
Deliva mengigiti kuku jarinya, dia sangat khawatir dengan keadaan Gilbert didalam sana, dia tak mengerti kenapa kekasihnya itu melakukan hal bodoh diluar nalarnya. Apa yang salah? Apa karna pesan singkat tadi? Deliva pikir dia benar dengan mengatakan akan mengikuti seperti keinginan Gilbert, so apa yang dipermasalahkan laki laki itu. Ohh.... Jangan bilang keinginannya untuk pisah ? Tidak kan? Ohh jangan buat Deliva jadi orang jahat.
Setetes bulir bening kembali jatuh dari manik mata coklat terang itu, dia merasa bersalah saat ini. Beruntung tadi teman sekelas Gilbert cepat memberitahunya kalo Gilbert melakukan hal gila itu.. Hooo ayolahh dia bahkan belum siap dengan kebingungan isi pesan Gilbert yang sangat cemburuan kenapa ditambah dengan hal gila ini. Lagi ini hal pertama Gilbert melakukan hal gila ini
Deliva menundukkan kepalanya, kepala itu rasanya ingin pecah. Dia merasakan ada tangan yang memegangi pundaknya. Deliva mengangkat kepalanya menatap sosok laki laki dihadapannya ini.
"gua bolehh duduk ?" hanya anggukan kepala sebagai jawaban Deliva
" kalian ada masalah? " Deliva meneteskan kembali air mata itu
"apa yang terjadi padanya, kenapa dia melakukan hal gila seperti itu? " Deliva menahan sesak didalam dadanya rasanya ini berat bagi nya.
" gua gk tau, gua saat itu baru datang dari kantin, tiba tiba dia nendang meja. Dia bahkan belom sempat jawab pertanyaan gua, dia malah seneng gitu saat gua kasih tau darah banyak banget keluar dari hidung nya" Deliva menatap laki laki itu, laki laki yang menjadi sahabat Gilbert sejak masuk SMA
" Gi.... Sejak kapan dia mimisan gitu?"
"gua juga baru pertama kali liat dia mimisan kayak gitu"
" dia bilang apa aja ke lo sebelum gua datang? "
" dia hanya bilang, dia senang sekarang dia pengen mati gitu, gua rasa itu hal konyol yang gk berfaedah," mendengar itu bagaikan tikaman tajam tepat dijantung Deliva, apa yang dipikirkan kekasihnya itu
"apa lo tau dia udah berapa kali lakuin hal gila seperti ini? "
"gua baru dua kali liat dia gini, dan ini hal yang paling gila, "
"dua kali? " Gio menggangguk "kapan lagi? Kok gua baru tau ini? " Gio keceplosan sial haruskah dia mberitahu Deliva semua?
__ADS_1
"kapan Gi?" desakan Deliva membuat dia menghela napasnya kuat kuat
" yang pertama saat dia bingung dan marah antara jauhin lo atau gk. Jangan tanya kenapa? Gua juga gk tau intinya sih gitu dan ini yang kedua kalinya " Deliva membekap mulutnya, air mata nya kembali jatuh lagi
Gian berjalan menuju Deliva dan Gio. Dia melihat Deliva menangis, buru buru ia mendekati nya.
" kak, lo kenapa? " mendengar suara itu Deliva bangkit dengan mata sembab nya. Dia memukuli Gian. Gian terkejut dengan tindakan Deliva tapi ia berusaha menahan Deliva
" kenapa lo jahat sama gua? " Gian semakin bingung dan mencoba bartanya lewat tatapan matanya pada Gio namun yang ditanya hanya angkat bahu
"lo kenapa? Gua salah dimana kak?" Deliva menatap Gian tapi air mata itu masih merajalela meloloskan diri dari matanya
" jawab gua jujur sejak kapan Gilbert kayak gini? Jawab gua Gian jawab dong " Gian bungkam dia bingung menjelaskannya, namun Deliva terus meronta ronta minta jawaban darinya
" kenapa? Berat banget ya buat jujur sama gua? " Deliva masih setia dengan airmatanya
"lepasin gua ********, jangan sentuh gua" Gian terkejut dengan Deliva, apa ini Deliva ? Terlihat jelas kalo Deliva sudah lelah dengan tangisannya. Gian terdiam dia bingung mau ngapain.
