Sahabat, Aku Cinta Kamu Loh!

Sahabat, Aku Cinta Kamu Loh!
Mimpi


__ADS_3

Sesampai dirumah, Deliva langsung masuk ke kamarnya dan menjatuhkan dirinya dikasur. Deliva menatap langit langit kamarnya, dia mengingat kembali bagaimana pertemuannya tadi di sekolah dengan sahabatnya dulu, yang bahkan sekarang mereka seperti bermusuhan tak ada saling tegur sapa, bahkan Deliva sendiri tak tau pasti apa penyebabnya jadi seperti sekarang.


Deliva ingin menangisi keadaannya. Benar yang dikatakan Gilbert persahabatan laki laki dan perempuan itu gadak yang murni, nyatanya Deliva merasakan kehilangan yang dalam saat Gilbert meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Bahkan Deliva bingung mendefinisikan perasaannya terhadap Gilbert. Nyatanya dia benar benar tak suka jika Gilbert memberi senyuman pada wanita lain, Deliva sangat tidak suka.


" Del, makan"


" iya moms, blom lapar, masih capek. Istirahat bentar ya moms"


" yaudah entar jangan lupa makan ya, mommy mau pergi ke kantor daddy. Mommy pergi ya"


" iya moms. Salam sama daddy" terdengar suara langkah kaki itu menjauh dari kamarnya.


Deliva kembali termenung, entah mengapa rasa sesak itu selalu ada saat mengingat hal yang berhubungan dengan Gilbert.


Diliriknya foto besar yang terpampang di dinding kamarnya. Dia melihat foto yang berada di samping foto keluarganya, yah benar, itu fotonya bersama dengan Gilbert. Dia masih ingat jelas gimana Gilbert sangat bersabar mengajarinya memainkan gitar.


Deliva melangkahkan kakinya menuju foto tersebut. Deliva tersenyum getir melihat foto itu. Kala itu foto itu diambil secara iseng oleh Gian dan Delicia. Gian itu adik Gilbert. Di foto itu sangat jelas tawa Deliva dan senyum Gilbert saat mengajarinya main gitar, dengan Gilbert berada diposisi belakang seperti memeluk Deliva, dan Deliva tertawa melihat wajah Gilbert.


Deliva mengambil foto itu, dan dia menatap foto itu, membelai wajah Gilbert seakan Gilbert benar benar ada di sampingnya saat ini


" Bert.... apa yang terjadi sih?? Apa yang kamu sembunyiin dari aku?? Kenapa tiba tiba kamu minta aku menjauhi mu??? Aku bahkan sangat bingung ketika kamu menyatakan perumpamaan itu. Apakah diantar kita ada memendam rasa??? Apa itu aku??? Atau itu kamu?? Jawab akuuu Bertt... kenapa sekejam itu sihh, hikss... hikss... apa alasan kamu jauh?? Kau tau aku rinduuu... ah tidak maksudku aku sangat sangat merindukan mu hiks... hikss...."


Deliva menangis sejadi jadinya sambil memeluk foto nya dan Gilbert. Deliva kembali berdiri dan meletakkan foto itu diatas kasurnya, dia mengusap air matanya secara kasar.


" oke baikk... kau minta aku jauhh aku bakal menjauhhh dari mu tapi kamu jangan paksa aku untuk melupakanmu hikss... hiks..." Deliva terduduk dan menangis kembali, dia memeluk kembali foto mereka " kenapa jahat banget sih kamu??" Dia menekan jarinya menunjuk foto Gilbert. Dia menaiki kasurnya dan terus memeluk foto itu sambil menangis.


🌺🌺🌺


" Ivv, kamu tuh kenapa cantik banget sih" rayu Gilbert pada Deliva, saat mereka berduaan ditaman.


