Sahabat, Aku Cinta Kamu Loh!

Sahabat, Aku Cinta Kamu Loh!
Bahagia ku


__ADS_3

Hari yang berlalu masih terasa sama saja. Bahkan semua sudah terasa tak mempengaruhi. Semejak semua memiliki perjalanan hidup masing masing tanpa melibatkanmu lagi dalam hidupnya


" Del " panggilan itu membuat Deliva mengarahkan pandangannya pada Ari yang berlari kearahnya


" ada apa? "


"gk ada, biar bareng aja jalan kekelas "


" ekwkwk ada ada aja , kuy deh " Deliva dan Ari beriringan berjalan menuju kelas, yakin lah semua mata menatap mereka, dan sebentar lagi gosip akan menyeruak diseantereo sekolah.


Memang Deliva bukan seorang siswi most wanted atau terkenal atau semacamnya, tapi berbeda dengan Ari, mungkin dia cukup terkenal karna sekarang dia sudah naik jabatan menjadi ketua basket sekolah sejak Mario memutuskan pindah sekolah.


Gosip sudah merekahh bahkan ada ada saja mulut yang menambahi cerita, sehingga cerita itu bakal bermekaran sampai hal itu terdengar oleh Roby dan bahkan terdengar Gilbert.


" gilak, gua gk nyangka loh Ari udah pacaran sama Deliva "


" ahh yang bener lo? Gua kok baru denger sih ? Lo tau dari mana "


" yaelahh satu anak sekolahan tau kali, mereka tadi berangkat sama kesekolah. Wihhh malah romantis banget "


Mendengar hal itu, hati Gilbert serasa diremas. Jujur saja hubungan mereka tidak ada yang tau. Ingin rasanya dia mengatakan pada gadis yang rambutnya dikuncir ekor kuda itu bahwa dia lah kekasih Deliva bukan Ari.


Gilbert merogoh kantung celananya, mrngapai ponselnya dan membuka kontak kekasihnya itu.


Gilbert Anggara


" Ivv, gosip beredar nih "


Ivv๐Ÿ’ž


" Gosip apa? "


Gilbert Anggara


" lo pacaran sama Ari, lo jalan bareng dia?"


Ivv๐Ÿ’ž


"ooo... Gk heran sih iya gua jalan bareng dia"


Dengan perasaan dongkol Gilbert merasa hatinya memanas, apa maksud Deliva? Apa iaย  melupakan hubungan mereka? Atau karna Gilbert menjauh dia mencoba mencari pelampiasan. Gilbert tidak habis pikir dengan jalan pikiran wanita. Apa wanita memang tidak mau berjuang ? Berjuang hanya untuk menunggu dia sebentar. Dengan perasaan panas kembali Gilbert mengetikkan pesan pada kekasihnya.a


Gilbert Anggara


" lo mau ngejauhin gua ya? Lo gk bisa bertahan atau berjuang sedikit buat gua?


Ivv๐Ÿ’ž

__ADS_1


"maksudnya?"


Gilbert Anggara


" apa dengan cara ini kamu ingin putus dariku?"


Ivv ๐Ÿ’ž


"๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ lo lucu tau gk ?๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚"


Gilbert Anggara


" gua lagi gk bercanda kalo memang lo udah gk bisa bertahan atau berjuang buat gua, its okay asal lo senang aja. Gue prioritasin kebahagian lo kok"


" sekarangย  terserah lo aja mau nya hubungan ini diapain"


Ivv๐Ÿ’ž


" ceritanya lo cemburu? Apa mau ngakhiri hubungan? "


Gilbert Anggara


" iya gua cemburu, gua gk pengen berakhir tapi kalo memang berakhir adalah jalannya lo bahagia gua rela "


Ivv๐Ÿ’ž


Gilbert Anggara


" hah??? Okay apaan? Lo mutusin gua? "


Ivv ๐Ÿ’ž


" seperti yang kau inginkan "


Gilbert memukul mejanya membuat orang disekelilingnya terkejut melihatnya. Gilbert menjambak rambutnya membuat yang ada dikelas takut mendekati nya. Gio mendekati sahabatnya itu, ini kali kedua Gio melihat Gilbert bertindak seperti orang bodoh. Yang pertama ketika dia bingung dan marah karna harus menjauh dari Deliva. Nah yang kedua ini apa?


