Sahabat, Aku Cinta Kamu Loh!

Sahabat, Aku Cinta Kamu Loh!
Menjauh


__ADS_3

Rachel berjalan dengan pikiran melayang, entah mengapa ia selalu mengingat perkataan Roby yang meminta dia menjauh. Dia memang sayang sama Roby tapi bagaimana mungkin dia harus melepas orang yang dia sayang?


Rachel menatap kosong kedepan sambil berjalan mengarah ke kelasnya. Ari yang terburu buru pun menabrak adik kelasnya itu tanpa sengaja.


" sori .... Sori gua gk sengaja, gua buru buru "


" gapapa kok kak, aku nya aja yang melamun terus "


" sori ya gua duluan ya " Rachel mengangguk dan tersenyum


"hel, lu kenapa sih? " Rachel menatap Poppy sahabatnya itu " emang aku kenapa?" Poppy menatap Rachel heran " lo kok balik nanya gua sih? Gua mana tau lo kenapa" Rachel menghela napasnya kuat. Tak sengaja matanya menatap Roby tertawa berjalan berdua dengan Deliva.


" Hel... Hello Rachell ihhh "


" ehh iya Pop kenapa? "


" lo melamun lagi ya? " Rachel masih mengarahkan pandangannya ke arah Roby tanpa memerdulikan atau bahkan menjawab pertanyaan Poppy. Poppy mengikuti arah pandangan Rachel.


" Hel... Bukannya itu cowok lo ya? Kok bisa jalan bareng kak Deliva sih? "


" aku gk tau "


" lo samperin dong "


" aku gk mau ganggu, udah ya aku kelas duluan "


" yahhh Hell tungguin dong " Poppy mengejar Rachel yang terburu buru ke kelas


Deliva tetap santai berjalan menanggapi godaan Roby padanya. Tak sengaja arah pandangnya melihat Rachel sehingga mereka saling tatap menatap.


" lo baik baik aja kan sama Rachel? "


"emm... Baik baik saja emang kenapa? "


Deliva mengarahkan pandangannya kepada Rachel yang menatap kosong kearah mereka.


" gk mau samperin? " Roby mengikuti arah pandang Deliva, melihat Rachel menatap mereka.

__ADS_1


" biarkan saja, dia tahu menempatkan diri " Deliva melirik Roby, apa maksudnya coba?


" lo aneh, udah lo gk usah anterin gua ke kelas, sana lo pigi ke kelas lo aja, gua males debat sama anak anak" Deliva mengambil bukunya dari tangan Roby, dia berjalan menjauh meninggalkan Roby


" Del, lo hebat banget ya, sementang mentang cowok lo gak ada disini lo bisa ngait cowok lain " Deliva menatap tajam gadis rambut pendek itu, namun dia tetap tidak peduli, Deliva tetap berjalan " Gini ni cewek yang gk tau bersyukur " kalimat itu membuat Deliva terdiam dan melangkahkan kaki menuju gadis berambut pendek itu.


" heh, lo siapa sih? Gua gk kenal lo yah, kok lo pande pande an ngusik hidup gua?"


" Gua gk pande pande memang itu nyata, lo cewek memang gk tau bersyukur, Gilbert disana berjuang untuk hidup dan lo malah enak enak an disini gonta ganti cowok " Deliva memejam kan mata dan menarik napas kuat kuat


" lo siapa sih? "


" hah? Pertanyaan lo gk mutu banget sih dan gk penting juga. Lo pilih diantara mereka, kalo lo gk sanggup jagain Gilbert lepasin, biar dia bisa dijagain yang lain, yang lebih peduli sama dia " Deliva menatap tajam kearah gadis itu


" lo siapa ? Lo suka sama cowok gua? " Gadis berambut pendek itu tersenyum menatap Deliva yang lebih pendek darinya


" hahahah, segitu kepo nya lo sama gue ya? Lo gk usah tau soal hidup gue, intinya lo ngejauh dari dia, kalo lo udah gk sanggup sama dia" Gian berlari dari tempatnya, ketika dia melihat Deliva berdebat dengan sepupunya Celline


Deliva menjatuhkan buku dan tasnya ke lantai, kedua tanya terkepal dan ingin menarik rambut gadis itu, namun usahanya sia sia ketika Gian dengan cepat meraih kedua tangannya.


