Sahabat, Aku Cinta Kamu Loh!

Sahabat, Aku Cinta Kamu Loh!
Long Day


__ADS_3

Deliva menyusuri lorong sekolah, pagi ini dia cepat sekali ke sekolah entah apa yang ada dipikirannya intinya saat ini dia pengen cepat nyampe kelas dan tidur mungkin.


Gilbert juga melakukan hal yang sama, entah naluri mereka yang berkata sehingga mereka sama sama ke sekolah dengan jam yang masih terbilang pagi. Gilbert melihaat Deliva berjalan tidak jauh didepannya. Yang benar saja Gilbert sangat merindukan kekasihnya itu.


Bayangkan saja dia terbangun dirumah sakit tidak menemui gadisnya itu disampingnya. Bahkan hari berikutnya juga dia tidak ada menemui Gilbert


Gilbert berlari menuju Deliva dan memeluknya dari belakang, Deliva terkejut siapa yang berani meluk dia di jam 06.00 pagi ini, sempat merinding tapi dia tepis, dia berencana akan memukul orang yang memeluknya. Tapi urung ketika merasakan nafas yang sedikit ngosngosan menerpa lehernya.


" aku rindu " glekk suara ini, suara yang selalu membayangi Deliva


"kamu kok gk jengukin aku dirumah sakit sih, aku nya jadi tambah parah tau " Deliva berbalik menatap Gilbert


"kok bisa? Kamu kok udah masuk aja kalo lagi sakit sih? " mendengar Deliva yang khawatir terbitlah lengkungan kebawah dibibir Gilbert


"iya aku tambah parah karna nahan rindu ke kamu "


" ihhh apaan sih orang udah khawatir banget sempat sempatnya bercanda, " dengus Deliva dan berlalu meninggalkan Gilbert


Gilbert menggapai tangan Deliva sebelum


Gadis itu semakin jauh.


"kok jutek banget sih, aku masih rindu loh " Deliva berpikir apa Gian tak memberitahu Gilbert masalah di rumah sakit, apa sebaiknya aku pura pura saja, ahh aku juga perlu bahagia bodo amat sama Gian.


Deliva menatap Gilbert dan tersenyum, tangannya terangkat menangkup wajah Gilbert.


" kamu pikir hanya kamu yang rindu hem? " ucapan Deliva makin membuat Gilbert senang


" aku tau kamu rindu, tapi kenapa kamu gk datang kemarin ? " Deliva memeluk tubuh Gilbert dia bahkan gk sanggup cerita sama mahluk yang dipeluknya itu. Gilbert terheran melihat Deliva tapi tak urung dia juga tersenyum. Ketika Gilbert ingin memandang wajah Deliva, Deliva makin memperat pelukannya.


" kamu kenapa sayang? Cerita samaku, kamu gk biasanya gini "


" gk mau, " kenapa itu ? Suara Deliva senggugukan


" kamu nangis Ivv, liat aku " Gilbert melepaskan pelukan itu, setelah terlepas Deliva melihat kebawah jelas sekali wanita itu menangis


" kamu kenapa ? Jawab aku dong jangan buat aku khawatir sayang tolong jawab" Deliva menatap Gilbert dan menghapus sisa air matanya.


" aku takut kehilangan kamu, udah cukup kan kamu menutupi penyakitmu dari aku? Aku gk mau datang kerumah sakit, aku takut Bert aku takut kamu pergi" air bening itu mengalir lagi dipipi Deliva.


Gilbert menarik gadisnya itu kedalam pelukannya, mengusap usap rambut gadisnya itu berusaha untuk menenangkannya.

__ADS_1


" kamu udah tau? Aku gk bakal ninggalin kamu selagi kamu ada disamping ku. Aku akan selalu kuat ketika penyemangatku berada disekitar ku " Deliva makin mempererat pelukannya pada tubuh Gilbert


" jangan pernah menyembunyikan lagi penyakitmu, aku udah tau semua. Kenapa kamu harus berbohong ? "


Gilbert menatap Deliva tepat dimanik mati coklat terang itu, Gilbert tersenyum dan menangkup wajah kecil itu dalam tangannya.


" aku tau dan aku sengaja, karna jika aku beritahu kamu akan seperti ini, menangis, khawatir dan aku takut kamu bakal menjauh dariku, aku gk mau itu sampe terjadi. Biarkan saja aku menahan sakit asal aku bisa melihat mu itu gk sebanding Ivv"


" apa ini alasan kamu jauhin aku kemarin hem? " Gilbert menghela napasnya dan mengangguk


" apa kamu mau bertahan untukku? Atau kamu mau ninggalin aku? "


" apa kamu pikir aku wanita seperti itu huh? " Lagi lagi Gilbert kembali tersenyum melihat Deliva


" kenapa senyum, aku sangat marah padamu, teganya kamu merahasiakan hal sebesar ini dari ku, apa hanya aku yang gk tau?" Gilbert kembali mengangguk.


