Same Love You

Same Love You
Baju Pengantin


__ADS_3

Iksa turun dari dalam mobil “ hey ayo kenapa tak cepat masuk” di depan mereka berdiri gedung butik pengantin yang sangat terkenal di kota itu. Tita mengekor di belakang Iksa. Iksa membukakan pintu untuk Tita seraya berkata “Silahkan masuk Nona”.


“Hentikan tingkah konyol mu itu” kata Tita.


“Bukankah kita adalah sepasang kekasih yang akan menjadi suami istri, sepatutnya kita bersikap mesra, agar orang-orang tidak curiga” ucap Iksa, yang kemudian melingkarkan tangannya di pinggang ramping Tita.


“Hay selamat datang, kalian pasti pasangan calon pengantin yang tuan Yoga katakan, Tuan Iksa benar?” Ucap laki-laki dengan setelan nyentrik dan gaya melambai itu.


Iksa mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Tita, hingga menepis jarak mereka berdua lalau berbisik. “Bersikaplah sebagai kekasih yang manis, sayang” Tita yang mendengar bisikan itu merasa bergidik ngeri.


“Perkenalkan aku Rudy yang akan bertanggung jawab mengenai baju pengantin kalian” dengan tangan yang bergerak merapikan rambutnya yang tak panjang itu.


“Senang bertemu dengan mu Rudy aku Tita” sapa Tita dengan ramah.


“Ah kemari aku sudah mempersiapkan gaun terbaik untuk mu” mengajak Tita dan Iksa menuju sebuah ruangan.


“Bagaimana cantik bukan? Ini koleksi terbaik kami, nah dan untukmu tuan Iksa Tuxedo ini sepertinya cocok, tampak serasi bukan” kata Rudy


“Nah sekarang nari kita coba mengepas gaun pengantin wanita” sambil memberikan isyarat pada pramuniaga untuk membantu tita mengepas gaunnya.


Tita masuk ke kamar pas untuk menganti pakaiannya. Karena untuk mengganti gaun lumayan susah jadi diperlukan bantuan dari pramuniaga. “ Ah anda sangat cantik, gaun pengantin ini sangat pas di tubuh anda, setiap lekukkan terlihat sempurna” puji sang pramuniaga yang membantu Tita mengganti pakaian.


“Mari silahkan saya bantu, untuk berjalan” mengulurkan tangannya kepada Tita. Tita perlahan berjalan keluar dari ruang ganti.

__ADS_1


Iksa yang sedang mengepas Tuxedo nya berdiri di depan kaca besar, ia melihat pantulan dirinya yang tampan dari kaca tersebut, dari pantulan kaca tersebut ia juga melihat bayangan Tita. Gadis itu tampak cantik bak bidadari yang turun dari kayangan. Iksa langsung membalik badannya kebelakang untuk memastikan apakah yang iya lihat itu benar, bukan hanya sekedar ilusi.


“ Ah maaf, apakah ini tidak cocok?, sepertinya gaun ini juga terlalu terbuka” Kata Tita.


“ Cocok, kamu sangat cantik” jawab Iksa dengan spontan.


“Hem apa?” Tanya Tita untuk memastikan bahwa ia tidak salah dengar.


“ Ya itu cocok, gaunnya sangat cantik, karena kau kau mau gonta-ganti baju itu sangat membuang waktu dan melelahkan” ucap Iksa yang menganti jawabannya, karena ia tak ingin ketahuan bahwa ia tadi memuji kecantikan Tita.


Iksa kemudian meraih tangan Tita dan mengecupnya, Tita sangat syok “Rudy sedang memperhatikan kita, bersikaplah se romantis mungkin”.


“Aduh pasangan yang mau menikah memang sangat mengemaskan ya, kalian sudah tidak sabar tenang lah, sebentar lagi kalian akan menikah” ucap Rudi sambil terkekeh.


Tita bergegas masuk kembali ke ruang ganti untuk menukar pakaiannya, Iska masih berdiri di tempatnya tadi dan menahan rasa sakit, kakinya terasa berdenyut, ternyata kuat juga tenaga gadis itu. Setelah mereka selesai berganti pakaian mereka pun keluar meninggalkan butik.


