Sahabat, Aku Cinta Kamu Loh!

Sahabat, Aku Cinta Kamu Loh!
Can't Wait


__ADS_3

Semakin hari dua remaja yang menjalin asmara itu tampak semakin bahagia, bahkan kini mereka sudah tampil didepan teman teman mereka, tidak ada yang perlu disembunyikan lagi.


Gian menatap abangnya yang berjalan beriringan dengan kekasihnya itu, sepanjang perjalanan senyumnya semakin mengembang saja. Apa mungkin dia mau merusak momen bahagia itu? Rasanya sungguh tidak adil.


Gian sempat membenci Deliva, dia berpikir bahwa gadis itu akan meninggalkan Gilbert ketika tau mengidap penyakit. Tapi melihat tulus senyuman diwajah Deliva membuat dia yakin gadis itu mungkin saja gk terima saat kekasihnya mengidap penyakit tak seorang pun memberitahunya, mungkin Gian juga akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Deliva.


Terbit lah garis lengkungan kebawah diwajah Gian, melihat itu Delicia tersenyum dan mengikuti arah pandang Gian yang menatap kakak mereka


" woiii "


" ehh anjirrr... Terkejut gua, " tawa Delicia makin pecah karna berhasil mengejutkan sahabatnya itu


" napa lo senyum senyum hoh? "


" lo liat dehh, mereka bahagia banget gk sih? Gua gk nyangka teman mulai dari janin bakal bisa menjadi sepasang kekasih gitu, " pandangan Gian tak lepas dari sepasang kekasih yang saling tertawa lepas itu entah apa yang mereka bahas sampe sang wanita memegangi perutnya.


" iya, gua juga gk nyangka, semoga mereka bahagia deh,"


" apa menurut lo kita bakal seperti itu juga?" Delicia menatap Gian heran.


"maksud lo ?"


" ya itu, sahabat jadi sepasang kekasih,"


" siapa? " Gian menatap Delicia dan memutar bola matanya


" kita bodoh "


" No.... Big No "


" kenapa? Kita kan belom coba," tatapan genit Gian membuat Delicia bergedik ngeri


" eh tolong ya tu mata, gua jadi pengen colok tu mata," Gian berusaha menahan tawanya


" gapapa deh lu colok, yang lain juga boleh kalo kita udah saling .... " tangan Delicia mengarah ke depan bibir Gian agar lelaki itu berhenti ngawur.


" diam deh. Jangan bikin gua ama laki gua berantam "


" laki lo ? " Delicia mengangguk semangat " kan gua laki lo " Delicia menatap tajam Gian


" iyuhhh ..... Lo itu sahabat gua, gua udah punya pacar, makanya lo buruan cari pacar berkarat kan lu "


" gua udah punya pacar "


" hah? Seriously? "


" ehemm " Gian mengangukkan kepalanya dengan senyuman yang melekat dibibirnya


" siapa? Kok gua gk tau, wah parah lo sama sahabat sendiri gk cerita "


" ngapain gua cerita kan orangnya dia " Delicia menghela napasnya dan memutar bola matanya malas


" lo berenti ngomong gitu, gua baper lo kudu tanggung jawab "


" kan aku mau tanggung jawab "

__ADS_1


" kelamaan jomblo nih ya gini jadinya, sahabat serasa pacar dasar, dah ah gua kekelas aja mending... Bye... " Gian menarik pergelangan tangan Delicia


" woii apa apan si loh," smirk Gian membuat Delicia takut


" I feel I love you Ca " Delicia merasakan sesak, oiii oksigen mana oksigen toling beri sama delicia, ah payahh gk ada yang mau ngasih.


Gian mendekatkan wajahnya ke wajah Delicia, Delicia semakin merasakan sesak napas, karna saat ini bahkan dia dapat mencium aroma napas Gian. Delicia menelan air ludah nya dengan susah payah. Melihat ketakutan Delicia membuat Gian berusaha mati matian menahan tawa.


" iann... Tolong menjauh gue gak bisa napas " jelas sekali bukan dorongan Delicia mana berarti apa apa sama Gian yang kekuatannya jauh lebih besar dari Delicia.


" Gua gk mau, gua mau buktiin ke lo kalo kita bisa kayak mereka " Gian makin mengikis jarak mereka


Delicia melirik kanan kiri, sungguh dia tidak sanggup berada seperti ini dengan Gian. Apa yang ada dipikiran sahabatnya ini.


" Ian lepasin tangan gue, gue sesak napas udah, " Gian tertawa kuat dan melepas tangan Delicia


" hahahah Ca, sori maafpin gua ya, muka lo kok lucu banget sih" Gian mengelus elus kepala Delicia


" diam deh, gk lucu bodoh " bukannya diam tawa Gian makin besar


" tapi serius deh Ca , kita boleh coba pacaran kek abg gua sama kakak lo "


" diem lo, kesel gua " Delicia menghentakkan kakinya meninggalkan Gian


" Ca I cant wait loh " teriakan Gian membuat Delicia semakin kesel " dasar cowok gk tau malu " gerutu Delicia


🌺🌺🌺


" Ivv aku senang banget akhirnya tawamu seperti ini " Deliva tersenyum manis pada Gilbert membuat lawan jenisnya itu memandang dia lekat lekat.


" aku gk pengen ini berakhir " Deliva mengernyit dahinya heran


" mungkin lusa aku akan berangkat Ivv, aku gk mau nutupin apapun lagi darimu " Deliva sempat terdiam mendengar itu, namun dia tau kekasihnya itu harus berobat di daerah kanguru sana, Deliva mengukir senyuman lagi di bibirnya.


