Sahabat, Aku Cinta Kamu Loh!

Sahabat, Aku Cinta Kamu Loh!
Pengganggu


__ADS_3

Gilbert masih membeku ditempatnya saat mendengar laki laki itu mengatakan bahwa Deliva terluka. Dia gagal melindungi gadis itu dari jauh. Dia merutuki kelalaiannya dalam menjaga Deliva


" Bert.... lo kenapa?" suara itu menyadarkannya dari pikirannya, Gilbert menatap orang yang tengah mengajaknya bicara, rahang Gilbert nampak mengeras namun itu tak membuat gadis dihadapannya itu ciut


" lo apain Deliva?? Bukannya lo janji gk bakal buat dia terluka hah??" Bentakan itu membuat gadis itu ciut, namun buru buru ditepisnya


" gue gk ngapa ngapain dia, selagi lo jalanin peran lo, gue gk pernah ganggu dia" Gilbert begitu jijik mendengar penuturan lawan bicaranya saat ini.


" untung aja, gue masih ingat lo itu cwek kalo cowok gue gk segan segan matahin hidung lo," suara Gilbert terdengar penuh penekanan, dan itu membuat gadis itu tertawa


" cihh.... gk usah banyak cakap deh lo... lakuin aja peran lo sebaik mungkin, atau gk ya lo tau kan sekuensinya apa?" Gadis itu tersenyum miring.


Tak kuasa melihat licik gadis itu, Gilbert tak bisa berbuat banyak untuk mengekang siluman iblis itu. Gilbert melangkahkan kaki keluar mengejar Deliva.


Gilbert melihat tiga orang yang baru saja beradu mulut dengannya dikelas. Terlihat mereka bertiga berpencar, gadis yang satu mengarah ke taman belakang sekolah diikuti cowok yang memeluknya tadi. Gadis yang satu seperti mengarah ke kantin


Gilbert mengikuti dua orang yang berjalan ke arah taman. Gilbert melihat Deliva dan cowok tadi duduk di bangku taman. Tak membuang waktu Gilbert mendekat dan sembunyi di belakang pohon yang tak jauh dari bangku taman


"lo gpp??"


" gue gapapa," dari suara bergetar itu saja Gilbert tau kalo Deliva terluka. 'Apa aku keterlaluan membentaknya tadi ' batin Gilbert menyuarakan bahwa dia lah yang membuat Deliva terluka.


" gue gk berhak tahu apa yang terjadi sama lo tadi, tapi gue siap kok jadi pendengar curhatan lo," mendengar itu Gilbert tersenyum tipis, dia merasa bahwa cowok tadi hanya berakting di depannya sebagai pacar Deliva, ada kelegaan tersendiri dalam diri Gilbert mengetahui gadisnya itu blom memiliki pacar, blom sepenuhnya melegakan hati suara pilu itu terdengar lagi


" luka kemarin blom sembuh, sekarang dia membuka luka yang baru lagi" mendengar kalimat itu membuat Gilbert semakin terluka, ternyata luka yang dimaksud tadi luka yang dia buat sendiri dlu saat ingin meminta Deliva menjauhinya. Ternyata dia salah besar, perkiraannya Deliva akan semakin mudah melupakannya dengan dekat dengan Yessi nyatanya luka itu belom sembuh, dan Gilbert dengan lancangnya menngores luka itu lebih dalam. Gilbert merasa dirinya tidak berguna. Dia memukul pohon di depannya pelan mengingat bahwa jaraknya dan Deliva cukup dekat.


Gilbert menatap kembali ke depan, dia melihat cowok itu mengelus punggung Deliva dan memeluknya.... terasa butir hangat itu kedua kalinya jatuh membasahi pipi Gilbert. Dia tidak tahan melihat adengan itu. Dia begerak menjauhi mereka.


🌺🌺🌺


Bel terdengar nyaring pertanda akan pulang sekolah, itu adalah surga bagi siswa. Hal itu juga terjadi pada diri Deliva, dia ingin secepatnya nyampe rumah dan tidur.


