Same Love You

Same Love You
Bertemunya Dua Keluarga


__ADS_3

Ah cantiknya bayangan Tita yang ada di dalam pantulan cermin. Ia memuji kecantikannya sendiri, harusnya hari ini dia merasa bahagia karena akan bertemu dengan calon suaminya secara resmi, ya pertemuan beberapa waktu yang lalu di supermarket hanya sebuah kebetulan yang tidak berati.


Pasalnya ia memang tidak menyukai perjodohan yang telah direncanakan oleh keluarganya. Karena sudah ada seorang lelaki yang mengisi hatinya.


Selama ini Tita sudah cukup bahagia dengan hubungannya dan Dio, walaupun hanya berkabar lewat ponsel, dan beberapa kali bertemu saat libur panjang semester. Dio pernah beberapa kali berkunjung ke Jogja untuk menemui Tita.


“Aduh anak mama cantik sekali” puji sang ibu yang bertengger di ambang pintu kamar Tita.


Tita pun bangkit dari kursi riasnya. Ia tampak begitu cantik dengan riasannya. Sampai membuat semua orang pangling. Tita tersenyum masam karena kecantikannya saat ini terasa tidak berguna. Karena pada akhirnya ia akan menikah dengan pria lain.


Di lantai bawah suasana sudah terasa sangat ramai. Iksa menunggu sosok calon istrinya tersebut. Ia sebenarnya malas mengikuti pertemuan yang dianjurkan oileh kedua orang tuanya. Yang membuat Iksa tidak habis pikir adalah kedua orang tuanya mengizinkan Tita untuk tinggal selama tiga minggu di rumahnya dengan dalih bahwa seluruh keluarga akan pulang ke bandung untuk mempersiapkan acara pernikahan. Sedangkan Tita harus tetap di sini karena harus mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi di Yogyakarta.


Harapan Tita untuk bisa kembali bersekolah di Bandung sirna sudah. Ia makin muak dengan keputusan keluarganya yang terasa konyol itu. Tita turun dari lantai dua rumahnya semua mata kini seolah tertuju padanya. Tita turun dan menjabat tangan semua orang yang ada di situ.


Iksa yang sedari tadi menyendiri dan mengamati taman, menoleh setelah mendengar seseorang memangil namanya. Setelah berbalik bertapa terkejutnya ia melihat sosok gadis cantik yang berdiri di depannya, benar-benar seperti bidadari dan terlihat dewasa bahkan tak terlihat kalau gadis itu baru berusia tujuh belas tahun.


“Ah kau tampak sedikit lebih tinggi” ucapan pertama yang keluar dari mulut Iksa.


“Om Iksa pikir aku akan berhenti tumbuh, ah maaf terbiasa memangil mu dengan kata om, ralat Mas Iksa” jawab Tita acuh tak acuh.


Tita mengamati calon suaminya dengan seksama dari ujung rambut sampai ujung kaki, masih tetap tampan seperti biasanya yang berubah hanya dia kini terlihat lebih dewasa, dan lebih rapi.


Uti menghampiri mereka berdua yang sedang bercakap-cakap ringan itu, dan mengajak mereka berdua untuk menuju meja makan, sembari me ngobrol-bgobrol untuk mengakrabkan kedua keluarga ini, walaupun dari awal kesukaan keluarga ini sudah akrab. Istilahnya hanya untuk formalitas saja.


Mereka akhirnya duduk di meja makan yang sudah disiapkan dengan berbagai menu sepesial. Iksa duduk berseberangan dengan Tita. Tita tertunduk melihat ke piring yang ada di depannya. Ia tak habis pikir bahwa irang yang ada di depannya ini adalah calon suaminya.

__ADS_1


“Diki kemana Uti kok belum keliatan” tanya Iksa yang memulai obrolan di meja makan itu.


“Diki tak memberitahumu kalau dia berangkat lagi ke Singapore tadi malam”


“Ah iya sudah, aku lupa hehehe” Tak sengaja Iksa melihat ke arah Tita untung saja saat itu Tita sedang asik dengan makanan di piringnya, sehingga ia tidak tau kalau Iksa memperhatikannya.


“Tita setelah makan malam ini kamu akan ikut keluarga Mas Yoga, untuk tinggal bersama mereka selama sekitar tiga minggu sampai pengumuman penerimaan mahasiswa baru.”


Papa Tita menerangkan beberapa alasan mengenai keputusannya itu, samar-damar memang ia pernah mendengar mengenai rencana itu tapi ia tak menyangka kalau hari ini adalah hari di mana ia harus memasuki rumah Iksa.


“Tita memperlambat makanya, sampai tak terasa sendok nya sudah tidak bergerak lagi, Tita melamun kan berbagai macam hal, di dalam pikirannya tang terasa campur aduk.”


“Ehem, maafkan mama Nia dan papa Yoga sayang. Kami bukan ingin memisahkan kamu dari keluarga mu, tapi menurut kami mungkin ini adalah cara terbaik sekaligus pendekatan terbaik untuk kalian berdua”


Mama Nia menjelaskan dengan sangat halus dan lembut, perkataan mama Nia membuat Tita engan untuk menolak kesepakatan tersebut. Toh ia juga bermaksud untuk membuat kesepakatan dengan Iksa agar mereka tak terlalu lama menjalin hubungan.


