
Terdengar suara pintu kamar Deliva diketuk, Deliva terbangun mendengar ketukan itu, diliriknya jam sudah pukul 05.30
" ishh... bangunin orang sepagi ini ya ampun" Deliva menghentakkan kakinya dan berjalan menuju pintu kamarnya.
Seorang pria berdiri tegap dengan memberikan senyuman manis dipagi hari. Deliva mengucek matanya untuk melihat pria itu.
" morning... princess abang. Mandi gih siap siap sekolah. Buruan ya" Deliva melongo dan membuka mulutnya melihat abangnya yang sudah meninggalkan kamarnya " womakk.... disuruh siap siap jam segini mau sekolah" Deliva menutup pintu kamarnya
" mandi aja kali ya, entar kalo tidur lagi malah ketiduran, kasihan bg Denis udah semangat gitu bangunin aku.... huft baiklah oke Dell goo mandiii" Deliva mengambil handuknya dan masuk kamar mandi
🌺🌺🌺
" pagi dad, mom, abang and dedek gua" Deliva tersenyum kearah keluarganya yang sudah menanti nya sarapan. Tanpa berlama lama Deliva menarik kursinya dan duduk disamping Denis
" Del... kamu kok tumben semangat?"
" ihhh mommy anaknya semangat salah, lesu salah. Hayati harus apa??" Deliva mengangkat tangannya seperti minta suatu kejelasan
Gerald, Andini dan Denis tersenyum melihat tingkah konyol Deliva. Delicia msih tetap berkutat dengan makanannya dan menghiraukan kakaknya yang alay.
" Ca..." Ca hanya berdehem menjawab Deliva dan tetap fokus dengan makanannya
" gimana sama gaun kamu??" Deliva mencoba menahan tawanya
" gausah ketawa kali... entar bang Denis ganti kok wekk" Delicia mengeluarkan lidahnya
" hahahahah..... jadi benaran gk muat wkwkwkwk bg Denn... kok bisa gitu??" Tanya Deliva sambil meredakan tawa nya.
" abang kagak tau, abg liat dia difoto kecil banget, abang kira dia masih smp ehh taunya udah SMA aja. Ya gitu deh abg salah ambil ukuran. Padahal tadi malam waktu abang gendong dia mah b aja ringan gitu, gk tau kalo ukuran itu gk bakal muat" Deliva mengangguk
" trus kenapa abg gk kasih langsung aja, kenapa mesti parcel nya dluan??"
" ngebacot banget sih kk, itu tu maksud abang mau bikin surprise. Itu aja kagak tau yaelahh" Delicia tersenyum mengejek kearah Deliva
Deliva ingin membalas ucapan Delicia, namun Delicia tiba tiba berdiri dan mengangkat ponselnya yang baru saja berdering
" ckkk..." Deliva melanjut makannya
" mom, dad, abg Ca berangkat ya" Delicia mencium keluarganya berpamitan
" ehh kutu kupret kenapa gk bareng??"
" kakak lama, aku duluan ya. Aku udah dijemput tu byee" Delicia langsung ngancir keluar sebelum ada pertanyaan yang menyerangnya
Tiba tiba Deliva berdiri dan meminum susu yang disediakan mommy . Dia merapikan seragamnya, diambilnya tas yang ada disampingnya
" mom, dad Del berangkat ya" Deliva menyalam kedua orangtuanya
" bang ayok anterin, semalam kan dah janji" Denis mengangguk dan berdiri menyalam kedua orangtuanya
" princess abang mau dianter pake mobil kah??" Deliva menggeleng dan langsung memberikan Denis kunci motor sportnya
Denis menatap heran adiknya
Seolah mengerti deliva menjawab kebingungan Denis " itu kunci motor Del bang" Denis mengangguk dan berjalan menuju garasi rumahnya
__ADS_1
" Del, ini motor yang mana??" Deliva mengetuk kepalanya "motor sport putih bang" teriak Deliva dari gerbang
" gilak.... ini motor lo Ivv ehh Del??" Deliva mengangguk " yakin bisa bawanya?" Deliva menatap sebal kearah Denis " udah abg ngebacot mulu entar del telat nih" Deliva langsung menaiki motornya
🌺🌺🌺
" bg.... Del masuk ya" Denis mengangguk " eh bg, tau jalan pulang kan?"
