SANG PENAKLUK DUA DIMENSI

SANG PENAKLUK DUA DIMENSI
TUGAS KECIL


__ADS_3

Kakek Braja Sewu masih lahap menyantap makanannya. Nurbaiti pun masih juga sama melahap habis makanan yang ada di sana. Siria sejenak tersenyum menyaksikan pendekar beda generasi itu sedang mengeksekusi hasil masakan nya.


" Masakan kamu boleh juga. Aku akan mengajari kamu bela diri dasar asal kamu memasakkan kami setiap hari." ucap kakek Braja Sewu. Siria tersenyum dan segera berlutut di kaki pria sepuh yang masih lahap menghabiskan makanannya.


" Terimakasih kasih kakek! Apakah ini artinya saya diangkat menjadi murid kakek dan diijinkan tinggal di sini?" ucap Siria masih memposisikan berlutut di depan kakek Braja Sewu. Nurbaiti tersenyum menatap gurunya yang terlihat masih acuh terhadap Siria.


" Tentu saja tidak semudah itu aku mengangkat murid. Aku hanya bilang akan mengajari kamu gerakan dasar bela diri. Bukan lantaran kamu mengira aku mengangkat kamu menjadi murid kamu. " sahut kakek Braja Sewu. Siria menegakkan kepalanya.


" Terimakasih kasih kakek! Walaupun gerakan dasar bela diri itu sudah menjadi keberuntungan bagi saya bisa dilatih secara langsung oleh pendekar hebat kakek Braja Sewu. Selain itu Terimakasih juga telah menampung saya di tempat ini. Saya berjanji akan lebih giat berlatih dan tentu saja akan membuatkan makanan yang lezat buat kakek Braja Sewu." kata Siria.

__ADS_1


" Apakah hanya kakek Braja Sewu saja yang kamu buatkan makanan yang lezat itu? Sedangkan aku kau biarkan menelan air lidahku sendiri lantaran melihat makanan yang lezat namun tidak boleh aku makan?" ujar Nurbaiti yang terlihat urat lehernya menjadi terlihat.


" Tidak kakak! Tentu saja, aku akan membuat makanan yang lezat itu untuk kakek Braja Sewu dan juga kakak Nurbaiti." sahut Siria serius. Nurbaiti bernafas lega setelah mendengar perkataan dari Siria. Kakek Braja Sewu tersenyum sinis ke arah Nurbaiti.


" Sekarang lakukan tugas kamu dengan cepat dan kita akan melanjutkan gerakan dan jurus srigunting dengan tingkatan berikutnya." perintah kakek Braja Sewu terhadap Nurbaiti.


" Lalu bagaimana dengan saya, kakek? Apa yang saya lakukan? Apakah saya juga akan memulai latihan hari ini?" tanya Siria.


" Siria, lakukan saja perintah dari kakek dan kamu jangan membantah nya. Pekerjaan sekecil-kecilnya itu ada maksudnya. Ini juga salah satu kepatuhan itu sendiri sebagai seorang murid." nasihat Nurbaiti.

__ADS_1


" Baik kak! Aku akan mengambil selimut itu dulu dan aku akan mencuci nya di sumber mata air." ucap Siria dengan segera bergegas masuk ke dalam gubuk dan mengambil selimut yang dimaksudkan oleh kakek Braja Sewu. Setelah mengambil selimut yang akan dicuci, Siria berlari kecil ke arah Nurbaiti.


" Di mana letak sumber mata air itu, kak?" tanya Siria.


" Ayo aku akan menunjukkan nya kepada mu karena aku juga hendak mengambil air dari sumber mata air itu untuk mandi,dan juga memasak." kata Nurbaiti. Dengan cepat Nurbaiti melesat dengan menarik tubuh Siria untuk menuju ke sumber mata air itu.


" Kak, kamu membuat aku terkejut." teriak Siria yang kini terbang bersama Nurbaiti ke arah sumber mata air itu.


Nurbaiti masih bolak-balik mengambil air di sumber mata air itu sedangkan Siria hanya berdiam di tempat sumber mata air itu untuk mencuci beberapa selimut dan ditambah pakaian kotor. Siria melihat kerja keras yang dilakukan Nurbaiti yang mengambil air di tempat itu sampai beberapa kali. Siria tidak bisa membayangkan jika dia sendiri yang melakukan nya.

__ADS_1


" Betapa sangat malunya diriku, aku hanya mencuci pakaian kotor ini saja sudah mengeluh. Bagaimana


dengan Nurbaiti yang tanpa mengeluh sedikitpun mengambil air di tempat ini sampai berkali-kali. Padahal beberapa drum di tempat tinggal itu lumayan banyak dan besar." pikir Siria sembari mengucek kain kotor itu.


__ADS_2