SANG PENAKLUK DUA DIMENSI

SANG PENAKLUK DUA DIMENSI
AWAL ITU


__ADS_3

Di sebuah kaki gunung terdapat bangunan rumah yang berbentuk kayu. Di sekelilingnya pohon- pohon besar mengelilingi rumah panggung itu. Terlihat dua wanita yang berbeda usia sedang berbincang. Gadis muda dengan wajahnya yang cantik bersama seorang wanita yang cukup renta namun tubuh nya terlihat masih kokoh dan kuat. Wanita muda itu seperti hendak pergi berkelana dan akan meninggalkan wanita renta itu. Mungkin saja wanita sepuh itu neneknya atau bisa jadi gurunya. Tampak dari penampilan kedua wanita itu adalah seorang pendekar namun beda generasi.


Sebut saja Nurbaiti, gadis muda nan cantik itu. Sedangkan wanita yang sepuh itu bernama Nyi Gusti Ruroh.


" Berangkatlah kamu dan jangan lagi ragu untuk melangkah. Perjalanan kamu masih panjang Nurbaiti. Aku akan datang setiap kali kamu mengalami kesulitan." kata Nyi Gusti Ruroh.


" Tapi guru!" sahut Nurbaiti dengan berat hati.


" Sejak kapan kamu menjadi cengeng, hah?" bentak Nyi Gusti Ruroh yang melihat Nurbaiti berkaca- kaca matanya.


" Guru, seribu kebaikan itu harus aku lakukan bukan? Sampai kapan aku bisa memenuhi semuanya? Sedangkan aku berjalan seorang diri untuk membasmi kejahatan di bumi ini." kata Nurbaiti seolah ragu dengan kemampuannya saat ini. Nyi Gusti Ruroh seketika menjadi marah. Nyi Gusti Ruroh langsung mengajak duel dengan Nurbaiti.


Nyi Gusti Ruroh mulai mengeluarkan energinya untuk menyerang Nurbaiti. Nurbaiti seperti pasrah dan tidak melawan atas serangan gurunya itu.


" Balas aku, bodoh! Jangan biarkan kamu lemah!" teriak Nyi Gusti Ruroh dengan kemarahan nya yang menyala.


Nyi Gusti Ruroh kini melemparkan senjata golok nya kepada muridnya. Dia ingin mengajak Nurbaiti untuk berduel dengan senjata. Akhirnya Nurbaiti mulai menangkis serangan- serangan yang dilancarkan oleh gurunya.


Prang


Prank


Suara kedua senjata itu kini mulai beradu. Antara guru dengan murid itu seperti benar-benar berkelahi dengan sekuat tenaga. Bahkan Nurbaiti yang awalnya sangat lemah semakin terlihat liar dengan serangan nya yang cepat dan tanpa melihat siapa lawan nya. Nyi Gusti Ruroh tersenyum melihat muridnya mulai terpancing emosi nya setelah beberapa kali terkena serangan darinya.


" Ayo Baiti, kejar aku!" teriak Nyi Gusti Ruroh yang saat ini mulai memperlihatkan tubuhnya terbang di udara. Kekuatan meringankan tubuh nya Nyi Gusti Ruroh tidak diragukan lagi, padahal usianya sudah tidak lagi muda. Stamina nenek renta itu tidak kalah dengan muridnya yaitu Baiti.


" Guru! Aku akan mengejarmu!!" teriak Nurbaiti yang mulai melayang tubuh nya mengejar gurunya yang sudah terbang meninggalkan dirinya.


" Di mana guru?" pikir Nurbaiti yang saat ini berhenti di atas dahan pohon besar. Matanya mulai mencari keberadaan gurunya itu namun tidak juga ia temukan. Hingga tanpa Nurbaiti sadari, dirinya telah jauh meninggalkan rumah di mana selama ini dirinya tinggali bersama dengan gurunya.


" Di mana aku sekarang? Rupanya Guru telah mengecohku supaya aku pergi meninggalkan rumah itu. Guru, hiks hiks hiks." ucap Nurbaiti kini melesat turun dari dahan pohon itu lalu bersandar di pohon besar.

__ADS_1


" Baiti, aku yakin kamu bisa menjalankan tugas kebaikan ini. Banyak orang-orang baik di dunia ini selain orang-orang jahat." kata Nyi Gusti Ruroh sambil menyegel wilayah kaki gunung itu, supaya muridnya tidak bisa kembali menembusnya dan kembali pulang ke rumah kayu itu.


*****


" Guru, aku tidak akan membuatmu kecewa. Aku akan menegakkan kebenaran di muka bumi ini." gumam Nurbaiti Seraya melesat turun dari dahan pohon itu.


Nurbaiti mulai melanjutkan perjalanan. Tujuan pertamanya saat ini menuju sebuah perkampungan. Dia harus mencari warung makan. Sepanjang hari dirinya belum makan.


' Di sana ada cahaya lampu- lampu. Itu pasti sebuah perkampungan." pikir Nurbaiti. Namun sebelum dirinya melesat mendekat tempat pemukiman penduduk itu, ada sosok bayangan telah mengikutinya. Nurbaiti menghentikan langkah nya dan ingin tahu siapa yang saat ini sedang mengikuti dirinya.


" Keluar dari persembunyian kamu, jangan jadi orang pengecut, hah?" tantang Nurbaiti dengan suara lantang. Namun sampai beberapa saat orang yang mengikuti Nurbaiti sejak tadi tidak juga keluar dari persembunyiannya.