" ya ampun, abg tau Del... abg sekali jalan mah hapal jalan"
" sombong awas aja ilang" Deliva tertawa mengejek
Denis tersenyum melihat adeknya itu, dia mengelus kepala Deliva dan mencium keningnya
" belajar yang baik ya princess abang"
" siap pak bos, tiati ya dijalan. Awas diculik tante tante loh"
" eh kenapa??" Deliva tersenyum " abang kecakepan sih wkwkwk, udah gih bang pulang" Denis menyalakan motor sport deliva dan menjalankan motornya. Deliva melihat Denis keluar dari halaman sekolahnya. Deliva berbalik dan melihat tubuh seorang pria didepannya. Deliva mendongakkan kepalanya
" ada apaa?" Tanpa menjawab pertanyaan Deliva, pria itu menarik tangannya menuju belakang sekolah
" woiii gilak lepasin tangan gue sakit ****" pria itu melepaskan genggamannya
" siapa dia??" Deliva menaikkan alisnya menandakan dia bingung
" siapa apanya??"Â
" laki laki itu"
" laki laki yang cium kening mu" Deliva tertawa, membuat kerutan dikening pria itu
" kenapa emang?? ada yang salah??"
" jawab" pria itu kembali mengenggam tangan Deliva lebih erat, Deliva kembali kesakitan
" sakit... ih lepasin tangan gua" Deliva melihat wajah pria itu. Terlihat jelas dimatanya menahan amarah, pria itu memejamkan matanya sejenak dan melepaskan genggamannya
" ihhh sakit... eh cowok gilak. Dengar ya mau itu siapa gue juga itu urusan gue. Lagian lo aneh banget ngapain urusan gue lo urusi?? Kenal juga baru kemarin dan lagian lo itu adek kelas gue tapi gk ada sopan sopian lo sama gue rahen gue" Deliva berjalan meninggalkan Roby. Ya pria yang membawa Deliva ke halaman belakang sekolah itu Roby.
Roby memandang Deliva yang mulai menjauh darinya " gue kenapa nih?? Gue kan bukan siapa siapa dia ngapain kesal liat dia sama laki laki lain" Roby bedialog dengan dirinya sendiri, Roby mengusap wajahnya dan melihat Deliva yang sudah masuk kekoridor
" sial... apaa aapaan gua haiss," Roby berjalan meninggalkan halaman belakang sekolah dengan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya
🌺🌺🌺
Bel tanda istirahat berbunyi, semua siswa menghembuskan napas lega. Karna para siswa akan langsung ngancir kekantin untuk mengisi perut, ada juga yang duduk dan mulai menggosip dan hal lain tentunya.
Deliva dan Anggray masih duduk tenang dikelas. Anggray melirik suasana kelas yang sudah sepi hanya tinggal dia, Deliva dan seorang gadis ya gadis itu Yessi.
Seorang pria memasuki kelas mereka dan langsung duduk disamping Yessi.
"Del, kantin yuk" Anggray mengarahkan matanya pada Yessi, Deliva sadar dengan kode yang diberikan Anggray dia melihat kearah depan, disana duduk manis Yessi dan Gilbert hendak makan bekal yang dibawa Yessi
" cihhh....." Deliva merasa jijik dengan pemandangan yang menyakiti matanya. Deliva langsung berdiri, melihat itu anggray laangsung mengikuti Deliva. Deliva mengarahkan pandangannya kedepan saat melewati dua insan yang sedang bermesraan
__ADS_1
" Del, makan bareng yok, aku bawa banyak nih" sapaan itu terdengar menjijikan ditelinga Deliva. Akting Yessi memang patut diancungkan jempol kaki.
Deliva menoleh kearah Yessi dan Gilbert.
" lu aja deh Cii.... gue liat lo makan aja udah kenyang gue" Deliva tersenyum mengejek. Dia berbalik badan, Yessi berdirri dari tempat duduknya dan membawa sedikit kue. Ditahannya tangan Deliva
" Del, makan ya, aku yang buatin loh" Deliva tersenyum " enggak makasih" melihat penolakan Deliva, Yessi tidak tinggal diam " Del ayo dong mau ya" merasa jengkel dengan sifat Yessi, Deliva menjauhkan tangan Yessi darinya, hal itu membuat kue dalam Tupperware itu tumpah
Gilbert langsung berdiri dan berjongkok membantu Yessi berdiri. Melihat itu Deliva merasa sangat sakit, dia berusaha tidak menjatuhkan airmatanya. Gilbert mengerang dan menarik tangan Deliva yang hendak pergi..
