
Deliva berjalan disepanjang koridor, dia tidak menghiraukan beberapa temannya yang menyapanya. Dia bingung satu minggu ini kenapa banyak yang menghindari dia bahkan kekasihnya aja menghindari dia hanya komunikasi ala kadarnya bahkan jika diajak jumpa saja susah. Roby ? Jangan tanya lelaki itu, bahkan dia sudah sangat cuek padanya sekarang semejak kejadian di taman belakang sekolah beberapa hari yang lalu.
Deliva berjalan lesu menuju tempat duduknya, Deliva mengambil catatan kecilnya, ya itu buku diary nya yang beberapa hari ini menemaninya entah mengapa dia merasa dadanya dihimpit benda bergesekkan sehingga ia memutuskan untuk mencurahkan semua tentang perasaannya kepada buku kecil itu.
Mungkin kamu bakal bertanya kan kenapa Deliva tidak bercerita pada Anggray? Jawabannya karna Anggray juga mulai menutup diri darinya, bahkan dia tidak tau apa alasannya Anggray. Tapi tenang saja mereka tidak musuhan kok hanya saja keadaan sedang mempermainkan peran Deliva lebih banyak disini.
Deliva mulai memasang musik dari handphonenya dan segera menyumpal telinganya dengan headset. Dan kini jemari itu mulai menari nari lagi diatas kertas putih itu seperti mengikuti alunan musik yang tengah ia dengarkan.
Rabu, 11 maret 2020
Waktu...
Membawaku bertemu denganmu
Angin...
Membawa kabarmu padaku
Jarak....
Menumbuhkan rindu didadaku untukmu
Sungguh waktu, angin dan jarak
Bekerja sama membuatku
Ingin memilikimu dan membuatmu tetap berada disampingku
Namun, saat ini mereka juga bekerja sama mengikis hatiku
Meninggalkan sakit
Sungguh aku ingin membencimu
Membenci keadaan ku
Membenci semua yang ada
Tapi aku sungguh tidak sanggup
__ADS_1
Aku ingin menangis
Tapi rasanya airmata sudah kering
Mengadukan pada alam semesta
Kegundahan hatiku yang semakin kalut
Aku ingin melupakanmu...
Bayang bayang mu
Tapi perlahan semesta bekerja sama
Membuatku sulit melupakanmu
Sakit memang
Tapi mau gimana lagi?
Sakit itu udah menjelma jadi Rindu
Rindu yang menyakitkanku
Deliva merasakan mejanya bergeser itu tanda Anggray sudah datang. Dia segera menutup buku kecilnya dan memasukkan kedalam tas. Dia tersenyum pada Anggray, Anggray hanya membalas sekilas lalu berjalan keluar meninggalkannya tanpa sepatah kata pun.
Deliva menghela napas kecewa, melihat sahabatnya itu berlalu begitu saja tanpa menyapa nya sedikitpun. Deliva akhirnya memainkan ponselnya tanpa menunjukkan wajah kekalutan yang besar. Ia kembali memasang wajah dingin, cuek yang sekarang menjadi ciri khasnya beberapa hari belakangan ini.
" Del, lo ngapain? " Deliva melirik Ari yang yang menyapanya namun ia hiraukan saja, kalo Ari punya mata tentu dia tau Deliva sedang apa bukan? Jangan salahkan Deliva yang tidak mengubris pertanyaan konyol itu.
" Lo, kenapa sih? Akhir akhir ini sendiri mulu, lo lagi masalah sama Anggray, gue liat dia lebih sering sama kelas sebelah ketimbang lo " Ari mencoba bertanya karna dia sangat penasaran
" Gk papa " singkat padat dan jelas. Tapi bukan itu jawaban yang diharapkan Ari. Ketika ingin bertanya kembali Deliva terlebih dahulu melontarkan tatapan tajamnya seolah mengatakan ' JANGAN BANYAK TANYA DEH ' melihat tatapan itu membuat Ari kicep, namun tak beranjak sedikitpun dari tempat duduk Anggray. Ari malah mengambil ponselnya dan memainkannya seperti halnya Deliva.
Seorang lelaki memasuki kelas mereka, bukan hal baru lagi, lelaki itu pasti ingin menemui seseorang yang didalam kelas itu, wajar dong orang dia bukan anak kelas itu. Dengan gesit si perempuan yang disampingnya bergelayut manja ditangannya hal itu sudah bukan hal aneh lagi di liat anak kelas, mereka tentu mengenal perempuan itu yang notabenenya anak kelas ini.
