Same Love You

Same Love You
Bertemu


__ADS_3

Setelah mendengar bahwa sebentar lagi ia akan dipinang oleh seorang lelaki, bukan rasa bahagia yang ada di dalam hatinya, baginya itu merupakan awal petaka.


Bayangkan saja gadis mana yang di umur segini mau menikah dengan pria yang sebaya dengan pamannya itu. Apa lagi ia memiliki seorang pujaan hati yang terus menunggu kepulangannya yaitu Dio. Pernikahan seperti apa tang akan ia jalani bila tak ada cinta sebagai dasarnya. Dan bagaimana dengan lelaki yang akan ia nikahi itu?. Tita hanya berharap setelah menikah dengannya ia bisa segera bercerai.


Bukankah yang penting untuk sekarang ini ia mampu memenuhi perjanjian itu. Mengapa juga perjanjian pernikahan itu harus di tulis hitam di atas putih. Ah tapi kan dalam surat perjanjian itu hanya tertulis bahwa mereka harus menjadi sepasang suami dan istri, tidak tertera berapa lama pernikahan itu harus di jalani.


Sebuah ide terlintas di benak Tita, ia tak ingin kehilangan sang pujaan hati Dio. Tapi ia juga tak ingin mengecewakan harapan besar keluarganya terhadap Tita. Sepertinya ia perlu membuat kesepakatan dengan pria itu.


~~


Di sebuah parkiran restoran mewah tampak seorang pria tampan dan wanita cantik menuruni mobil, dan bergegas memasuki restoran yang sudah mereka reservasi. Sembari menikmati kudapan yang telah di sajikan mereka berbincang-bincang. Ada sedikit rasa khawatir yang memenuhi hati Iksa, ia engan menceritakan apa yang terjadi padanya beberapa hari yang lalau. Setelah kepulangannya ke Yogyakarta.


“Hilda, aku ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan mu” kata yang keluar dengan aksen keraguan. Ia menatap helen lekat-lekat kemudian menggeser kursinya ke dekat Hilda.


“ Sa jangan bikin aku deg-degan dong, kenapa?” Tanya Hilda sedikit penasaran.


“ Aku sebentar lagi akan menikah” kata Iksa


“ Ya ampun sayang….kalau mau melamar itu yang romantis dikit dong, Lagian kalau nikah dekat-dekat ini aku juga belum siap” kata Hilda penuh rasa senang.


“ Bukan dengan mu sayang….tapi dengan wanita lain” Kata Iksa dengan berat hati.


“Apa, Yang bener aja!!!” perasaan Hilda tercekat mendengar perkataan itu.

__ADS_1


“Sayang gak bercanda kan?, kamu selingkuh dari ku?, selingkuhan mu hamil? Terus kamu di suruh tangung jawab!!!” Pertanyaan Hilda yang membombardir Iksa.


“Pelan kan suara mu, aku tidak mau jadi pusat perhatian orang-orang” kata Iksa.


“Percaya lah bahwa aku tidak berselingkuh, ini adalah keinginan dari kedua irang tua ku. Aku tidak tau jika pada akhirnya aku akan di jodohkan” Terang Iksa.


Darah Hilda berdesir memutari seluruh tubuhnya, tergambar raut kemarahan di wajahnya, ia marah dengan keputusan sang kekasih, yang mengabaikannya dan malah memilih wanita yang akan di jodohkan oleh kedua irang tuanya itu.


“Kau membohongi ku!. Kau berkata seolah aku segalanya dan kau akan menikahi ku nanti, tapi mengapa sekarang kau malah memilih wanita lain.” Air mata Hilda sudah tak terbendung lagi ia menangis.


“Aku tak membohongi mu sayang, aku juga tak tau kalau akan terjadi hal seperti ini. Aku tidak bisa mengecewakan kedua irang tua ku”. Terang Iksa.


“Lalu bagaimana dengan ku? Aku selalu mengikuti mu kesana-kemari, perjuangan kuta selama ini apakah tidak berarti di matamu. Sehingga kau lebih memilih menikahi wanita itu?” Menangis sesenggukan.


