Sahabat, Aku Cinta Kamu Loh!

Sahabat, Aku Cinta Kamu Loh!
Hal lain


__ADS_3

Pagi ini Deliva bangun cepat, waktu menunjukkan pukul 6.00 pagi dia segera bergegas mandi untuk bersiap siap mengikuti Misa digereja. Yaps benar hari ini hari minggu bagi keluarga Deliva wajib mengikuti Misa setiap minggunya digereja.


Usai berpakaian Deliva menuruni tangga untuk menuju ruang makan, dan disana kedua orangtua nya sudah duduk dengan rapi, bahkan Denis dan Delicia juga sudah disana. Yang berarti keluarganya tinggal menunggu dia.


" morning "


"morning sayang, duduk " Deliva menarik kursi disebelah Denis. Mereka melahap roti bakar dan susu yang akan menjadi sarapan mereka sebelum berangkat kegereja. 


Disepanjang perjalanan menuju gereja, Deliva hanya mengamati pemandangan keluar. Hal ini sungguh bukan sifat Deliva.


" Del, lu kenapa dek? "


" gua kagak papa, emang ada apa bg? "


" ohh okay, no prob kok " Deliva tersenyum dan mengarahkan pandangannya keluar.


Sesampai digereja mereka turun dan berjalan menuju gereja, sedangkan Delicia sudah berlari menuju ruang pastoral untuk persiapan Misa karna Delicia sangat aktif organisasi gereja. Delicia sekarang ini akan membawa salib sepanjang perarakan menuju altar gereja. Delicia dikenal dengan putri altar atau mesdinar.


" Del lo kenapa gk ikut jadi mesdinar? "


" gpp bg "


" coba aja lu ikut, pasti makin cantik kalo lo jadi putri altar " 


" hahah iya deh iya " lonceng gereja sudah dibunyikan dan terdengar gong sudah dipukul yang artinya umat segera berdiri dan menyiapkan diri menyambut imam yang akan membawa homili.


Sepanjang Misa Deliva mempersiapkan hati sepenuhnya dan melontarkan isi hatinya untuk disampaikan pada Bapa disorga.


" Bapa disorga, ku sungguh bersyukur buat segala yang terjadi dalam hidupku, aku tau aku manusia yang penuh dosa, ampunkan aku, biarkan aku layak berada dirumah mu ini. Bapa aku memohon kekuatan darimu untuk menjalani hidupku, kumohon bukakan jalan atas pergumulan ku saat ini, aku ingin semua orang baik baik saja tanpa ada yang terluka. Bapa kuberserah sepenuhnya hidupku didalam tangan pengasihanmu. Demi Yesus Kristus juru slamat kami manusia "


Tak terasa Misa sudah selesai, kini tiba saatnya mereka akan pulang kerumah. Deliva dan keluarganya menunggu kedatangan Delicia dari ruang pastoral untuk pulang bersama. Deliva menyenderkan badannya pada mobil, sambil menendang batu batu kecil, perasaannya sudah lebih tenang.


Delicia menghampiri keluarganya, eh itu ada lelaki disampingnya. Lelaki itu menyalami kedua orang tua Deliva dan Denis. Deliva melirik lelaki itu, nampaknya lelaki itu enggan ingin menyalaminya namun tetap ia lakukan.


" selamat hari minggu kak " Deliva menerima uluran tangan itu dengan tersenyum.


" selamat hari minggu juga, " lelaki itu melirik Deliva kembali entah kenapa perasaannya bahagia melihat senyuman kecil itu.


" moms, dad, roby bareng kita ya "


" no problem, yok kita pulang " Gerald sudah berjalan kearah kemudi dan Andini tentunya berada disamping lelaki paruh baya itu.


Delicia dan Roby memasuki mobil, merrka duduk dibagian belakang. Denis dan Deliva berada ditengah.


Sesampai dirumah, kedua orang tua Deliva mengajak Roby untuk makan bersama terlebih dahulu sebelum pulang.


Roby selalu memperhatikan gerak gerik Deliva, baginya segala hal yang dilakukan wanita itu terasa manis dimatanya.