"sialan, semua orang ternyata berusaha menutupi kebenarannya dari gua. Gadak orang yang percaya sama gua. Aaaaaaaahhhh " Deliva berteriak dan menjambak rambutnya hal itu membuat Gian khawatir bukan main. Suara Deliva membuat mereka pusat perhatian di Rumah sakit
Terdengar suara kaki yang berlari menghampiri mereka, ternyata itu kedua orang tua Gilbert. Mereka melihat keadaan Deliva yang berantakan, mereka cukup terkejut.
Indira bergerak mendekati Deliva, disentuhnya bahu wanita itu. Hal itu membuat Deliva mendongakkan kepalanya keatas. Indira melihat jelas mata sembab itu, sudah berapa lama gadis yang dihadapannya ini menangisi putranya? Apakah dia pernah seperti gadis ini? Indira bertanya tanya dalam hatinya. Indira langsung membawa Deliva kedalam pelukannya. Terdengar isakan tangis Deliva.
"kamu baik baik saja Ivv? Gilbert tidak apa apa kenapa kamu menangisinya sampe seperti ini? "
"aku kecewa tan, kenapa tak ada satu orang pun yang percaya sama aku," isakan itu masih turut menemani Deliva
__ADS_1
"sudah Ivv, ada saatnya seseorang itu tidak mau memberitahu karna dia tidak mau orang lain merasakan sakit juga karna dia. Seseorang itu bisa saja sedang mencari jalan keluar. Diibaratkan dia sekarang sedang tersesat dan berusaha mencari jalan keluar agar terlepas dari jeratan," Deliva menatap Indira dengan mata bengkak, kembali Indira membawa Deliva kedalam pelukannya
Seorang dokter keluar dari ruangan Gilbert semua menatap, hingga akhirnya Deliva bersuara kembali
" Bagaimana keadaannya dok? " tanpa menatap sang dokter, Deliva masih mengarahkan pandangannya kelantai
" Dia lagi beristirahat, mungkin dia kelelahan karna darahnya cukup banyak keluar" Deliva mengangguk dan berdiri meninggalkan mereka, kedua orangtua Gilbert, Gian dan Gio menatap Deliva heran karna berjalan menjauhi mereka
"Del lo mau kemana? Lo gk mau liat keadaan Gilbert?" Deliva menghentikan langkahnya mendengar Gio
" gua rasa gua gk diharapkan, terlali banyak yang berusaha untuk menutupi keadaan yang sebenarnya dari gua. Bukankah itu secara tidak langsung gua ditolak? " Gian terperanjat mendengar kata kata Deliva. Sungguh ini benar benar tidak terpikirkan olehnya
Deliva berjalan kembali menjauh meninggalkan mereka. Air mata masih terus mengalir membasahi pipinya, belom jauh tangannya sudah ditarik
"Lo jangan egois, tidak semua hal pribadi dari orang lain harus lo tau. Harus nya lo mengerti sebagai kekasih, apa harus semuanya lo tau? Lo masih hanya pacar doang belum jadi istrinya. Tapi keegoisan lo luar biasa. Gua gk nyangka pantes kalo abang gua bilang yang berjuang dihubungan ini hanya dia. Lo cewek nya gk mau dukung dia. Dia nutupi semua biar lo gk sedih aja. Tapi liat apa yang lo lakuin, ninggalin gitu aja setelah lo tau. Oooohhh atau jangan jangan ini alibi lo mau ngejauh dari abang gua iyakan? Lo gk mau punya cowok penyakitan kan? Jawab gua!
Gua kira lo baik tapi nyatanya hissss now I don't care about you. Please leave my family from now. Kecewa gua " kata kata Gian barusan bagai tamparan yang keras bagi Deliva sampai menyentuh ulu hatinya. Dia menatap kosong kearah punggung Gian yang berjalan menjauhi dia.
Deliva melihat Gian menyuruh keluarganya masuk, tanpa mengajak dirinya. Sebelum benar benar Gian masuk ada satu kata yang membuat Deliva terdiam
"PERGI" Deliva kembali meneteskan air matanya kembali. Kenapa semua jadi seperti ini? Kenapa semua semakin hancur. Apa iya Deliva egois? Tolong beritahu dia ?
Deliva berjalan menjauh dari ruangan itu masih saja air mata setia menemaninya. Hancurr hancurrr
*Jika sulit untuk menanggung saat kehilangan, maka seharusnya aku tidak memilikinya sejak awal*
Deliva melihat sekali lagi kepintu ruangan itu. Mungkin Gian benar hanya Gilbert yang berjuang buat hubungan mereka, mungkin dia harus intropeksi diri lagi
__ADS_1
"See you" Deliva memantapkan kakinya menjauhi ruangan itu.