
Setelah melakukan ritual mandinya, Deliva bersiap siap turun kebawah untuk makan malam. Deliva yakin daddy dan mommy nya sudah pulang
Deliva menuruni tangga dan menuju ruang makan, benar dugaannya orang tuanya sudah duduk menantinya.
" haiii dad, mom" Deliva menuju daddy dan mommy nya dan mencium kedua orangtuanya
" haii sayang, duduk" Deliva duduk diseberang daddy dan berhadapan dengan mommy nya. Dan disamping mommy nya Delicia sudah duduk manis
Deliva dan keluarganya makan malam dengan hikmat. Bunyi bel rumahnya menghentikan acara makan Deliva, dia berjalan menuju pintu rumah. Saat dia membuka pintu hanya ada parcel didepan di dalam sebuah kotak, Deliva melirik ke bawah dan samping kanan kiri rumahnya tapi tidak ada orang. Deliva mengambil parcel tersebut dan membawanya ke ruang makan
" siapa Del?"
" gk tau mom, tapi ada parcel nih, tapi gk ada nama pengirimnya" Deliva membawakan kotak itu dan meletakkannya diatas meja
" ih kak Del, buang aja gih kali aja tu terorr iss seram ahh"
" Ca.... gk boleh gitu, kalo memang itu terror nanti daddy akan mencarinya sampai dapat" daddy menenangkan Delicia, entah darimana tiba tiba parno sendiri.
Terdengar kembali suara bel rumah. Deliva masih asyik dengan makanannya.
" heem iya iya biar Ca yang bukain" Ca berjalan meninggalkan ruang makan setelah mendapat tatapan permohonan dari mommy nya
Delicia membuka pintu rumah, Delicia membeku menatap seorang pria yang berdiri dihadapannya.
" heiii... kok bengong?? Gk kangen kah?" Tanya pria itu sambil melebarkan kedua tangannya.
Delicia berteriak histeris.... dan berlari kepelukan pria itu. Deliva beserta kedua orang tuanya berlari ke arah depan setelah mendengar Delicia yang berteriakk...
" Ca, siapa sayang?" Terdengar suara khawatir dari daddy. Delicia tidak menghiraukan daddy nya dia hanya memeluk pria itu lebih erat.
Deliva dan orangtuanya menatap pria yang memeluk Delicia. Pria itu menatap Deliva dan orangtuanya. Dengan gerakan tak terduga Deliva berlari dan berteriak histeris
"Abang......" Deliva langsung memeluk pria itu. Ya itu abang Deliva, anak pertama dari keluarga Muller. Abangnya yang selama ini berada di Amerika tinggal bersama grandma dan grandpa nya. Deliva keturunan campuran. Ayahnya keturunan orang luar sedangkan ibunya asli orang indonesia.
" Denis..." Denis melepaskan pelukannya terhadap Deliva dan berjalan memeluk mommynya
" mommy" Denis memeluk erat mommy nya melepaskan rasa rindunya. " Dad" Denis memeluk Gerald saat ini dan Gerald memeluk putra satu satunya itu dan memukul pelan pundak jagoannya itu.
" abang.... abang kok tumben pulang?"
__ADS_1
" tak senangkah abang pulang??" Delicia langsung berlari lagi kepelukan abangnya " tentu saja senang karna aku sudah sangat sangat merindukan abang" Denis tersenyum dan memeluk putri bungsu dikeluarga Muller itu.
" Denis duduk sini sayang, mom benar benar rindu" Denis mengangkat tubuh kecil Delicia dan membawanya duduk dipangkuaannya, dan duduk disamping mommy nya.
Keluarga muller itu bercerita hangat tentang kuliah Denis dan keadaan grandma and grandpa di Amerika. Deliva menepuk jidatnya dan berdiri.
" kemana Ivv?" Delicia dan kedua orangtuanya menatap Deliva, merasa bersalah karna belum memberitahu Denis, kalo Deliva akan sangat marah jika dia dipanggil Ivv lagi. Seperti 3 hari yang lalu dia marah besar dan tidak beranjak dari kamarnya, hal itu membuat kedua orangtuanya panik. Dan harus membiasakan diri dengan panggilan 'Del'
Deliva melihat kearah abangnya dan tersenyum masam " mau keruang makan bang. Tadi bekas makanannya belum dibersihin, dan ah iya aku mau sekalian ambil kotak, tadi ada orang letakkin kotak depan rumah " Denis mengangguk dan membiarkan Deliva pergi
" dad, mom kira kira ini apa ya??" Deliva membawa kotak parcel itu keruang keluarga
" kalo penasaran ya buka saja" ucap Denis sambil mengelus rambut panjang Delicia yang berada dipangkuannya. Deliva melirik abanya menandakan dia setuju.
