Same Love You

Same Love You
Hari Ketiga


__ADS_3

Dua hari sudah Tita mengurung diri di kamarnya, berbagai wejangan dan ucapan semangat telah di terimanya dari orang tua dan para sahabatnya yang kebetulan kemarin juga menjenguk Tita. Pada pagi hari dihari ketiga ini Tita menata hatinya, dan mencoba mengusir segala kesedihannya. Ia memantapkan hati untuk segera bangun dari tempat tidurnya dan kembali menjalankan aktifitas seperti biasanya.


Pagi ini kedua orang tua Tita sudah duduk di meja makan. Mereka sengaja tidak memangil Tita untuk sarapan bersama, ya mereka memberikan ruang untuk Tita agar bisa mengatasi kesedihannya.


Terdengar suara langkah kaki perlahan menuruni anak tangga, di tengok nya ruang makan tita mendapati kedua orang tuanya sudah duduk di meja makan. Kedua orang tua Tita tersenyum melihat Tita menuruni anak tangga, dan berjalan menuju meja makan. “Sudah tidak sedih lagi anak papa?”. Tita masih engan untuk menjawab pertanyaan sang ayah.


Sang ayah kembali melontarkan pertanyaan lain mencoba mengajak sang putri untuk berkomunikasi “ Papa yakin anak papa hebat, karena sudah mampu mengatasi semua rasa sedihnya”. Ibu Tita pun menimpali perkataan sang ayah “Iya dong anak mama kan yang paling hebat” sambil tersenyum.


Tita pun tersenyum mendengar ucapan kedua orang tuanya, Tita merasa beruntung sudah memiliki orang orang tua yang pengertian seperti mereka. “Pa ma makin banyak ya sudah mau sabar menghadapi Tita, sudah mau terus mensuport Tita” perkataan Tita kepada kedua orang tuanya dengan mata berkaca.


“ Iya sayang, sudah ayo kita makan, nanti baru kita ngobrol lagi” kata sang ibu. Mereka pun akhirnya melanjutkan sarapan pagi itu dengan perasaan senang dan haru. Selesai sarapan pagi mereka menuju ruang TV untuk berbincang-bincang mengenai sekolah Tita selanjutnya.


Ayah Tita sengaja mengambil cuti dari pekerjaannya karena inggin menemani, dan mensuport anak semata wayangnya yang tengah mengalami dilema sekolah.


Di ruang TV itu mereka mulai bercakap-cakap santai akhirnya mereka sampai kepada percakapan inti yaitu mengenai pemilihan sekolah Tita. Karena Tita tidak di terima di sekolah impiannya dia pun menerima saran dari sang ibu untuk melanjutkan sekolahnya di SMA X di kota Yogyakarta.


Di hari berikutnya tibalah hari di mana Tita harus bersiap-siap untuk berangkat ke Yogyakarta. Segala persiapan pun telah siap semua barang keperluan Tita sudah di masukan kedalam koper. Tak lupa Tita berpamitan kepada kedua sahabatnya melalui panggilan video dari telfon genggam. Kedua sahabatnya meminta maaf karena tidak bisa mengantar kepergian sahabatnya itu.


Keluarga kecil itu mengobrol dengan hangat di sepanjang perjalanan. Kedua orang tua Tita selalu memberikan nasehat yang sama kepada putrinya untuk menjaga diri, patuh sama nenek, dan bla....bla...bla....wejangan biasa lah yang selalu di ucapa kan para orang tua yang akan melepaskan anaknya untuk tinggal sendiri. Ya walaupun gak benar-benar sendiri karena masih ada nenek dan sang paman yang akan menjaganya selama di Yogyakarta.

__ADS_1


Tibalah mereka ke tempat tujuan yaitu kota Yogyakarta, Tita tak asing dengan suasana ini suasana yang hampir sama dengan suasana rumahnya, tak jauh beda. Mobil sedan itu memasuki halaman rumah. Di lihatnya sang nenek sedang duduk di teras rumah dengan memangku sekor kucing gemuk.


“Uti” teriak tita sembari keluar dari mobil dan menghampiri sang nenek. “Eh cucu nenek yang cantik sudah sampai” perkataan sang nenek yang senang melihat kedatangan rombongan keluarga kecil itu.


