Sahabat, Aku Cinta Kamu Loh!

Sahabat, Aku Cinta Kamu Loh!
will you marry me?


__ADS_3

Kini Gilbert dan Deliva telah menyelesaikan masa SMA, ahh...  Rasanya begitu melegakan hati,  soal nilai itu urusan belakang yang penting mereka telah berusaha keras untuk menyelesaikannya.


Gilbert mengajak Deliva ke pantai. Sesampai di pantai, seperti biasa Deliva berlari lari dan Gilbert hanya melihat gadis itu dengan senang.  Rasanya bahagia ini melegakan hati sejak dia telah bebas dari penyakit itu. 


Gilbert menitihkan air mata, akan kah bisa dia menjaga hubungannya ini sampai ke jenjang yang lebih serius,  rasanya sangat lucu jika membahas hubungan serius di usia Gilbert yang baru berusia 19 tahun. 


" Gil... Mikirin apa sih?  Aku panggilin bukan nyahut dari tadi, "


" aku hanya menikmati senyummu dari sini, " tangan Gilbert terangkat,  mengelus rambut gadis itu.


" Ivv, kamu mau ngelanjut kuliah dimana?  "


" rencana aku di UPH Gil,  kamu gimana?  "


" ke luar boleh gk?  " tanya Gilbert hati hati


Deliva terdiam,  dia mecerna kalimat Gibert baik baik. Mungkin kah dia harus menghalangi kekasihnya ini untuk melanjut pendidikan ke luar,  sungguh dia gk mau lagi harus LDR dengan lelaki ini.


" iya gapapa, " senyum Deliva terbit di bibirnya,  namun Gilbert dapat melihat mata itu semakin bening.


" bener?  " Deliva hanya mengangguk,  segera dia memalingkan wajahnya dari Gilbert,  sungguh ia tak kuat.


" aku kesana dulu, " belum sempat Deliva berjalan menjauhi Gilbert,  kedua lengan kokoh itu sudah menyatu di perut Deliva.  Dagu Gilbert dia letakkan di atas kepala Deliva.  Deliva berusaha sekuat tenaga menahan isak tangisnya.


" kalau gk kuat,  kenapa harus pura pura kuat?  " 


Mendengar itu Deliva menumpahkan air matanya dan berbalik badan memeluk lelaki itu.


" aku bisa egois gk?" tanya Deliva dengan isakan tangisnya


" hem... "


" aku gk mau kamu pergi,  kamu di sini aja temanin aku ya,  aku gak pengen jauh lagi. Gapapa ya aku egois untuk yang satu ini aja, " tutur Deliva dengan isak tangisnya


" hem... " Gilbert kembali membawa Deliva ke dalam pelukannya.


🌺🌺🌺


Sesampai di rumah,  Deliva melihat kedua orang tuanya sudah kembali dari Amerika.  Dia segera berlari memeluk ke dua orang tuanya itu.


" Del kangen loh moms,  dad, "


" ehh...  Kok manja sekali? Tak malu kah Gilbert lihatin kamu loh "


" bodo amat moms, " tutur Deliva masih bergelayut manja di tangan mamanya


" eh...  Gil maaf pin ya,  dasar anak ini," ucap Andini seraya mengelus rambut anaknya


" gapapa kok tan,  udah biasa liat dia kayak gitu, "


" oh iyakah?  " tanya Andini penasaran


" udah deh gk usah ngarang cerita,  ehm...  Aku ke atas dulu mandi, " Deliva bergerak menjauhi mereka


" Gil..."


" eh iya om?  "


" kamu ada hubungan apa dengan Deliva?  " tanya Gerald dengan wajah yang serius

__ADS_1


Rasanya mendengar itu seperti pasokan udara di sekitar ini berkurang. Gilbert rasanya payah sekali menelan ludah saja.


" ehmm...  Pacar om ," terdengar helaan nafas Gerald


" kalo om minta kamu menjauhi Deliva boleh, " bagai hantaman berat menimpa Gilbert,  ada apa ini?  Perasaan Gilbert tak pernah buat masalah.


" apa aku lalai ya om jagain Deliva?  " tanya Gilbert dengan bibit gemetaran


" bukan!  Kalian masih terlalu belia untuk menjalin suatu hubungan, " jelas Gerald membuat Gilbert bungkam


" Dad... " panggil Andini, Gerald melirik Andini dan mengeleng kepala. Andini hanya bisa menghela napas mendengar keputusan Gerald.


" tapi om,  aku sudah cukup dewasa," bantah Gilbert


" kamu belom dewasa,  dan kamu juga gk perlu capek capek jagain anak saya,"


" kenapa om larang sih?  Aku udah berusaha semampu aku buat Deliva bahagia dan jagain dia,"


" pulang lah, " Gerald memalingkan wajahnya dari Gilbert


" Kenapa harus? "


" maksud kamu apa?  " tanya Gerald dan menatap pemuda itu tajam


" kenapa aku harus mendengarkan om? Yang jelas jelas menghancurkan bahagia Deliva, "


" heh!  Lancang sekali anda,  saya minta baik baik, jangan paksa saya harus berbuat kasar pada anda, " jelas Gerald mengebu gebu


Sebuah senyuman meremehkan terbit di wajah Gilbert.


