
Malam ini adalah malam pertama, sekaligus malam perdana Tita tidur sekamar dengan Iksa setelah keduanya selesai mandi dan merasa sudah lelah untuk adu mulut. Tita yang merebahkan diri di samping Iksa tidak bisa memejamkan matanya kasur yang empuk pun terasa bagaikan batu bagi Tita. Aroma parfum Iksa yang memenuhi ruangan tersebut justru membuat Tita terjaga dan tidak bisa tertidur.
Dilihatnya Iksa sudah tertidur pulas, Tita bergerak pelan-pelan di bukanya laci meja dikeluarkannya ponselnya ingin rasanya Tita mengeluh kepada kedua orang tuanya, namun apa daya keluhan Tita tampaknya sangat tak berati bagi kedua orangtuanya.
Tita menghela napas panjang meratapi nasib yang sudah menimpanya ini, cita-citanya seakan kandas, pergerakannya serasa terbatas. Ditaruhnya lagi ponsel Tita kedalam laci, di urungkan niat Tita untuk menghubungi orang tuanya. Tiba-tiba terasa pergerakan di samping Tita, sejenak ia menghentikan napasnya dan menoleh ke arah Iksa, Tita takut bahwa Ia akan membangunkan Iksa dengan helaan nafasnya.
~
Sama seperti hari-hari sebelumnya Iksa bangun lebih pagi dari alarm yang ia pasang si ponselnya, setelah merenggangkan tubuh sejenak, dilihatnya tita sudah duduk di meja rias sambil menyisir rambutnya.
Iksa hanya menatap Tita sekilas kemudian masuk menuju kamar mandi, setelah lima menit kemudian, Iksa keluar dari dalam kamar mandi. Lelaki muda yang menampakan tubuh sempurna berjalan keluar dari kamar mandi dengan hanya mengunakan sehelai handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya, ia sama sekali tak memperdulikan keberadaan Tita dalam ruangan itu.
“ Kenapa kamu tidak segera mandi , bukanya tiap hari rabu ada kelas pagi si kampus mu, cepat mandi akan ku antar kau sampai kampus” Kata Iksa.
Tita menatap Iksa heran keheranan tumben tidak marah-marah tumben dia mau mengantar ku ke kampus.
“ Hey kau mendengar ku bukan?”
“ Ah- Iya aku dengar” Jawab Tita yang kemudian buru-buru menuju kamar mandi.
Di dalam mobil menuju kampus “ hei ingat ya akting kita di depan keluarga harus sempurna jangan sampai mereka mencurigai kita, kalau sampai akting mu membuat sandiwara kota ini terbongkar, kamu tanggung akibatnya” kata Iksa.
“ Bapak Iksa yang terhormat sepertinya terbalik, harusnya kata- kata tersebut aku tujukan kepada mu, kamu dan kekasihmu itu bisa saja kalian yang mengacaukan rencana ini” Jawab Tita sedikit kesal.
Sampai di depan kampus Tita kemudian Tita turun.
“ Hei gadis tengik jangan lupa nanti sore aku jemput, kita akan makan malam di rumah keluarga ku, jangan sampai kau kabur dengan kekasih kecilmu itu” Kata Iksa dari dalam mobil yang kemudian melajukan mobilnya tanpa mendengar jawaban persetujuan dati Tita.
Jam kampus sudah selesai Tita menunggu Iksa dengan malas di depan pintu gerbang kampus sambil menggerutu.
__ADS_1
“ Menyebalkan sekali katanya mau menjemput ku, aku sudah menunggu lebih dari setengah jam tak muncul juga batang hidungnya” Gerutu Tita yang kesal.
“ Tau gitu tadi aku pulang sendiri aja naik OJOL “
Dari kejauhan lksa melihat Tita yang berdiri patuh di depan pintu gerbang kampusnya, tertawa kecil “ ku kita dia tidak akan menunggu ku, ternyata cukup penurut juga dia” kata Iksa dalam hati.
Tita yang melihat mobil Iksa dari kejauhan merasa sedikit lega, akhirnya setelah berlama-lama menunggu jemputan yang ia nanti - nanti datang juga, Tita memasuki mobil tanpa berkata apapun, namun dati raut mukanya sudah napak bahwa ia kesal terhadap Iksa.
Di perjalanan yang cukup panjang dan membosankan ini hanya terdengar suara musik yang mengiringi perjalanan mereka berdua tak satupun dari mereka yang berusaha memecahkan suasana agar terasa lebih nyaman.
