Same Love You

Same Love You
XVII


__ADS_3

" Nah makanan sudah siap, mari kita makan dulu semua " Kata Herman.


" Oekk...oek..." Suara tangisan bayi.


" Astagah yang satu juga sudah bangun " Bayi yang ada di gendongan hera tiba tiba juga menangis.


" Ya ampun kenapa cucu nenek semuanya sangat rewel sih hari ini, sudah yang satu biar nenek yang urus dulu" Beranjak dari tempat duduknya menuju kamar.


" Aduh lihat kan Tit besok kamu kalau mau punya anak satu aja dulu, kalau sekali lahiran langsung dua kayak aku lihat kan bertapa repot nya, dan gak bisa kemana - mana" Kata Hera memberi nasehat, dengan ekspresi lelah.


Tita hanya diam memperhatikan kesibukan mereka mengurus dua orang bayi sekaligus.


" Aduh suami ku, yang ini pup, tolong ambilkan popoknya " Berlari ke kamar mandi.


" Wah rumah terasa ramai ya kalau ada anak kecil " Kata Tita.


" Kenapa kau mau juga ?, mari kita buat berapa yang kamu mau ? " Goda Iksa.


" Tidak juga, sepertinya kalau kita hanya berdua saja untuk sekarang terasa lebih baik ".


" Kenapa tiba - tiba ngomong kayak gitu sih ".


" Entah lah aku hanya senang hari ini bisa banyak menghabiskan waktu bersama kamu, dan para keluarga mu, aku jadi bisa lebih mengenal mereka, lucu ya padahal aku sudah bertahun - tahun menjadi menantu keluarga ini, tapi akau malah tak begitu mengenal anggota keluarga suami ku ".


" Ah Iksa, karena anak - anak ku masih rewel kamu bisa makan camilan, oh ada camilan dan minuman oleh - oleh dari teman ku yang baru saja pulang dari jepang, ada di lemari nomor dua sebelah kanan di dapur kau bisa mengambilnya dulu " Teriak Herman dari dalam kamar.


" Biar aku saja yang ambil, kamu kan tadi sudah membantu menyiapkan makanan " Kata Tita sambil berjalan menuju dapur.


Tita mengeluarkan beberapa camilan, dan beberapa botol minuman dari dalam lemari.


" Ah kita pindah ke ruang tamu saja dulu, buat makan ini " Kata Tita membawa nampan yang berisi makanan dan minuman.


Mereka pun pindah ke ruang tamu yang hanya berjarak beberapa langkah dari ruang makan.


" Eh kamu mau apa " Kata Iksa.


" Ya mau minum lah " Kata Tita yang menuang sebotol anggur ke dalam gelas.


" Ini tu ada alkoholnya, nanti kamu mabuk " Kata Iksa.


" Nyobain dikit aja boleh kan " Kata Tita sambil memasang wajah memelas.


" Ya udah satu gelas aja ".


" Oke " Tita pun langsung meminumnya.

__ADS_1


" Wah enak gak pahit, dan gak asem " Sambil menuang dan meminumnya lagi, dan lagi.


Iksa yang dari tadi sibuk dengan ponselnya, tak menyadari bahwa Tita sudah menghabiskan satu botol anggur sendirian. Iksa tersadar ketika ia merasakan ada seseorang yang memegang pahanya.


" Pak tua...hehe ".


( Eh apa ini apakah dia mabuk, tapi wajahnya tak merah sama sekali ) Kata Iksa yang kaget.


" Pak tua...sayang ... Hehe..." Tangan Tita membuka kancing baju Iksa.


" Hei kau kenapa!".


" Wah badan mu sangat keren " Sambil terus meraba dada dan perut Iksa kemudian memeluknya.


" Hei sadar lah....".


" Wah keren sangat keras".


" Hey Tita sadar lah, kamu sedang apa me rabah - rabah tubuh orang " Kata Iksa panik.


" Aku sangat suka tubuh mu " kata Tita sambil terus memeluk Iksa.


" Hey sadarkan dirimu!!! " Iksa mendorong Tita.


Bruuk terdengar suara jatuh dan teriakan yang sangat keras.


" Apa yang terjadi? ".


