Same Love You

Same Love You
Sepakat


__ADS_3

“Ingat Tapi kita hanya bersandiwara menjadi suami istri, di depan keluarga kita, dan ingat sekali lagi jangan mengharapkan apapun dari pernikahan kita ini, karena aku tidak akan pernah jatuh cinta kepada mu!” Kata Iksa dengan penuh percaya diri.


“Tentu saja akan aku ingat, lagipula aku juga sudah memiliki pujaan hatiku sendiri. Pernikahan ini hanya sebuah sandiwara ya setidaknya kita sudan memenuhi kesepakatan kedua orang tua kita”sahut Tita.


“Sepertinya sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Kalau begitu saya permisi” kata Tita yang bangkit dari duduknya dan segera melangkah pergi meninggalkan Iksa di ruangan itu.


Ikas tersenyum rupanya gadis itu sangat percaya diri. Baguslah ketika tidak akan ada cinta di antara kami. Semua akan berakhir sempurna seperti harapan ku.


Didalam kamar Tita mulai menyibukkan diri menata barang-barangnya. Hanya beberapa minggu saja tapi ia merasa seolah-olah akan tinggal bertahun-tahun di rumah ini.


Terdengar bunyi ketukan pintu yang membuat Tita kaget. Tampak serang wanita paruh bayah memberikan minuman dan camilan.


“Ah letakan saja di sana” kata Tita sambil menunjuk meja yang terletak tak jauh dari ranjangnya.


“Baik, saya permisi keluar dulu non” setelah meletakan minuman dan camilan wanita paruh baya itu segera meninggalkan kamar Tita.


Ponsel Tita tiba-tiba berdering ketika ia lihat nama yang tertera di panggilan itu adalah Nama Dio dengan lambang hati di sampingnya. Tita pun menghentikan aktivitasnya. Dan mengangkat telfon tersebut.


“Iya halo Dio, ada apa?” Tita yang buru-buru mengangkat panggilan Dio.


“ Ada kabar baik Tit, kita bisa bertemu mulai minggu depan” kata Dio dari samping ponsel suaranya terdengar begitu riang.


“Mingu depan?, Kenapa?” Tanya Tita memastikan.


“ Iya minggu depan aku akan ke Jogja untuk persiapan kuliah di sana”


“Oh begitu” Jawab Tita masih agak bingung.

__ADS_1


“ Iya tunggu kedatangan ku ke Jogja ya Tit, dah ku tutup dulu telfonnya” Dio segera mematikan panggilannya dia hanya ingin memberikan kabar kepada sang pujaan hati kalau mulai minggu depan mereka bisa bertemu secara langsung, untuk saling menuntaskan rindu.


Belum sempat Tita berbicara telfon itu sudah terputus, gelisah rasanya hati Tita memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya antara dia dan sang pujaan hati itu. Dia mulai kebingungan bagaimana cara ia menjelaskan tentang semua kejadian ini kepada Dio.


Tita berjalan mondar-mandir kebingungan, kemudian ia menengok keluar jendela terlihat Iksa sedang berjalan keluar rumah, dan memasuki mobilnya.


“Pergilah yang jauh agar aku bisa tenang” gerutu Tita sambil mengamati pergerakan mobil Iksa.


Tita kemudian kembali terduduk di tepi ranjangnya sambil mengamati desain interior di kamarnya, dominan dengan warna abu-abu sesuai dengan warna kesukaannya.


Sasaran Tita selanjutnya adalah sang ibu. Belum lama meninggalkan rumah ia sudah kangen degan ibunya. Tita memencet nomor telfon ibunya ia menunggu telfon itu tersambung.


“Ma aku kangen sama Mama” seru Tita melalui telfon itu.


“Ya ampun baru berapa jam ini, masa sudah kangen sama mama” Jawab sang Ibu.


“Iya ma karena ini tempat baru kadi aku belum terbiasa” sahut Tita.


Tita terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab. “Gak tau ma, kan baru beberapa jam juga ketemunya”


“Ya udah gak papa nanti juga terbiasa, ingat pernikahan mu sebentar lagi jangan macam-macam”


“Iya ma siap, mama udah mau berangkat ke Bandung?”


“Ini masih di perjalanan sayang”


“Ya udah ma kalau gitu hati-hati”

__ADS_1


“Iya sayang” suara terakhir yang terdengar di ujung telfon sebelum akhirnya telfon itu terputus.


