
Deliva menikmati kesendiriannya dengan persiapan diri untuk ujian Nasional. Gadis itu bahkan sampe harus mengubah pola hidupnya tak lagi membebaskan diri dengan dunia luar.
Bunyi ponselnya membuat perhatiannya terbagi ke benda pipih itu, membuat dia melirik siapa yang mengirimi dia pesan? Ternyata, Delicia yang mengiriminya pesan bahwa adiknya itu pergu dan sedikit terlambat pulang ke rumah.
Matahari sudah mulai terbenam, akhirnya Deliva merapikan semua barang bawaannya, dia akan segera kembali pulang, setelah s
cukup lama berkutat di perpustakaan akhirnya gadis itu memutuskan untuk pulang.
" Del..." sapaan itu membuat Deliva menoleh ke sumber suara.
" udah mau balik ya? "
" hem, iya nih "
" mau bareng? "
" gua bawa motor,"
" yahh... okelah. Lain kali kita harus barenng," Deliva hanya tersenyum tidak mengiyakan dan tidak menidakkan ajakan itu.
" gua balek dah ya," Deliva mengangguk dan melihat Ari bergerak menjauhinya.
Apa sekarang Deliva sudah terlihat dewasa ? benar dia sangat lelah di posisinya sekarang. Dia tidak menggoda mereka atau apa, tapi kenapa mereka masih berusaha dekati Deliva? padahalkan mereka sudah tau Deliva memiliki kekasih.
Deliva menghela napasnya, dia bergerak menunu motornya dan menyalakan motornya dan segera melajukan motor itu bergerak menjauh.
🌺🌺🌺
Deliva memasuki rumahnya, rumah ini gelap dan tampak kosong, sudah beberapa bulan ini kedua orangtuanya sibuk mengurus grandma yang sakit, dia sangat merindukan kedua orang tuanya.
Kakinya terasa berat melangkah, dia menyalakan lampu rumah nya. Sementara Delicia belum kembali, Deliva segera menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
ting...tong...
Bel rumahnya membuat dia bergegas, mematikan kompor dan segera berlari menuju pintu utama rumahnya.
" sebentar ! " teriak Deliva
Saat pintu terbuka, tak ada seorang pun ada di depan pintu itu. Kemana dia? Deliva malas melirik ke bawah dalam pikirannya pasti ini ulah orang jahil. Dasar!
Deliva hendak menutup kembali pintu itu, namun tertahan sesuatu sehingga dia mengernyit heran dan menatap ada sepasang kaki. Deliva menegakkan kepalanya melihat sosok yang ada di hadapannya itu. Dengan segera mungkin dia menutup mulutnya, dia terkejut, heran, bahkan saat ini jantungnya ingin copot saja dari tempatnya. Sementara sosok di hadapannya ini masih tersenyum lebar memandanginya. Kini sosok itu membentangkan kedua tangannya, tanpa pikir panjang Deliva langsung melompat ke dalam pelukan itu.
" Kangen!" isak Deliva
" aku juga, aku bahkan kangen banget," Deliva mempererat pelukannya pada sosok yang di hadapannya ini.
" Kenapa jahat? Kenapa tak mengabari ku tuan Anggara? "
" Aku ingin membuat Kejutan buat mu nyonya Anggara" Deliva menjauhkan kepalanya dari dada bidang itu.
__ADS_1
" sejak kapan aku nyonya Anggara, namaku Deliva Muller dan belom berganti," tukas Deliva
" Secepatnya gelar itu akan kau sandang sayang," sosok itu mencubit gemas hidung pesek milik Deliva.
" ihh Gilbert sakit tau,"
" ah ... masa?"
" iya tau " ternyata sosok itu Gilbert kekasih hatinya, sudah kembali dari Negeri Kanguru itu.
"aku rindu banget Ivv" kembali Gilbert membawa Deliva ke dalam pelukannya.
" aku juga tau !"
" ekhem...." suara itu membuat keduanya saling melepas pelukan, Deliva merutuki orang yang mengganggu moment acara melepas rindu mereka.
" permisi... tak bisakah kalian berdua pelukannya di dalam rumah saja? Kalian menghalangi pintu masuk, jadi aku tak bisa masuk begitu saja," dengan cepat Deliva dan Gilbert segera menyingkir dan membiarkan gadis dan teman lelakinya memasuki rumah denhan menahan tawa dan senyum menggoda.
" Ca ?"