" wahh kamu sungguh hebat tuan Anggara, huh bagaimana bisa aku tau nya dari orang lain huh menyebalkan sekali dirimu " tawa Gilbert pecah ketika melihat Deliva memanyunkan bibirnya


" tolong jangan lakukan seperti itu, aku gk tahan ingin menciummu" Deliva secepat mungkin menutup bibirnya dengan kedua tangannya dan bergerak menjauh, tawa Gilbert semakin pecah


" yayaya jangan menjauh, aku tidak akan melakukannya karna itu hanya milik suamimu bukan? Tenang saja gelar itu akan menjadi milikku nantinya "


" hemm percaya diri sekali anda tuan Anggara, bahkan aku belom punya bayangan kalo kamu itu akan jadi suamiku"


" melakukan apa? Jangan gila dan jangan mesum " deliva begerak menjauh namun gilbert dengan tawanya mengikuti Deliva


" sudah lah jangan berjalan mundur begitu nanti kamu jatuh sayang" Gilbert berjalan dan hampir menggapai tubuh Deliva


"eitsss.... Stop jangan sentuh aku, aku jadi takut padamu "


" kenapa?"


"entar kamu macem macem sama aku " tawa Gilbert makin pecahh dan itu membuat Deliva semakin kesal melihat kekasihnya itu


" aku tidak akan melakukannya percayalah, sudah sini nanti kamu terjatug kalo jalan mundur terus "


" jadi? "


" jadi apa? "


" kau sungguh takkan melakukannya ?"

__ADS_1


" melakukan apa?"


"seperti yang kau katakan tadi, emang kamu mau melakukan apa ?" Gilbert berusaha menahan tawanya dan menggapai yangan gadisnya agar stop berjalan mundur


Gilbert mengikis jarak mereka, dan menatap wajah gadisnya itu dan bibir kenyal itu menempel di dahi Deliva cukup lama ok ?


" aku tidak akan melakukan hal mesum yang ada diotak kecilmu ini bodoh " Gilbert menyentil kepala Deliva


"auww.... Ihh sakit bodoh " Deliva menyentil kepala Gilbert dan berlari menjauh, hal itu membuat Gilbert tertawa menatap kekasihnya itu.


Gilbert berlari mengejar gadisnya itu, dan mereka berlarian disepanjang koridor siapa sangka ada hati yang terluka menatap mereka bermesraab seperti itu


" kuharap dia benar benar bahagia bersamamu bert " lelaki itu menghela napas dan melangkahkan kaki nya menuju kelasnya.


Dia sungguh menyesali perbuatannya datang kesekolah pagi pagi seperti ini, andai dia tidak datang mungkin dia tidak akan melihat wanita yang merebut hatinya itu bermesraan dengan kekasihnya.


Sungguh tidak ada semangat lagi menjalani hari ini, ini akan menjadi hari yang sangat panjang baginya, apalagi dia harus menatap gadis itu disepanjang jam pelajaran.


" ahhh shit, harus nya gue gk usah datang cepat tadi huh " dia mengepalkan tangannya dan meninju udara hal itu terlihat jelas dimata Deliva dan Gilbert.


" ari, lo kenapa? Kesambet setan lu? " yaps benar laki laki itu ari, Ari berusaha tersenyum melihat Deliva


" eh lo del, cepat banget lu datang "


" yang ada gua yang nanya gitu ke elo, tumben banget lu datang cepat "


" lagi malas aja lama lama ekwk "


" aneh lu " Deliva berjalan melewati Ari dan memasuki kelasnya disusul Gilbert dibelakangnya


Apa dia juga harus ikut masuk? Dan melihat hal yang tidak ingin dia lihat?


Arghhh... Akhirnya dia masuk juga takut Deliva berpikir aneh aneh tentang dia


Ari menatap Deliva dan Gilbert yang saling bercanda gurau, sungguh itu menyakitkan sekali baginya.


Ari melangkahkan kakinya mau keluar kelas, sepertinya dia harus kekantin ketimbang dikelas.


"ry, lo mau kemana? "


" gua mau kekantin, blom sarapan tadi, gua duluan ya " Deliva mengangguk dan membentuk jarinya menjadi oke

__ADS_1


Ari keluar kelas dan menatap sekali lagi kelasnya itu, dimana disana ada gadis yang sangat dengan mudahnya memporak porandakan hatinya. Huftt . Ari meninggalkan kelas dengan perasaan dongkol. Hari yang sangat panjang siall


__ADS_2