Sahabat, Aku Cinta Kamu Loh!

Sahabat, Aku Cinta Kamu Loh!
Kecelakaan


__ADS_3

Deliva menangis ketika Gilbert menahan tengkuknya dan menghisap bibirnya,  sungguh dia tidak memiliki kekuatan untuk melepaskan ciuman itu.


Kali ini Gilbert telah mengingkari janjinya,  dulu dia berjanji tidak akan mencium Deliva sebelum gadis itu menjadi wanitanya. Air mata Deliva makin banyak,  rasanya sakit ini lebih menyakiti hatinya. Deliva merasa dirinya sangat berdosa karna telah berciuman dengan suami orang lain.


Setetes air mata Delive mengenai bibir Gilbert,  rasa asin yang dirasakannya membuat lelaki itu melepas pangutannya.


"Maaf Ivv,  aku kelepasan," ucapnya menyesal.


Deliva masih menangis,  mungkin jika wanita lain diperlakukan seperti itu akan menampar lelaki yang menciumnya,  tapi bagi Deliva tangannya pun terasa berat untuk menampar lelaki yang sialnya masih dia cintai sampai saat ini.


Deliva memalingkan wajahnya,  malu menatap Gilbert,  malu menatap benda mati yang memandanginya saat ini dan dia bahkan malu melihat dirinya sendiri.


"Ivv... " panggil Gilbert lirih


Deliva masih menangis dalam diam dan menatap keluar jendela mobil,  dia berpikir kalo hari ini akan menjadi hari bahagianya setrlah berhasil meraih gelarnya, ternyata dia salah, sangat salah besar.


"Ivv, kamu bisa tampar aku. Kenapa kamu harus nahan Ivv,  ngomong Ivv,  aku bahkan rela kamu pukuli dari pada kamu diam seperti ini, "


Deliva hanya  diam,  tak ada keberanian lagi untuk bicara,  dia menangisi dirinya yang masih mencintai lelaki brengsek itu.


Gilbert meraih wajah Deliva, menatap setiap inci wajah Deliva yang memerah,  matanya tampak membesar.  Gilbert menghapus air mata itu, dan mengecup mata yang tertutup itu.


"Aku hanya ingin kamu dengar penjelasanku dulu Ivv,  aku gk seperti yang kamu bayangin,  aku itu... "


"Stop... " teriak Deliva kuat.


"Gua gk mau dengar apa-apa lagi dari lo,  gua benci sama lo, gua benci. Gua harap ini hanya mimpi buruk gua ketemu lo hari ini yang maksa ngambil ciuman gua.  Lo tau gua seperti perempuan yang gk benar karna berciuman dengan suami orang,  lo ngerti gk sih? " bentak Deliva


"Tapi lo salah paham Ivv,  gua... "


"Jangan bicara lagi, gua mohon. Gua capek, plis ini hari bahagia gua kenapa harus lo hancurin semua? "


"Kenapa sih lo ngk ngasih gua kesempatan buat jelasin semua? " suara Gilbert meninggi,  kali ini emosinya sudah tidak bisa dia kontrol.  Dia gk kuat kalo harus melihat Deliva menangis seperti itu karnanya.


"Lo... Lo mau jelasin apa lagi sih? " tanya Deliva dengan suara serak.


"Gua itu bukan yang lo pikirkan,  gua itu... "


Gilbert terdiam, dia melihat Deliva keluar dari mobilnya dengan cepat dia membuka pintu dan mengejar Deliva.


"Ivv...  Ivv dengerin gua dulu,  Ivv... " teriak Gilbert sekuat tenaga,  gadis itu sudah berlalu menaiki taksi.


Gilbert berlari menuju mobilnya dan mengejar taksi itu. Dipertigaan jalan Gilbert memaksa untuk menerobos lampu merah sebelum dia kehilangan jejak taksi itu. Dan....

__ADS_1


Brukk...


