Same Love You

Same Love You
Maaf


__ADS_3

Iksa merasa dirinya sangat bersalah kepada Tita.


“Maafkan aku Tit aku….aku tidak sengaja” ucap Iksa sembari menutup pintu kamar Tita.


Iksa menyesali perbuatannya. Ia kembali berjalan menuju kamarnya. Merebahkan dirinya di atas ranjang. Dan menatap langit-langit. Ia merasa menjadi manusia paling konyol pada malam hari ini. Ah bukankan dengan sombongnya ia telah mengatakan tak akan tergoda oleh gadis itu. Tapi kenapa harus pada malam ini beteng yang sudah ia bangun itu runtuh, ia mencium bibir gadis itu untuk waktu yang lama dan sangat menikmatinya.


Ia tau bahwa Tita sempat melawan tadi, tapi ia tetap merebut paksa bibir gadis itu. Ia merasakan sensasi ciuman yang berbeda dari biasanya, ia merasa ciumannya dengan Tita berbeda dengan ciumannya dengan Hilda. Mungkin karena memang Tita belum berpengalaman atau bahkan malah baru pertama kali.


Di kamar Tita sedang menangis ter isak- isak . Ia sudah berjanji akan menjaga dirinya dan memberikan ciuman pertamanya kepada suaminya kelak. Meskipun Iksa dan Tita akan segera menikah, tapi suami yang di harapkan Tita adalah Dio.


Ia merasa Iksa memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, ia sangat membenci itu. Apa lagi Tita tau kalau Iksa sudah memiliki kekasih. Tita kembali menyeka air matanya.


Tita kaget karena tiba-tiba ponselnya berdering, ada pesan masuk di ponsel itu. Ia bergegas untuk mengeceknya. Ia berharap pesan tersebut datang dari Dio, tapi sayang pesan teresebut berasal dari Iksa. Yang berisi permintaan maaf.


Setelah apa yang terjadi padanya dan Iksa semalam Tita lebih memilih menghindari Iksa. Tita baru akan keluar setelah melihat Iksa keluar rumah dengan mobilnya.


Tita sudah merasa sangat lapar, ya iya kelaparan karena dari tadi menunggu kepergian Iksa. Ia baru bisa turun ke bawah dan menikmati sarapan. Tita menuruni anak tangga dengan cepat.


Dari kejauhan iya lihat menu sarapan masih tersedia di atas meja. Tita menarik kursi lalau duduk di meja makan.


“Maaf non, Tuan sudah berangkat tadi pagi, mbok gak bangunin non karana di suruh tuan, katanya non kecapekan”.


“Iya mbok gak papa, saya bisa sarapan sendiri”


“Yaudah kalau gitu mbok tinggal ke belakang dulu ya”


“Iya mbok”


Tita tak ingin mengingat kejadian apa yang terjadi semalam, di mana ia telah melakukan kecerobohan besar. Harusnya semalam ia memukul Iksa lebih keras, tapi mengapa ia malah terbawa suasana dan terbuai oleh ciuman Iksa. Mungkin bagi Iksa ciuman itu tidak ada artinya, tapi bagi Tita ciuman itu adalah ciuman pertamanya.

__ADS_1


Bertapa bodohnya ia, kenapa ciuman pertamanya bisa di rebut paksa oleh Iksa. Itu membuat pikiran Tita kacau, mulai saat ini Tita berjanji tidak akan ada lagi sentuhan fisik antara dirinya dengan Iksa.


Telfon tita berdering. Ternyata telfon tersebut berasal dari sang ayah, ayah tita mengatakan bahwa pernikahan Tita dan Iksa akan di percepat karena semua persiapannya telah selesai. Tita yang syok mendengar kabar itu tersedak sarapan paginya.


“Apa pa di percepat….. uhuk….uhuk”


“Papa gak salah?” Tanya tita dengan nada masih tak percaya.


“Benar nak semua persiapannya sudah selesai”


“Jadi kapan pa?!” Dengan suara melengking.


“Besok” sahut sang ayah.


Tita merasa sangat di permainkan oleh keluarganya, ia merasa sangat gila pernikahan yang harusnya dilakukan dua minggu lagi tiba-tiba di percepat. Tita segera berinisiatif untuk menghubungi Dio untuk memberitahukan bahwa rencana pernikahannya telah berubah.