" hahahha.... aku kan memang selalu cantik Bert" Gilbert menoyor kepala Deliva " kepedean banget sih, aku tuh bercanda kali... ngarep banget yak aku ngomong gitu ke kamu" Gilbert tertawa melihat wajah Deliva yang cemberut


" Bert..." Gilbert hanya berdehem menjawab panggilan Deliva sambil meredakan tawa nya

__ADS_1


" kamu kenapa ganteng banget yak??" Deliva menelusuri wajah Gilbert dengan tangannya. Gilbert sangat suka Deliva memegangi wajahnya, yang jelas dia tidak ingin jauh barang sedetik pun dari Deliva, Deliva menurunkan tangannya, ditatapnya wajah Gilbert yang masih menutup mata


" Bert... bayangin apa??" Gilbert membuka matanya, dia berusaha menghilangkan kegugupannya didepan Deliva " Ivv, tadi kamu bilang aku gantengkan??" Deliva mengangguk " ya jelas dong Ivv... ganteng dari lahir nih" Gilbert mengangungkan dirinya, senyum licik Deliva terpampang jelas di wajah cantiknya.


" iya lo ganteng tapi guanya ngomong boongan loh wkwkwk" Deliva tertawa melihat wajah Gilbert yang berubah. Sadar ditatap oleh Gilbert, Deliva menghentikan tawanya


" ehmm... kenapa Bert??" Tanya Deliva tak enak hati


" sini deh kamu" Deliva bingung dengan sifat Gilbert yang tiba tiba berubah. Dia mendekati Gilbert.


" kurang dekat Ivv" Deliva mendekat lagi sampai jarak mereka hanya tinggal sejengkal. Tiba tiba Gilbert menggelitiki Deliva.


" ampunn Bert... ampun Bert" Gilbert masih melayangkan tangannya pada Deliva. " makanya kalo bilang aku gantng itu tulus dong" dengan setianya tangan Gilbert masih mengelitiki Deliva


" oke, oke, aku minta maaf aku gk ngulangin lagi" Gilbert menghentikan aksinya, dilihatnya Deliva yang mengatur nafasnya


" kenapa Bert?? Terpana ya sama kecantikanku" Gilbert diam dan terus memperhatikan Deliva. " woii... napa lu, jangan pandangin gue mulu, entar lo cinta, kan berabe masa sahabt jadi cinta?? Lucu juga sih" Deliva tertawa membayangkan ucapannya tadi.


" Ivv, jangan cantik terus napa?" Deliva terkejut dengan ucapan Gilbert " lo mau ngibulin gue lagi yak, hiss gk mempan tau" Deliva tersenyum penuh kemenangan


Gilbert menghela napasnya. " aku gk lagi bercanda Ivv" Gilbert menurunkan tangannya dari wajah Deliva " ihh apaan sih Bert ? jangan buat aku de javu deh" Deliva mengalihkan perhatiaannya kedepan


" aku serius Ivv, jangan terlalu cantik kaya gini" Deliva menatap bingung Gilbert " Ivv, aku lagi takut nih" Gilbert mengalihkan pandangannya dari Deliva


" kamu takut apa Bert??" Gilbert menghela napasnya kasar


" gk perlu dibahas lupakan saja"


" ehh kok gitu, kenapa kamu jadi tertutup gini??" Gilbert menaikkan alis matanya dan tersenyum aneh


" jadi mau mu aku terbuka gitu" Deliva mengangguk, Gilbert mengarahkan tangannya membuka kancing baju atasnya " kamu mau ngapain??" Tanya Deliva bingung " katanya kamu mau aku terbuka" Gilbert tersenyum menggoda " ihh apaan sih bukan itu maksud aku" Gilbert tertawa puas melihat ekspresi Deliva.


" sumpah muka kamu tuh lucu banget wkwkwk" Deliva menunduk menutupi wajahnya yang tiba tiba panas. Deliva mendongakkan kepalanya melihat Gilbert berjalan menjauh " Bert, kmu mau kemana??" Gilbert hanya tersenyum dan terus melangkah dan semakin menjauh " Bert... Gilbert... Bert"

__ADS_1


🌺🌺🌺


" Gilbert.... " Deliva terbangun. Ahh mimpi, sial ' batin Deliva. Deliva melihat foto yang masih ada dipelukannya, dia tersenyum.