Tita menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, tak terasa buliran air matanya mulai jatuh perlahan-lahan. Kenapa hidupnya jadi serumit ini apakah tidak ada jalan keluar untuk dirinya?. Hujan turun dengan deras petir Menyambar-nyambar, Tita tersentak mendengar suara petir. Buru buru Tita mencari bantal untuk menutup telinganya dan memasukan dirinya kedalam selimut.


Sebenarnya Tita sangat takut dengan suara petir, di balik selimut itu tita menangis terisak sambil memangil mama, papa, dan uti nya. Tak selang beberapa lama Tita sudah tertidur pulas karena suara petir juga sudah tidak terdengar.


Pintu kamar Tita kebetulan tidak terkunci. Seorang mendorong pintu kamar Tita sampai terbuka terlihat sesosok pria muda di ambang pintu itu. Ia berjalan mendekati Tita dilihatnya gadis itu sudah meringkuk pulas di balik selimut.


Iksa memastikan bahwa Tita sudah tertidur pulas, setelah memastikan Tita benar-benar tertidur pulas Iksa kemudian melangkah keluar dari kamar Tita. Iksa berjalan menuju kamar tidurnya ia tentunya juga merasa lelah di hari yang berat ini.


Setelah memasuki kamarnya Iksa bergegas untuk mandi, dan berganti pakaian selesai beres-beres ternyata kantuk Iksa tiba-tiba sirna. Iksa mengambil buku bacaan untuk ia baca, agar lebih cepat untuk tertidur. Sudah sekitar dua puluh menit Iksa membaca bukunya belum juga rasa kantuk itu menghampiri. Akhirnya Iksa memutuskan untuk turun dari ranjangnya, berjalan keluar kamar, dan menuruni anak tangga untuk menuju ruang TV. Dihidupkan TV itu di gonta- gantinya ke beberapa chanel yang ia inginkan.


Tiba-tiba terdengar suara yang berisik dari arah dapur Iksa berpikir bahwa itu adalah mbok Nah yang menyiapkan bahan makanan untuk besok, Iksa kembali memperhatikan layar Tv nya tanpa memperdulikan suara berisik di dapur.


Prang terdengar suara piring pecah dan suara teriakan dari Tita dari arah dapur. Iksa bergegas bangun dari tempat duduknya dan berlari ke arah dapur di temui nya gadis yang tadi tertidur pulas itu sudah berada di dapur, dan membuat seluruh dapur berantakan.


“Kamu ngapain lagi malam-malam kayak gini menghancurkan dapur” kata Iksa.


“Ini mas aku tadi tiba-tiba lapar, aku buka kulkas gak ada makanan yang bisa di makan, jadi mau bikin sendiri” kata Tita dengan takut-takut.


“Aduh kamu ini ada-ada aja, kalau kamu lapar ya tinggal bangunin mbok Nah kamarnya ada di ujung pojok kanan, suruh dia buat bikinin kamu makanan”


“Iya mas Tita minta maaf, Tita kan gak tau” Sambil berjongkok untuk membereskan pecahan piring.


“ Kamu mau ngapain, udah pecahan piringnya biar di beresin sama mbok Nah sana kamu duduk di meja makan aja. Ku panggil kan mbok nah. Iksa berjalan menuju kamar mbok nah, tapi beberapa detik kemudian berbalik lagi menghampiri Tita di meja makan. Kamu mau makan apa?” Tanya Iksa kepada Tita.


“Nasi goreng aja mas” Iksa pun membalikan badannya dan kembali berjalan menuju kamar mbok Nah, ia membangunkan mbok Nah dengan mengetuk pintunya secara perlahan. Iksa memerintahkan mbok Nah untuk membersihkan pecahan piring yang ada di dapur, dan membuatkan Tita nasi goreng.

__ADS_1


Iksa kemudian kembali berjalan ke ruang TV dan mematikan TV nya, di liriknya Tita masih duduk termenung di meja makan menunggu nasi goreng buatan mbok Nah.


Dasar gadis pembuat onar, baru sehari di rumah sudah buat dapur berantakan. Gerutu Iksa dalam hati yang kemudian melangkah menaiki tangga untuk menuju kamar tidurnya.


__ADS_2