Sahabat, Aku Cinta Kamu Loh!

Sahabat, Aku Cinta Kamu Loh!
Graduation


__ADS_3

Delive melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 11 malam,  berapa lama dia menangis?  Kenapa sudah malam saja? 


Tak sengaja arah pandang Deliva menatap foto yang bergantung di dinding,  segera dia mengambil foto itu dan menyimpannya disamping lemari.


Deliva terkejut melihat wajahnya ketika melewati cermin, Deliva bergerak menuju cermin itu.


"Gilak,  wajah gua kok hancur banget ya?  Malah bengkak lagi. " Deliva mengeleng-gelengkan kepalanya prihatin melihat penampilannya saat ini yang berantakan.


"Gara-gara cowok bgsd itu gua lupa mandi, "


Segera Deliva menarik handuknya dan berendam di bathup, walaupun ini sudah tengah malam itu tak mengurungkan niat Deliva sedikitpun untuk mandi.


🌺🌺🌺


Hari ini hari kebahagian bagi Deliva,  karna hari ini dia akan diwisudakan, dia harus tampil cantik dia sampai harus begadang demi mengompres matanya agar tidak tampak bengkak.


"Mbak,  tolong ya ini sekitar mata jangan ada itemnya,  malu soalnya, "


"Siap mbak, "


Usai memoleskan make up dan menata rambutnya,  Lisa memakaikan toganya,  dia tampak cantik dengan balutan kebaya yang melekat pas di tubuhnya.


Kedatangan Deliva yang baru saja menuruni tangga mengalihkan semua fokus orang yang berada diruang tanu menjadi terfokus akan sosok Deliva.


"Ya ampun...  Anak moms cantik sekali, " Andini bergerak mendekati dan memeluk putrinya itu.


"Harus dong moms,  mana ada keturunan Muller yang jelek,"


"Yailah,  secara dady kamu ini aja, udah tua masih aja tampan bukan? " Ucap Gerald seraya menaik-turunkan alis matanya.


"Kalo udah tua,  tua aja gk usah alay gitu," kritik Andini melihat kelakuan suaminya yang merasa seperti anak muda saja.


"Bang Denis...  Kapan tiba bang? " Tanya Deliva melihat sosok Denis dan istrinya beserta baby mereka yang baru saja berumur 6 bulan itu.


"Tadi jam 4 subuh, "


"Aku aja udah disini, " kata Delicia yang cemberut karna Deliva tak menanyakan dia.


"Gua tau,  lagian apartemen lo dekat kerumah juga,  entah ngapain lo milih tinggal sendiri, "


"Hellow...  Dekat lo bilang?  Sarap ya lo kak?  Udah ahh, gua lagi gk pengen emosi soalnya gua hargain lo yang mau wisuda, "


"Serah lo, "

__ADS_1


"Kok ribut sih,  kalian berdua kalo bertemu gk bisa akur dikit apa? " tanya Gerald memandang kesal kedua putrinya.


"Dady aja yang berlebihan,  itu biasa aja kalo anak gadis,  udah yuk mari kita berangkat. " Andini bergerak meninggalkan Gerald yang terpelongok.


"Kok jadi aku yang salah sih sayang? " teriak Gerald sambil mengejar Andini.


Ketiga anaknya tertawa melihat tingkah laku dadynya yang merasa diri seperti masih anak muda,  padahal udah setengah abad juga,  masih aja kelakuan gitu. Mereka menyusul kedua orang tuanya.


🌺🌺🌺


"Selamat Del,  "


"Iya, makasih gaiss..."


Banyak orang yang memberi ucapan selamat kepada Deliva,  rasanya hari ini masalah itu tak ada lagi,  kebahagiaan harus penuh hari ini.


"Sayang,  mari kita pulang. "


"Okay, moms. "


Deliva sedikit berjalan lebih lama karna rok kebaya dan high hillsnya membuat dia sedikit susah berjalan.


"Ivv, " panggil seseorang membuat Deliva terdiam,  tiba-tiba rasa sesak menyerang dadanya.


Deliva berusaha sekuat tenaga untuk berjalan namun kakinya seperti ada jelly membuat dia terpaku ditempat.


"Makasih ya, " Deliva tetap menerima hadiah itu.