Deliva mempersiapkan makanan untuk makan siang mereka, sementara kedua orangtuanya, Denis dan Delicia masih berada dikamar berganti pakaian.


"By, duduk aja " dengan perasaan canggung Roby menuruti Deliva dan bergegas menarik salah satu kursi dimeja makan itu.


Deliva mengarahkan kakinya menuju dapur, sementara Roby memperhatikan sekitarnya tampak kosong tak ada seorang pun. Roby pun melangkahkan kakinya menuju Deliva


" kak " Deliva melihat roby yang berdiri dibelakangnya, dia segera berbalik arah

__ADS_1


" ada apa by? " ada apa itu kenapa senyuman masih melekat dibibir Deliva sih? Apa dia tidak mengingat yang terjadi diantara mereka?


Dengan cepat Roby memeluk Deliva erat, Deliva syok namun ia tidak berusaha melepas pelukan roby, ia ingin mendengar apa yang ingin disampaikan lelaki itu, sampai nekat memeluknya di dapur rumahnya.


"ekhrmmm.... " suara itu membuat Roby melepaskan pelukannya cepat


" ehmm, gue ke toilet dulu " Deliva hanya berdehem mengiyakan


Deliva kembali sibuk mengambil piring, dan menatanya rapi dimeja. Deliva bertingkah seolah tidak ada yang terjadi.


" apa yang terjadi " suara itu mengalihkan perhatian Deliva dari piring piring itu


" gak ada" kembali menyibukkan diri mempersiapkan segalanya


" gk ada gimana? Kenapa sampe harus pelukan? "


" ehmm.... "


Roby melangkahkan kakinya menuju meja makan, dia melihat abang beradik itu beradu argumen.


" ehemm... Tidak ada apa apa bang " Denis mengernyitkan dahinya.


" trus ngapain ada acara peluk pelukan segala? "


" ehmn ituu... "


" wah sudah berkumpul semua, mari kita makan" suara andini bagaikan penyelamat bagi Roby dengan teratur dia menarik kursi disebelah Denis


🌺🌺🌺


" hahah sama sama, lain kali boleh juga loh " andini tersenyum kepada Roby


Bunyi ponsel Denis mengalihkan perhatian mereka yang sedang mengobrol ringan. Sementara Deliva dan Delicia merapikab sisa sisa makanan mereka. Denis kembali usai menerima telepon.


" mom, dad besok Denis harus balik"


" kenapa secepat itu? Bukannya liburmu satu minggu lagi? " Denis tampak tak enak menyampaikan hal ini.


" grandma masuk rumah sakit baru saja "


" apa, mami masuk rumah sakit kok bisa? Kenapa dady gk dihubungi? " Gerald tampak syok mendengar ibunya masuk rumah sakit


" tenang dulu dad, dengarin Denis dulu "


" nah itu, dady udah dihubungin tapi dady gk angkat " Gerald seketika meraba kantong nya mencari keberadaan ponselnya itu.


" Moms, handphone dady dimana? "


" dikamar tadi dady chargerin kan? " Gerald bergegas menuju kamar nya, sebelum benar benar masuk kamar Gerald sempat berbicara.


" Denis pesan kan tiket penerbangan malam ini " Gerald berlalu meninggalkan mereka dan disusul oleh Andini.


Deliva dan Delicia yang baru saja balek dari dapur heran mendengar ayahnya menyuruh denis memesan tiket.


" tiket apaan bg? " Delicia menarik kursi tempat ibunya duduk

__ADS_1


" tiket pulang " Deliva menatap denis bingung sama halnya dengan Delicia.


" pulang ke Amrik kah? " Denis menganggukkan kepalanya


" Denis, sayang kamu udah pesan tiketnya, dady kamu gk tenang segeralah "


" ya... Moms "


" oh iya.... Del tolong kamu persiapkan semua barang Denis ya, jangan sampe sesuatu yang penting tinggal. Cepat ya sayang. Denis ambil penerbangan pertama " Andini tampak tergesa gesa melangkahkan kakinya menuju kamar.


