
Sore ini Deliva dan Gian berencana akan pergi ke tempat sepupu Gian, perasaan Deliva tak karuan, dia tidak menyangka gadis yang ingin dia lukai sepupu kekasihnya, bagaimana kalau sepupunya itu benci kepadanya? Huhh membayangkannya saja sudah membuat Deliva khawatir.
Deliva memilin bajunya menandakan dia dilanda gugup, padahal kan jumpa gadis saja. Menanti kedatangan Gian, yang entah kenapa rasanya saat Gian menghentikan motor sportnya didepan rumah Deliva, terasa membuat dia kurang waktu persiapan.
" kak, yuk "
" ehhh... Ohh... Ya " Deliva menuruni tangga rumahnya
" kenapa? Apa segugup itu ? Kita hanya bertemu sepupu gua kak, kita belom jumpa kakek dan nenek gua loh " Deliva menatap Gian yang berusaha menggoda nya.
" gua bukannya gugup, gua khawatir, secara sepupu lo kemarin buat gua emosi sih, ya gua hampir aja lepas kendali " Gian terkekeh mendengar dumelan Deliva
" hemm, Gian apa dia dirumah? " Deliva berdoa dalam hati semoga lidah Gian mengatakan tidak atau apa gitu, biarkan dia memberi waktu buat Deliva menyiapkan batin dulu
" ya... Kak Celline selalu dirumah sore gini, dia anak rumahan, jarang keluar " mendengar itu Deliva berteriak dalam hati ' arghhh shit '
" lagian, gua udah bilang juga sama kak Celline biar gk kemana mana soalnya kita kan mau jumpain dia " Deliva menenggelamkan kepalanya ke pundak Gian, sungguh Gian mempersiapkan semuanya dengan sangat baik.
Gian masih melajukan motornya dengan santai, dalam hati dia sudah tertawa puas melihat tingkah laku kekasih abang nya ini. Gian mengerti kenapa Gilbert selalu jatuh hati pada gadis yang tengah duduk dibelakangnya itu. Terlihat dengan gadis itu bertingkah konyol seperti itu aja sudah membuat Gian berusaha menahan tawa. Ini baru satu dari sekian banyak kelakuan gadis itu.
" Gian "
" heem? "
" gua ngerasa ngak enak badan, balek aja yok. Kapan kapan aja jumpanya " Gian langsung menepikan sepeda motornya, melihat gadis dibelakangnya apakah dia masih bisa bertahan
" kok gua ngerasa gk ada yang aneh ya " Gian mulai berpikir dengan gaya coolnya, membuat Deliva mengingat sosok kelasihnya, uuuhhh Deliva sungguh merindukan Gilbert saat ini.
" kak... Kak...Kak Del " Gian mulai mengoyangkan tubuh Deliva yang terlihat melamun menatap nya
" ehhh apa ? "
__ADS_1
" lo ngelamun ? Sampe liatin gua segitunya, gua tau gua cakep tapi gk mesti segitunya juga lo natap gua " Deliva memutar bola matanya males
" udah buru, keburu malem " Gian malah tertawa membuat Deliva bingung dengan kelakuan adik kekasihnya itu
" udah ngerasa baikan ? " upss Deliva lupa akan penyamarannya, haiss gagal sudah untuk tidak bertemu dengan Celline
🌺🌺🌺
Gian dan Deliva berjalan menuju halaman belakang rumah Celline, kata pembantu Celline, nona nya itu berada di halaman belakang. Mencapai ujung pintu menuju halaman belakang, Deliva merasa tangannya berkeringat huftt semoga semuaa baik baik saja, sungguh ia tidak sanggup.
" kak " Celline menoleh melihat Gian sudah sampai dirumahnya
" lo kok bawa dia? " Celline tampak tak suka melihat keberadaan Deliva dirumahnya.
" haii Lin " Celline menaikkan sebelah alisnya, menatap Deliva heran. Melihat itu Deliva tersenyum kikuk karna tak mendapat respon yang baik dari Celline.
" Gian, lo mau ngapain sebenarnya sampe bawa dia ? " Gian menatap Deliva tak enak hati
" ehmm... Sebenarnya gua yang minta Gian buat ajakin gua ketemuan sama lo Lin " Celline makin menunjukkan rasa tak suka nya pada Deliva.