"Sama-sama"


"Aku pulang dulu ya, "


"Boleh aku bicara denganmu, "


"Eh,  kamu bareng siapa kesini?  Istri dan anakmu kemana? "


Deliva harus kuat meskipun rasa sesak itu menghimpit dadanya,  seolah tak mengijinkannya untuk bernapas. Air bening telah mengapung disekitar matanya,  membuat penglihatan itu sedikit mengabur.


"Dengerin aku dulu, " tegas lelaki itu.


"Yahh... Mereka gk datang ya?  Sayang banget!!! " tutur Deliva mengalihkan pembicaraan.


"Ivv, jangan lari dari masalah."

__ADS_1


"Apa?  Lo bilang gua lari dari masalah?  Lo sadar gk sih siapa yanv lari? " bentak Deliva dan air mata itu lolos begitu saja.


"Makanya dengerin aku dulu sayang, "


"Stopp..." teriak Deliva seraya menutup kedua telinganya.


Deliva berjalan menjauhi lelaki itu dengan tergesa-gesa,  dia tidak peduli bagaimana pandangan orang menatap dia sendu.


Lelaki itu mengejar Deliva dan langsung menahan salah satu tangan gadis itu.


"Lepasin tangan gua bgsd," maki Deliva


Lelaki itu tak tinggal diam,  segera dia mengendong Deliva dengan gaya brindal style,  semua orang melihat mereka, dan dia tidak peduli tatapan itu, yang ada diotaknya saat ini,  hanya ingin berbicara dengan gadisnya ini.


Deliva menangis berontak seraya memukul dada Gilbert,  rasanya tangannya sudah kebas memukul lelaki ini,  tentu saja pukulannya itu gk berasa sama sekali untuk lelaki ini.


Gilbert segera memasukkan Deliva kedalam mobilnya,  dan berlari cepat menuju tempat kemudi sebelum Deliva lari. Gilbert langsung menancap gas menjauh dari kampus Deliva.


"Lepasin gua bgsd,  ngapain lo nyuri istri orang? "


Gilbert hanya diam,  yang ada diotaknya hanya bagaimana dia bisa membuat wanita yang disampingnya ini bisa mendengar dia tanpa berontak lebih dulu.


"Budek ya lo,  keluarin gua... " tangis Deliva semakin pecah.


"Kenapa lo diam bgsd, hentikan mobilnya atau gua loncat, "


"Gilbert..." teriak Deliva dengan tangisnya.


"Tolong... Lepasin aku,  kasihan anak aku nunggu. " Isak tangis Deliva


Sejujurnya Deliva menangis karna dia tidak ingin membuat dirinya terjebak dan jatuh cinta lagi pada lelaki ini.  Dia tahu dirinya tak bisa lagi mengapai lelaki ini. Lelaki yang dia harapkan menjadi sosok suaminya itu sudah menjadi milik orang lain bukan miliknya lagi.


"Bert,  tolong jangan gini. Lo juga harus ingat anak-istri lo,  jangan baea gua kayak gini,  gua gk mau dibilang perebut suami orang lain, " lirih Deliva di sela tangisnya.


"Yang bilang lo rebut suami orang lain siapa? " teriak Gilbert, sudah tidak sanggup mendengar Deliva.


Deliva terdiam tak mengerti maksud Gilbert,  bukankah sudah jelas dengan mereka seperti ini?


"Makanya lo diem,  dengerin penjelasan gua dulu. " ucap Gilbert menenangkan Deliva


"Apa lagi sih yang perlu gua dengerin,  gua harus dengar langsung dari mulut lo,  kalo lo itu udah punya istri dan punya anak.  Dan lo mau minta maaf karna ingkar janji sama gua?  Okay fine, gua udah maafin lo dan gua juga minta maaf karna gua juga udah punya suami dan anak yang perlu gua bahagiain, " jelas Deliva diiringi tangis yang belum juga berhenti.


Gilbert menepikan mobilnya,  dia menatap Deliva dalam-dalam. Wanita ini masih saja menangis.

__ADS_1


"Udah ya Bert,  gua capek.  Gua udah punya kebahagiaan sendiri dan lo juga begitu, "


Dengan gerakan cepat,  Gilbert menarik Deliva kedalam pelukannya dan membungkam bibir itu dengan bibirnya, Deliva terkejut dengan tindakan Gilbert,  dia berusaha sekuat tenaga melepaskan pangutan Gilbert,  namun lelaki itu memengangi tengkuk Deliva untuk memperdalam ciuman itu.


__ADS_2