Same Love You

Same Love You
Jodoh atau Perjodohan


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang menyenangkan bagi Tita karena hari ini adalah hari kelulusan. Ia berangan bahwa setelah ini ia akan kembali ke kota asalnya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi. Ia juga sudah tak sabar ingin menemui pujaan hatinya yaitu Dio yang selama ini hanya bisa ia hubungi melalui telfon selulernya. Jarak telah memisahkan mereka berdua selama bertahun-tahun lamanya.


Akan tetapi Tita bagai diterjang Tsunami mendengar permintaan kedua orang tuanya hari ini. Tita yang berharap kedatangan orang tuanya yang hanya beberapa bulan sekali itu adalah kedatangan penjemputan. Untuk memulangkannya ke tanah asal. Iya mendengar permintaan kedua irang tuanya bahwa ia akan di jodohkan dengan Iksa, lelaki teman pamannya yang berbeda sepuluh tahun dengannya itu.


Padahal Tita sudah punya pujaan hati yang menunggunya di kota sebrang, Tita mencoba menyampaikan protes dan keluh kesahnya kepada orang tua nya, akan tetapi perkataan itu seakan mental entah kemana, baru kali ini irang tua Tita bersikap egois, dan tidak mau tau.


“Tita tidak mau, tidak bisa begitu, Pa Ma”


“Papa dan mama tau kan mas Iksa itu beda umurnya jauh sama Tita, Aku tidak mau menikah dengan mas Iksa!” Jawab Tita ketus.


“Kamu tau kan beberapa tahun yang lalau perusahan papa mu hampir bangkrut, dan keluarga mereka yang menolong keluarga kita. Dengan syarat nanti kalau kamu sudah selsai sekolah SMA maka pinangan mereka akan datang. Janji adalah hal yang harus di tepati” kata sang mama.


“Mereka adalah keluarga yang berjasa besar atas berjalanya perusahan kita sampai hari ini. Kamu tau kan kalau papa selau berusaha yang terbaik untuk keluarga kita, papa tau ini sedikit berat untukmu, tapi papa yakin kamu akan bahagia” ucapan sang ayah sambil berusaha menenangkan Tita.


Tita melempar bantal kursi yang ada di pangkuannya ke lantai. Ini sama saja dengan orang tua Tita sedang menjualnya demi kemajuan sebuah perusahaan. Apakah benar ini pilihan terbaik, dan Tita bisa bahagia?


“Apa mama dan papa mau melihat aku tersiksa setiap hari, hidup dengan irang yang tidak ku cintai. Bagaimana dengan masa depan ku sekolah ku!”


“Kalian lebih suka aku menangis setiap hari!”

__ADS_1


“Kamu kan mengenal Iksa dengan baik, papa dan mama yakin dia akan menjadi suami yang baik”


“Mengenal dengan baik apanya, aku hanya bertemu dia beberapa kali, kami tidak pernah ngobrol apanya yang kenal baik!”


“Papa dan mama berniat menjual ku demi perusahaan, kalian egois sekali!”


“Bukan begitu sayang, Bukankah nanti dengan berjalanya waktu, kalian akan saling jatuh cinta. Seperti pepatah jawa yang mengatakan wiwiting tresno jalaran soko kulino (adanya cinta karena telah terbiasa)” Bujuk sang ibu.


“Aku gak habis pikir sama Papa dan Mama kalian pikir ini jaman Siti Nurbaya”


“Sayang papa dan mama tau saat ini kamu pasti sangat membenci keputusan papa dan mama”


Nenek Tita yang sedari tadi memperhatikan dari luar pintu kamar ikut masuk dan menenangkan Tita yang saat ini pasti sedang sangat emosi dan kacau.


“Uti minta tolong kali ini saja, Tita bisa bantu keluarga kita, menikah bukan suatu hal yang buruk”


Tita merasa dunianya porak poranda ia harus menikah muda dengan lelaki yang beda sepuluh tau dengan umurnya, dia tidak mengenal betul lelaki itu ia hanya pernah melihat dan bertegur sapa beberapa kalai dengan nya. Bagaimana dengan kebebasan masa mudanya.


