
"kak"
Sapaan itu membuat Deliva dan Ari melihat kearah pintu. Seorang adik kelas mereka tengah berdiri menatap mereka
" Del, lo kenal? " Deliva mengangguk
" gua jumpain dia dulu ya " Ari mengangguk dan membuka jalan untuk Deliva
" ya ada apa? " yang ditanya malah senyum senyum gk jelas, kenapa ini bocah 😕😕
"kenapa lo senyum senyum? Dapat jackpot hem? " seketika dia mengangguk kegirangan dan menarik tangan Deliva dan bersiap mengajak Deliva pergi
" apa apaan ini? "
" udah ikut aja, kak gua pinjem kakak ini ya" Ari terplongok dengan aksi adek kelasnya itu dan dia hanya mengangguk saja
Sesampai ditaman belakang sekolah, mereka duduk, mereka masih enggan mengeluarkan suara, masih berlayut dengan pikiran masing masing. Tak lama suara deheman itu terdengar membuat Deliva fokus sama yang empunya suara.
" ekhem, jadi gini... Ehmm... Gua... " Deliva masih menanti ucapan adik kelasnya ini dengan sabar
" sorry..... Semalam gua bilang sayang sama lo, ehemm maksud gua lo gk usah tanggepin omongan gua, karna gua refleks ngucapnya dan gua tau lo udah punya pacar maka dari itu gk usah dipikirin omongan gua semalam " Roby menghela nafas, sejujurnya bukan hal ini yang mau disampaikannya melainkan perasaan yang dipendamnya, kembali lagi dia merasa cowok banci.
Deliva merutuki sikap Roby, padahal dia sudah berharap yang lain. Ehh tunggu berharap yang lain? 😳😳 apa Deliva gk salah?
" ehemm... Yaudah sans aja la, kok jadi tegang gini, its okay." apa apaain ini ngapain gua bilang oke sementara hati gua bilang arghhhh....
" jadi, gak ada lagi kan yang mau lo omongin? " Roby mengangguk
Deliva berdiri hendak menuju kelasnya, saat diperjalanan menuju koridor ada sepasang tangan yang saling terkait ditubuhnya, membuat dia menegang dan berhenti berjalan.
"byy.... " ucapan Deliva terbata bata, dia merasa ini aneh dan tak sewajarnya. Ingat dia udah punya kekasih, tapi mengapa dia nyaman dengan pelukan ini ?
" maaf, gua gk bisa bohong lagi, gua suka sama lo, sayang banget melebihi apapun. Gua cinta sama lo, liat lo sama laki laki lain gua udah coba buat gk peduli tapi hati gua nyesek, sekarang gua hanya pengen lo tau kalo gua suka bahkan cinta sama lo, ok fine lo udah punya pacar, gua gk bakal maksa tapi gua mungkin bisa menunggu " Roby perlahan lahan melepaskan pelukannya. Ada apa ini? Kenapa Deliva rasanya tidak terima kalo pelukan itu dilepas?
Deliva masih membatu, tak menjawab pernyataan Roby, dia bahkan masih tidak percaya dengan yang didengarnya.
" lo boleh pergi, maafin gua " dengan keterkejutan yang masih melanda, Deliva berjalan perlahan meninggalkan Roby yang masih menundukkan kepalanya.
__ADS_1
🌺🌺🌺
Deliva termenung memikirkan ucapan Roby dihalaman belakang tadi, rasanya semua tadi itu hanya ilusi semata saja.
" Del... Dell yuhuuu are you okay? "
" eh... gray i'm okay "
" kenapa lo melamun? Lo ada masalah ?" Deliva menggeleng
" okay fine, gua tau lo punya sesuatu yang lo pikirin mungkin lo belom siap berbagi dengan gua " Deliva terhenyak mendengar sahabatnya itu
" hahaha lo ada ada aja Gray, serius gua gak ada masalah hahah dan lo juga tau setiap orang punya pemikiran yang dipikirin masing masing " Anggray menatap kecewa pada Deliva
Deliva jadi merasa bersalah pada Anggray jujur saja dia tak ingin berbagi hal konyol atau apapun itu tentang Roby, katakan saja dia egois tapi itu adanya.
" yaudah sih Gray, gua hanya melamun aja ngebayangin hub gua sama Gilbert hehehe " Deliva mencoba mencairkan suasana
" yasudahlah " Anggray kembali fokus dengan bukunya. Bahkan tak berniat bertanya lebih pada Deliva.
Deliva mencoba fokus kembali dengan buku yang dihadapannya, sungguh sulit menepis bayangan Roby dengan pernyataannya tadi.
" Del, kantin? " Deliva menyanggupi ajakan Anggray
" Del, maksud lo apaan? " dorongan keras dari Yessi mampu membuat Deliva mundur beberapa langkah.