🌺🌺🌺


Deliva memasuki rumah dalam keadaan berantakan,  orang-orang yang berada diruang tamu gelisah menantinya, sudah menghubungi beberapa kali tapi tak kunjung dia jawab.  Ketika Deliva kembali, semua orang terkejut melihatnya.


"Del, sayang. "


Deliva tak menghiraukan panggilan mereka,  dia berlalu cepat menuju kamarnya. 


Menangis,  menangis,  menangis hanya lelaki itu yang selalu berhasil membuat Deliva menangis.  Deliva berlari menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.


Dia terduduk di depan cerminnya,  dia segera mengambil tisu dan melap bibirnya itu kuat,  lagi-lagi air matanya turun membasahi pipinya.


"Hiks... Hiks... Kenapa harus lo yang ngelakuin ini sama gua? "


Deliva memandangi wajahnya, matanya bengkak,  hidungnya memerah, bahkan udah mandi aja gk bisa menutupi bengkak matanya dan merah hidung.


Deliva melempari wajahnya yang dicermin dengan tisu yang baru saja ia gunakan melap bibirnya.


"Kenapa lo gk berontak ****." Maki Deliva melihat dirinya di cermin


"Harusnya lo udah gk cinta lagi sama si brengsek itu, "


"Harusnya lo bisa lepasin dia sepenuhnya,  biarin dia bersama istri dan anaknya, " tangis Deliva kembali pecah


"Gua capek,  gua udah gk kuat.  Gua pergi aja deh,  gua mau ambil kehidupan gua yang baru aja di Amrik. Cowok bukan cuma Gilbert doang kok ya, hua.... "


Ketukan pintu kamarnya terdengar lagi,  mau tak mau dia harus buka kamarnya dia gk mau lagi buat keluarganya khawatir. Dari tadi semua anggota keluarganya berganti-ganti mengetuk pintu kamarnya.


"Ada apa? "


"Kak Del gapapa? "


"Gapapa Ca, "


"Kok mata kakka bengkak sih?  Kakak dari tadi kemana aja? "


"Gua gak kenapa-napa.  Mata gua capek pengen tidur makanya bengkak,  gua habis ketemu teman lama. Udah ya,  udah kejawab semua. Bilang ke yang lain maaf udah buat khawatir,  maaf gua gk bisa gabung. Mau tidur, capek."


"Iya deh kak,  tapi kak Del gua cuma mau ngasih tau aja, "


"Ngasih tau apa? "

__ADS_1


"Itu... Anu...  Apa? "


Deliva melipat kedua tangannya didepan dada menunggu Delicia menyelesaikan kalimatnya.


"Gilbert udah kembali, "


"Oohh...  Gua udah tau. " Tutur Deliva terlihat santai.


"Kakak gak senang? "


"Senang kok."


"Tapi kenapa ekspresi kakak gitu?"


"Emang gua kudu gimana?  Loncat, teriak,  trus bilang yey Gilbert balik.  Gitu maksud lo? "


"Ya...  Enggak juga sih. "


"Udah kan? Gak ada lagi yang mau lo kasih tau? "


"Ada. "


"Apa lagi?  Gua udah ngantuk banget nih. " ucap Deliva malas


"Itu kak, bg Gilbert... "


"Gilbert kenapa?  Udah punya istri sama anak?  Gua udah tau Ca." tukas Deliva kesal


"Apa?  Bg Gilbert udah punya istri? "


"Loh, loh, loh kenapa terkejut gitu?  Bukannya lo mau bilang itu? " Tanya Deliva bingung


"Iya serius, gua gk tau itu. Yang gua tau bg Gilbert kembali mau nemuin kakak, "


"Hahah...  Ada-ada aja lo. Gilbert udah nikah juga. "


"Tapi,  lo tadi mau bilang apa kalo bukan itu? "


"Itu,  gua cuma mau bilang,  kalo bg Gilbert tadi sore kecelakaan, " ucap Delicia gugup


"Hah?  Seriusan? "


"Iya."

__ADS_1


__ADS_2