Apa lagi lelaki yang di jodohkan dengan nya ini masih berada di luar negri ia tak tau bagaimana kehidupan laki-laki itu diluar sana, apa lagi bisa di belang lelaki itu adalah lelaki mapan dan dewasa, dan parasnya juga tampan. Tita berpikir tak mungkin lelaki seperti itu belum memiliki kekasih di luar sana.

__ADS_1


Lalu bagaimana jalinan kisah asmaranya yang belum tersampaikan pada Dio, haruskah ia akhiri perjuangan kasihnya dengan Dio yang sudah bersabar dan menunggu kepulangan Tita. Tita merasa menjadi irang yang sangat egois.


Apa yang harus dia katakan pada Dio, haruskah ia berterus terang jika ia sudah di jodohkan. Menggelikan sekali ini sudah abad ke berapa masih berlaku kah aturan perjodohan itu. Kalau bukan karena menghargai kedua orang tua, dan neneknya ini mungkin Tita tidak akan menerima perjodohan ini.


Kini tinggal menunggu hari di mana Iksa akan pulang dan keluarganya akan datang untuk meminangnya.


Akhirnya Diki dan Iksa sudah tiba di Yogyakarta. Kediaman keluarga Iksa


“ Apa aku tak mungkin meniggalkan kekasihku begitu saja, pa” Iksa mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Ia tak suka dengan sikap papa nya yang mengambil keputusan secara sepihak dan memaksakan kehendaknya.


“Dari jaman kamu kuliah kan papa sudah bilang, kamu boleh menyukai gadis mana pun, tapi tidak usah terlalu serius karena pada akhirnya kamu akan papa jodohkan dengan orang lain” Terang pak Yoga.


“ Memang dulu papa dan mama juga di jodohkan oleh keluarga?” Tanya Iksa.


Mereka berdua diam. Ayah Iksa hanya berusaha menepati apa yang ia ucapkan kepada ayah Tita, karena janji adalah suatu hal yang harus di tepati. Karena memang ada hubungan timbal balik yang saling menguntungkan bagi kedua perusahaan selama ini. Maka dari itu kedua orang tua mereka berusaha terus menjaga dan mengembangkan hubungan timbal balik itu. Selain itu mereka juga mau mempererat tali silaturahmi dan persaudaraan mereka.


Iksa sendiri masih tidak tau kenapa orangtuanya kekeh dan ngotot sekali agar Iksa menikahi Tita. Gadis itu masih sangat kecil, masih tuju belas tahun anak bau kencur yang baru saja mendapatkan kartu tanda penduduk.


Apa yang di pikirkan teman-temanya nanti ia menikahi seorang gadis kecil, menghancurkan masa depan gadis itu yang harusnya masih bermain-main dengan teman sebayanya. Dan bagaimana dengan kekasih hatinya yang selama ini sangat ia cintai itu, apakah Iksa harus benar-benar meninggalkannya. Iksa tidak tega menyampaikan tentang perjodohan ini kepa sang pujaan hati.

__ADS_1


Kemelut berbagai pertanyaan terus berputar di kepala Iksa. Iksa juga terus berusaha mengingat bagaimana rupa gadis kecil yang sudah lama tidak ia temui itu, apakah tingginya sudah bertambah?.


Ah mungkin gadis kecil itu juga sudah memiliki kekasih, bukankah di umur tujuh belas tahun adalah masa-masa di mana seorang gadis remaja mengalami cinta monyet. Mungkin juga nanti ketika kita sudah bertemu aku bisa membujuknya untuk membatalkan pernikahan ini. Ya aku sangat berharap gadis itu mau membatalkan pernikahan ini, bukankah terlalu dini baginya untuk menikah di umur tujuh belas tahun.


__ADS_2