" Sayang, kamu udah makan gk? Tadi mama nyiapin bekal banyak nih " mendengar itu ekor mata Deliva melirik. Dia cukup bahagia melihat kekasihnya. Walaupun jika diajak jumpa berdua selalu aja ada alasan
" enggak, gua pengen balek ke kelas, udah ya "
__ADS_1
" tapi kan, aku kan udah belain buat bawain loh "
" yaudah, lo makan aja. Gua udah makan tadi dirumah. Udah ya gua cabut "
" tapi sayang... Gil... " teriakan itu terhenti saat gadis itu melihat teman sekelasnya tertawa geli melihatnya.
" apaan sih lo pada hah? Iiiiihhh sirik ya gegara yang punya pasangan? Sadar oikkk truk aja gandengan masa lu kagak heh " gadis itu mengibaskan rambutnya dan berbalik menuju meja nya. Namun pemandangan pagi ini membuat dia marah apa apaan itu Deliva duduk bareng cowok yang dia suka, ingin berontak tapi harus jaga image dong ya depan cowok yang kita suka. Dia mencoba tidak peduli namun ekor matanya menangkap Deliva tertawa.
" heh... Lo ngetawain gue ya? " Deliva tak bergeming dia hanya memainkan ponselnya.
" lo berisik banget sih ganggu konsetrasi gua main aja lo "
" Ari... Bukan...bukan maksud aku ganggu kamu, aku kesel masa dia ketawain aku? "
" lo pikir gue peduli, minggir lo gua mau lanjut main "
" tapi maafpin gue kan ya ? Hem ? Ya ya ya " gadis itu bergelayut manja pada Ari untuk minta maaf ehhh.... Modus kali ya paling tepat wkwkkwk
" Yahhh... Ishhh gilak ya lo. Gegara lo gue kalah anjirrr hangus dah uang gua anj**g lo memang ya, minggir lo " Ari berdiri dari tempat duduk yang di dudukinya di samping Deliva, hendak melangkah namun gadis itu tak bergeming.
" minggir Yessi " suara Ari kali ini sudah melembut pada gadis itu. Ya gadis itu Yessi kalian pasti udah tebak kan.
" tapi maafpin gue ya " airmata Yessi mulai menurun, melihat itu Ari berdehem mengiyakan. Melihat itu Yessi spontan meluk Ari.
" iiihh... gilak lo ya, minggir " Ari melepaskan pelukan Yessi, mendorongnya dan berlalu pergi menuju keluar kelas.
Yessi ingin menangis namun ia malu diliat temannya, karna Yessi baru saja seperti ditolak mentah mentah oleh Ari. Dia menahan sekuat tenaga agar air mata itu tidak turun.
" gk usah ditahan, kasihan pelupuk mata lo gk bisa nahan nanti mata lo kendur " Deliva melenggang pergi keluar kelas usai mengatakan hal menohok itu pada Yessi. Yessi menggeram marah dan meenghentakkan kakinya kelantai. Hal itu membuat sekelas nya menahan tawa. Hal itu tidak dipikirinya lagi. Dia meletakkan tasnya ke tempat duduknya dan berlari dari ruang kelas.
Deliva merasakan aroma angin yang menerpa wajahnya dan menyapu rambutnya lembut dengan mata terpejam dan menikmati alunan musik.
Masih ada waktu 1 jam lagi
Dia menikmati saat saat sendirinya merasakan rindu yang tertahan itu ternyata semenyakitkan ini.
Namun tetap bahagia karna gimana pun itu sudah terencana oleh Yang Kuasa atas hidupnya. Bukan waktunya lagi dia merengek ini itu, sudah saatnya belajar dewasa untuk segala hal yang terjadi. Setidaknya untuk menikmati proses kehidupan itu cukup ia jalani dengan rasa syukur.
Gilbert tersenyum menikmati wajah Deliva yang memejamkan mata. Ada perasaan bahagia dan debaran selalu ada untuk gadis tembemnya itu. Dia sadar sayangnya terlalu besar untuk gadis itu. Kalo saja dia tidak punya kanker dia akan bahagia duduk disamping gadis itu sekarang tanpa peduli orang lain.
__ADS_1
" I miss you more and more Ivv " gumam Gilbert dibalik pohon dia sangat menyukai hal ini. Karna ia bebas melakukannya disini tanpa gadis gila itu yang selalu mengaturnya.