" dad???" Gerald mengangguk tanda setuju. Delicia berdiri dari pangkuan abangnya
" kak Del ihhh buang aja. Ca takut tau entar itu terror" Denis menatap adik bungsunya itu heran " kok jadi parno gitu princess abang??" Delicia bergidik ngeri membayangkan sesuatu
"Gini loh abang Ca yang paling tampan, yang tiada banding di jagad raya, Ca itu takut tu ya itu terror kayak di film film tu loh ihhh" Deliva tersenyum licik melihat keparnoaan adeknya. Dia menyentuh kotak itu " buka ahh" Delicia udah bersiap siap ingin meprotes tindakan Deliva
" princess udah sini duduk samping abg, gk usah parno gitu deh" Delicia menurut saat ditarik oleh abangnya kembali
" tuhh kan Ca udah bilang buang aja ngeyel sih" Delicia memeluk abangnya erat tak ingin ikut melihat isi kotak itu
" apa isinya sayang??"
"Wow dad, ini cantik banget, Del suka, ini pas banget sama Del" Delicia melirik keluar apa yang terjadi, dia heran kenapa mereka senang?? Jelas jelas Deliva kakaknya terkejut tadi.
" womakk...... itu gaunnya cantik banget siapa yang ngasih??" Delicia langsung berdiri berhambur kearah kakaknya
" ehh kak Del, ini kok ada nama kakak??"
" ehh iya ya, wah berarti ini memang khusus buat kakak" Delicia mengorek isi kotak itu dia mengeluarkan baju gaun lagi namun terihat kebesaran ditubuhnya, dia mencari tanda kali aja ada namanya seperti milik Deliva.
" lah ini gaun untuk mommy nih" mommy tersenyum menerima namun wajah menunjukkan keheranan " lah ini untuk daddy juga" Deliva bingung siapa yang mengirim baju sebagus ini, dia melirik kearah abangnya yang tersenyum
" aaaa...... aku tau ini dari siapa" semua menatap kearah Deliva
" siapa Del?"
__ADS_1
" ini tu dari cowok mom" semua menatap bingung Deliva " mom mau tau orangnya??" Bukan hanya mommy yang mengangguk tapi daddy dan Delicia
" tu cowok lagi duduk anteng disamping mu mom" mom melirik Denis yang main hp sambil senyum senyum, merasa dilihatin keluarganya Denis mendongak " ada aapa?"
Denis dan keluarganya tiba tiba melihat Delicia yang merengek
" abang huakk huakk"
" eh princess abang kenapa??" Tanya Denis khawatir
" gaun punya Ca kok kecil sih" Deliva tertawa terbahak bahak
" lo tu udah tambah gemuk" Delicia makin menangis
" Ivv" itu suara Denis. Mendengar itu Deliva kesel dan langsung naik keatas menuju kamarnya, Denis bingung menatap Deliva yang meninggalkan mereka diruang keluarga
Deliva membanting pintu kamarnya, dia duduk dikasur empuknya. Deliva melihat gaun yang diberikan bg Denis. Dia tersenyum dan menyesal, gk seharusnya dia bertingkah seperti ini, bg Denis wajar memanggilnya Ivv karna memang sudah dari dulu. Entah kenapa dia benci aja dengar sebutan itu karna itu mengingatkannya pada Gilbert. Tapi abang nya tidak tau menau soal itu, jadi dia seharusnya tak boleh bersikap kekanak kanakan
Terdengar pintu kamarnya terbuka
" Ivv ehhh Del abang boleh masuk" Deliva mengangguk dan langsung memeluk abangnya
" maaf in Del bang,gk seharusnya Del kayak gitu sama abang" Denis merasakan tubuh Deliva bergetar, menandakan gadis itu menangis dipelukannya
" princess abang kok nangis sih, maaf in abang ya princess" Deliva mendongakkan kepalanya dan menggeleng
" abang gk salah Del aja yang kekanak kanak an" denis mengusap kepala Deliva lembut " kamu bisa ceritain ke abang apa yang terjadi princess" Deliva mengangguk dan menceritakan semua menyangkut Gilbert dan ketidak jelasan Gilbert yang minta dia menjauh
" jadi princess abang jatuh hati nih sama sahabat"
" ihh abang bukan, hanya Del gk suka dia ngejauh tanpa alasan. Kan Del merasa bersalah gitu. Jangan jangan Del punya kesalahan besar makanya dia menjauh gitu" Denis mengelus kepala adiknya itu sayang
" jangan menyimpulkan semua nya dengan presepsi mu sayang, mungkin Gilbert ada alasan yang takut dia beritahu, karna dia takut kamu terluka"
" tapi kan bang" Denis menggeleng tidak suka melihat perilaku Deliva. Deliva tersenyum mengangguk mengerti
" princess, abang mau tidur. Kamu tidur juga ya" Deliva mengangguk
" bang" panggilan Deliva menghentikan langkah Denis dan ia menatap Deliva
__ADS_1
" besok anterin Deliva ke sekolah ya" Denis tersenyum mengangguk " oke princess, jangan lupa berdoa sebelum tidur princess" Deliva mengangkat tangan membentuk ok, Denis meninggalkan kamar Deliva