“Bagaimana perjalanan nya, lancar?” Tanya nenek kepada anak dan menantunya yang sedang menurunkan barang-barang dari bagasi mobil. “Lancar ma” jawaban ayah Tita kepada sang ibu sambil melemparkan senyum. Akhirnya mereka sekeluarga masuk ke dalam rumah. Ayah Tita berbincang dengan sang ibu memperjelas maksud dan tujuannya kepada sang ibu. Seperti yang ia katakan di telfon tempo hari lalau, ia ingin menitipkan sang putri untuk sekolah di Yogyakarta.


Setelah lama mereka berbincang tibalah waktunya makan malam, mama tita muncul dari balik tembok dapur bersama mbok Sumi. Mereka membawa beberapa lauk dan sayur. Mama Tita bergegas menuju ruang keluarga untuk mengajak mereka semua makan malam. “Pa, buk makan malamnya sudah siap, ayo makan dulu. Loh Tita di mana?”


“Di belakang tadi sama si elmo” elmo kucing gemuk putih peliharaan sang nenek. Ibu Tita bergegas menuju ke halaman belakang untuk memangil Tita agar ikut makan malam.


Berkumpul keluarga itu di ruang makan. “ Loh om Diki mana uti kok dari tadi Tita belum liat?” Pertanyaan yang dilontarkan Tita secara spontan kepada sang nenek. “Om kamu itu kalau sudah main sama teman-temanya suka lupa waktu….” Belum selesai nenek berbicara. Munculah Diki dan Iksa dari belakang. Diki tiba-tiba menyahut omongan sang ibu “waktu apa ma, waktu pulang maksudnya, gak kok aku selalu pulang tepat waktu” dengan nada bercanda.


“Ayo Iksa ikut makan juga” ajakan nenek Tita kepada pemuda tampan yang sebaya dengan pamannya itu. Iksa pun menarik kursi di sebelah Diki dan ikut menikmati makan malam.


Iksa tidak perlu mengenalkan diri lagi kepada keluarga itu, karena memang Iksa adalah teman sedari kecil Diki yang suka main ke rumah. Jadi mereka sudah biasa dengan kehadiran Iksa.


“Ngomong-ngomong gimana progres kuliah mu dik?” Tanya mama Tita untuk memecah kesunyian makan malam ini.


“Ya gitu lah mbak, seperti kuliah pada umumnya” sambil menyendok makanan dan memasukan ke mulutnya.

__ADS_1


“Aduh mbak gak tau kuliah pada umunya tu kayak gimana” sambil terkekeh kecil.


“Kalau Iksa sendiri papa mama sehat?” Tanya mama tita kepada Iksa.


“Sehat mbak. Mau mampir dulu nanti ke rumah, mbak mas kan jarang banget ke Jogjanya ini?” Kebetulan rumah Iksa hanya berjarak beberapa blok dari rumah nenek Tita.


“Haduh kok gak bisa ya Sa ini mas dan mbak nanti malem langsung harus pulang. Besok mau ada rapat siang yang gak bisa di tinggal. Salam aja buat mama papa” Jawaban ayah Tita kepada Iksa.


“Iya mas mbak” jawab Iksa.


“Dalam rangka apa ni mas mbak, tumben ke Jogja?, biasanya juga cuma pas libur lebaran” tanya Diki kepada kedua kakaknya itu.


“Loh mama belum bilang kalau Tita mau sekolah di sini” jawab ayah Tita.


“Oh itu, sudah kok. Kan sekolah masih di mulai minggu depan, ku pikir dateng ke sini nya bakal mepet gitu harinya”


“Ya kan Tita juga perlu pembiasaan diri di lingkungan baru juga” jawab sang kakak ipar.


“Sudah-sudah ini makan kok malah ngobrol terus, gak selesai-selsai nanti makannya” ucapan nenek Tita yang memotong semua percakapan itu. Akhirnya mereka meneruskan makan malam itu tanpa suara hanya terdengar suara dentingan sendok yang bertemu dengan piring.

__ADS_1


* Uti \= Nenek / Simbah Putri ( Bahasa Jawa).


__ADS_2