" Ivv... lo kok kasar banget sih, kalo memang gk suka ya bilang gausah, gak usah ngedorong segala dong," tangan Gilbert masih mencekal tangan Deliva
Deliva mengarahkan pandangannya ketangan Gilbert yang sedang memegang tangannya " lepasin tangan gue" tersadar dengan bentakan itu Gilbert melepas cekalannya
" gue rasa lo tadi gk tuli, gue bilang juga gausah dan makasih, masih kurang cukup, atau cewek lo yang budeg??" Tangan Hilbert hampir melayang di wajah Deliva kalo saja Anggray tidak menahannya
" ehh lo gilak ya mau nampar sahabat gue, lo siapa sampe berani main tangan??" Anggray melempar tangan Gilbert yang ditahannya tadi dengan kuat
Deliva masih syok dengan perlakuan Gilbert, dia tidak menyangka akan ditampar mantan sahabatnya. Dipelupuk mata kian mengenang air, hanya tinggal kedip maka air mata itu akan jatuh
" gue benci sama diri gue, karna sempat menggangap lo sebagian dari hidup gue. Gue nyesal dipertemukan sama wanita yang tidak mau menghargai orang lain" perkataan Gilbert barusan bagaikan tamparan keras bagi Deliva.
Deliva tiba tiba tertawa, hal itu membuat Gilbert melirik kearahnya " wahhh...." tepuk tangan dengan suara bergetar itu menyayat hati kecil Gilbert. Dia bahkan harus terpaksa mengatakan itu supaya Deliva cepat lupa padanya " makasi Ciii..... gue suka akting lo" Yessi mengernyitkan dahinya bingung " akhirnya gue tau gimana sifat asli sahabat ehh mantan sahabat gue. Gue bersyukur sama Tuhan karna bisa dijauhkan dari dia sebelum aku jatuh kelubangnya" Deliva tertawa hambar, masih merasakan sakit yang terlalu dalam.
Terdengar suara ketukan pintu, hal itu mengalihkan pandangan ke empatny ke arah pintu
" haii...." Roby masuk kekelas dengan perasaan canggung karna kakak seniornya menatapnya aneh. Roby terus berjalan hingga kearah Deliva, dilihatnya mata gadis itu sembab
" loh kamu habis nangis ya?" Roby bertanya dengan perasaan khawatir, Roby memegang wajah Deliva dan membawanya kedalam pelukannya.
Deliva langsung terisak dipelukan Roby. Mendengar isakan Deliva, Roby mempererat pelukannya. Anggray yang melihat tingkah laku Roby terkejut, namun buru buru ditepisnya.
Roby melihat Anggray, entah kode apa yang mereka nyatakan lewat tatapan itu, Gilbert masih terkejut kala Roby memeluk Deliva. Roby mengelurkan pelukannya dan menganggkat dagu Deliva untuk melihatnya
" sayang, kamu kenapa nangis?? Jangan buat aku takut, apakah lukamu yang kemarin blom sembuh?" Deliva dan Gilbert terkejut mendengar penuturan Roby, Deliva melihat mata Roby, seakan mengerti dia langsung memeluk Roby kembali.
" sudah, yok kita ke uks, Gray yok" Anggray berjalan mengekori Roby dan Deliva
Sementara Deliva pergi, Gilbert masih terpaku ditempat nya mengetahui Deliva terluka, bahkan dia berpikir keras luka apa yang ditutupi gadis itu
🌺🌺🌺
Deliva tiba tiba berhenti, dia menatap Roby dan Anggray. Dia menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskan
" makasih udah bantu gue, tapi gue mau sendiri dulu" Deliva tersenyum dan berjalan menuju belakang sekolah
" tapi Del..." ucapan Anggray terputus karna ditahan Roby " kak, udah mungkin dia butuh sendiri dulu. Kakak beli minum saja buat dia biar dia lebih tenang nantinya" Anggray menghembuskan napasnya kasar " thanks By" Anggray berjalan menuju kantin, sedngkan Roby berjalan menyusul Deliva ke halaman belakang sekolah
Roby melihat Deliva menatap kosong kearah depan. Dia segera berjalan menuju Deliva.
" lo gpp??" Deliva melirik pria yang entah kapan duduk disampingnya
" gue gapapa" siapa saja tahu kalo senyum yang diberikan Deliva itu palsu
" gue gk berhak tahu apa yang terjadi sama lo tadi, tapi gue siap kok jadi pendengar curhatan lo" Deliva tersenyum dan entah mengapa air mata itu kembali mengalir dari mata indahnya. Melihat itu Roby dengan sigab memeluknya
__ADS_1
" luka kemarin blom sembuh, sekarang dia membuka luka yang baru lagi" Deliva kembali terisak sementara Roby hanya bisa mengelus punggu cewek itu