SANG PENAKLUK DUA DIMENSI

SANG PENAKLUK DUA DIMENSI
MURID CERDAS


__ADS_3

Kembali Nurbaiti berlatih kanuragan. Kakek Braja Sewu belum memberikan semua jurus srigunting miliknya. Nurbaiti masih menguasai jurus Srigunting tingkat satu. Sehingga masih sembilan jurus srigunting lagi. Namun setiap satu jurus itu ada tiga puluh gerakan sampai dengan lima puluh gerakan. Nurbaiti harus menghafalkan beberapa gerakan dari sembilan jurus itu.


Untung saja Nurbaiti memiliki otak yang cerdas. Sehingga kakek Braja Sewu lebih cepat memberikan gerakan itu dengan cepat. Setiap kakek Braja Sewu memberikan contoh dari gerakan jurus itu, Nurbaiti dengan sangat mudah memperagakan nya. Sehingga dari jurus tingkatan Srigunting itu mudah dikuasai dan dihapal gerakannya oleh Nurbaiti. Gerakan nya pun antara srigunting tingkat satu dengan tingkatan yang lain tidak keliru dan tidak tertukar. Kakek Braja Sewu menjadi takjub dan benar-benar memuji kepiawaian muridnya itu.


" Dia benar-benar anak didik Gusti Ruroh yang bisa diandalkan. Dia cepat menguasai segala tingkatan jurus srigunting yang aku berikan. Sepertinya jurus srigunting ini benar-benar cocok dengan dirinya." pikir kakek Braja Sewu.


Nurbaiti bekerjasama keras melatih dirinya dengan gerakan- gerakan jurus yang diberikan oleh gurunya kakek Braja Sewu. Kakek Braja Sewu yang memprediksi Nurbaiti bisa menguasai ke sembilan jurus srigunting itu minimal sembilan tahun. Namun dalam kenyataannya belum sampai satu bulan Nurbaiti bisa menguasai jurus srigunting itu sudah ke lima tingkatan.

__ADS_1


Memang benar Nurbaiti berlatih kanuragan itu siang dan malam tanpa mengenal letih. Semangat untuk berlatih tidak pernah surut. Nurbaiti seperti mengejar sesuatu. Namun sebenarnya tidak. Nurbaiti memang tidak membiarkan waktu nya menjadi sia- dia lantaran banyak tidur dan berkhayal menjadi pendekar hebat tanpa berlatih dan berusaha.


Kakek Braja Sewu tersenyum puas melihat setiap hari peningkatan Nurbaiti terlihat signifikan.


" Nurbaiti! Istirahat lah kamu. Jangan berlatih terus! Nanti kalau kamu jatuh sakit, guru mu ini juga menjadi repot. Nenek Gusti Ruroh pasti akan menjadi menyalahkan aku." terang kakek Braja Sewu.


" Guru, selama berguru dengan nenek Gusti Ruroh, tidak sedetikpun membiarkan aku diam beristirahat sebelum aku menghafal betul gerakan-gerakan dari jurus yang diberikan. Walaupun kaki sudah lemas gemetaran, Guru Gusti Ruroh tidak memberi kesempatan aku untuk makan juga." cerita Nurbaiti.

__ADS_1


" Itu tidak benar Guru! Justru karena keras didikan Guru Gusti Ruroh, murid-murid nya bisa cepat menguasai jurus yang diberikan oleh beliau. Aku sangat bangga menjadi salah satu murid nenek Gusti Ruroh.


"Kakek juga sangat bangga memiliki murid seperti kamu, Nurbaiti. Kamu selain cerdas dan cekatan, kamu juga sangat cantik seperti guru kamu, Gusti Ruroh. Seandainya saja..." ucap kakek Braja Sewu.


" Seandainya saja apa Guru?" tanya Nurbaiti dengan mengerutkan dahinya.


" Ah sudahlah! Ayo bocah, kita istirahat dulu! Kakek sudah memanggang daging rusa untuk kita makan bersama." ucap kakek Braja Sewu.

__ADS_1


" Daging rusa? Di mana guru mendapatkan daging rusa?" tanya Nurbaiti sangat ingin tahu.


" Sudahlah, itu jangan kamu pikirkan lagi Nurbaiti! Sekarang kita makan enak hari ini! Apalagi kakek tadi telah menaburi daging rusa tadi dengan rempah- rempah yang komplit. Aroma nya saja sudah tercium sangat menggoda. Pasti rasanya sangat lezat. Ayo kita makan!" ucap kakek Braja Sewu mengajak muridnya ke dalam gubuk nya.


__ADS_2