" Lo kenapa Gil? "ย  berusaha mendekat agar Gilbert tak makin emosi


Diluar ekspektasi nya, Gilbert menendang mejanya dan berteriak seperti orang kesurupan, Gilbert kembali menjambak rambutnya.


" Gil, lo gila ya, lo mau mati hah? Pake nendang meja segala lagi " bentakan Gio membuat Gilbert memandang sahabatnya itu dengan air mata yang siap jatuh dari sudut matanya, dan darah segar yang mulai mengalir dari hidungnya. Namun Gilbert tetap tersenyum melihat sahabatnya itu.


" lo bener, gua rasa gua emang udah gilak " senyum meremehkan itu muncul lagi dibibir Gilbert


" gilak emang loh, hidung lo berdarah paok, yok kita ke uks " Gio hendak memapah Gilbert namun tangannya disentak Gilbert dengan kuat


"ย  gua mau darah nya makin banyak keluar, gua mau mati bahagia tau. Gua bahagia sekarang " Gio menatap heran dengan jalan pikiran sahabatnya ini

__ADS_1


" ehh... Lo kalo mati jangan disini juga dong, gua gk mau repot gegara lo. Gua kagak punya uang buat ngumpulin dansos buat kematian lo "


" hahah.... Gua gk butuh duit lo, gua punya banyak. Gua pengen mati beneren. Gua bosan hidup dikekang nenek sihir " Gilbert membiarkan darah dari hidungnya membanjir dan sekarang darah itu masuk krdalam mulutnya hal itu membuat dia bahagia


"ah parah lo... Darah lo makin banyak ******, hayu " Gio berusaha mengajak Gilbert untuk dibawa ke uks


" Lepasin gua ***** " hentakan itu membuat Gio merasa down


" Bert .... " suara itu makin membuat Gilbert tersenyum senang


" Gi, lo dengar gk ada suara malaikat gitu, gua yakin udah saatnya gua menghadap " Gilbert meneteskan airmatanya lagi dan menundukkan kepalanya. Darah dari hidungnya semakin banyak keluar


Tanpa berpikir panjang, seorang gadis memeluknya dari belakang. Gilbert merasakan tubuhnya dipeluk dia melihat lingkaran tangan yang melekat di pinggangnya kini.


" ahhh, tangan ini selalu jadi favorit gua dari kecil, ahh sialan halusinasi gua makin merada rada aja" Gilbert mengelus lembut tangan itu dan dia berharap tangan itu tidak terlepas. Namun pelukan itu mengendur, rasanya Gilbert tidak terima saat tangan itu lepas dari tubuhnya


" bert... " Gilbert memutar tubuhnya dan berdiri, sempat merasa syok Gilbert kembali tersenyum


" hahhh.... Di akhir ajal gua aja gua masih mikirin lo Ivv, siallll bahkan saat lo seperti ini menangis masih terasa cantik dimata gua. Huft Gio kok gua bisa berhalu terus ya.... Bayangan Deliva sekarang ada dihadapan gua " merasa tak kuasa menahan airmatanya Deliva menubruk dada bidang itu, Deliva memeluk erat lelaki itu dan menangis didadanya.


Gilbert terkejut bukan main, ini seperti nyata baginya. Apa Deliva dihadapannya ini nyata atau halusinasinya?


" Lo kenapa? Lo mau mati? Bukannya lo bilang prioritas lo kebahagiaan gua? Dan lo mau mati saat gua belom bahagia? Hah ? Jawab gua ******** " Deliva masih memeluk erat tubuh itu, bahkan dia tidak peduli sekarang anak sekolah menonton adegan ini.


