
" Memang apa yang ku lakukan?" Kata Iksa sambil melepas kancing kemejanya.
" Itu tadi juga kenapa sih kamu langsung menghampiri aku dan kak senior ku lalu marah - marah secara tiba - tiba, kenapa sih kamu selalu bersikap begitu?".
" Apa?" Tanya Iksa.
" Emang kamu punya dendam apa sih sama aku, kok resek banget jadi orang?".
Iksa berhenti tepat di depan ruang kerjanya dan Tita masih mengekor di belakangnya.
" Kamu dan mulut mu ini jangan ngomong yang aneh -aneh, cepat masuk kamar mu sana" Iksa Menahan kepala Tita dengan jarinya karna terus mengikuti Iksa.
Aduh ni anak gak mau balik ke kamar dan mau ikut aku masuk. Tita terus bertahan dari dorongan jari Iksa.
" Hey kau mau melihat ku lepas baju di sini ya?" Kata Iksa.
" Apa sih jawab dulu pertanyaan ku".
" Apa?" Iksa membalikan badanya dan melangkah ke ruang kerja sambil meneruskan membuka semua kancing bajunya.
" Jangan - jangan kamu beneran suka sama aku sejak dulu ya" Kata Tita.
Iksa sedikit kaget dan terperanjat mendengar ucapan Tita.
" Bener kan kamu suka aku dari dulu?".
" Apa...apa kau bertanya aku menyukaimu sebagai perempuan?".
" Iya lah".
" Aduh mimpi mu ketinggian bocah, aku memang berjanji akan menjadi suami yang bertanggung jawab, dan membuat mu jatuh hati pada ku...tapi untuk memandang mu sebagai wanita, kau belum bisa masuk kriteria wanita dewasa kan". Kata Iksa dengan percaya diri.
" K...kamu gak suka sama aku?, syukurlah kalau begitu" Kata Tita yang agak malu dan panik.
" Aku kan udah bilang tadi, kamu mengharapkan akan terjadi apa di hubungan kita ini?".
" Iya..iya aku gak mengharapkan apa - apa".
" Yakin?" Iksa mendekatkan wajahnya ke wajah Tita.
" Ah iya".
' Ya sudah kalau begitu kau tenang saja tak usah terlalu banyak berfikir".
__ADS_1
Aduh ngapain sih Tit kamu nanyain hal ini ke orang yang narsis begini, pasti bakalan di permalukan kayak gini kan ujung - ujungnya. Kata Tita di dalam Hati.
" Ba...Baguslah kalau begitu berarti kita akan tetap melakukan perceraian yang ada di kontrak sesuai rencana kita kan?".
" Rencana?" Tanya Iksa.
" Iya kan kalau sesuai rencana waktu pernikahan kita tinggal 4 tahun 3 bulan lagi, saya cuma khawatir kalau kamu benar - benar menyukai ku, tapi aku sangat bersyukur kalau memang kamu tidak menyukai ku" Kata Tita sambil tersenyum.
Apa katanya tadi dia sangat bersyukur bahwa aku tak menyukainya.
" Kan aku juga setahun lagi lulus kuliah, saat semua berakhir aku pastinya harus menyiapkan semua kebutuhan untuk menunjang kehidupan ku kedepankan".
" Oh jadi maksud pertanyaan mu yang berputar - putar dari tadi itu hanya takut kalau aku benar - benar menyukai mu, kehidupan dan kebebasan mu akan terganggu begitu?".
" Bukan begitu aku cuma kepikiran kalau kita hidup berdua begini terus pasti kita akan kesulitan kan, apa lagi kalau dari salah satu pihak ada ayang menyukai pihak lain pasti akan sanga menyulitkan bukan!".
" Jadi mari hidup rukun sampai saat itu tiba".
" Keluarlah" Kata Iksa dingin.
" Eh?".
" Ku bilang keluar" Kata Iksa sambil melepas kemeja yang ia Kenakan.
Iksa melempar kemejanya secara kasar.
