SANG PENAKLUK DUA DIMENSI

SANG PENAKLUK DUA DIMENSI
LATIHAN


__ADS_3

Nurbaiti dan juga Siria telah selesai menunaikan tugasnya. Nurbaiti yang mengisi bak dan drum dengan air yang berasal dari sumber mata air di kaki gunung berapi. Sedangkan Siria mencuci kain kotor dan juga beberapa potong pakaian kotor. Kini keduanya duduk di saung, di mana kakek Braja Sewu telah menunggu mereka berdua.


" Aku akan menyiapkan makanan buat guru dan kakak." kata Siria lalu bangkit dari duduknya. Siria mulai mulai membuat masakan dengan bahan yang sudah tersedia di tempat masak itu. Kakek Braja Sewu dan juga Nurbaiti menunggu hidangan dari hasil masakan Siria tersaji di atas meja.


" Tunggu apa lagi kamu, Nurbaiti! Cepat lakukan pemanasan setelah itu kita akan meneruskan jurus srigunting tingkatan ke enam." perintah Kakek Braja Sewu. Nurbaiti mulai turun dari saung itu dan mulai melakukan pemanasan. Kakek Braja Sewu tersenyum melihat Nurbaiti semakin hari semakin lincah dan gesit dalam pergerakannya.


" Oh iya, Nurbaiti, setelah kamu menyelesaikan srigunting tingkatan ke enam kamu harus bersemedi ke dalam goa perawan. Lakukan meditasi di tempat itu untuk menghimpun energi positif di tempat itu. Selain itu taklukkan beberapa makhluk dan arwah penasaran serta jahat yang suka menganggu ketenangan dan kedamaian penduduk. Kau harus bisa membuat arwah-arwah itu sempurna dan kembali ke gudang roh nya." kata Kakek Braja Sewu. Nurbaiti menyimak dengan serius sembari melakukan pernafasan menghimpun tenaga nya.


Kakek Braja Sewu mulai memberikan beberapa gerakan dan diikuti oleh Nurbaiti. Dengan cepat Nurbaiti menghapal setiap gerakan yang diberikan oleh Kakek Braja Sewu. Kakek Braja Sewu tersenyum Nurbaiti melakukan semuanya dengan sempurna dan tidak ada kesalahan sedikitpun.


" Lakukan gerakan ini dengan pelan- pelan dan setelah itu kau percepat gerakan berikutnya dan hantam pada sasarannya. Pusatnya pikiran kamu dan tetap fokus ketika kamu melancarkan serangan." kata Kakek Braja Sewu.

__ADS_1


" Lakukan cepat Nurbaiti!" teriak Kakek Braja Sewu. Nurbaiti dengan cepat mengeluarkan semua energinya dengan salah satu sasaran.


" Hiatt!" Nurbaiti melepaskan serangannya ke atas dimana di atas sangat kebetulan ada burung yang sedang terbang. Ukuran burung itu cukup besar dan seketika jatuh tepat mengenai kepala kakek Braja Sewu.


" Sontoloyo! Nurbaiti! Kau sengaja menjatuhkan burung ini ke kepala aku kah? Kurang ajar sekali kau Nurbaiti!" teriak Kakek Braja Sewu. Nurbaiti meringis menahan tawanya.


" Maaf guru! Ampun, saya benar-benar tidak sengaja! Mungkin saja, burung itu menyukai kakek hingga ingin jatuh di pelukan guru." kata Nurbaiti asal.


" Kau tau, burung tadi jatuh tepat di atas kepala aku! Bukan jatuh dalam pelukan aku. Kamu mengerti?" sahut Kakek Braja Sewu sinis. Tidak berapa lama, Siria tiba dengan dua piring ditangannya. Kakek Braja Sewu seketika tersenyum dan air liurnya keluar.


" Siapa yang menyuruhmu makan, Nurbaiti! Aku masih belum mengijinkan kamu untuk beristirahat dan makan makanan ini." sahut kakek Braja Sewu. Nurbaiti dengan lemas kembali berlatih di halaman. Kini kakek Braja Sewu mulai menyantap makanan itu setelah Siria mempersilahkan makan.

__ADS_1


" Enak kah guru?" tanya Siria dengan senyuman nya.


" Enak sekali, Siria! Kamu memang benar-benar pandai dalam mengolah bahan makanan tidak seperti Nurbaiti yang masakan nya selalu tidak ada yang cocok di lidahku." kata kakek Braja Sewu. Siria terkekeh mendengar pujian kakek Braja Sewu.


Nurbaiti dengan mulut yang cemberut tetap berlatih sampai kakek Braja Sewu menghabiskan semua makanan yang disajikan oleh Siria.


Ketika piring- piring kosong itu telah diberesi oleh Siria, Nurbaiti baru boleh beristirahat oleh kakek Braja Sewu.


" Loh, makanan bagian aku mana guru?" tanya Nurbaiti. Kakek tersenyum sambil mengusap perutnya yang sudah kekenyangan. Nurbaiti menghela nafasnya dalam- dalam lalu melangkah ke dapur untuk mencari makanan untuk dia makan.


" Lapar sekali! Tidak adalah sisa makanan untuk aku Siria? Kakek Braja Sewu jahat sekali, bagian aku dilahapnya." gerutu Nurbaiti.

__ADS_1


" Ini bagian kamu! Aku sudah menyisakan makanan itu untuk kamu di sini. Kalau aku sajikan di sana semuanya pasti akan dihabiskan oleh guru." kata Siria. Nurbaiti berbinar matanya.


" Siria, kamu memang saudara ku yang paling pengertian dan baik." sahut Nurbaiti dan dengan lahap menyantap makanan itu.


__ADS_2