
Dio tiba di Yogyakarta sesuai dengan apa yang ia katakan kepada Tita, ia bergegas menuju ke tempat kos yang akan dia tempati selama di Jogja. Setelah sampai dan beres-beres Dio bergegas keluar lagi ia senang karena hari ini ia akan bertemu dengan sang pujaan hati ke sebuah kafe tempat janjian mereka sesuai apa yang telah mereka obrolkan di chat.
Dio memukul keras dinding dengan tangannya tapi tak sampai membuat tangannya berdarah. Ia marah dan kecewa dengan pengakuan Tita mengenai rencana pernikahannya.
“Aku memang bukan orang sekaya calon suami mu itu Tit” kata Dio merendah.
Tita menggenggam tangan Dio “Bukan itu maksud ku, aku tidak menginginkan pernikahan ini” kata Tita sambel berlinang air mata.
“Lalu kenapa kau menerimanya?!” Perkataan Dio dengan nada marah.
“Aku terpaksa, karena pernikahan ini sudah tertulis hitam di atas putih. Aku menghormati keputusan kedua orang tua ku” kata tita masih dengan terisak.
“Apakah kau masih mencintai ku?!” Tanya Dio.
“Ya aku masih sangat mencintaimu. Aku juga sudah bicara padanya, bahwa pernikahan ini hanya akan terjadi selama satu tahun” jelas Tita kepada Dio.
“Benarkah itu? Kau tidak berbohong pada ku?” Tanya Dio memastikan kembali.
“Tidak aku tidak akan membohongi mu. Aku dan dia telah membuat kesepakatan untuk hanya menjalankan pernikahan ini selama satu tahun. Setelah itu kami akan berpisah.” Kata Tita sambil menyeka air matanya.
“Kamu taukan bertapa susahnya perjuangan kita selama ini, aku tak mau apa yang kita perjuangkan selama ini menjadi sia…sia”
“Aku tau Dio aku minta kamu bersabar sebentar lagi saja” kata Tita meyakinkan dio untuk bersabar.
Setelah selesai bercakap-cakap dengan penuh haru Dio dan tita melanjutkan aktifitas makan mereka, dan membicarakan hal yang lebih menyenangkan untuk mengubur kesedihan mereka.
Di parkiran kafe tersebut tampak mobil Iksa yang sudah menunggu agak lama, gokil sekali dia mau mengantarkan calon istrinya untuk menemui pujaan hatinya.
“Sudah selesai melepaskan segala rindu mu?” Tanya Iksa kepada Tita yang baru saja memasuki mobil.
__ADS_1
“Ih apaan sih” sambil menepuk lengan Iksa.
“Aduh sakit, Neng. Ucap Iksa spontan. Ini kita jadi kan beli cincinnya?”
“Ya jadi lah makin cepat selesai persiapan pernikahan kita makin baik” ucap Tita.
Ya setidaknya selama satu tahun ke depan mereka harus sabar untuk tidak sering bertemu dengan pujaan hati masing-masing.
Sampailah mereka pada sebuah toko perhiasan yang besar dan megah. Tita keluar dari mobil yang kemudian di ikuti oleh Iksa di belakangnya, ketika memasuki toko tersebut para karyawan menyambut hangat mereka berdua.
“Lihat dan pilihlah, cincin mana yang kau sukai” Kata Iksa.
“Hem tak akan ada bedanya aku suka atau tidak” kata Tita setengah berbisik.
Seorang pelayan mendatangi mereka. “Silahkan sebelah sini ini adalah koleksi terbaik, bulan ini.”
Tita melihat cincin berlian yang bentuknya unik, ia mencoba mengambilnya dan menaruhnya kembali. Kemudian Tita kembali melihat-lihat cincin yang lain ia memilih cincin yang paling sederhana. “Ini saja” katanya.
“Iya yang ini saja, lagipula cincin hanya sebagi simbol kan” jawab Tita.
“Baiklah, mari Tuan dan Nona ke sebelah sini untuk mengukur jari, kebetulan barang ini sudah tersedia” kata pelayan sambil mengarahkannya ke samping.
