
Hari yang berlalu masih terasa sama saja. Bahkan semua sudah terasa tak mempengaruhi lagi semejak Gilbert pergi.
Sudah empat tahun berlalu lelaki itu belum kembali dan tak memberi Deliva kabar lagi, lelaki itu seolah lupa dengan semua janjinya kepada Deliva.
Deliva berusaha menghubunginya tapi lelaki itu bahkan tak sempat membalas atau bahkan membaca ribuan pesan yang telah di kirim oleh Deliva, terkadang pikiran Deliva kalut memikirkan hal yang membuatnya takut.
Apakah lelaki itu sudah punya kekasih? Apakah lelaki itu bahkan sudah menikah di negeri orang? Apakah dia kembali sakit? Apakah dia sudah benar benar lupa dengan Deliva?
Setetes bening selalu membasahi wajah Deliva setiap mengingat itu semua. Deliva selalu mengunjungi rumah orang tua Gilbert, namun semuanya bungkam saja tak ada yang ingin memberitahunya. Sampai Deliva benar benar berusaha menahan diri setahun belakangan ini menyibukkan diri. Bahkan Denis sudah menikah sekarang dengan Angela Heaton, jangankan Denis bahkan Delicia saja sudah tunangan dengan Mikhael sekarang. Rasanya jika semua bertanya mana jodoh Deliva, Deliva selalu menanti kedatangan kekasihnya dengan sejuta harapan.
Deliva mulai memasuki lorong kampusnya, Deliva saat ini disibukkan dengan skripsinya.
" Del, ntar temanin gua ya ke perpustakaan kota. Ya sekalian kita menyicil skripsi kita, "
" boleh deh Yo,"
Mario dan Deliva berjalan menuju parkiran kampus, Mario kembali di pertemukan dengan Deliva di kampus yang sama dengan jurusan dan kelas yang sama juga.
Mario menjalankan motornya membelah jalan raya, mereka menuju perpustakaan kota.
🌺🌺🌺
Deliva termenung di balkon sambil menatap jalan raya dari balkon kamarnya, Deliva bingung mau melakukan apa, skripsinya sudah kelar tinggal menunggu sidang meja hijau saja menuju gelarnya.
Sepintas bayangan Gilbert lagi lagi muncul dalam pikirannya, sungguh Deliva bingung apa hanya dirinya yang merasakan rindu?
Semejak Gilbert pergi, Deliva selalu setia menunggu sampai saat ini, bahkan dia menolak untuk melanjutkan kuliahnya di Amerika. Karna dia tidak mau Gilbert kebingungan mencarinya, namun sepertinya lelaki itu tak ingin mencarinya.
Kedua sudut bibir Deliva terangkat, 'Sial! Andai saja aku bisa lupa, aku bakal nerima Mario jadi kekasihku,' teriak Deliva dalam hati. Kedua sudut tangannya mengepal mengingat Gilbert.
" aunty... Key boleh duduk di pangkuan aunty? " tanya seorang anak kecil dengan ciri khas nya
" tentu saja boleh Key, " segera Deliva mengangkat anak kecil itu ke pangkuannya.
" aunty lagi belcedih ya? " tanya Key penasaran
" ehm... Sejak kapan Key penasaran? "
" soalnya aunty selalu menyendili disini telus, " jelas Key membuat Deliva terkejut
" apa Key selalu awasi aunty? "
" hem, kata papah Key punya tugas ngawasi aunty dan jagain aunty, "
Deliva tersenyum dan mengelus kepala Keano sayang, betapa bijak dan manisnya anak ini.
" jadi apa key mau jadi pahlawan aunty? "
" tentu saja aunty, " tegas Keano
" kalau begitu sini cium aunty dulu, " dengan semangat Key mengecup kedua pipi Deliva membuat gadis itu tersenyum bahagia.
Tok...
__ADS_1
Suara pintu kamar Deliva terbuka dan menampilkan sosok Gerald disana.
" Key... Grandfa cariin kemana-mana rupanya disini kamu ya? "
" hehe... Iya glandfa, Key baru jalani tugas dari papah,"
" Tugas dari papah? Emang apa? " tanya Gerald penasaran
" jagain aunty Del dong, " senyum merekah muncul di kedua sudut bibir lelaki paruh baya itu.