" ehh, Cii lo apa apaan sih? Deliva gk pernah ganggu lo, maksud lo apaan dorong dia gitu gk jelas banget sih lo " Anggray meraih Deliva
" ehh diem lo.. Gua udah tau semua. Emang dasar ya lo perayu banget. Napa? Kaget hem? Heh dengar ya baik baik semua cewek di kelas ini yang udah punya pacar silahkan jaga pacar masing masing, karna ini cewek suka ngerebut cowok orang dengan kecentilannya " Yessi melipat tangannya didepan dada
" maksudd lo apaan coba? " Anggray tersulut emosi tidak terima sahabatnya dihina. Sementara Deliva diam masih mencerna kata kata Yessi barusan
" gk usah sok ngk tau Gray, lo juga tau sahabat lo ini busuk. Ehhh dengar ya semua, lo semua tau kan Gilbert itu cowok gua, dengan santai nya ni cewek minta Gilbert untuk jadiin pacar heh 😏 gk tau malu banget sih. Kalo udah tau tu cowok punya cewek gk usah ganjen deh " Yessi tersenyum senang melihat Deliva sepertinya tak berkutik, dan tentu saja teman sekelasnya bakal banyak yang akan membenci nya bukan?
Deliva berjalan kearah Yessi dengan santai " apa lo bilang rebut cowok lo? " dengan nada cuek nan dingin itu namun Yessi tampak tak ada rasa bersalah.
" iyalah, kan emang bener kan? Hem? Ngaku aja udah banyak yang tau juga begok " Deliva menggeram mendengar kalimat Yessi
__ADS_1
" heh dengar ya nenek sihir, gua emang pacaran sama Gilbert, oh ya jangan seneng dlu bodoh dengar dan catet diotak kecil lo yang busuk ini ya. Tanya itu cowok yang ngajak pacaran siapa?
Oh iya gua lupa soal perebut cowok, gua nanya deh sama lo ya emang lo pacaran sama Gilbert hah? "
" emang lo gk punya mata selama ini hah? " Yessi membentak Deliva
" ekkwkw kok gua gk yakin ya, bukannya lo ngancem dia, biar dia mau jadi pacar pura pura lo? Ah iya lo mau bikin Mario cemburu kan ya? ehhh... Mario malah pindah sekolah, dan sekarang giliran Ari, karna Ari udah jadi ketua tim basket iyakan?
Hahahha dasar bodoh, gua udah tau scenario otak lo itu bodoh. Ahh iya Ari ini cewek pengen buat lo cemburu karna dekat sama pacar gue, eh lo nya kagk cemburu ya kan ri? " wajah Yessi memerah karna Ari menonton dan melihat dia sekarang.
" ahh iya sekarang gua tanya lo semua, yang perebut cowok orang siapa sekarang? Dia apa gua? Kalo lo pada bilang gua, otak lo semua gadak bedanya sama otak kecil busuk nya dia " Deliva langsung berjalan meninggalkan kelas dan diikuti oleh Anggray
" Deliva sialan " teriakan melengking itu membuat satu kelas menatap heran dan ilfil sama yang empunya suara
Yessi melihat keadaan kelasnya yang menatap kasihan padanya
" apalo semua liat gua? " yang lain bergegas tidak memperdulikannya dan melanjut kegiatan masing masing.
Ari berjalan melewati Yessi dengan sigab Yessi menarik sebelah tangan Ari
" ri... Lo percaya sama gua kan? " Ari memandang tangannya yang dipegang Yessi
" lepasin... " dengan perlahan Yessi melepas genggamannya dari tangan Ari.
Ari berjalan melewatinya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Hal itu membuat Yessi makin menjerit.
🌺🌺🌺
Deliva dan Anggray duduk dengan diam sambil menikmati pesanan mereka, blom ada tanda tanda bersuara dari salah satunya. Gilbert datang menyusul Deliva
" lo gilak ya Del, maksud lo apaa apaan sih sampe buat Yessi segitu nya, apa makaud lo mempermalukan dia hah? " Deliva masih diam menikmati makanannya.
Anggray yang melihat kemarahan Gilbert terdiam, ingin menjelaskan tapi dia ragu dia gadak hubungan disini. Gilbert tiba tiba menghentak meja membuat Deliva dan seisi kantin terkejut.
" lo dengar gua kan? Lo beda banget gua kecewa banget sama lo". Deliva berdiri tiba tiba.
" jadi mau lo apa hah? " Deliva berbicara dengan nada dinginnya
__ADS_1
"gua gk habis pikir, pikiran lo sependek itu " Gilbert berjalan meninggalkan Deliva
" hah... Kalo kamu suka sama dia ngapain lo ajak gua pacaran ********. Yaudah gua mau putus pergi lo dari idup gua" perkataan Deliva sukses membuat Gilbert skakmat dengan hati yang bergetar dia mulai bicara " OK "