
Hari ini Deliva berangkat sekolah sangat pagi, ada 1 jam lagi waktu untuk bel berbunyi.Deliva berjalan menuju kelasnya, dia melirik sekitarnya benar benar sepi, dapat dipastikan dia siswi pertama yang datang ke sekolah.
Deliva duduk di bangkunya, mengeluarkan ponsel dan buku. Sebenarnya Deliva juga bingung kenapa dia secepat ini ke sekolah. Deliva memasang headset ketelinganya dan menikmati musik yang mengalun sambil membaca bukunya.
Terdengar suara kaki melangkah dan yah itu mengarah seperti ke kelasnya, Deliva menghentikan aktivitasnya lalu melirik ke arah jam tangannya yang menunjukkan pukul 06.45
'Siapa yang datang ya, masih pagi juga' batin Deliva
Deliva memilih melanjutkan aktivitasnya dari pada peduli dengan siapa yang datang. Deliva melirik seseorang yang kini melangkahkan kaki ke dalam kelasnya.
Cowok itu membuat Deliva merasa tidak nyaman, dia berusaha konsentrasi dengan bukunya namun gagal.
" Ivv.." Deliva memutar bola matanya malas, dia sangat benci dengan suara itu dan benci dengan panggilan itu tapi dia juga gak bisa bohongi perasaan kalo dia rindu di panggil suara itu dan rindu di panggil dengan nama kecilnya itu.
Cowok itu menarik headset yang menyumpal di telinga Deliva. " ihh apa apaan sih lo," bentak Deliva dan memasang kembali headset itu ke telinganya
" Ivv, aku mau ngomong," cowok itu menarik buku yang dibaca Deliva.
Deliva menatap tajam cowok yang di hadapannya, Deliva berdiri " siniin buku gua," cowok itu melirik buku yang ada di genggamannya " aku bakal balikin tapi kita ngobrol sebentar dulu ya,"
" gua sibuk, siniin cepat," sewot Deliva sambil menengadahkan tangan untuk meminta bukunya.
" Ivv, kamu kenapa gitu?? Aku..." Deliva mengangkat tangan pertanda meminta ucapan itu dihentikan
" lo mau cari Yessi, dia belom datang. Dan lo liat sendiri hanya gua yang masih datang. Dan gua gk tau apa apa tentang cewek lo" Deliva membuang pandangannya keluar
" Ivv, aku cari kamu bukan dia" cowok itu memegang pundak Deliva lembut dan mengarahkan pandangan cewek itu ke arahnya. Sungguh Deliva ingin menepisnya, namun keegoannya enggan melakukan karna dia benar benar rindu dengan sentuhan dan bertatapan dengan cowok yang membuatnya terluka.
" Ivv, liat aku. Aku butuh kamu saat ini," Deliva merasa ada air bergenang dipelupuk matanya
__ADS_1
" Gil, gua mohon jangan datang disaat lo minta gua lupain lo" tak terelak lagi air mata itu udah jatuh membasahi pipi itu.
" Ivv, aku butuh kamu" Deliva menangis kembali " aku terpaksa lakuin ini" Gilbert ya cowok itu Gilbert. Kini Gilbert mengarahkan pandangannya ke bawah dia tak kuasa melihat Deliva menangis.
" kenapa lo suka banget buat gua dalam situasi terjebak dan menyakitkan, lo puas karna gua blom bisa lupain lo sedikit pun iya???" bentakan itu membuat Gilbert ingin memeluk cewek itu.
Air mata kembali jatuh, sungguh situasi ini benar benar mereka rindukan tanpa air mata
" aku rindu," glekk dua kata itu membuat Deliva membeku.
" jangan pernah menangis untuk cowok lain," Gilbert merengkuh Deliva dalam pelukannya. Gilbert merasakan Deliva memberontak, namun dia makin memperatnya
" aku bingung, tapi kamu harus tahu, aku gk bisa menahan lebih lama lagi" terdengar suara helaan napas Gilbert. Deliva melihat wajah Gilbert.
Gilbert menarik napas kuat dan melihat ke arah wajah Deliva yang saat ini juga sedang melihat dia dengan air mata yang bersisa.
