terlihat kaget, "Omong kosong katamu? Coba tanyakan pada ayahanda prabumu tentang kebenarannya. Dia adalah orang yang telah membunuh ayah dari Gantara Wisesa dengan tangannya sendiri."
"Hentikan!" jerit Ruanindya. Gadis berparas ayu itu tidak mau lagi mendengar hal yang mengerikan seperti itu. Bagaimana mungkin ayah dari kekasihnya telah dibunuh oleh ayahnya sendiri.
Tidak menghiraukan perintah Ruanindya, patih Gandatala melanjutkan perkataannya, "Beberapa puluh tahun silam ada kerajaan lain di sekitar sini. Kerajaan itu dulunya menguasai setengah luas dari wilayah Kertalodra saat ini. Kerajaan itu adalah kerajaan Singosari yang dipimpin oleh Raja Abimana. Tetapi, Raja Arya Tirta Kusuma Winarang menyerbu kerajaan Singosari dan membunuh Raja Abimana dan mengambil wilayahnya untuk ia jadikan wilayah Kertalodra," Patih Gandatala kembali menatap Gantara, "kau mengabdi pada orang yang telah membunuh orang tuamu Gantara!"
Hening.
Nafas semua orang yang ada di sana seolah tercekat karena ketegangan yang melingkupi.
Patih Gandatala mengerutkan keningnya. Reaksi yang ia dapatkan dari Gantara jauh dari bayangan dan yang ia harapkan. Marah, mengamuk dan ingin membunuh Sang Raja Kertalodra tidak patih Gandatala dapatkan pada ekpresi Gantara, pendekar tampan itu justru terlihat tenang seperti biasanya.
Bukan hanya patih Gandatala yang kaget dengan ketenangan Gantara saat ini, namun semua orang yang ada di sana tanpa terkecuali.
"Aku sudah tahu," setelah terdiam cukup lama akhirnya kata-kata itulah yang terucap dari mulut Gantara yang membuat semua orang semakin merasa kaget.
"Kau sudah tahu?" Patih Gandatala bertanya dengan tidak mengerti. Kalau selama ini Gantara sudah mengetahui bahwa Raja Arya Tirta Kusuma Winarang yang membunuh ayahnya, kenapa Gantara masih mau mengabdi dengan setia pada Sang Raja Kertalodra? "dia yang menjadikanmu yatim piatu! Kau harusnya menjadi seorang calon raja kalau dia tidak mengambil dan menghancurkan kerajaanmu!" Patih Gandatala masih terus mencoba menyulut emosi Sang Panglima. Ia sudah kalah dalam perang dan menghadapi hukuman mati, setidaknya ia harus bisa membuat perpecahan antara Sang Raja dan panglima kepercayaannya.
"Guru --Empu Indrayana-- sudah menceritakan semuanya padaku."
Ibu kandung Gantara adalah permainsuri Dewi Sekar Taji yang meninggal dunia saat melahirkan Gantara, Sedangkan ayahnya adalah Raja Abimana sang penguasa kerajaan Singosari. Raja Abimana adalah raja yang zalim dan berbuat sesuka hatinya, menerapkan pajak yang tinggi hingga menyengsarakan rakyatnya dalam kehidupan yang serba kekurangan sedangkan Sang Raja sendiri hidup bermewah-mewah di dalam istananya.
Pada suatu hari peramal kerajaan Singosari tanpa sengaja melihat tanda lahir berbentuk matahari di bahu kanan bagian belakang Sang Pangeran, Sang Peramal mendapatkan penglihatan bahwa kelak Sang Pangeran akan menggulingkan kekuasaan ayahnya sendiri dan duduk menjadi raja yang agung. Peramal itu segera menceritakan penglihatannya pada Raja Abimana.
Raja Abimana yang tamak dan begitu mencintai takhtanya merasa takut karena tidak ingin lengser begitu saja dari kedudukannya sebagai raja bahkan oleh putranya sendiri. Jadi Sang Raja yang tamak memutuskan akan membunuh Sang Pangeran kecil.
Di saat itulah, sebelum Raja Abimana sempat membunuh Sang Pangeran, Raja Arya Tirta Kusuma Winarang datang menyerang kerajaan Singosari dan membunuh Sang Raja yang zalim.
Rupanya beberapa malam sebelum saat itu terjadi, Raja Arya Tirta Kusuma Winarang memimpikan seseorang yang memiliki tanda matahari di tubuhnya yang akan menjadi raja yang bijaksana dan membawa kemakmuran bagi kerjaan yang dipimpinnya akan dibunuh oleh raja Abimana. Ia tidak menyangka bahwa orang dalam mimpinya itu adalah pangeran putra mahkota kerajaan Singosari. Raja Arya Tirta Kusuma Winarang tidak habis pikir bahwa Raja Abimana sampai hati akan membunuh putranya sendiri hanya demi takhta.