" gua jumpain dia dulu ya, aku mau ajak ngobrol bentar " Deliva hanya bisa mengangguk pasrah, ahhh ini sangat menyebalkan. Dia kan hanya berniat baik untuk minta maaf, Celline benar benar kesal sepertinya. Terdengar helaian napas Deliva.
Deliva duduk di bangku taman Celline, dia sudah malas berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia menatap kosong ke arah depan, mungkin dengan cara itu dia bisa merasa damai sebentar.
Celline duduk di bangku yang sama dengan Deliva, dia melihat Deliva yang menatap kosong ke depan, bahkan kehadirannya pun Deliva tak merasa.
" lo mau ngomong apa ? " Deliva tersentak tiba tiba, dia merasa sambaran petir baru saja berbunyi tepat di telinganya.
" ehmm... Itu... Anu... "
" segugup itu lo ngomong sama gua? Lo mau nembak gua makanya sampe sulit ngomong? " Celline terkekeh melihat tingkah Deliva
__ADS_1
" eee... Bukan... Maksud gua, gua mau minta maaf sama lo, maaf gua tadi hampur lepas kendali sama lo, gua gk bermaksud cuma gua kesel aja tadi " 1 menit.... Belum ada tanda tanda Celline buka suara, akhirnya Deliva menatap Celline yang masih senang dengan kebungkamannya.
" lo gk mau? " terdengar helaian napas Celline
" gua sebenarnya mau tanya, lo itu siapanya Gilbert ?" Deliva membulatkan matanya melotot, pertanyaan apa itu? Hampir seantereo sekolah tahu bahwa Deliva kekasih Gilbert
" gua pacarnya " jawab Deliva mantap
" yakin lo? "
" maksud lo apa ? "
" lo yakin pacar Gilbert " Deliva mengerutkan keningnya, dia bingung dengan Celline, daripada berkelahi Deliva menganggukan kepala saja.
" kalo lo pacarnya, kenapa jalan sama cowok lain? "
" Gilbert gk pernah batasin gua dekat sama cowok lain, kok lo jadinya yang batasi pergerakan gua? " terdengar tawa Celline meremehkan
" Gilbert emang gk batasi lo, tapi lo yakin hati dia baik baik saja ketika dia tau kekasihnya jalan sama cowok lain? "
" maksud lo? "
" ya, itu dia sebenarnya tahu lo jalan sama cowok lain, cuma dianya gk mau bilang ke lo, karna lo kan gk suka dikekang, lagian dia gk mau terlihat possesif sama lo " Deliva terdiam, apa benar Gilbert tidak tahu?
" kenapa lo diam? Lo mau gua maaf pin kan? " Deliva hanya mengangguk
" yaudah lo minta maaf dulu sama Gilbert, karna gua gk suka lo mainin Gilbert kayak gitu, gua sayang sama sepupu gua, apalagi melihat dia berjuang untuk hidup dan bilang itu demi lo, gua gk sampe hati kalo dia terluka lagi karna lo " Deliva mencerna baik baik perkataan Celline, kenapa ia terlihat tampak jahat. Bulir bening terasa mengenang dipelupuk matanya, sekali kedip maka air itu akan tumpah
" gua tau lo gk bermaksud gitu, gua tau lo sayang Gilbert juga, tapi gua mohon lo batasi pergaulan lo sama cowok lain, lo harus ingat, bukan cuma hati lo aja yang perlu lo jaga tapu hati orang lain juga ada yang perlu lo jaga " Lolos sudah air mata itu membasahi pipi Deliva, sungguh ini bagaikan tamparan keras baginya. Rasa sakit itu menjalar diseluruh tubuhnya.
" gua percayain dia buat lo, gua gk mau lo nyakitin dia, dan gua akan jadi orang pertama yang lukain lo ketika itu terjadi, dan gua juga bakal jadi orang pertama yang maki Gilbert ketika gua tau dia nyakitin lo " Deliva terharu dengan penuturan Celline, perlahan Deliva mendekati Celline dan memeluk gadis itu
__ADS_1
" makasih, gua bakal inget nasihat lo, makasih udah sayang sama gua walaupun karna sepupu lo " Celline membalas pelukan Deliva dan menepuk bahu gadis itu.
Gian yang mendengar itu, dan menyaksikannya tersenyum bahagia. Bukannya dia ingin menutup mata melihat Deliva jalan bersama cowok lain, tapi dia tahu, bukan Deliva yang ingin bersama mereka tapi mereka yang selalu mencuri kesempatan berada disisi gadis itu.