
Sepulang sekolah tadi Gilbert dipaksa Yessi harus menemaninya belanja, mau tidak mau dia harus mengikuti kemauan gadis licik ini, sebelum rahasia besar itu terbongkar dan akan berakhir menghancurkan hubungannya dengan Deliva.
" lo melakukan peran lo dengan bagus, gue senang banget ngeliat lo diputusin Deliva, seharusnya lo sadar Gil, kalo Deliva itu gk beneran suka sama lo eh lo nya ngeyel banget. Pake acara berantam pulak sama Mario hanya untuk rebutin cewek yang gak ada cantik cantiknya sama sekali" Gilbert hanya mengikuti Yessi tanpa sedikitpun ingin bicara yang ada diotaknya ingin sampai rumah, mandi dan segera menghubungi kekasih hatinya.
"Gil, lo kenapa mau sih sama Deliva? Apa yang lo lihat dari dia. Kalo dipikir pikir cantikan gue kemana mana. Hemm tapi maaf aja ya Gil gue gk suka sama lo, ya walaupun wajah lo itu cukup tampanlah tapi gk bisa buat gue jatuh hati sama lo " Gilbert hanya diam, bahkan ia memasang headsetnya dari tadi sambil melihat dan mengikuti yessi yang belanja.
" lo patung bernapas ya? Diem mulu perasaan" Yessi berbalik merhatiin Gilbert dan melihat Gilbert menatapnya dan memegang belanjaannya dengan memakai hendset yang benar benar bagus tersumpal ditelinganya. Yessi ingin marah tapi percuma.
"ishh...." sambil menghentakkan kaki Yessi berjalan meninggalkan Gilbert, namun Gilbert hanya mengikutinya.
" udah gue pulang sendiri aja. Lo pulang aja sono " Gilbert menahan senyum dan akhirnya terbahak saat Yessi sudah meninggalkannya.
Gilbert berjalan kearah motornya dan menjalankan motornya menuju rumah.
🌺🌺🌺
Sesampainya dirumah Gilbert benar benar merasa pusing, dia bahkan merasakan hangat dihidungnya dengan cairan kental merah. Melihat keadaan Gilbert, mama nya histeris dan memanggil suaminya dan adik Gilbert.
" Gil sayang kamu harus kuat ya " Gilbert tersenyum melihat mama nya yang khawatir
"mah Gilbert kuat, ini udah Gilbert alami sejak lama jadi udah biasa" mama Gilbert hanya menangis melihat putra sulungnya yang menderita karna penyakit sialan itu
" pah... Gian " mama nya masih berteriak histeris memanggil suami dan anak bungsunya itu
Dengan tergopoh gopoh Gian dan papahnya menemui Gilbert dan sang mama yang masih menangis
" ya ampun Bang Gilbert " Gian menahan tubuh Gilbert yang hampir ambruk. Dengan segera mereka membawa Gilbert menuju rumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit Gilbert langsung ditangani oleh pihak rumah sakit. Mama dan papa nya menanti diluar dan mamanya masih keadaan menangis.
Gian mengambil ponselnya dan menghubungi sahabat kecilnya. Dengan gerakan cepat Gian menghubungi Delicia memberitahu bahwa Gilbert masuk rumah sakit lagi.
🌺🌺🌺
Delicia terburu buru keluar dari kamar Deliva sebelum deliva curiga padanya. Tak selang lama terasa getaran handpone di saku seragam sekolahnya. Melihat nama Gian terpampang disana dia langsung bergerak menjauhi kamar Deliva.
"Halo Gi ada apa? "
"bg Gilbert masuk rumah sakit lagi"
" hah? Kok bisa? "
"dia mimisan lagi, lo kemari deh "
"oke gue otw "
Setelah mendengar kabar Gilbert masuk rumah sakit, Delicia tampak buru buru menuruni tangga. Denis menatap heran adik kecilnya yang terburu buru.
" mau kemana? Kok buru buru? "
" itu bang, bg Gilbert masuk rumah sakit, aku harus kesana liat keadaannya" Denis tekejut mendengar penuturan Delicia.
" abg anterin, tapi kamu ganti seragam dlu. Masa kerumah sakit pake seragam lagi " Delicia hendak membantah namun melihat Denis dia buru buru naik kembali keatas menuju kamarnya.
Denis melirik Delicia yang sudah bersiap hendak berangkat. Denis cukup heran sebenarnya melihat Delicia khawatir sementara Deliva kenapa tidak khawatir?
Ahh iya Denis baru ingat hubungan Deliva dengan Gilbert sedang tidak baik.
