
Tugas yang diberikan gurunya, kakek Braja Sewu telah ditunaikan oleh Nurbaiti lebih cepat dari biasanya. Biasanya Nurbaiti menyelesaikan tugasnya hampir waktu siang habis. Kali ini Nurbaiti bisa menyelesaikan tugasnya sebelum bayangan dirinya tepat di atas kepalanya. Padahal kerjaan yang telah dikerjakan nya itu bertambah banyak. Biasanya hanya mengisi dua bak kayu yang ada di dalam kamar mandi, namun ini bertambah lima drum lagi dengan ukuran yang lebih besar.
Kecepatan meringankan tubuh Nurbaiti semakin hari semakin ada peningkatan. Nurbaiti mampu melesat dengan membawa beban beberapa ember di kedua tangannya. Dari gubuk sampai di sumber mata air di kaki gunung itu cukup jauh jika berjalan kaki bagi ukuran orang biasa. Bagi yang memiliki jurus meringankan tubuh tingkat pertama pun bisa seharian jika mengisi air dengan banyak bak dan drum nya. Lain dengan Nurbaiti. Dia dengan cerdas dan pandai menggabungkan beberapa jurusnya supaya bisa menghimpun energinya supaya lebih cepat melakukan pekerjaan itu.
Beberapa drum telah terisi penuh dan juga bak kayu di dalam kamar mandi. Kakek Braja Sewu tersenyum puas melihat hasil dari tugas yang diberikan kepada muridnya.
Kini kakek mulai menyiapkan beberapa makanan di atas meja batu yang terletak di depan saung. Kakek Braja Sewu tidak mau muridnya lelah, lemas lantaran energinya habis untuk menunaikan tugas-tugas tadi.
__ADS_1
Nurbaiti melihat beberapa menu hasil masakan gurunya. Kakek Braja Sewu tersenyum ketika Nurbaiti melongo dan menelan air liurnya sendiri melihat hasil masakan kakek Braja Sewu tersenyum seperti mie goreng jamur dan daging rusa yang dibuat sambal. Beras yang dibeli Nurbaiti kemarin lusa kini telah dimasaknya menjadi nasi. Lengkap sudah makanan di atas meja itu.
" Ayo kita nikmati makan siang kali ini, Nurbaiti!" ajak Kakek Braja Sewu.
" Apakah semuanya ini kakek yang memasakkan? Kakek meniru masakan yang aku buat tadi pagi." kata Nurbaiti. Kakek Braja Sewu terkekeh.
Nurbaiti mulai mengambil nasi putih, mie goreng jamur dan masakan daging rusa yang dibuat pedas. Nurbaiti dengan lahap menikmati hasil masakan kakek Braja Sewu. Kakek Braja Sewu tersenyum melihat Nurbaiti makan makanan hasil masakan nya dengan sangat rakus. Tanpa mempedulikan sekitarnya Nurbaiti melahap makanan di piring nya.
__ADS_1
" Guru memang luar biasa! Masakan guru benar-benar enak dan lezat! Besok masak lagi yang lain nya guru." kata Nurbaiti. Kakek Braja Sewu seketika menepuk jidat Nurbaiti dengan centong kayu nasi yang ada ditangannya. Nurbaiti meringis kesakitan.
" Habiskan makanan kamu setelah itu aku beri waktu satu jam setelah itu kita mulai berlatih jurus. Kamu harus segera menyelesaikan jurus srigunting keenam sampai ke sepuluh. Supaya tugas dari gurumu Nyi Gusti Ruroh segera kamu jalankan." kata kakek Braja Sewu.
" Jangan buru- buru kakek Braja Sewu! Aku masih betah berada di gubuk ini. Lagipula masakan kakek sangat nikmat dan lezat. Ketika aku kembali melanjutkan perjalanan ku, bagaimana aku bisa menikmati makanan kakek? Aku pasti akan rindu masakan kakek." ucap Nurbaiti. Kakek Braja Sewu seketika menepuk jidat Nurbaiti kembali hingga Nurbaiti kini mengusap jidatnya karena sakit.
" Kakek, kenapa suka sekali menepuk jidat aku sih? Bukannya kakek punya jidat sendiri?" keluh Nurbaiti. Kakek Braja Sewu terkekeh melihat ekspresi Nurbaiti yang cemberut itu.
__ADS_1
" Kamu itu bikin orang gemas, apalagi jidat kamu itu sangat jenong. Itu salah satu tanda kalau kamu sangat cerdas.