[ Bukan begitu aku cuma kepikiran kalau kita hidup berdua begini terus pasti kita akan kesulitan kan, apa lagi kalau dari salah satu pihak ada ayang menyukai pihak lain pasti akan sanga menyulitkan bukan ].
[ Jadi mari hidup rukun sampai saat itu tiba ].
Kata - kata Tita yang terus terngiang - ngiang di benak Iksa.
Dasar bocah tidak berperasaan. Kata Iksa dalam hati.
Sementara itu di kamar tita. Ia sudah selesai mandi dan sedang ganti baju sekarang, di lihatnya timbangan berat badan yang tergeletak di lantai, tita iseng untuk menimbang berat badanya.
Ah apa ini lima puluh kilo kenapa sih bobot ku naiknya cepat, aku harus mulai diet lagi deh besok. Masak cuma baru beberapa hari udah naik sekilo begini sih.
[ Aduh mimpi mu ketinggian bocah, aku memang berjanji akan menjadi suami yang bertanggung jawab, dan membuat mu jatuh hati pada ku...tapi untuk memandang mu sebagai wanita, kau belum bisa masuk kriteria wanita dewasa kan ]. Kata - kata Iksa yang terus teringat di benak Tita.
Huh meg gak suka harusnya ya tinggal bilang gak aja kan kenapa harus bicara begitu segala sih tu orang. Padahal kan intinya akau cuma naya dia suka sama aku apa enggak cukup jawab dengan satu kata aja, kenapa harus di jawab panjang kali lebaran ke sini makin nyebelin ya tu orang. Aduh udah deh Tit lebih baik aku tidur aja kan sekarang dari pada makin banyak mikirin dia.
Tita mematikan lampu kamarnya dan bergegas untuk tidur.
__ADS_1
[ Aduh mimpi mu ketinggian bocah ].
[ untuk memandang mu sebagai wanita ].
[ kau belum bisa masuk kriteria wanita dewasa kan ]. Penggalan kata - kata Iksa yang terus terngiang dan menjadi penghantar tidur bagi Tita.
Pagi hari kemudian.
Di kantor Iksa.
" Per,isi pak".
" Ya masuk".
" Bapak ini ada undangan untuk bapak'.
" Ya taruh saja, akan ku periksa nanti"
" Baik pak saya taruh di atas meja kalau begitu saya keluar dulu".
Iksa memeriksa undangan tersebut, ternyata undangan tersebut adalah undangan acara pernikahan kakak sepupunya yang akan di adakan nanti malam.
Iksa kemudian memotret undangan tersebut dan mengirim kanya kepada Tita.
Iksa { Undangan dari kakak sepupu, nanti malam kau juga harus ikut, jadi setelah kuliah langsung pulang gak usah keluyuran }.
Tita { Baik ].
Iksa { Oh usahakan kamu harus sudah siap saat aku tiba di rumah agar kita bisa langsung berangkat, aku tak mau kalau harus menunggu mu lama }.
Tita { Iya - iya aku tau, aku akan bersiap lebih dulu }.
Malam hari di Iksa dan tita sudah berada di rumah mereka sedang bersiap untuk pergi ke acara pernikahan kakak sepupu mereka yaitu Samuel.
Iksa Sedang duduk di sofa sambil membetulkan dasinya.
" Baiklah aku sudah siap, mari berangkat" Tita.
Tita yang mengenakan dress merah marun selutut, dan sepatu hak tinggi, serta rambut yang di tata rapi itu nampak anggun dan dewasa.
Iksa sempat terbengong takjub melihat Tita yang tak pernah berdandan itu tiba - tiba tampil dengan riasan.
" Kamu dandan?".
__ADS_1
" Iya lah kan ini acara pernikahan kakak sepupu, semua keluarga besar pastinya akan berkumpul di sana kan?, masak saya mau tampil apa adanya dan sederhana, apa yang kan di katakan para tamu nanti kalau melihat penampilan saya.., ah sudah lah lebih baik sekarang kita segera berangkat".