" lo Deliva nyata apa halu gua sih? " Deliva mengendurkan pelukannya dengan mata sembab dan air mata masih mengalir Deliva memandang lelaki yang bertubuh tinggi menjulang dihadapannya ini. Dia menatap Gilbert, darah dari hidung itu tak berhenti bahkan gigi Gilbert memerah sekarang


Deliva berjinjit, menghapus darah itu dari hidung Gilbert dengan tangannya tanpa merasa jijik. Tangannya gemetar menghapus darah itu, bahkan badannya itu gemetar karna suara tangis yang berusaha dia tahan


"jangan sakiti diri lo, ada yang membutuhkan perlindungan lo, ada yang butuh kasih sayang lo, ada yang butuh cinta lo, jangan buat dia merasakan luka untuk kesekian kalinya karna hal bodoh yang lo lakuin. Wanita itu siap menemani lo bahkan sampe lo nutup mata. Jangan egois, dia butuh lo sekarang lebih dari yang lo pikirin " Deliva mengucapkannya dengan gemetar, bahkan banyak yang mrnjadi saksi dari ucapannya. Dikelas itu banyak siswa sekolah yang menatap bahkan Roby,Anggray, Gian,Delicia, Yessi dan Ari ada disana.


Gilbert menatap wanita mungil dihadapannya ini, ingin rasanya ia mencium bibir kecil itu tapi dia menahan sekuat tenaga. Karna dia tahu wanita didepannya ini sangat berharga, dan dia tidak mau merusak itu. Bahkan bibir itu berharga baginya, dia hanya ingin bibir wanita itu milik suami nya saja. Dan semoga gelar suami itu menjadi miliknya.


Gilbert meletakkan kedua ibu jarinya kebibir gadis itu lalu mencium jarinya yang berada dibibir gadis itu. Sehingga dia tidak melanggar janjinya bahwa dia takkan merusak gadis itu. Dan ciuman itu berlangsung lama, Deliva sempat merasa syok dengan itu dan akhirnya ia juga menutup matanya seakan dia menerima ciuman itu dengan senang hati walaupun dihalangi ibu jari lelaki itu


Hal itu membuat beberapa orang histeris, dan beberapa orang terharu dan meneteskan air mata. Melihat hal itu Roby keluar dan selang beberapa detik saja Ari juga keluar tak kuasa menahan sesak didadanya.


Melihat hal itu Yessi hendak berjalan memisahkan dua insan itu, namun cepat terbaca gerak geriknya oleh Delicia dan Anggray. Buru buru mereka menarik Yessi dan membekap mulutnya ya jaga jaga saja biar gk teriak dan ngeganggu banget.


Gilbert melepas ciuman itu, dia menghapus air mata Deliva dengan ibu jarinya, dia tersenyum menatap wanita itu, dan memeluknya kembali


" kamu itu bahagiaku, gk ada lagi alasan ku untuk merusak kebahagian ku bukan?" Gilbert mengecup rambut itu walau darah mengalir ia tak merasa sakit, bahkan rambut Deliva kebagian darah dari Gilbert


Deliva merasa pelukan itu mengendur, ternyata Gilbert sudah jatuh pingsan beruntung Gio dengan sigab menahan tubuh lelaki itu. Hal itu membuat Gian berlari dan membantu Gio memapah Gilbert ke mobil membawa Gilbert kerumah sakit.


Deliva menahan tangis serta mengikuti Gian dan Gio membawa Gilbert ke mobil. Mereka menaruh Gilbert di kursi tengah dengan Deliva yang setia mengelus kepala kekasihnya itu, dan menahan sesak karna tangis yang tertahan agar tidak keluar. Gio berlari kesekolah meminta ijin pada guru piket dan berlari cepat ke mobil yang akan dikemudikan Gian.


" Bahagia ku " Deliva mengecup kening Gilbert dengan air mata yang masih setia menemani nya.

__ADS_1


__ADS_2