
Kakek Braja Sewu menemukan Nurbaiti tertidur di bawah pohon kelapa. Tampaknya setelah bertempur dengan sekelompok hewan buas tadi Nurbaiti sangat kelelahan. Dirinya tertidur tanpa memikirkan keselamatan nya di sana. Padahal dirinya saat ini masih berada di dalam hutan, di kaki gunung dekat sumber mata air. Kakek Braja Sewu yang menyadari kalau Nurbaiti tidak kunjung pulang ke gubuk nya mulai mencari- cari keberadaan Nurbaiti. Akhirnya Kakek Braja Sewu itu menemukan Nurbaiti tertidur di bawah pohon kelapa di dekat sumber mata air.
" Bocah ini sepertinya sangat kecapean. Banyak darah berceceran di sekitar ini. Rupanya ia habis diserang beberapa ekor hewan buas. Hebat juga ini bocah." gumam Kakek Braja Sewu. Kini kakek itu segera memindahkan tubuh Nurbaiti ke gubuk nya. Tubuh Nurbaiti melayang seperti mengikuti kakek Braja Sewu yang kembali ke tempat tinggal nya.
Setelah sampai di gubuk itu. Tubuh Nurbaiti segera diturunkan di balai seperti saung yang terbuat dari kayu dan bambu. Nurbaiti terlihat masih terlelap dari tidur nya. Timbul kejahilan dari kakek Braja Sewu supaya muridnya itu segera bangun dari tidurnya.
"Perampok! Tolong!!!" teriak kakek Braja Sewu. dengan keras dan lantang. Namun Nurbaiti masih belum bergeming dari tidur nya yang sangat pulas.
" Dasar bocah, ndablek! Tidur nya seperti b@@bi!" umpat kakek Braja Sewu.
__ADS_1
Kakek Braja Sewu itupun akhirnya kembali berteriak keras supaya Nurbaiti terbangun.
" Awas ular!! Ular berbisa Nurbaiti!!" teriak Kakek Braja Sewu. Namun kembali usaha membangunkan Nurbaiti telah gagal. Kakek Braja Sewu kembali mengumpat. Nurbaiti hanya menggeliat saja tatkala kakek Braja Sewu itu berteriak.
" Haduh, ini bocah lagi ngapain di alam tidur nya?" gumam Kakek Braja Sewu sembari memikirkan cara apa supaya Nurbaiti bisa cepat terbangun dari tidurnya. Kakek itu mulai menggelitik Nurbaiti pinggang nya dengan kayu panjang. Namun tidak juga tidak bergeming Nurbaiti dari tidur nya.
Nurbaiti mengucek matanya dan melihat sekeliling. Nurbaiti bangun dan membenarkan duduknya. Kakek Braja Sewu mendengus kesal. Karena melihat reaksi Nurbaiti ketika mendengar kalau ada pemuda tampan sedang menuju ke tempat itu, seketika langsung bangkit dari tidur nya.
" Mana kek, pemuda tampan yang kakek maksudkan?" tanya Nurbaiti sembari menguap lantaran sebenarnya dirinya masih sangat mengantuk. Kakek Braja Sewu seketika menepuk jidat nya sendiri lalu mendekati Nurbaiti menjitak dahinya.
__ADS_1
" Kamu ini giliran mendengar pemuda tampan langsung beranjak dari tidur mu. Kamu tidak takut jika ada perampok dan juga ular berbusa, hah?" protes kakek Braja Sewu.
" Bukankah ada kakek di dekat aku? Aku selalu percaya kalau kakek di dekat aku, kakek akan melindungi aku ketika tidur. Kakek memiliki tingkat kesaktian yang tinggi, tentu aku bisa dilindungi oleh kakek dari semua itu. Kakek Braja Sewu menarik nafasnya dalam- dalam.
" Ya sudahlah! Kamu makanlah dulu Nurbaiti! Setelah itu kita mulai berlatih dasar kembali setelah itu baru masuk ke jurus awal srigunting tingkat satu. " kata kakek Braja Sewu.
" Baiklah guru! Tapi aku akan mandi terlebih dahulu Guru! Badan dan juga pakaian aku terkena cipratan darah dari hewan buas yang tadi menyerah ku." cerita Nurbaiti.
" Pantas saja, kamu bau anyir darah hewan buas." sahut kakek Braja Sewu pura- pura tidak tahu.
__ADS_1