" Aku hitung sampai tiga jika kamu tidak keluar, jangan salahkan aku jika aku bersikap kasar terhadap kamu." kata Nurbaiti. Tidak ada pergerakan dari sosok yang bersembunyi itu. Nurbaiti tahu sosok yang telah mengikutinya saat ini sedang bersembunyi di balik semak belukar yang rimbun. Nurbaiti tersenyum menyeringai.


" Satu... " kata Nurbaiti.


" Dua.... " ucap Nurbaiti.


Suara dentuman terdengar hingga membakar pohon, ranting dan semak belukar di tempat dimana Nurbaiti mengarahkan ajiannya ke sosok yang bersembunyi tersebut. Namun sebelum sosok itu ikut tersapu oleh ajian pelebur jagat tingkat satu, sosok tinggi besar itu telah berada di hadapan Nurbaiti.


" Hebat juga kamu, nona! Usia semuda kamu ternyata sudah memiliki ajian pelebur jagat yang terkenal itu. Apa hubungan kamu dengan Nyi Gusti Ruroh?" tanya pria setengah baya dengan kulit yang dekil dan hitam. Tampak giginya yang ompong tertawa tertawa terbahak- bahak.


" Kamu mengenali guruku?" tanya Nurbaiti. Nurbaiti tidak menyangka jika gurunya termasuk jagoan yang hebat dan diperhitungkan banyak orang. Bahkan ajian pelebur jagat sudah dikenal banyak orang.


" Siapa yang tidak mengenal guru mu yang cantik itu! Walaupun sudah tua dan keriput, Nyi Gusti Ruroh masih terbilang cantik awetnya. Sayangnya dia sudah menolak cintaku. Nurbaiti mengernyitkan dahinya.


" Oh, jadi kakek ini satu angkatan dengan guruku?" tanya Nurbaiti. Pria paruh baya itu terkekeh memperlihatkan giginya yang ompong.


" Aku menjadi penasaran ingin menguji kemampuan kamu. Kamu murid dari Nyi Gusti Ruroh. Jika kamu berhasil menangkis semua serangan-serangan ku, aku akan mengangkat kamu menjadi muridku. Dan aku ingin mewariskan ilmu srigunting kepada mu, nona." janji kakek itu.


" Maaf kek, aku tidak berminat untuk menjadi muridmu. Maaf, aku harus segera pergi." sahut Nurbaiti segera melesat meninggalkan tempat itu. Kakek yang berkulit hitam legam itu seketika terpancing emosinya. Segera saja laki-laki parah baya itu menyerang Nurbaiti dengan srigunting tingkat satu.

__ADS_1


Nurbaiti yang belum siap- siap dengan serangan yang tiba-tiba itu, menjadi terpental hingga beberapa meter. Kakek itu tersenyum melihat Nurbaiti yang ekspresi nya seketika menjadi murka.


" Ayo serang aku! Kerahkan semua kemampuan kamu, bocah!" kata kakek itu.


" Maaf kek, aku tidak bisa menghadapi kamu. Rasanya tidak sopan jika bocah ingusan berduel dengan seorang kakek renta yang sudah lemah." ucap Nurbaiti. Kakek itu semakin merasa diremehkan.


" Sialan! Bocah ingusan sombong sekali kamu! Aku tidak mengira jika murid Nyi Gusti Ruroh akan sesombomg dan seangkuh dirimu." kata kakek itu.


" Kakek, aku tidak sombong. Namun sebagai anak yang lebih muda, sepantasnya menghormati orang yang sudah lemah dan tua. Jadi tidak diperkenankan melawan orang tua." ucap Nurbaiti. Kakek itu mulai mendidih ubun- ubunnya.


" Kurang ajar kau bocah!" umpat kakek itu.


" Aku Ki Braja sewu, akan memberikan pelajaran murid dari Nyi Gusti Ruroh supaya lebih memiliki sopan santun dan adap. Hiatt!!" kata kakek yang menyebut dirinya Ki Braja sewu itu. Kakek itu segera melancarkan serangan nya ke arah Nurbaiti. Nurbaiti masih mengelak dan menghindari nya. Sampai akhirnya Nurbaiti terpaksa harus mengeluarkan ajiannya.


Suara dentuman saling beradu dari kedua serangan yang dilancarkan oleh Nurbaiti dengan kakek Ki Braja Sewu tersebut.


"Ajian pelebur jagat tinggal satu! Hiattt!!!" teriak Nurbaiti.


" Ajian srigunting tingkat satu!" teriak kakek Ki Braja sewu.


Pohon- pohon di sekitar mereka mulai tumbang. Kedua pendekar yang berbeda generasi itu telah memporak-porandakan tempat itu. Mereka masih saling serang dan mengeluarkan kemampuan nya.


Bommm..


Duarrrr..


Hingga pada akhirnya Kekek Braja Sewu menghentikan serangan nya.


" Kamu hebat bocah!" ucapnya sambil menyeka darah yang keluar dari mulutnya.


" Eh, kamu tidak apa- apa kakek?" tanya Nurbaiti. Tidak lama kemudian Braja sewu berjalan dengan tertatih menuju sebuah pohon yang masih berdiri tegak. Kekek itu bersandar di sana dan mencoba mengatur tenaganya. Nurbaiti melihat dengan seksama keadaan Braja sewu.

__ADS_1


" Kamu tidak apa- apa kan kek? Biar aku yang mengobati luka dalam mu." ucap Nurbaiti Seraya duduk bersila di belakang kakek itu dan menyalurkan tenaganya untuk memulihkan luka dalam kakek itu.


__ADS_2