Tita melihat ke arah neneknya seakan minta pendapat, dan pertolongan, tapi apa daya ketika Nenek tita malah mengangguk seolah-olah menyetujui dan mengiyakan keputusan kedua keluarga itu.


Akhirnya Tita terpaksa mengikuti keinginan keluarganya tersebut. Malam ini akhirnya ia memang menjadi anak yang penurut, tapi tidak untuk lain kali ia sudah menyiapkan banyak strategi tempur di dalam pikirannya.


Setelah makan malam usai Tita mengikuti keluarga Iksa untuk tinggal bersama mereka selama kurang lebih tiga minggu. Ya tujuannya adalah agar Tita bisa lebih mengenal Iksa begitu pula sebaliknya.


Walaupun rumah nenek Tita dan rumah Iksa hanya berjarak beberapa blok saja tapi keluarga Iksa tetap mengunakan mobil. Dari balik kaca mobil, Tita menatap haru keluarganya yang melambaikan tangan ke arahnya. Tak terasa air mata Tita menetes. Baru kali ini ia merasa sedih harus berpisah dengan keluarganya. Meskipun ia hanya tinggal di rumah itu beberapa minggu. Ia tak bisa membayangkan jika ia menikah berarti ia tak akan tinggal lagi bersama keluarganya.


Iksa hanya duduk terdiam menatap keluar kaca mobil. Ia mendengar isak tangis Tita tak tega rasanya melihat gadis itu menangis, kemudian ia mengulurkan sapu tangan dari dalam saku baju nya.

__ADS_1


“Nih” kata Iksa sambil menyodorkan sapu tangannya ke arah Tita.


“Terima kasih” Tita mengambilnya dari tangan Iksa.


Iksa kembali menatap ke arah luar kaca mobil. Sementara Tita merasa kikuk duduk di sebelah Iksa. Tak ada pembicaraan di antara mereka berdua, mereka berdua sibuk melamun dan memandang ke arah luar jendela masing-masing.


Tita sedikit galau dan dilema karena belum memberi tahu Dio perihal pernikahannya ini. Ia bingung dan takut juka harus mengatakannya kepada Dio, Dio pasti akan merasa kecewa jika mengetahui Tita sekarang berada di rumah calon suaminya.


Mobil berhenti tepat di depan rumah Iksa, Iksa dan Tita turun dari mobil terlihat para pelayan membantu menurunkan koper Tita dari dalam mobil. Tapi anehnya kedua orang tua Iksa tidak ikut turun, mereka hanya menyuruh Iksa untuk membawa Tita masuk. Dan setelah itu mobil yang di kendarai kedua orang tua Iksa pun berlalu meninggalkan pekarangan rumah megah itu.


Ah jangan-jangan…..pikiran Tita mulai kemana-mana.


“Ayo masuk, kopernya biar dibawakan Pak diman” suara Iksa yang tiba-tiba memecahkan kekalutan pikiran Tita.


“Kata orang tua kita kita akan tinggal bersama dalam beberapa minggu. Tenang saja karena kamar kita terpisah. Lagipula aku juga sudah memiliki kekasih, jadi jangan mengharapkan sesuatu” Iksa membalikan tubuhnya dan berniat menaiki anak tangga.


“Tunggu!” Tita memberanikan diri untuk berbicara dan membulatkan tekatnya. Iksa kemudian menghentikan langkahnya.


“Bisakah kita bicara di tempat yang lebih sepi” kata Tita sambil memandangi sekitar yang melihat beberapa irang berseliweran membawa barang-barang ke lantai atas.


“Baiklah Ikut aku” Iksa kembali menaiki anak tangga yang kemudian di ikuti oleh Tita di belakangnya. Sampailah mereka ke sebuah ruangan privat. Iksa membuka pintunya dan mempersilahkan Tita untuk masuk.


Tita duduk di sudut kursi ruangan yang kemudian di susul oleh Iksa. “Baiklah apa yang ingin kau bicarakan dengan ku” Tanya Iksa


Dengan sedikit ragu Tita mengeluarkan suaranya. “Tentang pernikahan kita………Bagaimana kalau kita menjalaninya dalam waktu setahun saja?, lagi pula sesuai perkataan mu bahwa kau sudah memiliki kekasih”

__ADS_1


Perkataan yang keluar dari mulut Tita sedikit membuat Iksa terkejut, ternyata gadis ini sepemikiran dengannya. Tanpa banyak bicara dan menanyakan apa alasannya kenapa Tita juga berpikir demikian Iksa langsung mengiyakan perkataan Tita. “ Baiklah mari lakukan pernikahan ini sesuai dengan keinginan mu” Sudut bibir Iksa sedikit tertarik ke atas yang menandakan bahwa ia senang dan sependapat dengan keinginan Tita.


__ADS_2