Deliva menarik tangan Gilbert dipangkuannya dan mengelus tangan besar itu.


" pergilah dan ingat aku selalu paling depan menunggumu kembali," terbitlah senyuman Gilbert, dia menarik tangannya dan mengelus kepala Deliva


" aku harap aku masih bisa lihat wajah ini tersenyum menyambutku "


" tentu. Aku janji akan hal itu dan kamu juga harus janji untuk kembali dengan sehat " Gilbert tersenyum, dia bahkan tidak bisa mengatakan iya untuk janji itu. Gilbert membawa Deliva kepelukannya.


Yessi semakin geram melihat mereka, dia menghampiri dan menarik tangan Gilbert, dia tidak percaya Gilbert akan melakukan hal ini didepan umum.


Apa yang terjadi selama seminggu dia tidak masuk sekolah? Kenapa mereka sepertinya makin lengket?


" ihh apa apaan ini. Lo ngapain meluk dia bodoh? "


Deliva tidak terima kekasihnya dikatain bodoh oleh si nenek sihir ini.


" eh begok ngapain lo pegang tangan cowok gue huss sana loh "


Gilbert melepas cekalan yessi ditangannya, dan dia tersenyum pada yessi


" gua harap lo jangan terlalu dekat sama gua, karna gua takut cewek gua jauhin gua lagi " Gilbert menatao Deliva tersenyum

__ADS_1


" maksud lo apaan? Ahh lo mau gua bongkar semua ? " Gilbert merubah mimik wajahnya seperti takut


" tolong Ci, jangan gua bakal lakuin apa yang lo mau plis " Yessi tersenyum puas dan Deliva Menatap tajam pada Gilbert apa apaan kekasih nya itu


Gilbert kembali menerbitkan senyumannya dibibirnya


" lo kira gua bakal ngomong gitu ke elo? Salah besar nona, silahkan lo bongkar semua udah gk ada guna semua orang juga udah tau. Lo gak usah cape cape buat jelasin kesemua orang. " Gilbert meraih tangan Deliva dan mengajak wanita itu pergi.


" kiaaaaakkkk " teriakan yessi membuat Gilbert berhenti


" Gua harap lo jangan pernah ganggu gua, keluarga gua, apalagi cewek gua, lo bakal kena imbasnya dari gue " Gilbert menjauhi yessi dan membawa wanitanya pergi menjauh dari nenek sihir itu.


" Gilbertt ....... Gua pastiin lo gk bahagia dengan penyakit lo itu,"  mendengar teriakan Yessi orang sekitarnya menatap dia kesel


" Lo bukan Tuhan, yang bisa ngatur kehidupan orang bahagia atau tidak," deg suara itu membuat Yessi terdiam


" Arii... Bukan bukab bukan itu maksud aku " Ari menatap tak suka pada Yessi dan berlalu meninggalkannya


" lo cewek mulutnya kudu di lakban ya, ngeselin banget jadi orang cuihh "


" tau ni cewek kok bar bar banget iyuhh "


Yessi menangis berlari dari kerumunan orang orang dia udah gk sanggup dengerin celotehan orang orang kepadanya.


Yessi mengambil tasnya dari kelas dan berlari menuju parkiran, dia menangis sejadi jadinya didalam mobilnya.


" sialan "  tangisnya makin pecah dan meninggalkan pekarangan sekolah


🌺🌺🌺


"Bert, rahasia apa yang dimaksud Yessi? "


" tentang penyakit gua ke lo, dia tau kalo gua takut lo tau penyakit gua. Makaya gua kerja sama sama dia biar lo makin benci sana gua, dan lo ngejauh dari gua dan dia juga pengen liat reaksi si Ari apa cemburu ketika liat gua dan dia," Deliva mengangguk dan memainkan kakinya ditanah


" hanya itu ? " Gilbert menatap wanitanya itu


"emang apa lagi? "


" ya aku mana tau,  rahasianya kan antara kamu dan dia " Gilbert tersenyum dan mengelus kepala Deliva


" hanya itu sayang, kalaupun ada yang lain mungkin aku perlu diingatkan kembali " Deliva tersipu malu ketika Gilbert memanggilnya sayang dan selalu begitu.


"waduhh apa kamu kepanasan?"


" hah? Enggak kok "


" loh iyakah? Kenapa wajahmu memerah " Deliva memegangi wajahnya " iiiihh " di pukulnya Gilbert berkali kali dan itu membuat tawa Gilbert pecah


" aku suka kalo wajahmu memerah karna aku " Deliva mengangguk kembali dan mengarahkan pandangannya kesepatu miliknya. Gilbert mengangkat dagu Deliva biar gadisnya itu menatap dia " aku disini sayang bukan disepatumu " Deliva makin malu menatap Gilbert.


Huaaaahwkwk " kamu kenapa imut banget sih? Jadi gk rela ninggalin kamu disini, atau kamu ikut aku kesana? "


" iiiihhh apaan sih, udah jangan goda aku mulu, malu tau " tawa Gilbert kembali pecah melihat sikap malu gadisnya ini


" ooo aku akan sangat merindukan wajah tembem ini " Deliva mentap horror kearaH Gilbert

__ADS_1


" sudah jangan bahas itu lagi, kamu tuh siap siap in batin aja, aku akan setia menunggumu disini berjanjilah kamu kembali dengan keadaan sehat " Gilbert tersenyum tulus mentap gadisnya ini


" I cant wait " Gilbert mengecup kening Deliva lama.


__ADS_2