Sampailah mereka berdua di rumah keluarga Iksa. “ Sekarang kita keluar, sepertinya keluargaku sudah menunggu kita di meja makan. Oke mari kita lakukan tugas kita masing-masing dengan sempurna” Kata Iksa.
Tita hanya mengangguk tanpa berkata sepatah kata pun.
“ Oke sekarang kita keluar, tapi aku ingatkan sekali lagi akting kita di depan keluarga harus sempurna tanpa celah” Lalu mereka berdua turun dari mobil.
“ Tunggu jangan masuk dulu “ Cegah Iksa yang kemudian menghentikan langkah kaki Tita.
Iksa mengulurkan tangan kirinya kepada Tita, mengisyaratkan Tita untuk segera menggandeng tangan kirinya sebelum memasuki rumah. Tita yang tidak mengerti dengan maksud Iksa hanya diam saja.
“ Setidaknya kita harua bergandengan tangan seperti ini di hadapan keluarga ku, kita kan baru saja menikah” kata iksa sambil meraih tangan Tita.
“ Eh memang perlu seperti ini, jangan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk menggandeng tangan ku ya” kata Tita.
Iksa malah makin melingkarkan tangannya si pinggul Tita dan menariknya makin dekat “ Hey jangan besar kepala, aku melakukanya karena takut sandiwara kita terbongkar” bisik Iksa lirih di telinga Tita.
Tita menegakan tubuhnya , seketika itu juga jantung Tita berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Bisikan Iksa membuat jantungnya berdebar tak karuan.
“ Mari kita masuk dan tunjukan kemesraan pengantin baru kepada semua orang” Goda Iksa kepada Tita.
__ADS_1
Selama makan malam berlangsung Ibu Iksa tak henti- hentinya mengajak Tita berbicara, ia sama sekali tak memperdulikan tatapan para anggota keluarga Iksa yang merasa terganggu dengan percakapan mereka berdua.
Makan malam ini di hadiri oleh semua anggota keluarga Iksa termasuk para tetua keluarga dan para saudara sepupu Iksa.
“ Kau harus menghabiskan seluruh makanan mu” Kata Ibu Iksa sembari menambahkan sepotong ayam bakar di atas piring Tita.
“ Bagaimana kegiatan mu hari ini, pasti di kampus banyak kegiatan ya” Kata Ibu Iksa.
“ Nah krena itu kamu harus makan yang banyak”
“ Ah mama, perutku yang kecil ini tidak mampu untuk menampung makanan sebanyak ini” di lihatnya piring dihadapannya yang penuh dan menggunung.
“ Kenapa tidak bisa, kamu kan sedang dalam masa pertumbuhan, jadi makan banyak itu tak masalah”
“ Mama ih bukan tumbuh ke atas nanti aku malah tumbuh ke samping” Celetuk Tita.
“ Tumbuh ke samping pun tak papa, toh kamu sudah laku, suami mu juga tetap akan mencintai mu meskipun tumbuh ke samping, benarkan Iksa?”
Pertanyaan sang mama yang tiba- tiba itu hampir saja membuat Iksa tersedak.
“ Iya- iya makanlah yang banyak, tumbuh ke samping pun tak papa, aku tetap akan mencintaimu” Jawab Iksa dengan nada mengejek sambil menatap Tita.
Tita menoleh ke arah Iksa dan memberikan tatapan yang mematikan. Tatapan itu seolah berkata awas ya kamu habis ini akan ku balas kamu. Terlintas sedikit ide licik di benak Tita.
“ Ah sayang kamu kan sayang banget ni sama aku, jadi kalau gitu ini kita bagi dua ya, kamu kan tau aku gak bisa makan banyak” Kata Tita dengan senyuman licik sembari memindahkan makan nya ke piring Iksa yang sudah setengah kosong.
“ Aduh pengantin baru ma memang lagi mesra-mesranya ya” celetuk saudara sepupu Iksa dari sebrang meja makan.
Makan malam pun selesai, Iksa dan Tita tak segera pulang ke rumah karena hari ini ada hal penting yang akan di bicarakan ayah Iksa kepada Iksa dan Tita. Ayah Iksa memberi tahu bahwa perusahaan mereka yang berada di luar negri mengalami masalah jadi mau tidak mau Iksa besok harus segera berangkat untuk mengurus masalah tersebut, dan entah akan memerlukan waktu berapa lama untuk menyelesaikan masalah perusahaan tersebut. Tita diberikan tawaran untuk ikut Iksa pergi keluar negri dan melanjutkan kuliahnya di sana namun Tita menolak dengan berbagai alasan dan pertimbangan.
__ADS_1