
Roby membawa Deliva menuju pantai, walau wajah Deliva masih ditekuk sepanjang perjalanan itu tak surut membawa Roby sedih, malah Roby merasa tertantang untuk menarik perhatian Deliva.
Deliva langsung berteriak dan berlari menuju bibir pantai, sungguh ini sangat menyenangkan bisa kepantai seperti ini.
" wahhh.... yeeee aku datang " teriakan Deliva membuat Roby tersenyum. Gk salah dia mengorek informasi dari denis.
" kakak seneng " Deliva menggangguk dan berlarian di air
Roby terus memperhatikan tingkah konyol Deliva. Sungguh perasaannya bener bener bahagia melihat gadis itu senang seperti anak kecil.
' teruslah seperti itu, dan bahagialah, jangan pernah membagi senyum manis mu itu pada lelaki lain' Roby selalu mengikuti gerak gerik deliva dengan pandangannya
" by, sini main jangan disitu aja. Airnya seger bener ihh " Roby hanya menggeleng " yasudah"
Mulai merasa lelah, Deliva berjalan menghampiri Roby yang tengah duduk memperhatikannya.
" lelah? Nih kak minum dulu " Deliva meraih air minum dari tangan Roby
" kenapa ngajak kepantai kalo lo gk ikut main air " Deliva mengarahkan pandangannya lurus kedepan
" hanya ingin melihat pemandangan yang indah dan bikin hati adem " Deliva melirik Roby yang tersenyum menatapnya dan kembali Deliva menatap lurus kedepan
" pemandangan ? Ohhh maksudnya hijau daun dihamparan pantai ? Hem? " Deliva melirik Roby kembali
" lo jangan liatin gue mulu, risih gue "
" hahaha kenapa risih? Padahal cowok tampan loh yang liatin " Deliva bergedik ngeri mendengar ucapan Roby
" absurd banget "
__ADS_1
" ehhh kakak kok senang gitu pas tau kita nyampe dipantai "
" gue suka alam dan rasanya beban gue dibagi rata dengan alam, mereka terlalu cantik bahkan aku iri dengan kecantikan mereka. Alam terlalu baik sama manusia sayangnya manusia gk pernah menaruh peduli sama alam" Roby memandang wajah Deliva yang sangat cantik dia bahkan tidak bosan melihat wajah itu
" kakak juga cantik "
"Ehh... apa apaan sih ngejek banget " Deliva menaruh tangannya dipipi kenapa bisa dia merasakan panas gini
" ekhemm jangan liatin gue mulu, ntar lo jatuh cinta lagi "
" iya gue udah jatuh cinta sama lo " Deliva terbatuk mendengar penuturan Roby
" wahh parah lu adek kelas. Kok jadi bahas cinta cintaan udah yok gue mendadak lapar " Deliva berdiri meninggalkan Roby, Deliva berharap wajah merahnya tidak sempat dilihat Roby kalo diliatkan bikin malu aja
Roby berlari mengejar langkah Deliva dan mengalungkan tangannya di leher gadis itu. Deliva mencoba melepas namun gagal karna Roby mengeratkan tanganya di bahu Deliva
🌺🌺🌺
" makasih ya adek kelas. Gue masuk dulu. Lo mampirnya lain kali aja ini udah malam " Roby terkekeh dengan sikap Deliva
" iya kak makasih banyak ya udah nemenin, gue pulang dulu ya kak "
" ehmm hati hati " Roby tersenyum kearah Deliva, entah kenapa senyum itu seperti membakar wajah Deliva
" kak ... "
" ehmm apa udah pulang aj entar salam nya gue sampein "
" ohh oke kak Del.... gue sayang kakak bye " Roby melajukan mobilnya meninggalkan deliva yang terpaku berdiri menatap kepergian Roby
__ADS_1
Deliva tersadar dari lamunan sesaatnya. ' apa tadi ? Gue gk salah dengar? Dia... dia... dia sayang gue ? Wahhh cowok tengil sayang sama gue' Deliva berdialog dengan dirinya sendiri
" berapa lama lagi disana? Roby gk akan balek lagi buat nyuruh lo masuk "
" kiakkk.... sejak kapan abang disana? "
" sejak ada seseorang bilang sayang sama princess abg " Deliva menutup mulutnya tak percaya, jadi abgnya sedari tadi disana dan abangnya dengar dong sumpah serampah dia barusan wahh...
" kenapa wajahmu merah?" Denis kembali menggoda adiknya itu yang tampak sangat malu
" ishh apaan sih bg" Deliva berlari melewati Denis
" terima Del abg restuin " tawa Denis pecah melihat gelagat Deliva yang lari karna menahan malu
Sesampai di kamar Deliva langsung mengunci pintu, sungguh dia sangat sangat malu sekarang, Deliva mondar mandir memikirkan bagaimana reaksinya jumpa Denis nantinya sungguh dia sangat malu. Kenapa pula itu abangnya harus disitu bikin malu saja bukan ?
Terdengar ketukan pintu kamar nya " Del, ayok makan malam " terdengar suara tawa seperti mengejeknya dia tahu itu Denis wahh benar benar memalukan saja itu bocah tengil
" Del udah makan"
" yakin? Bukan karna gk mau jumpa abg kan princess ? " blushh kenapa pipi ini makin merah wah benar benar berbakat tuh denis buat orang salah tingkah
" ihh apaan sih bg? Udah sana aku mau mandi capek " Deliva kembali berteriak
" hahahah ya sudah kalo begitu . Mimpi indah ya princess abang" terdengar langkah kaki itu meninggalkan kamar Deliva
' wahh aku udah benar benar gilak, gimana dong huaaa dasar cowok tengil ngapain coba bilang sayang kan gue nya jadi bahagia aaa' Deliva memejamkan matanya dan tersadar kembali
' aku benar benar gila ' Deliva memukuli kepalanya sendiri ' tapi kok aku bahagia ya? Yahhh Deliva kau udah gilak ? Ingat Gilbert pacarmu' deliva memukuli kembali kepalanya
__ADS_1
' ehh tunggu dulu, kok dari tadi Gilbert gadak hubungin gua ya 🤔 aneh banget' Deliva mencek ponselnya dan benar saja tak ada satu pun pesan dari sang kekasih
' hemm punya pacar tapi kok serasa jomblo ya 😶ahhh ' Deliva melempar ponselnya asal dan mengambil handuk untuk mandi.