Tak sampai disini perjalanan mereka hari ini, Tita merengek kepada Iksa, mengajaknya untuk sekalian membeli barang-barang yang akan digunakan untuk seserahan. Sebenarnya di sini Iksa sudah merasa sangat lelah dan malas ia menyarankan agar barang seserahan pesan online, atau nanti suruh orang untuk mencarikan. Tapi di sini Tita tidak mau karena menurutnya barang seserahan haru di pilih dari apa yang dia suka, agar terpakai nantinya.


Setelah beberapa menit berlalu mereka pun akhirnya sampai di rumah. Tita sudah merasakan penat yang menggelayuti tubuh nya, ia segera bergegas menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Iksa juga sudah merasa lelah dengan aktifitasnya seharian ini, dari toko cincin ke butik ditambah lagi keliling seharian ke beberapa toko barang- barang yang akan digunakan untuk seserahan.


Di kamar Tita sudah memasuki kamar mandi terdengar suara kucuran air shower yang dirasa berhasil menyegarkan tubuh Tita. Setelah itu ia keluar masih berbalut dengan Bathrobe putih dan handuk yang melilit di kepalanya. Ia duduk di meja rias dan menatap pantulan wajahnya dalam cermin. Seharian ini Tita sangat sibuk dengan semua persiapan pernikahannya sehingga ia lupa untuk memberi kabar pada Dio.


Dilihatnya layar ponselnya menunjukan pukul dua puluh dua lebih empat puluh lima menit. Ia sedikit bimbang apakah ia harus menelfon Dio, tapi ia juga takut kalau malah menggangu jam malam Dio, dia kan baru datang dari bandung. Ah tapi Tita merasa rindu dengan suaranya, akhirnya ia putuskan untuk menghubungi Dio.

__ADS_1


Berulang kalai Tita melakukan panggilan. Hasilnya nihil tidak ada satupun panggilan yang di jawab oleh Dio.


“Mungkin dia sudah tidur karena memang kelelahan hari ini, besok aku akan mencoba menghubunginya lagi.” Dengan suara lirih.


Tita tiba- tiba merasakan perutnya bergemuruh, ia terlalu asik berbelanja tadi sehingga lupa untuk makan. “Gara-gara si Iksa ni tadi suruh aku buru- buru, jadi lupa kan belum makan” Gumam Tita.


Tita buru-buru mengganti Bathrobe nya dengan piyama tidur, ia bergegas menuruni anak tangga dan mengendap- endap menuju dapur. Ia membuka kulkas tidak ada makanan apa pun di sana. Ia ingin membangunkan si mbok tapi tidak tega karena sudah malam.


“Ah mungkin makan mi instan saja ya, yang mudah bikinnya” gumam Tita lirih.


Tita mencari- cari dimana letak mi instan akhirnya ketemu, ia membuat mi instan rasa ayam bawang, aroma mi instan itu menyeruak ke seluruh rumah, hingga tercium sampai ke kamar Iksa.


Bau mi instan itu menggugah rasa lapar Iksa yang kebetulan dari tadi pagi juga belum makan, Iksa kemudian keluar dari kamarnya ia berjalan menuju dapur, untuk melihat siapa yang membuat mi instan jam segini.


Ia berjalan perlahan mengintip ke bagian dapur, dilihatnya Tita sedang menuangkan mi ke dalam mangkok, tanpa sadar perut Iksa berbunyi, dan mengagetkan Tita.


“ Ah kamu lapar juga?” Taya Tita memandang ke arah Iksa.


“ Tidak aku tidak lapar” elak Iksa.


“ Oh tidak lapar, tapi apa bunyi menggelegar tadi? Mau aku buatkan mi instan juga?”


“ Tidak usah aku memang tidak lapar, lagi pula mi instan juga tidak sehat” gruuuk tiba-tiba perut Iksa kembali berbunyi.

__ADS_1


Tita menghampiri Iksa dan menyodorkan semangkuk mi instan yang telah di buatnya “ Makan lah, aku tau kamu lapar, tak perlu malu, aku akan membuat satu lagi untuk ku”. Akhirnya Iksa pun menerima semangkuk mi instan yang di sodorkan Tita dan memakannya.


__ADS_2