Deliva merogoh saku roknya untuk memgambil benda pipih itu, dan mencari kontak yang ingin dihubunginnya.


" abang... jemput Del ya, Del udah pulang nih bye," tanpa ada basa basi, Deliva langsung to the point dengan mematikan sebelah pihak tanpa peduli respon dari orang yang dihubunginya.


" Del, lo punya pacar??" Deliva mengernyit heran mendengar pertanyaan Anggray


" sejak kapan sih gue punya pacar dan gk ngasih tau lo??" Anggray membenarkan perkataan Deliva karna apapun masalah mereka, mereka selalu berbagi cerita. Kecuali tentang keluarga, mungkin mereka akan memilah mana yang akan mereka katakan.


Deliva bergegas ingin keluar kelas kali aja Denis sudah menunggu.


" Del, lo ada hubungan apa sama Roby?? Gue liat ni ya lo berdua ya gitu lo mengertikan maksud gue," Deliva terus berjalan, sambil memikirkan jawaban yang pas untuk pertanyaan Anggray tadi.


" ehmm... gimana ya? Sebenarnya gue juga bingung. Gue baru kenal dia kemarin. Lo ingat kan waktu gue telat??" Anggray mengangguk mengingatnya dan seingatnya Deliva blom memberitahu alasannya.


" nah itu, kemarin gue telat bangun. Nah liat dah tu cowok telat juga bareng gue. Di suruh kita bersihin lapangan basket. Nah itu sih awal kita kenal"


" tapi kalian tu sudah seperti kenal lama loh" Deliva tersenyum


" gue juga heran sama tu cowok kayak pengganggu gitu deh di hidup gue" Anggray menghentikan langkahnya


" Del ihhh tungguin gue blom puas sama jawaban lo, jadi....."


Terdengar bunyi klakson mobil, itu jemputan Anggray, Anggray mendengus kesal melihat Deliva mengarahkan pandangannya kemobil jemputannya.


" ok okeee lu utang cerita sama gue" Anggray memasuki mobilnya sekaligus mengarahkan pandangan tajamnya pada Deliva. Deliva tersenyum melihat tingkah Anggray yang sangat kepo yang bahkan dia sendiri aja bingung jawabannya.

__ADS_1


Deliva mengarahkan pandangannya tajam untuk mencari tahu keberadaan abangnya


" ekhemm... pulang bareng yok" Deliva melirik cowok yang berdiri disampingnya


" ehmm... gk usah makasih, nih lagi nunggu jemputan kok," Roby mengarahkan pandangannya ke Deliva


" ayolah sekali aja kak, biar kita makin dekat gitu, terus aku bakal sering main kerumah kakak ya ya ya" Roby memasang wajah memelas


" soryy, tapi gue dah janji," Deliva celingak celinguk mencari keberadaan abgnya yang blom juga menampakkan wajahnya


" ayolah...." bunyi ponsel Roby menghentikan aksinya memaksa Deliva pulang dengannya


" halo"


"......."


" iya deh kak, by dah pulang kok, otw home dah nih"


"......"


" ampunn iya kak iya" Roby mematikan ponselnya " jadi yakin nih gk mau pulang bareng aku?" Deliva mengangguk cepat


" okedeh, aku pulang ya dadakan nih, lain kali lo harus mau bye" Roby melangkahkan kakinya kemotor sportnya dan pergi meninggalkan Deliva


" kepedean banget tu cowok, seakan gue mau aja" Deliva duduk depan halte manantikan Denis yang tak kunjung tiba


🌺🌺🌺


" syaloomm...." teriakan dari depan pintu membuat Denis berlari


" I'm fine Denis, how about you??"


" as you see beibh" mereka tertawa bersama " ekhemm kita gk disuruh masuk nih??" Denis mengetuk kepalanya " ah iya silahkan masuk Anna" Denis tersenyum. " Silahkan duduk "


" ah iya kenalin Den, ini adikku" Denis mengulurkan tangannya yang disambut hangat oleh adik Anna


" Denis"


" Roby bg"


" ganteng juga lo" Roby tersenyum " makasih pujian lo bg" mereka terkekeh


" bang, Ca pulang" Denis melihat Delicia pulang


" Ca kenalin ini teman abg kuliah di Amerik" Delicia berjalan menuju sofa


" hai kak" Delicia mengerutkan dahi melihat cowok yang duduk disamping wanita bernama Anna itu


" Roby, ngapain lo dirumah gue?"