" Bert.. tau gk sih? dimimpiku tu, kamu pergi ninggalin aku tanpa alasan, kenapa didunia nyata juga seperti itu?" Tanya Deliva pada sosok gambar Gilbert, dia tersenyum renyah " kukira mimpi itu hanya bunga tidur, tapi seperti kenyataan bagiku" dia menghela napasnya kasar.


Deliva bangkit berdiri, dia berjalan menuju dinding kamarnya dan menggantungkan kembali fotonya dan Gilbert. " kok aku gk bisa benci kamu ya??, benar benar aneh kan?" Dia tersenyum lagi melihat foto itu. Dia berbalik badan, tak sengaja matanya menatap gitar yang ada disudut ruang kamarnya. Dia berjalan dan meraih gitar itu


Deliva memangku gitar kesayangannya itu, dan berjalan menuju balkon kamarnya. Dia mulai memetik senar gitarnya.


Bayangan wajah Gilbert mulai memenuhi pikirannya. Dia masih bisa merasakan tubuh Gilbert ada dibelakangnya, seperti mengajarinya memainkan gitar.


🎢 Deliva menghayati permainannya dan mulai bernyanyi


🎀 lembutnya sentuhanmu, membelai wajahku, membuatku bersyukur saat bersamamu.


Bayangan Gilbert mendominasi saat ia menyanyikan lagu itu


Kukan selalu ada, menemani setiap langkahmu. Kutak seindah malaikat yang jatuh dibumi. Tapi ku akan selalu ada menjadi sayapmu. Meski aku tak sempurna tapi aku milikmu


Deliva menjauhkan gitarnya, dan dia tertunduk dengan memeluk kakinya, dan kembali menangis. Entah mengapa, setiap hal yang menyangkut Gilbert membuat ia terlalu bodoh, dan sering menangis.


Deliva merasakan pundaknya disentuh, dia mendongakkan kepalanya melihat orang yang menyentuh pundaknya


" kakak kenapa?? " Delicia melihat Deliva yang menatap kearah gitarnya dengan tatapan kosong, dan airmata kembali jatuh dari matanya. Delicia mengerti yang membuat kakaknya menangis. Sebenarnya Delicia tau kenapa Gilbert menjauhi kkaknya, cuma dia sudah berjanji dan tidak tega melihat kakaknya semakin hancur.


Delicia memeluk Deliva. Deliva menangis lagi dipelukan Delicia. Delicia sadar kakaknya menangis, karna serak suara kakaknya terdengar.


" kenapa dia jahat ya Ca, padahal aku sayang sma dia. Dia sahabat yang paling ngerti aku" Deliva kembali menatap gitarnya. Ya itu gitar pemberian Gilbert, sebagai hadiah ulang tahun Deliva. Gilbert memberikannya supaya Deliva semangat belajar main gitar.


" sudah kak, mungkin bang Gilbert ada alasan yang gk bisa dijelasin sama kakak" Deliva tersenyum, dia malu sendiri terhadap adiknya. Deliva mengajarkan Delicia untuk bersikap dewasa. Nyatanya adiknya lebih dewasa darinya.


" Ca.... sekarang jam berapa??" Deliva berusaha melupakan hal yang baru terjadi. Seakan tahu Delicia tersenyum " jam 5 kak, mandi gih bentar lagi mommy sama daddy pulang" Deliva tersenyum " ok siap buk bos" Delicia tersenyum, dan meninggalkan Deliva. Deliva bangkit berdiri dan tersenyum getir, dia mengambil gitarnya dan meletakkannya ketempat semula. Dia berjalan mengambil handuk dan masuk kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2