“Apakah ucapan mu bisa ku percaya?, lalu kapan hal itu akan terlaksana?” Sembari menghapus air matanya.


“ Beri aku watu setahun saja, aku akan segera menceraikannya setelah satu tahun. Tidak mungkin kalau dalam waktu satu atau dua bulan aku menceraikannya, karena pernikahan ini juga berhubungan dengan perusahaan” Terang Iksa.


“ Apa kata-katamu bisa ku pegang, tapi bagaimana kalau dia lebih cantik dari ku, dan kamu mulai tergoda?” Kata Hilda


“ Aku tidak akan tergoda dengan kecantikan wanita mana pun” kata Iksa sembari menggenggam jemari Hilda.


“ Sekarang aku merasa sedikit lega, setidaknya aku tau kau tidak akan mengkhianati ku”

__ADS_1


“Tentu saja tidak karena kau adalah wanita yang paling aku cintai. Sebentar aku akan membayar tagihannya terlebih dahulu.” Tangan Iksa memberikan isyarat kepada seorang pelayan untuk membawakan bill nya.


Setelah selesai makan Iksa kemudian mengajak Hilda untuk berbelanja di mall agar suasana hati Hilda kemabli ceria. Hilda masuk ke toko pakaian dan memilih-milih deretan gaun yang sedang di pajang. Iksa tiba-tiba merasa haus saat menemani Hilda memilih-milih gaun. Ia memutuskan untuk turun ke supermarket lantai dasar untuk membeli minuman dingin agar menanggalkan rasa hausnya.


Ia berjalan menuju bagian minuman dingin, diperhatikannya ada seorang gadi yang bersusah payah menjangkau bagian minuman paling atas di sebelahnya. Ia merasa kasihan dengan gadis itu dan menolongnya.


“Ini, besok lagi minta lah tolong pada penjaga, kalau tidak sampai” kata Iksa sambil menyodorkan minuman yang ingin di ambil oleh gadis itu.


Tita merasa familiar dengan suara tersebut, Tita menoleh dan mendapati Iksa ada di belakangnya. “Om Iksa” katanya secara spontan.


Iksa mengerutkan dahi karena kebingungan, Iksa amati baik-baik wajah gadis yang baru saja memangilnya itu “Ah kamu Tita” sembari menunjuk ke arahnya.


“ BTW makasih Om” Buru-buru Tita mendorong troli belanjaannya yang sudah penuh, meninggalkan Iksa yang masih sedikit syok dan kebingungan.


Tita merasa kikuk dan canggung tiba-tiba bertemu dengan orang yang akan di jodohkan dengannya, itu sangat di luar rencana sehingga dia buru-buru meningalkan tempat tersebut agar tidak di cerca banyak pertanyaan.


Iksa berusaha berjalan mengejar Tita tapi entah lah gadis itu sudah berbelok ke arah mana, sehingga tidak dapat ditemukan. Iksa akhirnya segera menuju tempat pembayaran sambil terus mengedarkan matanya ke sekitar super market. Ia diam-diam berharap matanya dapat menangkap gadis itu.


Selesai dengan pembayarannya Iksa masih berharap dapat menemukan gadis itu, ia mencoba berjalan menengok ke beberapa deretan gang makanan tapi belum menemukanya. Ponsel Iksa tiba-tiba berdering tertera nama sayangku di layar ponselnya. Ah Hilda apakah aku sudah pergi cukup lama?.


“Halo sayang… kamu di mana katanya beli minum kok lama banget?” Terdengar suara manja dari gadis di sebrang telfon itu.


“Ah iya sayang…. Antriannya cukup panjang, sebentar lagi selesai, tunggu sebentar” Iksa mengakhiri panggilan telfon itu, dan memasukan ponselnya ke dalam kantong.

__ADS_1


Iksa yang tadinya berniat mencari Tita mengurungkan niatnya. Iksa pun bergegas membalik badannya menuju pintu keluar, segera ia menaiki eskalator menuju lantai dua untuk kembali menemani kekasihnya.


__ADS_2