" barang apa yan g jatuh? ".


Semua orang yang ada di rumah itu berlari menuju sumber suara.


" Aku di pukul dan di dorong sangat keras, sakit sekali huhuhu..." Kata Tita sambil berlinangan air mata.


Semua orang langsung kaget dan menatap ke arah Iksa yang terlihat berantakan.


" Kau ini apa yang kau lakukan kepada Tita ? " Tanya Hera dengan ekspresi tak percaya.


" Kau tipe laki - laki yang kasar ya ternyata " Kata Herman.


" Sini nak coba bibi lihat, apa yang sakit " Kata bibi sambil menghampiri Tita.


" Bu...bukan begitu " Kata Iksa sambil terengah - engah.


" Huuuu...Bibi..".

__ADS_1


" Dasar kau ini kau preman ya berani - beraninya memukul perempuan " kata Herman.


" Bukan begitu !".


" Apanya yang bukan " Kata Hera.


" Bukan bukan begitu, ia tak suka kalau ku sentuh dada dan perutnya ..." Kata Tita polos sambil terus menangis.


" Hah dasar gila kau memukulnya, karna dia menyentuh dada dan perut mu sedikit?, bukankah kalian suami istri, hal yang wajar dan biasa kalau menyentuh dada atau perut " Kata Hera.


" Dasar sampah!!! " Kata Herman.


( Mereka gak tau saja perut dan dada ku terus diraba, benar - benar sangat bahaya ).


" Dasar kau ini kan laki - laki kenapa kasar begitu sih sama perempuan " Kata Herman.


Di Rumah Iksa, Iksa menggendong Tita untuk memasuki rumah.


Dasar anak ini minum gak pakai ukuran sampai mabuk, padahal wajahnya sama sekali gak merah tapi dia langsung tumbang dan bersikap sembarangan, apakah dia pernah mabuk sampai seperti ini kalau minum - minum bersama teman - temannya.


Huh mengesalkan sekali kalau membayangkannya, pokonya dia dilarang minum minuman beralkohol lagi. Iksa meletakan Tita di atas ranjangnya.


" Aduh kepala ku sakit bangrt.." kata Tita sambil terus memejamkan matanya.


Iksa melepaskan sepatu hak tinggi yang masih dikenakan Tita, Iksa kemudian berbaring di sebelah Tita.


Huft awas saja besok kalau dia bangun. Tita memeluk Memeluk tubuh iksa yang ada di sebelahnya.


Aduh kenapa lagi ni anak, gak tau orang lagi capek apa, udah lah udah gak ada tenaga buat ngelawan juga, biarin gini lima belas menit aja.


Ikse memimpikan dirinya waktu dulu pernah tengelam saat bermain di sungai bersama saudara - saudaranya, kejadian yang membuatnya trauma, mimpi buruk yang membuatnya tak bisa tidur selama beberapa tahun saking takutnya dengan kejadian yang pernah ia alami.


Iksa terbangun. Huft mimpi buruk itu lagi, Iksa meraih ponselnya dan melihat jam menunjukan pukul sati lewat tiga puluh menit.


Masih ada waktu lima menit lagi, dilihatnya Tita yang masih tertidur pulas disebelahnya, di lihatnya waja Tita yang lembut dan ayu, didekapnya tubuh mungil itu.


Begini sebentar saja ya, kata Iksa dalam hati sambil memejamkan matanya.


Tak terasa hari pun sudah makin pagi, ponsel Iksa menunjukan kan anka nol lima titik nol, nol. Iksa bergegas bangun dari tempat tidurnya dan menyelimuti Tita, wajahnya nampak sumringah. Ia berjalan keluar dari kamar Tita.


Pukul enam lebih tiga puluh menit mereka berdua sudah berada di mobil dalam perjalanan menuju kampus Tita.


" Saya tidak melakukan hal - hal yang aneh kan semalam? " Sambil mengunyah roti.


" Iya, harus aku katakan berapa kalai lagi sih biar kamu percaya!" Kata Iksa yang sedang fokus menyetir.

__ADS_1


" Ya syukur lah, kalau memang saya tidak melakukan hal - hal yang aneh " Kata Tita sambil terus mengunyah rotinya.


__ADS_2