" hemm... ada apa kak? "
" kenapa kamu tidak memberi salam pada Gilbert, apa kamu tak belajar sopan santun? " Deliva melipat tangannya di depan dada dan menatap tajam ke arah adiknya itu
" sebelum kakak memerintahkannya aku sudah melakukannya, "
" jadi? "
" sudah lah Ivv, sebaiknya kita menikmati masakanmu, kamu sedang memasak bukan? "
" eh... gua lupa, gua ke belakang dulu. Lo semua tunggu di meja makan saja," Deliva segera berlari menuju daour sementara Gilbert menyunggingkan senyumnya melihat gadis itu berlari ke dapur.
Gilbert menyusul Deliva ke dapur, berhenti tepat di samping pintu masuk ke dapur, memperhatikan Deliva yang begitu serius berkutat dengan alat dapur itu, 'betapa beruntungnya aku apabila dia benar benar jadi istriku kelak' batin Gilbert tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari Deliva.
Deliva telah membereskan piring kotor bekaas memasaknya, kini dia mulai menghias masakan itu dan segera mempersiapkannya, lingkaran tangan di sekitar perutnya membuat dia deg deg an dan hembusan napas itu mengenai daun telinganya membuat dia merinding saja.
" aku benar benar merindukanmu "
" apakah kau tak merasa aku merindukan mu?"
Tingkah Gilbert ini membuat Deliva semakin merasa terbang saja, jelas saja dia merasakan bahwa Gilbert merindukan dia, karna dia juga begitu.
" gua tau, dan kenapa Lo gk ngabarin gua kalo lo kembali hari ini? "
Gilbert memutar tubuh Deliva agar gadis itu melihat ke arahnya, menatap dalam mata coklat terang itu, Gilbert menaikkan dagu Deliva.
" rasanya aku ingin menghukum bibir ini," Gilbert menyentuh bibir Deliva dengan ibu jarinya dan langsung memalingkan wajahnya sebelum dia benar benar melakukannya.
Deliva tetap memandang wajah Gilbert, dia tak berniat melepas pandangannya dari sosok lelaki yang ada di hadapannya ini.
__ADS_1
" jadi?" tanya Deliva
" jadi? maksudnya?"
" kenapa tak memberitahu ke gua kalo lo balek," kembali tatapan Gilbert mengarah ke Deliva
" bisa gk? kamu gk usah pake kata lo gua, risih dengarnya, berasa banget jauhnya"
" oke ... oke. Jadi kenapa? "
" aku ingin beri kejutan dan itu berhasil bukan? "
" hemm kamu yang terbaik tuan Anggara "
Deliva berbalik melanjutkan aktivitas tertundanya.
" biar aku membantu mu"
" oh boleh, nih kamu bawa ke meja, susun rapi ya "
" siap bos"
Setelah Deliva dan Gilbert menyediakan makanan itu, Gian dan Delicia segera ikut berkumpul di ruang makan.
" Bagaimana sekolahmu?" tanya Gilbert membuka pembicaraan
" ya gitu B aja "
" apa ada yang menganggu kamu selama di sekolah? "
" enggak, gua kan eh aku kan cewek kuat, mana ada yang berani " Gian dan Delicia menatap heran melihat Deliva, tumben sekali gadis itu lembut ngomong tak seperti biasanya.
" kenapa lo berdua natap gua kayak gitu? "
Gian dan Delicia menggeleng dan langsunv melanjutkan makannya, takut mood gadis satu ini berubah lagi.
" bagaimana hasil tes kesehatannya? "
" seperti yang kamu lihat, aku menepati janji ku kembali dengan sehat," senyum Deliva langsung merekah mendengar penjelasan Gilbert. Tiba tiba saja gadis itu berdiri dan memeluk Gilbert dari belakang. Hal itu membuat yang berada di ruang makan terkejut, bahkan Gilbert sendiri terkejut bukan main melihat sifat Deliva. ini benar benar langka.
Gian dan Delicia segera memalingkan wajah dan menyelesaikan makananya dengan cepat, tanpa mengeluarkan suara mereka berjalan perlahan meninggalkan kedua insan yang sedang di mabuk asmara itu.
" Ivv, bisakah kau menyingkir? "
" kenapa, kamu tidak suka? "
" bukan, aku... aku ingin ke toilet "
Deliva segera melepas pelukannya dan mendengus kesal dan duduk kembali ke tempatnya, sementara Gilbert segera berlari menuju toilet dekat dapur tanpa memperhatikan cemberut Deliva.
__ADS_1
" dasar, padahal gua udah berusaha buang rasa malu di depan Ca sama Gian"
Dengan hati yang dongkol, Deliva melanjutkan makannya walau sudah tidak bernafsu lagi, tapi dia tetap memakannya menunggu kekasihnya itu kembali dari toilet.