
Kalau dia bilang begitu kan berati dia juga serigala karna dia laki - laki, apa tadi dia mau bikin pengecualian untuk dirinya tapi tidak sempat ya. Kata Tita dalam hati.
Masak cuma karena kak Rendi aja jadi marah begitu, eh tapi benar kuga ya kak Rendi kan juga laki- laki. Tapi bagi ku kan kak Rian itu sudah seperti kaka kandung sendiri, dulu saat awal kami bertemu.
" Nah ketemu kau, kenapa kau sembunyi di sini?
Kamu Tita kan keponakanya diki? " Tanya Rendi kecil.
Di situ nampak Tita yang duduk di Tanah dan hampir menangis.
" Ah? " Tita yang bingung karena baru pertama kali melihat anak ini tapi kenapa sudah tau namanya.
" Ibu mu mencari mu loh dari tadi".
" Sut....aku sedang bersembunyi karena takut di marahi karena makan banyak permen, dan coklat" Meletakan jari telunjuk di depan bibir meng isyarat kan Rendi harus diam.
" Oh begitu".
" Kamu kembali saja, aku mau duduk di sini sebentar, nanti akau akan kembali sendiri ".
" Bangun lah aku tau tempat persembunyian yang aman, kalau sembunyi di sini nanti kamu bisa cepat ketahuan, dan malah di marahi loh" mengulurkan tangan nya untuk membantu Tita berdiri.
Sejak saat itu sampai sekarang kak Rendi adalah orang yang lebih banyak membantu ku dibanding kan orang lain, dia menjaga ku, menyemangati ku agar kuat dan berani.
Di ruang kerja Iksa memandang kearah luar jendela.
Aku tak menyangka kalau selama ku tinggalkan dia begitu kesulitan, ku pikir dia akan baik - baik saja karna ada keluarga dan sahabatnya yang akan membantunya. Iksa teringat lagi dengan ucapan Rendi, dan Tita tadi.
{ Karena saya peduli pada Tita dan tidak bisa untuk pura- pura tidak tahu, dan melepaskan tanggung jawab seperti seseorang }.
{ Kak Rendi adalah orang yang sangat baik yang mau membantu ku dan Ria pada saat kami kesulitan, kalau tidak ada kak Rendi mungkin aku akan banyak menangis dan mengeluh, di tinggalkan oleh suami ku ke luar negri bertahun- tahun, dan di tinggalkan oleh kekasih ku }.
{ Bagi saya kak Rendi sudah seperti kakak kandung saya sendiri, dia bahkan lebih banyak memperhatikan aku di bandingkan keluarga ku sendiri }.
Aku jadi pusing karena mereka berdua entah akau harus berterimakasih atau merasa kesal kepada mereka berdua, yang saling melindungi satu sama lain itu, menjengkelkan sekali.
__ADS_1
Pagi hari
Tita sedang mencoba menyiapkan sarapan pagi di dapur ia karna dia malas repot jadi dia hanya mengambil roti tawar, dan selai coklat kesukaannya, selesai mengoleskan selai ke roti ia merasa ada yang kurang oh ia dia belum menyiapkan susunya, ia membuka kulkas dan hendak mengeluarkan susu, tapi tiba - tiba Iksa memanggil.
" Tita".
Tita tersentak kaget.
Kenapa kaget banget gitu sih, padahal cuma di panggil aja, emangnya akau se menakutkan itu ya?. Kata Iksa dalam hati.
" Ah kamu sudah bangun, mau sarapan?" Tita menyodorkan sepiring roti nya.
" Gak " Kata Iksa singkat.
Syukur deh kalau kamu gak mau aku kan cuma basa - basi mana rotinya udah abis lagi, untung kamu gak mau. Tita tertawa kegirangan sambil meletakan kembali rotinya dan menuang susu ke dalam gelas.
Iksa yang memperhatikan ekspresi kegirangan Tita pun menarik kembali ucapannya tadi.
" Maksud ku tu gak nolak, sini in deh rotinya".
