
Hari ini adalah hari keberangkatan Gilbert ke Australia, dimana dia akan home schooling disana dan melakukan pengobatannya. Deliva merasa kesepian tapi apa boleh buat dia tidak boleh egois bukan?
Deliva mengganti pakaiannya dengan celana jeans warna biru dongker dengan kaos atasan warna putih, dia memakai sneakers putih dan tas kecil.
" yuk kak, kita berangkat "
" hem " Deliva dan Delicia berangkat kerumah Gilbert, Deliva menaiki motor sportnya dengan Delicia yang duduk diboncengan
Deliva memasuki pekarangan rumah besar itu, menatap taman bunga yang dulunya tempat dia bermain, dan siapa yang tahu bahwa dia menyukai temannya itu dan bahkan jadi kekasihnya.
" ayo kak masuk, jangan melamun " Deliva mengikuti Delicia yang sudah masuk terlebih dahulu.
" pagi om, tan "
" Deliva, ih tante kira kamu gk bakal datang loh " Indira memeluk Deliva hangat
" oh iya orangtuamu kapan kembali kesini? "
" belom tau tan, grandma butuh perawatan intensive, kadang selalu manggil nama dady malam malam jadi susah untuk kembali kesini "
" aiguuu.... Sampaikan salamku pada orangtua mu dan grandma ya, semoga lekas sembuh "
" iya tan " Deliva melirik kearah tangga belom ada tanda tanda Gilbert turun
" kenapa? Kamu mencari Gilbert? " Deliva cengegesan saat ditanya seperti itu oleh mama Gilbert " kamu naik saja, mungkin dia sengaja berlama lama dikamarnya " Deliva mengangguk
" permisi tan "
Deliva berjalan menaiki tangga, dia berpapasan dengan Gian, ia kira Gian akan marah ternyata anak itu tersenyum, Deliva merasa canggung sekali
Deliva mengetuk kamar Gilbert tapi tidak ada suara, berulang kali dia memanggil tapi belom ada sahutan. Dia khawatir dan segera membukakan pintu kamar itu, dia takut Gilbert pingsan didalam, ternyata kamar nya kosong. Kemana lelaki itu?
Deliva terpana melihat foto dirinya di pajang besar dikamar ini, dia juga melihat beberapa foto mereka terpajang dikamar itu, dia menyusuri setiap foto yang ada dikamar itu, dia kadang tersenyum mengingat ingat kapan foto dirinya itu diambil.
" Ivv " mendengar suara itu Deliva berbalik badan untuk melihat si empunya suara
" arghhh.... " teriakan Deliva menggema dikamar itu. Gilbert langsung berjalan menuju pintu dan menutup pintu secepatnya, dia takut kalo orangtuanya mendengar suara Deliva
" kamu kenapa ivv? " Gilbert berjalan mendekati Deliva
" stooooppp jangan mendekat "
" loh kenapa sih ?" Gilbert bingung melihat kekasihnya itu masih menutup mata dwngan kedua tangannya
" iiihhh Gilbert pake baju dulu dong " mendengar itu tawa Gilbert pecah, tentu saja itu mbuat Deliva heran, apanya yang lucu? Dia kan bener seharusnya Gilbert pake baju dlu kalo baru selesai mandi ini tidak, malah menampilkan perut arhghh yang sialnya ada pahatan indah disana tercipta. Ya kalian semua jangan mikir aneh Gilbert pakai handuk kok ya walau hanya sebatas pinggang
" apa yang lucu? Berenti ketawa dan pakaikan baju mu " smirk muncul diwajah Gilbert
__ADS_1
" aku sudah pake baju, kamu aja terus tutup mata "
" oh udah ternyata " Deliva menurunkan tangannya dan berteriak kembali " GILBERT"
tawa Gilbert semakin pecah, melihat wajah Deliva yang memerah melihat dia yang telanjang dada
" baiklah baiklah aku akan pakai baju " Gilbert melangkahkan kaki ke lemarinya menggambil kaos warna putih dan celana pendek berwarna abu abu, dia memakaikan cepat tanpa masuk kekamar mandi
" sudah, aku sudah pakai baju "
" gk gua gk percaya " Deliva masih setia menutup matanya dengan kedua tangannya, Gilbert mendekatinya dan menurunkan tangannya. Namun Deliva belom membuka matanya
" kok belom dibuka? "
" lo suka nipu, jauh jauh sana " Deliva hendak menaikkan tangannya dan langsung dicekal Gilbert. Gilbert menunduk dan mencium kedua mata Deliva yang tertutup dan yess mata coklat terang kesukaannya itu terbuka
" ihhhh kok main cium cium sihh " Deliva memukuli Gilbert, mana berasa coeg wkwkwk. Gilbert menahan tangan itu dan membawa tubuh mungil itu kedalam pelukannya
Gilbert memejamkan matanya merasakan degupan jantung yang makin cepat
" jantung lo kuat banget berdetak kerasa sampe ke ubun ubun gue"
" wkwkwk itu hanya terjadi saat bersamamu aja kok "
" helleh banyak bacot, lepasin"
Deliva pasrah dipeluk lelaki itu, suara lelaki itu membuat dia merinding sekaligus takut ketika lelaki itu membisikkan sesuatu ditelinganya
" lo mau gk kita lakuin? Kita bakal lama loh gk jumpa " Deliva melepas paksa pelukannya
" omes banget lu, berani selangkah gue tendang junior lo " Gilbert tertawa puas sambil memegangi perutnya
" jangan ditendang, sakit soalnya nanti gk bisa buat debay diperutmu "
" iiiihhh *****, lo makin lama makin mesum aja ihh " Deliva bergerak menjauh dari Gilbert
" wkwkwk kan memang betul sih ivv, nanti kalo juniornya sakit gk bisa dong kita buat debay "
" otak lo udah sedeng ya, udah buruan lo siap siap gue tungguin lo dibawah aja " Deliva bergerak menuju pintu dan meninggalkan Gilbert yang tawanya belom berhenti. Gilbert menarik kopernya dan menuruni tangga, dia melihat kedua orangtuanya sudah bersiap nganter
🌺🌺🌺
Mereka duduk sambil menunggu jam keberangkatan mereka. Deliva duduk disamping Gilbert dengan posisi Gilbert menyandarkan kepalanya ke pundak Deliva dan menggengam tangan itu erat.
