Sahabat, Aku Cinta Kamu Loh!

Sahabat, Aku Cinta Kamu Loh!
Dia Kembali


__ADS_3

Senandung lagu yang berputar membuat Keano melenggok-lenggokan badannya. Deliva dan kedua orangtuanya tak henti-hentinya tertawa melihat kelakuan bocah 3 tahun itu.


"Key... Sudah sayang grandma udah gk tahan lagi, "ucap Andini seraya mengelus perutnya karna kelelahan tertawa.


"Glandma senang? " Tanya Key menatap perempuan paruh baya itu.


"Tentu saja,  mari sini biar grandma pangku."


Keano berlari ke arah Andini dan merentangkan kedua tangannya.


"uuhh...  Cucu grandma udah gede ternyata.  Udah berat," ucap Andini seraya menciumi wajah Keano, Keano tertawa karna merasakan kegelian.


"Sudahlah moms, aku cemburu. " tutur Gerald memandang istrinya itu.


"Dad,  kamu udah tua.  Tau umur sedikit,  masa sama cucu sendiri cemburu. Iyakan sayang? " Keano tak berhenti tertawa saat Andini mencium perutnya karna bajunya yang sedikit terangkat.


"Ah... Kamu ya Key,  bisa aja kamu rebut perhatian grandma,  grandfa sedih nih. "


"Glandfa sedih? " Tanya Keano dengan wajah polosnya. Sementara Gerald hanya mengangguk saja.


"Glandma,  Key mau di pangku aunty saja. Kasihan glandfa. " Dengan kesal Andini menatap tajam kearah Gerald sementara Gerald tersenyum dan mengalihkan pandangannya.


Keano berlari kepangkuan Deliva,  dengan senang hati gadis itu menyambut Keano.


"Dad, Moms kalian sudah tua,  tolong jangan bermesraan di depan jomblo sepertiku, " tukas Deliva kesal


"Sirik aja huh. "


"Glandfa, gk boleh gitu sama aunty. Key gak suka ya."


Deliva memeletkan lidahnya kearah Gerald karna mendapat dukungan penuh dari keponakan mungilnya itu. 


"Moms, aku dimarahi cucu kita. "


"Alay banget sih, " Andini segera berjalan menjauhi Gerald.


Tawa Deliva dan Keano pecah saat wanita paruh baya itu meninggalkan kekasih hatinya itu dengan wajah cemberut. 


"Sudahlah, aku tau dia hanya memberi aku kode biar nyusul dia ke kamar, dasar istriku. Bye semua... " tutur Gerald sambil melangkahkan kaki menyusul Andini.


"Aunty,  temani Key ke taman semalam. Key sudah janji dengan Difa buat belmain bersama, "


" Difa siapa? "


"Gadis cantik sepelti aunty,  teman Key. " Jelas Key senyum-senyum sendiri.


" Ehm...  Sudah mulai nakal ya? "


"Enggak,  Key hanya belteman saja," ucap Key dengan wajah cemberutnya.


"Heiii...  Mukanya kok cemberut gitu sih?  Yaudah,  sekarang Key siap-siap dulu. "


"benal aunty? "


"iya sayang. "


"Yey.... "


Keano berlari senang sambil teriak-teriak menuju kamarnya untuk berganti pakaian,  Deliva hanya bisa geleng-geleng kepala melihat keponakannya itu.


🌺🌺🌺


Sesampainya di taman,  Keano langsung berlari sambil mencari-cari Difa dimana berada.


"Difa...  Difa...  Dimana?  Key sudah sampai loh. " Teriak Keano dengan kuat.


"Difanya mungkin masih dijalan Key, "


"Benalkah aunty? "


"Mungkin saja,  sabar saja ya, " Keano mengangguk


"Kalo gitu, bial Key duluan deh mainnya, "


"Okay deh,  aunty duduk disini ya.  Ingat jangan jauh-jauh loh ya? "

__ADS_1


"Siap aunty, "


Keano berlari-lari bermain dengan anak-anak yang lain,  Deliva memantau pergerakan Keano dari tempat duduknya.


Terasa kursi berderet, sepertinya seseorang datang untuk duduk disamping Deliva.  Deliva menatap seorang mama muda yang baru saja melepas tangannya dari putrinya.


"Halo... Gapapa ya aku disini? "


"Ya, tentu saja. "


Deliva memandang wanita itu,  wanita ini sangat cantik.


"Kenapa? " Tanya wanita itu yang merasa dipandang Deliva.


Deliva tersenyum,  "Mbak,  itu anaknya ya? "


"Heii...  Aku tak setua itu loh, "


"Benarkah? Jadi itu keponakanmu? "


"Tidak,  itu putriku. Aku nikah usia muda dan sepertinya kita seusia deh. "


"Waw...  Benarkah?  Aku baru 23 loh."


"Iya,  aku juga.  Aku nikah umur 19 tahun. Terlalu muda ya? "


Deliva mengangguk sedikit terkejut sebenarnya.


"Udah biasa mah itu. Oh iya kenalin namaku Deliva Muller."


"Namuku Deasy. "


"Salam kenal Des. "


"Iya,  kamu ke sini jaga anak kamu ya? " tanya Deasy penasaran


"Bu... "


"Sayang, ini minumnya, "Ucapan Deliva terpotong karna lelaki yang baru saja datang menghampiri mereka.


"Makasih sayang,  eh...  Sayang kenalin ini temanku namanya Delivaa, "


"Hai...  Kenalin nama aku Deliva, " ucap Deliva sekaligus mengulurkan tangannya.


"Gilbert."


