SANG PENAKLUK DUA DIMENSI

SANG PENAKLUK DUA DIMENSI
JOMBLO SEUMUR HIDUP


__ADS_3

Setiba nya di kaki gunung, Nurbaiti masih naik turun nafasnya.


"Ada apa dengan kamu, Nurbaiti? Kamu seperti sedang di kejar setan." tanya Kakek Braja Sewu.


" Biasa kek, aku habis berolahraga melawan segerombolan bandit.Beruntung, mereka tidak meminta kopi kakek." kata Nurbaiti seraya meletakkan barang- barang belanjaannya. Kakek Braja Sewu segera membukanya dan mencari barang titipan nya.


" Kakek, aku membelikan makanan lezat buat kakek Guru Braja Sewu." ucap Nurbaiti bersemangat lalu mencari makanan lezat yang dimaksudkan.


" Itu apa Nurbaiti? Makanan aneh seperti itu kakek tidak mau memakannya. Kamu habiskan saja sendiri. Kakek lebih suka singkong dan ubi rebus saja ditemani kopi hitam." kata Kakek Braja Sewu.


Nurbaiti dengan semangat mulai memakan makanan yang telah ia beli. Kakek Braja Sewu menatapnya heran.


" Jelaskan kepada kakek, berapa bandit yang telah menghadang kamu, Nurbaiti?" tanya Kakek Braja Sewu. Nurbaiti menghitungnya dengan kelima jarinya.

__ADS_1


" Hem, tujuh orang ada kek. Namun salah satu diantara mereka adalah seorang wanita. Dan asal kakek tahu, untuk perdana aku menggunakan jurus srigunting dengan tenaga dalam lima puluh persen." cerita Nurbaiti asal.


" Apa? Lalu bagaikan keadaan ketujuh bandit itu?" tanya Kakek Braja Sewu itu dengan terkejut.


" Aku tidak sampai membunuh dan menghancurkan tubuh mereka Guru! Aku hanya membuat mereka terpental hingga beberapa meter saja. Itu sudah cukup membuat mereka terluka dalam dan remuk tulang- tulang mereka." cerita Nurbaiti. Kakek Braja Sewu terpana dengan cerita Nurbaiti.


" Lain kali kamu boleh membunuh orang-orang seperti itu, Nurbaiti. Supaya tidak lagi kekacauan di atas bumi ini." sahut kakek Braja Sewu.


" Apakah gurumu Nyi Gusti Ruroh sering bercerita tentang surga dan taman Firdaus itu?" tanya kakek Braja Sewu penasaran.


" Tentu saja, Guru! Di sana tentu ada pangeran yang sempurna, tanpa dan gagah yang kelak disiapkan untuk pendekar wanita seperti aku yang selalu menegakkan kebenaran. Termasuk guru ku Nyi Gusti Ruroh yang sampai saat ini belum juga mau menikah." jelas Nurbaiti. Kakek Braja Sewu mengusap Jenggotnya yang putih.


" Kamu jangan mengikuti gurumu, Nyi Gusti Ruroh yang tidak mau menikah. Kamu itu cantik dan bodi kamu seksi berisi, semua pria tidak mungkin menolak kamu." kata kakek Braja Sewu.

__ADS_1


" Tidak Guru! Aku tidak akan menikah! Menikah itu merepotkan kek! Mengurus suami, mengandung, melahirkan lalu mengurus anak. Belum melayani suami yang terkadang banyak maunya. Repot kek! Lebih baik aku menjomblo seumur hidup." keluh Nurbaiti. Kakek Braja Sewu menepuk jidat Nurbaiti keras.


" Aduh, sakit Guru!" teriak Nurbaiti.


" Kamu itu berbicara seolah pernah melalui semua itu. Pengaruh Guru kamu Nyi Gusti Ruroh menyebabkan kamu tidak mau menikah. Suatu saat kalau kamu bertemu pria gagah, tampan, kaya kamu akan hidup lebih enak. Banyak pelayan yang melayani kamu. Kamu tidak perlu merawat anak kamu, biar pelayan kamu yang melakukan itu. Kamu hanya melayani suami kamu saja." jelas kakek Braja Sewu.


" Mana bisa seperti itu Guru!" sahut Nurbaiti.


" Pokoknya aku tidak akan menikah! Tugas ku hanya membasmi kejahatan di muka bumi ini. Aku akan mengibarkan bendera jomblo seumur hidup." kata Nurbaiti berapi- api. Kakek Braja Sewu terkekeh mendengar nya.


" Awas saja, jika kamu jatuh cinta dengan seorang pangeran dan kamu ingin menjadi istri nya. Telan lagi ludah kamu sendiri, Nurbaiti." sumpah kakek Braja Sewu. Nurbaiti melebarkan matanya mendengar sumpah gurunya.


" Kakek! Pokoknya aku mau Jomblo! Sekalipun ada laki-laki ganteng di hadapan ku yang jatuh cinta padaku dan mengemis cinta ku." ucap Nurbaiti.

__ADS_1


__ADS_2