Selain alasan mimpinya itu, Raja Arya Tirta Kusuma Winarang memang sudah merencanakan ingin menggulingkan kekuasaan Raja Abimana yang zalim, semena-mena dan menyengsarakan rakyat.
Empu Indrayana sebenarnya adalah empu dari kerajaan Singosari, namun ia sama sekali tidak menyukai apa yang Raja Abimana lakukan. Jadi setelah kerajaan Singosari berhasil dikuasai Raja Arya Tirta Kusuma Winarang, Empu Indrayana mengabdi pada Sang Penguasa Kertalodra yang menurutnya adalah seorang raja yang berwibawa, bijaksana dan adil.
Pada saat keributan terjadi, ketika Raja Arya Tirta Kusuma Winarang menyerang kerajaan Singosari, Sang Pangeran berhasil kabur dengan hati yang terluka dan rasa kalut karena mengetahui bahwa ayahnya sendiri ingin membunuhnya.
Raja Arya Tirta Kusuma Winarang memerintahkan prajuritnya untuk mencari Sang Pangeran. Bagaimanapun Sang Pangeran adalah orang yang berharga, karena anak itulah Raja Arya Tirta Kusuma Winarang tanpa ragu menghabisi Raja Abimana. Ia bahkan tidak perduli kalau mungkin saja nanti Sang Pangeran akan membencinya dan menuntut balas akan kematian ayahnya. Kerajaan Kertalodra harus memiliki orang yang ditakdirkan langit untuk menjadi raja yang membawa kemakmuran. Di samping semua itu, saat ini ia hanyalah seorang anak kecil yang tidak pantas disakiti apalagi sampai dibunuh hanya karena sebuah ramalan dan takhta.
Sudah satu bulan prajurit Kertalodra mencari keberadaan Sang Pangeran, namun tetap tidak kunjung menemukannya. Empu indrayana yang ikut membantu mencari Sang Pangeran tanpa sengaja akhirnya bisa menemukan Sang Pangeran. Bocah laki-laki itu sudah sangat kurus dan hampir mati dipukuli dipasar karena tertangkap basah mencuri sebuah mangga.
Empu Indrayana segera membawanya ke istana. Raja Arya Tirta Kusuma Winarang sangat senang karena Sang Pangeran ditemukan, sekaligus sedih melihat kondisinya. Sang Raja segera memerintahkan tabib istana untuk mengobatinya.
Ketika Sang Pangeran kecil sadar, semua orang akhirnya mengetahui bahwa bocah itu telah kehilangan ingatannya. Rasa kalut, kecewa, sedih dan takut tentang ayahnya yang ingin membunuhnya tanpa sadar membuatnya ingin melupakan ingatan itu dan akhirnya justru membuat dirinya kehilangan semua ingatannya yang bersangkutan dengan ayahnya yang berarti adalah melupakan seluruh kehidupannya, melupakan siapa dirinya.
__ADS_1
Raja Arya Tirta Kusuma Winarang akhirnya memberikan tugas pada Empu Indrayana untuk merawat Sang Pangeran dan menjadikannya murid. Tentu saja Empu Indrayana menerima tugas itu dengan sepenuh hati karena dirinya juga menginginkan hal itu. Dan Raja Arya Tirta Kusuma Winarang yang selama ini secara tidak langsung merawatnya dan menjamin kehidupannya sehingga menjadi seperti saat ini.
"Jadi selama ini kau sudah mengetahui semuanya?" Raja Arya Tirta Kusuma Winarang bertanya dengan hati-hati. Sedangkan Ruanindya hanya terdiam setelah mendengarkan keseluruhan ceritanya. Bibirnya seolah kelu.
Gantara mengangguk, "Iya. Hamba sudah mengetahui semuanya gusti prabu."
"Kau marah padaku? Aku akan menerimanya kalau kau ingin menuntut balas dendam."
"Tidak gusti prabu. Yang gusti prabu lakukan sudah benar. Gusti prabu sudah menyelamatkan rakyat yang hidup menderita di bawah kekuasaan raja yang zalim dan gusti prabu juga sudah menyelamatkan nyawa seorang anak yang akan dibunuh oleh ayahnya sendiri."
Semua orang tercengang bahkan Patih Gandatala. Mereka sangat salut dan kagum pada Gantara yang berhati besar dan berpikiran jernih. Andai saja mereka yang ada diposisi Gantara, mungkin mereka akan marah dan menyalahkan Raja Arya Tirta Kusuma Winarang.
Mata Raja Arya Tirta Kusuma Winarang berkaca-kaca untuk pertama kalinya dalam hidup, "Anakku pangeran Bimayudha Wicaksana, kau benar-benar berjiwa besar dan penuh dengan kebenaran. Maafkan aku atas semua kesalahan yang telah aku perbuat," ia yang seorang raja tanpa ragu meminta maaf pada Gantara di hadapan semua orang.
Gantara mengangguk dengan dalam, "Hamba sudah memaafkan gusti prabu."