Setelah selesai mengukur jari manis mereka, mereka berdua diminta untuk menunggu di ruang tunggu sampai cincin tersebut siap untuk dikemas. Tita bangkit dari tempat duduknya karena merasa sudah bosan menunggu, ia kembali berjalan jalan dan meliah-lihat ruang tunggu tersebut.
Tak lama kemudian pelayan toko tersebut menghampiri mereka berdua mengatakan kalau cincin yang mereka pesan sudah jadi. Iksa mengeluarkan kartu kreditnya. Ia membayar semua tagihan cincin pernikahan itu.
“Ayo kita pulang” kata Iksa kepada Tita.
Tita pun mengikuti langkah Iksa di belakangnya sambil berkata “Jangan lupa kita juga ada fitting baju pengantin hari ini”.
__ADS_1
“Kamu saja yang datang, siang ini aku juga ada janji dengan kekasih ku” Kata Iksa
“Gak bisa dong, tolong kerja samanya, aku juga mau hal-hal yang ribet seperti ini cepat selesai” Tita tiba-tiba menghadang Iksa di depa nya.
Mata Iksa memandang tajam ke arah Tita, Tita bisa merasakan aura mata marah itu seakan-akan bisa melubangi kepala Tita. Tita yang merasa bergidik ngeri segera memasuki mobil dan menutup pintu mobil dengan keras.
“Dasar gila kamu bisa merusak pintu mobil ku” teriak Iksa.
Tita tidak menangapi teriakan Iksa, ia duduk di dalam mobil dengan menatap ke arah luar jendela. Iksa sudah memasuki mobil dan duduk di sebelah Tita.
“Anak kecil pantas saja sikapnya bar-bar!” Seru Iksa
Tita memalingkan wajahnya ke arah Iksa, tatapan tita sangat mematikan seakan-akan bisa mencabik- cabik wajah Iksa.
“Kenapa melotot, mau ku cungkil bola mata mu” seru Iksa.
Tita mengigit lengan Iksa. Sampai Iksa meringis kesakitan.
“Rasakan, siapa suruh kamu bicara seenaknya!” Kata Tita.
“Aku bersyukur kita hanya menikah pura-pura, coba saja kalau aku benar-benar menikah dengan mu, dan kamu benar-benar menjadi istri ku. Seluruh badan ku pasti sudah babak belur dengan cubitan dan gigitan mu” kata Iksa sambil menstater mobilnya.
Iksa pun melajukan mobilnya menjauh dari toko perhiasan tersebut, kini tujuannya adalah sebuah butik untuk pengukuran pakaian pengantin mereka berdua. Ya Iksa mengurungkan niatnya untuk menemui kekasihnya karena Iksa berfikir bahwa benar perkataan Tita tadi makin cepat segala urusan yang ada sangkut pautnya dengan pernikahan mereka makin baik.
“Mau ke mana lagi sekarang, Nona” tanya Iska berpura- pura tidak tahu.
“Ke sarang harimau, mau ikut kamu?!” Kata Tita dengan nada sedikit meledek.
Tita memperhatikan Iksa yang sedang mengendarai kendaraanya sambil berkata “ Kamu pikir aku mau jalan dengan mu?, atau aku senang saat berjalan dengan mu? Hem jangan mimpi aku begini hanya agar urusan kita cepat di selesaikan. Sekali lagi mohon kerja samanya bapak Iksa yang terhormat!!!” Turun dari mobil dan menutup pintu keras-keras hingga terdengar suara brakkk.
__ADS_1
“Hey anak bar-bar bisa tidak kamu menutup pintu mobilnya pelan-pelan” seru Iksa dengan nada agak kesal.
Tita hanya diam dengan tangan yang di lipat di depan dada. Biasanya ia tidak pernah bersikap se menjengkelkan ini. Tapi hari ini dia benar-benar merasa kesal pada sikap Iksa, yang menurut Tita sifatnya ini sangat menjengkelkan. Padahal di sini kan mereka berdua sama-sama tersiksa, bisa gak sih Iksa lebih berusaha untuk segera menyelesaikan semua urusan yang merepotkan ini.