" apakah tugasnya berhasil? "
" tentu saja glanfa, "
" yasudah, mari kita tidur ini sudah larut malam,"
Keano menatap sedih ke arah Deliva, sungguh dia tidak ingin meninggalkan Deliva. Keano takut Deliva akan bersedih saat Keano tak di sampingnya.
" aunty, tidak apa apa Key tinggal? "
" gapapa dong Key, nanti kalo aunty sedih, aunty bakal teriak manggil nama pahlawan aunty, "
" benelan? " tanya Key memastikan
" iya sayang, "
Deliva mengelus kepala Keano sayang dan menyuruhnya untuk pergi tidur dengan Gerald. Keano berbalik sekali lagi dia menatap Deliva
" iya, sudah sana. Itu grandfa udah nungguin Key loh dari tadi, "
" glandfa, Key gak mau ninggalin aunty, bolehkan Key tidul baleng aunty saja, "
Gerald menatap Deliva, Deliva menganggukkan kepalanya.
"coba tanya auntynya mau gk? " saran Gerald
Key mendekatkan dirinya kepada Deliva dengan memasang wajah memohon agar Deliva mau tidur dengannya.
" aunty, key boleh? " tanyanya sambil memohon
" tentu saja boleh."
Akhirnya Gerald pergi meninggalkan Deliva dan Keano, Deliva segera menuntun Key untuk tidur. Keano anak lelaki yang usianya baru saja 3 tahun 5 bulan saat ini, Key anak Denis. Keano tinggal bersama Deliva dan kedua orangtua Deliva, sementara Denis dan Angela bertahan di Amerika.
" aunty, gk bobo? "
" eh... Ini aunty mau bobo padahal di samping Key."
" okay, Key bobo dulu, nanti kalo aunty butuh sesuatu bangunin Key saja ya, "
" siap bos aunty, "
🌺🌺🌺
__ADS_1
Hari ini Deliva mengajak Keano berjalan-jalan di taman, Deliva menatap Keano yang begitu senang bermain dengan temannya.
Tiba-tiba Deliva melihat sosok lelaki yang sedang mengendong anak perempuan dan mendekati Keano, buru-buru Deliva menghampiri mereka..
" maaf ada apa ya pak? " tanya Deliva menghampiri
" ini mbak, tolong.... " seketika bibir lelaki itu berhenti berucap, menatap Deliva yang sedang mengelus anak kecil laki-laki itu sayang.
" kenapa tadi pak? " tanya Deliva sambil mengangkatkan wajahnya untuk menatap lelaki itu
Lelaki itu segera memalingkan wajahnya dan segera berlalu pergi meninggalkan Deliva dan Keano. Hal itu membuat Deliva mengernyit bingung.
" Key tidak apa-apa? " tanya Deliva
" gapapa aunty, Key kan anak kuat!" jelas Keano tersenyum
Deliva menatap sayang Keano, ini hal yang disuka Deliva melihat Key yang tidak gampang nangis.
" emang tadi uncle itu kenapa? "
" tadi Key bellali ehh anak uncle tuh lali ke alah Key, akhilnya ketablak sama Key dianya nangis deh, " Deliva manggut-manggut mendengar penjelasan Key.
" Key sudah minta maaf? "
" sudah aunty, tapi anak uncle itu lali "
" yasudah, yang penting Key tidak apa-apa"
" hehe... "
Akhirnya Deliva memutuskan untuk kembali dan mengendong Key. Sekali lagi Deliva melirik ke arah lelaku tadi berlalu.
Sepertinya Deliva kenal dengan sosok itu, tapi dimana mereka pernah bertemu ya?
Deliva berpikir sambil memegangi tangan Keano ke mobilnya.
" aunty kenapa? "
" Key, uncle tadi cakep gk? "
" cakep aunty, tapi lebih cakep papah Key," astagah anak ini, Deliva terkekeh mendengar celotehan Keano
Deliva menyalakan mobilnya dan meninggalkan area taman bermain itu, tapi entah bagaimana pikirannya selalu kepada lelaki tadi. Hal itu membuat Deliva semakin penasaran.
" aunty, nanti Key mau makan bakso boleh? "
" boleh sayang,"
" Key ngantuk aunty, nanti sampe depan tukang bakso, bangunin key ya? "
" siap bos."
Deliva menyalakan musik pengantar tidur, Keano akan sangat cepat pulas bila diiringi musik. Deliva menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, mengingat keponakannya telah tertidur lelap. Deliva tersenyum menatap Keano.
__ADS_1