" apa yang terjadi sebenarnya? Bukannya jadwal libur abang seminggu lagi? Trus ngapain jadi mendadak gini? Kenapa dady tidak tenang? " Delicia mengutarakan semua yang ada diotaknya.


Deliva malah berjalan meninggalkan mereka dan segera menuju kamar adenis, diikuti Denis dibelakangnya


" kok pada gk jawab aku sih? "


" lu cerewet banget sih cil, grandma lo masuk rumah sakit, makanya nyokab bokap lo mau berangkat sekarang cepat "


" apa?? Seriusan lo "


" ho'oh "


" haduhh.... Lo tunggu sini aja ya by, gua mau bantu bantu kak Del " Delicia berlari menyusul kakak kakak nya dan Roby masih setia duduk dimeja makan tanpa melakukan apapun 😕


🌺🌺🌺


Deliva dan Delicia tinggal berdua sekarang. Ayah dan ibu serta Denis sudah berangkat. Ahhh sampai lupa Roby bahkan belom pulang dia masih setia menemanni Deliva duduk termenung ditaman rumahnya. Sementara Delicia harus berangkat kembali kegereja untuk persiapan Natal.


" lo gk pulang? " suara itu akhirnya keluar setelah beberapa jam terdiam


" ehmmm.... Lo gpp? " terbit sebuah senyuman dibibir gadis itu


" gue emang kenapa? Gue gk papa kok " Roby menghela napasnya setelah beberapa saat


" lo yakin sendiri? Gue bisa nemenin lo sampe si kecil pulang "


" yaudah kalo lo mau nemenin gua, gua gk ada masalah sih " lagi lagi senyuman itu membuat Roby senang bukan main


" ngomong ngomong lo kenapa meluk gue tadi " Deg..... Suara apa itu suaara hati kalian kah ? Ekwkwk itu suara hati Roby kali ya, Roby terdiam


" kenapa ? Lo belum siap cerita? " Deliva mengarahkan pandangannya pada Roby


" maafin gua, ngejauh selama ini dari lo, gua emang pecundang banget kan ya, habis nyatain perasaan gue ke lo, gue nya malah malu buat jumpain lo " Deliva tersenyum manis kepada Roby


" sans aja, namanya juga cinta. Kita gk bisa kan nentuin orang yang kita cinta? Hati yang milih " Roby heran kok Deliva bisa sesantai itu mengatakannya tak seperti wanita lain yang pasti akan merasa canggung mengatakan hal demikian


" jadi, apa lo memang benar gk ada rasa buat gue " duarrr..... Akhirnya perkataan itu muncul juga dari bibir Roby


" gue sayang sama lo, tapi gue blom bisa cinta sama lo, ada hal lain yang harus gua jaga. Ada hati yang harus gue jaga " Deliva kembali tersenyum dan melihat kearah Roby


" gue gk akan bilang lo atau maksa lo buat hapus perasaan lo ke gue, karna gue tau itu gk gampang. Dan semisal lo bertahan rasanya gue gk pantas jadi cewek itu, gue gk pantas lo pertahanin. Jangan menyimpan rasa yang menciptakan luka. Ada hal lain yang lebih penting yang harus lo perjuangin. Tentuin prioritas lo sekarang, jangan jadiin gue beban karna gua bakal ngerasa berdosa banget " Deliva memukul pundak Robi perlahan lahan dan berdiri meninggalkan Roby dan memasuki rumahnya.


Roby mencerna semua perkataan Deliva, mungkin benar dia udah seharusnya nentuin prioritas hidupnya, bukan lagi menciptakan luka. Tapi untuk saat ini dia belom mampu untuk menghapus cinta itu buat gadis mungil itu, dimata nya semua terasa menyenangkan saat gadis itu menatap dan tersenyum padanya.


Mungkin dia bakal belajar untuk suatu hal yang diminta gadis mungilnya itu. Dia akan berusaha untuk menciptakan hal yang terbaik bagi gadis itu dan baginya. Setelah merenung sekian lama, Roby memutuskan untuk menyusul Deliva.

__ADS_1


__ADS_2