Selamaa diperjalanan, Delicia tampak menggigiti ujung kukunya, melihatkan bahwa dia sedang panik dan itu semua tidak lepas dari penglihatan Denis. Denis ingin menanyakan apa sebenarnya yang terjadi, namun dia urungkan melihat Delicia yang tampak khawatir.
Sesampai dirumah sakit Delicia berlari sementara Denis masih memarkirkan mobilnya. Denis merogoh kantong celananya mengambil ponselnya, ingin mengabari Deliva bahwa dia dan Delicia sedang keluar, namun naas Hp nya mati pasti gara gara main game sampe lupa ngecas.
Denis berjalan menyusuri rumah sakit dan mencari keberadaan Delicia. Setelah melihat tiga orang itu dalam keadaan cemas, Denis menghampiri mereka.
__ADS_1
"om, tan "Denis menyalami kedua orang tua Gilbert dan hanya dibalas dengan senyuman tanpa sepatah kata.
" Cia.... Gimana keadaan Gilbert? " Delicia masih setia menggigit ujung kuku jarinya.
" ahh itu bang, masih ditangani dokter. Ini kita lagi nunggu " Denis mengangguk anggukan kepalanya tanda paham.
Gian yang baru saja datang dari toilet menghampiri Denis dan menyalami nya.
" haii.... Bang apakabar?" Denis mencoba mengingat ingat siapa lelaki yang tengah menyalaminya ini
" Gian bg, teman masa kecil Cia sekaligus adeknya Gilbert "
" ahh ternyata kamu. Wow kamu semakin dewasa makin terlihat tampan saja ya " Gian tersenyum kikuk menanggapinya
" ahh iya, Cia abang pinjam handphone kamu sini. Abg lupa ngabari Deliva bahwa kita lagi dirumah sakit, soalnya Hp abg udah mati " Delicia menatap abangnya, bersyukur bahwa Hp abangnya mati kalo tidak bagaimana sampe Deliva tau
" bang gk usah kabari kak Del, trus jangan pernah kasih tau kalo kita lagi jenguk bang Gilbert, aku takut kak Del sedih " Denis mau bertanya lagi namun Gian langsung menyahut
" intinya kak Del gk boleh tau keadaan bg Gilbert bg. Biarkan waktu yang menjawab teka teki ini bg" Denis menghela napas, percuma juga ia menanyakannya
Denis memperhatikan Hp nya yang mati, dia ingin mengabari Deliva, setidaknya dia akan bilang kalo dia lagi diluar bersama Delicia, agar Deliva tidak khawatir dan kecarian. Denis menghela napasnya kuat
" bg hp nya mati? " Denis mengangguk "Sini biar aku cargerin" Denis tersenyun dan memberinya pada Gian.
Dokter keluar dari dalam ruangan Gilbert membuat semuanya langsung berdiri dan menanyakan keadaannya
" bagaimana keadaan anak saya dok? " Indira mengenggam lengan dokter Hariro
" Dia sudah baikan, hanya saja dia harus segera melakukan penanganan untuk pengobatannya, leukimia nya harus segera ditangani sebelum semakin ganas " Indira menatap suami nya
" pah..... " terdengar suara putus asa Indira
" mah... Sudah tenang, Gilbertnya kan sudah tidak apa apa. Kita akan secepatnya memberikan pengobatan buatnya" David Anggara berusaha menenangkan istrinya
"apa sudah boleh dijenguk dok? "
"sudah, silahkan masuk. Pasien juga sudah sadar, kalo begitu saya tinggal ya " dokter hariro berjalan meninggalkan keluarga yang bergegas masuk keruangan itu.
"sayang kamu gk papa kan? " Indira menanyakan hal itu dengan nada khawatir
" gk papa mah" Gilbert tersenyum melihat mama dan papa nya. Ketika matanya bertemu pandang dengan sosok yang tidak asing lagi baginya yaitu Denis. Abang kekasih hatinya
Gilbert hendak duduk namub ditahan oleh mamanya, dan membaringkan Gilbert kembali
"bang.... " terdengar suara Gilbert yang sayu saat menatap Denis
" gimana keadaan lo? Lo gk usah duduk untuk nyalim gue, tiduran aja biar lo makin pulih " Gilbert tersenyum pada Denis
" kapan nyampe nya bg? "
" beberapa hari yang lalu" Denis tersenyum dan kembali duduk berbincancang dengan David Anggara
Sementara Delicia dan Gian pergi mencari makan, Indira senantiasa mengelus lembut tangan putra sulung nya itu
" Gil, kamu yakin gk mau berobat ke rumah nenek? Biar kamu dirawat intensive dan cepat sembuh sebelum kankernya makin ganas sayang. Mama mohon sama kamu" setetes airmata turun dari mata Indira yang tak kuasa melihat anaknya selalu keluar masuk rumah sakit.