Terlihat pancaran senyuman yang menyakitkan Deliva,  Gilbert dapat melihat semua itu.


"Del,  kamu tadi kesini sama siapa? " Tanya Deasy menatap Deliva


"Anak aku, " terasa menyakitkan sekali,  mengakui keponakannya jadi anak sendiri karna kekasih yang ditunggu sudah punya istri.


"Yang mana? "


"Itu anak lelaki yang pakai baju warna hitam, "


"Wah,  ganteng sekali.  Siapa namanya?


"Keano. "


"Nama yang bagus, suami kamu dimana? "


Sial! Kenapa begitu menyakitkan sekali pertanyaan itu, Deliva menatap Gilbert sementara Gilbert berusaha memalingkan wajahnya.


"Lagi kerja. "


"Suami mu kerja dimana? " Pertanyaan Deasy membuat Deliva menatap tajam kearah Gilbert.


"Sayang, kamu jangan terlalu banyak tanya. "


"Kenapa? Kamu gk nyaman ya Del? Tadinya aku nanya gitu, kali aja suami kamu kerja di tempat yang sama dengan Gilbert. "


"Emang suami kamu kerja dimana? " Tanya Deliva penasaran.


"Di Maldives Corp, suami kamu? "

__ADS_1


"Waw... Kok bisa kebetulan sama ya? " ungkap Deliva sedikit tersenyum.


Deliva menatap Gilbert, sorot mata Gilbert menunjukkan penyesalan yang sangat dalam. Gilbert hanya bisa bungkam tak berani mengeluarkan sedikit suarapun.


"Benarkah? "Tanya Deasy makin penasaran


"Iya... "


"Siapa namanya? "


"Des... " panggil Gilbert agar wanita itu menghentikan pertanyaan konyol yang akan membuatnya semakin sakit hati.


"Gak papa kok Bert, wajar dong Deasy nanya kali aja emang kalian saling kenal, " tutur Deliva yang mendapat tatapan tajam dari Gilbert.


"Tuh kan gapapa sayang, kali aja kamu kenal loh."


"Namanya... "


"Mah..."


Seorang gadis kecil berlari ke arah mereka, sepertinya gadis kecil itu kehausan. Melihat itu, Deliva teringat dengan Keano yang belum minum sedari tadi.


"Des, aku kesana dulu ya. Nanti aja kita lanjut, anak aku takutnya udah lapar,"


Sesak... Sesak... Sesakk


Itu yang di rasakan Gilbert ketika mendengar Deliva sudah memiliki anak. Matanya sudah mulai memanas, tapi apakah pantas dia menangis?


"Des... Aku kesana dulu temani Valen main, "


"Papah mau nemenin aku? "


"Iya sayang... "


Gadis kecil itu menarik tangan Gilbert untuk menjauh dari Deasy. Gilbert mendekat dengan Deliva, matanya menatap gadis itu sendu. Deliva begitu cekatan menjadi seorang ibu, lihat saja dia begitu lihai dalam memberi makan dan memanjakan anak lelaki itu.


"Key, aunty boleh minta tolong? "


"Minta tolong apa aunty? "


"Kalo ada yang bertanya datang kesinj bareng siapa, jawabnya mama ya? Okay? "


"Tapi bohongkan dosa aunty. "


" Iya sih, tapi... "


"Aunty yang ajalin Key bial gk bohong loh, "


Sial! Kenapa anak kecil ini sangat pandai, sulit sekali mengajaknya kerja sama. Huft...


Deliva melihat Gilbert berjalan kearahnya, dia segera memalingkan wajahnya. Kenapa perasaan ini masih muncul untuk lelaki itu?


Ingat Del dia udah ada istri.


"Hai... "


"Eh... Om yang kemalin kan? Key minta maaf ya om. Semalam Key gk sengaja nablak anak om. "


"Iya, gapapa jagoan. Siapa sih yang ngajarin gini? Kok pinter sekali? "


"Mamah Key om, kata mama kalo kita belsalah halus minta maaf, "


"Mama Key pasti orang pinter, baik juga iyakan? "tanya Gilbert walau dalam hati rasanya jantungnya sudah diremas.


"Iya om, mama Key juga cantik lo om,"


"Om tau Key, mama mu pasti sangat cantik, " ucap Gilbert seraya menatap Deliva. Setetes air mata Deliva menetes, segera dia memalingkan wajahnya.


"Key... Pulang ya udah sore, nanti grandma kecarian lagi. "


"Okay, om Key pulang ya udah sole, bye... " segera Deliva mengandeng tangan Key, sungguh dia tidak sanggup menatap orang yang selama ini dia tunggu ternyata udah lebih dulu meninggalkan janjinya.


Gilbert hanya bisa menatap kepergian Deliva, sungguh dia sangat merindukan gadis itu. Ingin rasanya dia memeluk dan mencium gadis itu.


Sesampai dirumah Deliva menitip Keano kepada mamanya dan berlari menuju kamar. Semua yang berada diruang tamu heran kenapa Deliva seperti itu. Teriakan mereka bagaikan angin lalu bagi Deliva, yang ada dipikirannya saat ini menangis sepuasnya.

__ADS_1


"Tega banget sih lo Bgsd, gua nunggu lo, gua berusaha setia terus sama lo, kenapa lo selalu membawa rasa sakit buat gua? Salah gua apa? " Jerit Deliva dengan air mata yang lolos begitu saja.


Semua benda mati itu menjadi saksi kehancuran Deliva, menangisi keadaannya yang berusaha setia menunggu namun dihianati dengan telak. Hatinya rapuh, hancur tak berdaya.


__ADS_2