Ponsel Dio berdering dengan sangat kencang, Dio yang masih tertidur di ranjangnya berusaha meraih ponselnya yang terus berdering.


“Dio ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu sekarang, bisakah kita bertemu di restoran OO ?” Kata Tita dari sebrang telfonnya.


“Baiklah pukul berapa?” Tanya Dio.


“Sekarang bergegaslah” kata Tita.


“Baiklah aku mandi dulu” Jawab Dio.


Di restoran ini Tita duduk menunggu kedatangan Dio. Matanya berkeliling mengamati suasana restoran tersebut, masih sepi tapi ada seseorang yang mencuri perhatiannya di ujung sana. Ya siapa lagi kalau buka Iksa tampaknya kini ia sedang sibuk dengan partner bisnisnya. Tita berhasil menghindari Iksa di rumah tapi tak tau jika akan di pertemukan di luar rumah.


“Hay sudah menunggu lama” suara Dio mengalihkan pandangan Tita yang tadi sedang menatap Iksa, kini berpaling menatap Dio.

__ADS_1


Dio menarik kursi di depan Tita, dan kini mereka duduk saling berhadapan.


“Mau makan apa?” Tanya Tita.


“Apa pun, samakan saja dengan mu” kata Dio.


Tita melambaikan tangannya ke arah pelayan, mengisyaratkan pelayan untuk membawa buku menunya.


“Yang ini bagaimana, kamu suka?” Tanya Tita sembari menunjuk ke arah gambar menu.


“Oke” kata Dio.


Pelayan kemudian mencatat pesanan mereka berdua, dan segera bergegas menuju dapur untuk menyerahkan menu pesanan.


“Kau mau membicarakan apa dengan ku hari ini?” Tanya Dio sembari menggenggam tangan Tita.


“Ah pernikahanku akan di percepat menjadi besok” kata Tita langsung ke intinya.


“Ah besok, tak apa toh pernikahan itu hanya akan terjadi setahun kan” jawab Dio dengan nada syok tapi berusaha menyembunyikan nya, Dio membelai mesra rambut Tita, menyelipkan rambutnya ke daun telinga Tita, kemudian mengecup lembut punggung tangan Tita.


Dari kejauhan Iksa terus mengawasi gerak-gerik mereka berdua. Ada rasa iri dan kecewa yang tiba-tiba menyeruak kedalam hati Iksa.


“ Dasar anak muda jaman sekarang tidak tau aturan” kata Iksa lirih.


Tanpa sadar Iksa terus memperhatikan Tita. Ah sebenarnya apa yang menarik dari gadis itu. Tapi jika Iksa mengingat- ingat kembali ciuman yang ia lakukan pada malam itu dengan Tita adalah ciuman paling mengesankan.


Iksa telah menyelesaikan pekerjaannya, patner bisnis yang dari tadi mengobrol dan menemaninya kini telah berpamitan. Iksa engan meninggalkan tempat itu. Iksa tetap duduk di tempat itu ia kembali memperhatikan gerak gerik Tita dan sang pujaan hatinya itu.


Baru kali Ini Iksa merasakan tertarik kepada gerak gerik sang calon istri, ia merasa seperti seorang kekasih yang cemburu melihat kekasihnya bersama dengan orang lain. Tanpa sadar Iksa terus memperhatikan Tita tapi arah perhatian Iksa terfokus ke arah bibir Tita.

__ADS_1


Setelah di rasa sudah cukup lama Iksa memperhatikan gerak-gerik Tita. Ia takut kelakuannya tersebut di ketahui oleh Tita. Iksa pun memilih untuk bergegas meninggalkan restoran itu.


Setelah lama berbincang dan melepas rindu, Tita pun, mengedarkan kembali matanya ia mencari sosok Iksa yang tadi ia lihat, ternyata sudah tidak ada di tempat. Ya sukur lah kalau Iksa tidak menyadari kehadiran nya bersama Dio di kafe ini. Setelah selesai dengan makanya Tita dan Dio pun bergegas pulang, mereka memisahkan diri di tempat parkir, karena kebetulan mereka sama-sama mengunakan OJOL.


__ADS_2