" ada apa kak? " Deliva menatap Gian marah, kenapa sih Gian datang diwaktu emosinya meluap luap


Deliva menyentak tangannya dari Gian, dan mengambil buku buku serta tasnya dan hendak melenggang pergi. Sebelum benar benar pergi dia menatap tajam gadis itu " Lo kalo suka sama Gilbert ambil aja dari gua, kalo memang Gilbert mau sama lo. Fine gua ngejauh " Gian menatap heran pada Deliva, apa maksud gadis itu memberi Gilbert pada sepupunya ini?


Melihat Deliva bergerak menjauh, Gian berlari mengejar Deliva, namun ditahan Celline


" Lo jaga baik baik Gilbert dari cewek kayak dia, bila perlu lo harus pisahin mereka. Gua gk mau Gilbert di giniin sama cewek gilak ituu"


" hah? Maksudnya gimana coba ? "


" lo kemana aja, masa mata lo gk lo pake buat liatin Deliva kemana aja dan sama siapa aja. Dia jalan sama cowok lain dan lo diam aja gitu? "


" aduhh gua gk paham "


" Dasar lu ya bodohnya itu loh sampe tulang tulang " Celline bergerak menjauh meninggalkan Gian yang masih dengan kebingungannya


Gian menatap heran sepupunya yang sudah bergerak menjauh darinya. Gian kembali terpikir dengan Deliva, Gian berlari menuju kelas gadis itu.

__ADS_1


Gian melirik lirik ke dalam kelas XII IPA1 kelas Deliva, matanya menangkap sosok yang dia cari tengah menelungkupkan wajahnya di meja. Gian bergerak mendekati Deliva.


Deliva merasakan mejanya bergeser, namun ia malas untuk sekedar mengangkat wajahnya, untuk melihat siapa orang yang duduk disebelahnya. Dia sudah cukup lelah dengan cibiran orang, biasa orang orang hanya berani bicarain dia dibelakang belum pernah ada sefrontal gadis berambut pendek tadi.


" kak "


" heemm ? "


" ada masalah apa? " mendengar suara itu Deliva mengangkat wajahnya menatap Gian. Deliva menghela napas dan melirik ke arah jendela


" gua disini kak, lo bisa cerita, gua udah janji sama bang Gilbert jagain lo disini " setetes air bening jatuh dari pelupuk mata Deliva, Gian terkejut kenapa gadis yang didepannya ini menangis? Adakah yang salah dari perkataannya barusan ?


" loh, kok malah nangis sih kak? " Deliva menatap Gian, sekali lagi air mata itu menetes


" apa iya gua gk bisa jadi kekasih yang baik buat abang lo? Apa gua cewek yang tidak tau bersyukur? " Gian semakin heran dengan penuturan Deliva, bahkan dia tak tau harus memulai dari mana, paham saja dia tidak bagaimana bisa memulai


" gua cewek jahat ya? "


" hah ? Bentar deh gua gk ngerti ini cerita nya gimana sih? Apa ini ada hubungannya dengan kak Celline? " Deliva menatap Gia terkejut heran.


" siapa? Celline? Siapa dia?"


" hah? Kakak gk kenal? Bukannya tadi kalian baru selesai mengobrol ? "


" oo gadis itu Celline, dia sepupu lo kan ya" Gian menganguk


Deliva melap air mata nya yang masig bersisa, lalu menatap wajah Gian dengan penuh mohon sampai membuat Gian semakin bingung.


" Gua tadi udah lancang banget sama sepupu lo, lo mau nemenin gua ? Gua mau minta maaf " Gian makin heran ada apa sebenarnya yang terjadi ini membuat dia kalut semakin bingubg, namun Gian tetap menganggukkan kepala dan tersenyum


Deliva spontan memeluk lelaki itu dengan erat saking bahagianya, memang mood cewek aneh cepat banget berubah rubah. Hal itu membuat Gian senyum geli melihat tingkah laku Deliva


" udah, sana lo balek kelas entar lagi bel " Gian menaikkan sebelah alis matanya


" gak jadi cerita sama gua kak " Deliva menggeleng dan mengusir Gian dan dia kembali sibuk mempersiapkan buku buku yang diperlukan.


" syuu.... "

__ADS_1


" santai aja mbak wkwkwk bye gua pergi " Deliva mengangguk dan langsung menyibukkan diri dengan bukunya.


Gian terkekeh sendiri keluar dari kelas Deliva.


__ADS_2