Ruanindya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu menangis tersedu-sedu. Kenyataan ini membuatnya kaget dan membuat perasaanya campur aduk. Sesaat tadi ia sangat takut bahwa Gantara akan membencinya dan membalas dendam pada Raja Arya Tirta Kusuma Winarang. Dewi Ayu Galuh Ningtyas segera memeluk dan menenangkan putrinya. Satu bulan ini sudah cukup untuk Sang Permainsuri mengetahui hubungan putrinya dengan Gantara.
"Terima kasih pangeran," Raja Arya Tirta Kusuma Winarang tersenyum, beban di hatinya selama ini terasa diangkat dan menyisakan kelegaan.
"Hamba tetaplah panglima Gantara Wisesa," Gantara membalas senyuman Sang Raja. Ia memang sudah mengikhlaskan semua yang terjadi di masa lalu dalam hidupnya. Dirinya bukan lagi pangeran putra mahkota Bimayudha Wicaksana, melainkan hanya seorang panglima bernama Gantara Wisesa, "Gusti prabu, bolehkah hamba meminta sesuatu?"
"Tentu saja anakku. Apa itu?"
"Hamba memohon pengampunan untuk Dewi Sekar Arum dan Gayatri."
"Aku kabulkan permintaanmu," Raja Arya Tirta Kusuma Winarang menyetujui permintaan Gantara dengan cepat. Sang Raja tahu bahwa sebenarnya Dewi Sekar Arum dan Gayatri tidak menyetujui perbuatan Patih Gandatala, keduanya bahkan sering mengunjunginya di penjara dan membawakan makanan ketika Sang Raja menjadi tawanan. Terlebih dari semua itu, Dewi Sekar Arum adalah adik kandung dari Dewi Sekar Taji, ibu Gantara. Itu artinya Dewi Sekar Arum adalah bibi dari Gantara.
"Gantara..." Dewi Sekar Arum bangkit dari posisi berlututnya dan memeluk Gantara. Memeluk Gantara adalah hal yang sangat ingin ia lakukan dari semenjak ia mengetahui untuk pertama kalinya bahwa Gantara adalah keponakanya yang telah lama hilang, anak dari kakaknya yang tercinta, "...aku sangat merindukanmu nak," Dewi Sekar Arum menepuk-nepuk punggung Gantara dengan lembut seperti putranya sendiri.
Hati Gantara bahagia dan menghangat. Mungkin begini lah rasanya pelukan seorang ibu.
***
Akhirnya Gantara menikah dengan Ruanindya. Ramalan itu terjadi. Ia menjadi raja, namun bukan karena merebut takhta ayahnya. Ia menjadi raja karena keadilan dan kebasaran hatinya, wibawanya dan pembuktian diri.
Patih Gandatala dihukum pancung atas semua kesalahan yang telah dilakukannya. Begitu pula antek-anteknya tidak luput dari hukuman karena telah membantu pemberontakan dan kudeta yang dilakukan Sang Patih.
Dewi Sekar Arum dan Gayatri kini hidup bahagia sebagai keluarga dari Raja Gantara Wisesa. Sang raja Kertalodra yang baru itu tetap ingin menggunakan nama Gantara Wisesa dibandingkan dengan nama aslinya yang menyimpan banyak kenangan buruk.
Rasti resmi menjadi seorang tabib wanita pertama di Nusantara, dan ia telah diangkat menjadi tabib kerajaan. Sementara Ling Hua kembali ke negeri asalnya.
Antasena Jati diangkat menjadi panglima, menggantikan posisi Gantara sebelumnya. Pendekar itu masih tetap gigih mengejar Sang Tabib istana yang telah mencuri hatinya. Dirinya dan Rasti memang sudah menjadi kekasih sejak di padepokan, namun hanya status. Antasena bertekad untuk mendapatkan hati Rasti sepenuhnya, menjadi sepasang kekasih yang sesungguhnya.
Sedangkan Layung Sari akhirnya bisa merelakan Gantara bersama dengan Ruanindya karena kini sudah ada Adiyaksa di sisinya.
Gayatri sesekali mengunjungi makam Samudra. Pendekar itu juga mendapat hukuman pancung di hari yang sama dengan Patih Gandatala. Bagaimanapun Samudra sudah mengabdi kepada ayahnya dan semua itu Samudra lakukan untuk dirinya. Gayatri selalu mengucapkan rasa terima kasih untuk cinta Samudra padanya ketika gadis itu meletakan bunga diatas pusara Sang Pendekar.
Gantara sebelumnya tidak akan menyangka bahwa jalan hidupnya akan seperti ini. Mempersunting gadis yang ia cintai dan menjalani hidup bahagia bersama Ruanindya. Menjadi raja Kertalodra. Ia yang dulu hidup sendiri dan kesepian kini mempunyai keluarga yang besar, dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Tamat.
__ADS_1