" Oh gitu?" Tita dengan berat hati menyerahkan rotinya.
" Ah a...aku lupa kalau rotinya tinggal ini, tapi gak papa ini buat kamu aja, lagipula aku masih ada camilan oleh - oleh kemarin untuk mengganjal perut" Kata Tita sambil mengeluarkan camilan yang di bawakan Rendi kemarin.
" Tau gak aku udah nahan buat gak makan ini camilan dari kemarin, karena kamu ku ajakin makan gak mau" Kata Tita sambil tersenyum.
Iksa yang tak suka melihatnya , kemudian merebut bungkusan itu dan menaruhnya kembali ke dalam kulkas.
" Gak baik ya pagi - pagi makan camilan, makan roti mu itu tadi saja!" Kata Iksa.
" Tapi kan cuma tinggal dua lembar itu saja rotinya".
Iksa pergi ke ruang kerjanya untuk mengambil tas kerja, beberapa saat kemudian Iksa kembali lagi ke dapur untuk memakan roti yang di siapkan Tita tadi.
" Wah dasar Kau makan dua - duanya roti nya?!" Iksa tak habis pikir bahwa tita akan melahap kedua roti tersebut.
__ADS_1
Ku pikir anak ini kan memikirkan ku dan membagi rotinya satu - satu, pagi - pagi gini sudah di bikin pusing. Iksa memegang keningnya.
Wah gila kenapa marah gitu sih kan tadi dia yang suruh aku makan rotinya, temperamennya buruk ya di pagi hari. Kata Tita dalam hari.
" Hah ya sudah lah, habis siap - siap aku antar kamu ke kampus sekalian cepat lah!".
" Gak usah...gak usah kenapa di antar?, aku gak papa kok naik kendaraan umum, lagi pula biasanya juga berangkat pakai kendaraan umum". Kata Tita sambil menggelengkan kepalanya.
" Banyak tanya, tinggal ganti baju cepetan, kita kan searah, biar bisa hemat uang jajan mu juga".
" Baiklah kalau memang itu tidak merepotkan, dan kamu tidak keberatan".
Aduh apakah pak tua ini masih marah karena hal yang terjadi kemarin?.
" Ah tapi Tit aku mau tanya, di mana cincin pernikahan mu?".
" Ah cincin pernikahan ya...?" Tita memasang ekspresi panik.
" Iya cincin pernikahan yang ku berikan, seharusnya kan kamu pakai setiap hari".
" Karna dari beberapa waktu yang lalu di kampus sangat banyak kegiatan, jadi cincinnya saya lepas takut hilang, lagi pula kamu kan gak bilang dari awal kalau aku harus pakai cincin itu setiap hari" Kata Tita.
Iksa agak tak percaya dengan jawaban yang Tita berikan.
" Lagi pula kan kamu juga gak memakai cincinnya tu" sambil menunjuk jari tangan Iksa yang sebelah kanan karna panik.
" Jadi kan gak papa kalau aku gak pakai tiap hari juga'.
Iksa mengangkat tangan kirinya dan memperlihatkan jari manisnya di depan wajah Tita, Tita kaget.
" Lihat baik - baik, ini apa?" Tanya Iksa sambil menggoyangkan jemarinya.
" Lihat benda yang berkilau di jari ku ini, kamu pikir ini apa, kalau bukan cincin?, mau di periksa lebih dekat lagi untuk memastikannya?".
" Ah..." Tita yang kaget dan kehilangan kata - kata karena iya tak tau bahwa Iksa selalu memakai cincin pernikahan mereka.
__ADS_1
" Kau simpan di mana cincin mu itu?' jangan - jangan kamu memang sengaja tak mau memakainya ya?, kamu takut teman - teman mu di kampus tau kalau kamu sudah menikah" Cerca Iksa.
" Ih apan si kamu bikin kesel aja pagi- pagi begini?" kenapa sih salah minum obat ya?!" Teriak Tita yang kesal dengan Iksa.