" gua gk mau, "


" kalau aku berhasil, apa aku bisa menikahi Deliva? " tanya Gilbert dengan mata berbinar binar


" tentu saja,  tapi ingat kamu harus berhasil karna tangan mu sendiri bukan karna bantuan dari ayah kamu, " sempat merasakan keterkejutan,  begitu besar nyali lelaki ini meminta anak gadisnya langsung.


" okay om...  Aku terima 4 tahun daei sekarang," terbit sebuah senyuman di wajah Andini melihat Gilbert yang sepertinya sangat bahagia.


" kenapa kalian berdiri?  " tanya Deliva yang tiba tiba saja sudah sampai di ruang tamu


" tidak ada apa apa, mau mengantar aku ke depan?  " tanya Gilbert


Deliva mengangguk dan melihat situasi aneh sepertinya baru saja terjadi di sini.  Tapi sepertinya tak ada yang ingin memberitahunya.


" om,  tan aku pamit pulang, "


" iya...  Hati hati"


Deliva mengantarkan Gilbert ke depan rumah nya,  Deliva menatap bingung lelaki ini sepertinya sedari tadi dia tersenyum gak jelas.


" ada apa sih?  Dari tadi kamu senyum mulu perasaan, "


" Ivv...  Kamu bersabar ya. Hanya empat tahun saja kok, "


" untuk?  "


" aku bakal balik lagi menjemput kamu, " jelas Gilbert


Namun itu tak langsung membuat Deliva mengerti,  malah semakin terlihat jelas kerutan di keningnya menandakan dia bingung sekali.

__ADS_1


Tiba tiba Gilbert mencium kening Deliva lama,  dan memeluk gadis itu hangat.


" aku akan kembali,  pegang janjiku, "


" emang mau kemana?  "


" ngejar masa depan,  biar bisa bahagiain kamu nanti, " Deliva tersipu malu melihat tingkah Gilbert.


" Ivv... "


" hah?  "


" tutup mata dulu, "


" buat apa?  "


" udah tutup aja dulu, " perintah Gilbert.  Mau tak mau Deliva menutup matanya


" buka... "


Deliva menutup mulutnya terkejut melihat sebuah kalung tepat di depan wajahnya,  sungguh cantik sekali!


Ukiran lambang itu membuat dia tak henti kagum menatapnya DG


Gilbert segera memakaikan kalung itu pada gadis itu, dengan senang hati Deliva menerimanya. 


" Ivv, maaf kalungnya gk bagus banget dan gk mahal juga.  Nanti kalo aku sukses aku beliin yang lebih bagus, "


" gk kok,  ini malah bagus banget tauu...  Makasih sayang," Deliva memeluk Gilbert erat


" Will you marry me?  " tanya Gilbert disela pelukan mereka


" hah?  " tanya Deliva terkejut


" iya,  aku akan menanyakan itu nantinya lagi.  Untuk saat ini aku latihan dulu,  ternyata latihan saja buat aku gugup deh,  kamu dengar gk dentuman jantung aku?  " senyuman Deliva semakin merekah


" Yes,  I will " jawab Deliva mantap,  itu membuat Gilbert terkejut


" Dan kamu akan mendengar jawaban itu nanti dari gadis yang kamu ajak menikah, "


" terimakasih,  tetaplah berada di sisiku.  Kelak aku ingin gadis itu kamu,  "


Deliva mengangguk bahagia,  lagi lagi mereka berpelukan dan itu tak jauh dari pengawasan Gerald dan Andini.


" Dad,  bukankah itu romantis sekali, "


" bener moms,  kenapa anak muda sekarang punya keberanian dan kepedean tingkat dewa ya?  "


" dady...  " senyum Gerald merekah melihat putri kecilnya sudah secepat itu besarnya,  tetesan air mata mengenai tangan Andini


" dad,  kenapa menangis? " tanya Andini pada suaminya


" rasanya gadis ku itu masih kecil sekali kemarin tapi sekarang lihat,  bukan kah dia sudah tumbuh dewasa cantik seperti mu?  " senyuman Andinu terbit mendengar penuturan suaminya itu


" aku juga tak menyangka itu sayang,  makasih sudah menjadi suami dan ayah yang selalu ada buat kami, "


" terimakasih juga selalu menjadi istri dan ibu dari anak anak ku, " kecupan kecil Gerald berikan pada Andini,  Gerald merengkuh pinggang istrinya itu untuk mendekat kepadanya.


Kembali mereka berdua menatap sepasang kekasih yang berada di depan rumahnya itu. 'Semoga bahagia ini selalu bersama sama keluargaku Tuhan' batin Gerald

__ADS_1


__ADS_2