" mah, Gilbert kuat ini kan udah biasa lagian pengobatan dijakarta gk kalah bagus kan mah " Gilbert menyeka air mata Indira
" kamu yakin di Jakarta? Kalo Deliva sampai tau keadaan kamu gimana? Bukannya selama ini kamu berusaha ngejauh supaya Deliva gk tau? Kamu gk bisa terus terusan gini keluar masuk rumah sakit terus mama udah gk kuat liat kamu kesakitan terus "
Gilbert memikirkan yang baru saja Indira ucapkan, benar dia sengaja untuk tidak memberitahu gadis itu supaya dia tidak terus terusan khawatir. Dan dia takut Deliva akan meninggalkannya karna jadi laki laki lemah
"mah... Aku akan berangkat ke tempat nenek untuk berobat, tapi aku harus nyelesaiin sekolah ku dulu disini udah tinggal 2 bulan lagi mah, ya gapapa kan? Mama tenang saja Gilbert kuat kok " dengan berat hati Indira mengiyakan permintaan Gilbert
__ADS_1
Denis dan Delicia berjalan menuju brankar tempat Gilbert terbaring. Delicia membeeri senyum terbaiknya buat Gilbert
"tan, kita mau pamit dulu, udah malam takutnya mom sama dad nyariin" Indira mengangguk dab mengucap terimakasih
"bg, kita pulang ya cepat sembuh "
"iya Ca makasih, hati - hati dijalan " Delicia menganggukkan kepalanya
Begitu banyak pertanyaan yang ada diotak Denis, kenapa Deliva gk boleh tau keadaan Gilbert? Apa yang salah? Apa karna hub mereka gk baik?
" ehmmm.... Ca Gilbert itu penyakit apa? " Delicia menatap Denis dan menghela napasnya kuat kuat
" bg Gilbert penyakit leukimia stadium 2, jadi masih ada kemungkinan sembuh kalo abg itu segera dioperasi, dan abg jangan sampai keceplosan ngasih tau ke kak Del nanti dia sedih" Denis menganggukkan kepalanya
"emang hub Gilbert dan Del udah baikan?"
"udah"
" kok gk ngasih tau abg? "
" ahhh aku gk tau, abg tanya sendiri kak Del, aku gk tau apa apa "
Sesampai dirumah mereka berjalan lesu, melihat dari balkon kamarnya Deliva berlari menuruni tangga
"yaaaa.... Kalian dari mana? Tega banget gk ngasih tau gue "
"keluar bentar tadi kak del, udah ya aku capek " Delicia berjalan menaiki tangga rumahnya
" bg kok gk ngajak gue sih ihhh gue takut sendiri dirumah"
" hah?? Takut?? Yang bener lo? " Deliva mengganggukkan kepala
" maaf deh kan cuma bentar doang sih " Denis berjalan menuju sofa
"emang kalian habis dari mana? "
"cari makan "
"astaga dan lo semua gk ngajak gue? Ok gpp gk diajak dibawain kek, gua kan lapar mana bibi gk masak lagi " Deliva mengerucutkan bibirnya kedepan tanda ia lagi kesel
"pesan aja, oh iya bibi lagi ada urusan keluarga hari ini gk masuk kerja "
"gue pesanin yak bang, tapi abg yang bayar ya " menatap Denis dengan mata berbinar
" hah? " memasang tampang polosnya Deliva benar benar sukses "hem baiklah "Denis memijat kepalanya
"oke deh... Udah aku pesan " Denis mengganggukkan kepalanya
"emang apa yang terjadi bg? Kalo cuma cari makan kok Cia capek banget? Emang sedari jam berapa ninggalin gue dirumah? " Denis menatap Deliva
"ishh banyak nanya ihhh"
" tapi kan.... kalo cuma makan kenapa abg atau Ca gk ngangkat telepon gue? "
" hp abg low, tadi dicargerin"
"trus Ca? "
"ehmmmm..... Tadi nada handphone nya dimatiin mungkin gk kedengaran sama dia"
"oh begitu "
"wah orderan Gua udah sampe, bg duit" Denis memberi dua lembar uang merah dan disambut gembira Deliva yang langsung berlari menuju pintu.
__ADS_1