SANG PENAKLUK DUA DIMENSI

SANG PENAKLUK DUA DIMENSI
MENGISI AIR


__ADS_3

Pagi telah tiba, Nurbaiti kini sedang membuat makanan untuk sarapan gurunya. Kemarin Nurbaiti sudah berbelanja banyak rempah- rempah dan bahan makanan di kota. Sebagai seorang murid, Nurbaiti ingin menunjukkan baktinya kepada sang Guru.


Daging rusa yang kemarin di bawa oleh kakek Braja Sewu hasil berburu nya masih ada di ruang masak. Nurbaiti ingin membuat masakan dari bahan daging. Aroma sudah menyeruak di hidung. Rasanya seperti sangat lezat. Nurbaiti mulai memberikan sedikit makanan itu kepada gurunya, kakek Braja Sewu.


" Guru!! Ini coba cicipi lah masakan dari aku." kata Nurbaiti. Kakek Braja Sewu yang sedari tadi ada di atas pohon segera turun dari atas dahan itu.


" Apa itu, Nurbaiti?" tanya Kakek Braja Sewu.


" Ini daging rusa dengan rempah-rempah yang komplit. Rasanya pasti bikin nagih buat guru. Lalu ini, mie jamur pedas." ucap Nurbaiti dengan kreasi masakannya.


" Yang daging rusa ini namanya apa?" tanya Kakek Braja Sewu sambil terkekeh.

__ADS_1


" Ini namanya dendeng balado dan ini mie goreng jamur pedas bumbu patah hati, guru." ucap Nurbaiti. Kakek Braja Sewu mulai mencicip mie goreng buatan Nurbaiti.


" Nurbaiti, sepertinya kamu cukup berlatih saja dan tidak perlu memasak. Mie goreng kamu ini kebanyakan garam, ini bikin mual guru kamu." ucap kakek Braja Sewu. Nurbaiti sangat penasaran dengan hasil dan rasa masakan nya. Sebelum dirinya memberikan hasil masakin nya kepada Gurunya itu, Nurbaiti telah mencicipi terlebih dahulu. Bagi Nurbaiti rasanya sudah pas, dan tidak ke asinan sama sekali.


Nurbaiti malah menghabiskan mie yang diberikan untuk guru nya tadi. Kakek Braja Sewu seketika melebar matanya lantaran mie goreng nya telah dihabiskan oleh Nurbaiti.


" Kenapa kamu menghabiskan mie goreng milik aku, Nurbaiti?" protes kakek Braja Sewu.


" Aku harus makan apa kalau mie goreng nya sudah kamu habis kan?" tanya kakek Braja Sewu.


" Kakek makan daging dendeng rusa balado itu saja dengan nasi putihnya." ucap Nurbaiti. Kakek itu akhirnya dengan sangat lahap menghabiskan dendeng itu. Nurbaiti sampai menelan ludahnya sendiri.

__ADS_1


" Enak yah kek, dendeng buatan ku?" tanya Nurbaiti.


" Enak banget! Besok kamu buatkan mie goreng untuk aku, karena mie goreng kamu tadi keasinan buat kakek." perintah kakek Braja Sewu.


" Siap kek!" sahut Nurbaiti.


" Sekarang tugas kamu setelah sarapan pagi ini lakukan seperti hari- hari kemarin yaitu mengambil air di sumber mata air di kaki gunung sana. Isi lima drum itu dan dua bak kayu di dalam kamar mandi. Lakukan semuanya itu sebelum matahari di atas kepala kamu." ucap Kakek Braja Sewu.


Nurbaiti melongo. Tugas-tugas nya hari ini sangat sulit. Bahkan biasanya hanya mengisi bak kayu hanya dua saja. Namun ini ditambah dengan lima drum. Benar-benar memerlukan tenaga yang ekstra dan teknik meringankan tubuh tingkat tinggi. Bolak- balik dari gubuk ke kaki gunung itu bisa memakan waktu yang cukup lama. Waktu yang diberikan oleh kakek Braja Sewu adalah sebelum matahari tepat di atas kepala dan bayangan itu tepat di kepala.


" Kamu kenapa bengong? Cepat lakukan atau aku akan memberikan hukuman buat kamu jika kamu gagal melakukannya?" ucap Kakek Braja Sewu dengan suara keras. Tanpa banyak protes Nurbaiti segera melaksanakan perintah dan tugas gurunya itu.

__ADS_1


__ADS_2