" ck ini rumah lo cil, wahhh gk nyangka gue"


" jadi udah saling kenal??"


" bukan saling kenal lagi kk, dia mah sekelas sama Ca, trus biang kerok kelas bikin ribut mulu" Anna menatap tajam Roby, Roby cengegesan


" wah parah lu cil, lu kagak berubah gk di sekolah gk dirumah bawel abis"

__ADS_1


" bodoh amat bye... kak, bang Ca kamar dulu ya" Denis dan Anna mengangguk bersamaan


Terdengar ponsel Denis berbunyi, memberi kode ke Anna dia mengangkat telepon


"......" Denis menjauhkan telinganya dari ponselnya, suara dari seberang sana bisa merusak gendang telinganya


" maaf abg kelupaan princess"


"....." Denis mengelus dadanya " oke princess abang otw dah" Denis mematikan ponselnya


" Anna tunggu sebentar ya, aku mau jemput adikku" Anna hanya mengangguk


🌺🌺🌺


Terdengar pintu dibuka tersentak dan itu membuat Roby dan Anna terkejut


" abang jahat, Del kan udah bilang jemput, sampai lumutan abg gk jemput kesel ihh" Deliva berjalan menghentakkan kakinya


" Del, princess abg yang cantik, maaf pin abg dah entar abang bakal turutin mau nya Del maaf pin abg ya" Denis tetap mengekori Deliva


Deliva menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Denis " seriusan??" Denis mengangguk dan menghela napas lega karna Deliva gk jadi ngambek.


" makasih abang" Deliva memeluk Denis


" Del abang mau kenalin teman abg kuliah di Amerika" Deliva mengernyit " kapan bg??"


" sekarang" Deliva syok " aduh abg bentaran dah Deliva blom siap siap, kan kali aja teman abg cowok ganteng" Denis menoyor kepala Deliva pelan


" ngarep banget, teman abg cewek tapi tenang dia bawa adeknya ganteng juga kok" Deliva cengengesan


"Mereka dimana, gk sabar pengen jumpa cowok ganteng"


" tuh disofa" Deliva membekap mulutnya sendiri, 'haduhh keceplosan dah gua' batin Deliva. Denis dan Deliva berjalan menuju sofa


" Anna kenalin ini adik aku satu lagi tepat lahir setelah aku" Anna menerima uluran tangan Deliva


" Deliva kak"


" Anna" mereka tersenyum bersama. Deliva melirik cowok yang sedari tadi menunduk, hayo apa itu?? Apa dia sedang tersenyum di sana?? Buat apa?? Apa karna perkataan Deliva tadi?


" haii.... aku Deliva" cowok itu menegakkan kepalanya dan tersenyum. Oh God senyumnya itu seperti senyum kemenangan. Buat apa?? Deliva sempat heran dan langsung mengubah mimiknya menjadi biasa aja.


" Roby" Deliva sesegera mungkin melepas tangannya, dia merasakan Roby memperkuat salaman mereka


" Del, tolong buatin minum princess, abg lupa tadi nawarin" Deliva mengganguk dan berjalan kedapur


" bang numpang toilet, ada sebelah mana ya??"


" ahh itu ada dekat dapur, tanya saja pada Deliva nanti" Roby mengangguk tersenyum dan menyusul Deliva kedapur


" pistt...." Deliva mengeliat kesampingnya


" ih cowok tengil, lu ngapain sini udh gk tahan lo" Roby tersenyum licik


" iya gk tahan nih pengen karungin kamu terus bawa pulang" Roby terbahak bahak melihat ekspresi Deliva yang sangat lucu


" dasar penganggu"

__ADS_1


__ADS_2