" jam berapa take off nya ? "
" jam 11.40 " Deliva melirik jam didinding bandara sudah pukul 10.30, satu jam lagi dia akan berpisah dengan kekasihnya yang makin lama makin possesif.
__ADS_1
" ivv pundak lo gk bisa ditinggiin dikit apa? Sakit banget kepala gue nyandar " Deliva mengetok kepala Gilbert
" lo nya yang **** udah tau pendek masih mau aja bersandar, lagian ini bukan salah gue, ini salah lo " Gilbert menarik kepalanya dari pundak Deliva
" kok salah gue ? "
" yaiyalah, lo itu yang ketinggian bodoh"
" wkwkwkwk lo nya kali yang kependekan"
" yaudah sono cari pacar setinggi tiang listrik syuhhh "
" ihhh jangan monyongin bibir gitu, aku jadi pengen cium "
" ihhh lo makin kesini makin mesum banget ya "
" wkwkwkw entah lah, kalo samping lo pengen aja gitu "
" diam deh, sebelum gue pergi nih " Gilbert menghentikan tawanya, takut kekasihnya itu benar benar pergi.
Terdengar suara dari microphone bahwa pemberangkatan mereka akan bentar lagi. Deliva merasakan hatinya melayang. Tapi dia gk boleh egois kan ya ?
Gilbert berdiri karna sudah dipanggil kedua orang tuanya, Gian dan Delicia menghampiri
" bang, banyakin doa ya semoga operasinya lancar ya bang, kembali lah dengan keadaan sehat " Gilbert mengangguk dan mengelus kepala Delicia
" jangan takut ya bang wwkkw bener nih kata si cia banyakin doa oke, semoga lancar semua sampe balek ke tanah air lagi"
" Gua gk takut bocah, oh iya lo baik baik disini ya, jagain bidadari hati gue "
" alah bilang gue bocah, nyuruh gue jaga bidadari lo juga ternyata " Gilbert tertawa dan memeluk adiknya itu
" hati - hati ya dijalan, ku tunggu kamu disini, kembalilah dengan sehat " Deliva memeluk Gilbert erat, matanya memanas sepertinya air mata ini akan mengalir lagi
" jaga diri baik baik ya sayang, jaga hati, mata dan semuanya untukku " Gilbert mencium puncak kepala Deliva
" jangan menangis, aku akan selalu disini bersamamu, kamu berdoa saja untukku " Deliva mengangguk, Gilbert meletakkan kedua ibu jarinya tepat dibibir Deliva dan mencium bibir gadis itu walau terhalangi jari jempolnya
Deliva menutup matanya, seakan dia benar benar merasakan ciuman Gilbert. Air mata kembali tergenang dipipinya membuat Gilbert menghapusnya dengan jari jempolya dan mengelus wajah itu kemudian mencium kening itu lama.
" bye... Sampe jumpa "
" hati - hati " Gilbert mengangguk dan melambaikan tangannya kepada tiga orang itu, dia menyusul kedua orang tuanya yang akan mengantar dia ke australia
Deliva tak kuasa menahan tangis, air matanya terus mengalir melihat kekasihnya semakin menjauh. Dia menutup mulut supaya isakan itu tidak didengar orang lain, Gian pun dengan inisiatifnya memeluk gadis itu memberi kekuatan.
" sudah kak yok kita pulang " Deliva mengangguk dan berjalan keluar dari bandara. Ia akan melewati hari yang panjang setelah ini
__ADS_1