Gilbert kembali memeluk Deliva. Kali ini dengan penuh kelembutan dan sangat erat. " aku takut jatuh cinta samamu Ivv, ternyata semakin kubuang aku semakin jatuh ke dalam hatimu" pengakuan itu membuat Deliva terkejut dan menangis " aku takut kamu gk ada rasa sama aku yang hanya sebatas sahabatmu" Deliva melepaskan diri
" lo mau coba bohongin gua ya??" Gilbert menggeleng "aku ingin mencobanya, tapi rasa itu lebih besar dan sulit untuk di tepis, aku ingin bohong pada dunia, aku juga ingin bohong sama diriku sendiri kalo aku gk cinta samamu, ini hanya ini rasa sayang sebagai sahabat tapi aku salah aku semakin buncah dengan rasa ini, aku gk sanggup jauh dari mu" kali ini Deliva melihat Gilbert meneteskan air mata dan melihat kesungguhan di bola mata hitam legam dan tajam itu .
Deliva berjalan ke arah Gilbert, dan memeluk cowok itu erat Gilbert seolah pasrah bahwa dia akan di tampar Deliva karna pengakuannya namun diluar ekspektasinya dia malah mendapat pelukan dari Deliva. Ini kali pertama Deliva memeluknya selama ini dia lah yang lebih dulu memeluk gadis itu. Tak mau berlama lama dengan khayalannya dia membalas pelukan Deliva lebih erat .
" gua juga rindu . Gua juga cinta sama lo " Deliva menangis sengugukan di dekapan Gilbert. Mendengar itu Gilbert rasanya jadi manusia paling bahagia.
Gilbert melepas pelukannya dan menghapus air mata Deliva dengan kedua jari jempolnya. " Ivv kamu gk bohongkan? " Deliva hanya mengeleng. Lagi lagi Gilbert kembali membawa Deliva ke dada bidangnya.
" aku senang banget. Ivv maafin aku udah jahat sama kamu tapi aku terpaksa ngelakuin itu " Gilbert menundukkan kepalanya dan mencium puncak kepala Deliva
Sadar gk sadar siswa siswi sudah mulai berdatangan ke sekolah. Kali ini mereka kembali dengan sikap biasa aja. Deliva sudah tau alasan Gilbert bersikap seperti itu. Gilbert hanya harus mengikuti scenrio permainan Yessi yang mengancamnya akan mengadukan Gilbert pada ibunya karna Gilbert ikut dalam perkelahian untuk membantu sahabatnya. Jelas saja ibu Gilbert sangat tidak suka anaknya berkecimpung dengan dunia kekerasan. Jika sampai tau maka ibunya tidak segan segan mengirimnya ke neneknya yang jauh lebih tegas dan disiplin itu sangat menakutkan bukan?
__ADS_1
Hal yang selama ini Deliva pikirkan ternyata Yessi memendam rasa benci padanya, ya bukan suatu hal yang aneh karna itu bisa dilihat dari cara Yessi memandang Deliva. Tapi yang ingin tahu apa yang membuat Yessi sebenci itu padanya? Tak ingin larut dalam pikiran itu. Deliva kembali memfokuskan diri dengan bukunya.
Anggray berjalan mendekat Deliva, rasanya pagi ini Deliva terlihat berbeda dari hari sebelumnya.
" Del... "
" hem? "
" mata lo sembab, lo abis nangis? "
" iya"
" lo nangis gegara apa? "
" nonton drakor gua mah, sedih banget, gua ampe nangis berkali kali masa," Anggray memutar bola matanya males, paling bisa aja sahabatnya ini nutupi masalahnya.
" pande benar nutupi masalah ya," sontak Deliva menatap heran pada Anggray yang baru aaja mendudukan diri di sebelahny.
" maksudnya?"
" gak ada Del, lo berhak memilah apa yang perlu lo omongin ke gua, gua gk bakal maksa lagi,"
" jangan bilang lo salah paham sama gua? " yang ditanya hanya mengedikkan bahunya tanpa berminat menjawab.
Anggray langsung mengeluarkan buku bukunya tanpa perduli dengan tatapan Deliva yang menatapnya biingung.
" aneh tau gk Gray "
" emang," Anggray berjalan keluar meninggalkan Deliva yang semakin di landa kebingungan. Deliva tak mengejar Anggray biarkan saja gadis itu berpikir jernih mungkin mood nya sedang tidak baik. Deliva melanjutkan acara membacanya sambil menunggu bel masuk
__ADS_1