SANG PENAKLUK DUA DIMENSI

SANG PENAKLUK DUA DIMENSI
DIKEPUNG HEWAN BUAS


__ADS_3

Nurbaiti tanpa lelah mengambil air di sumber mata air yang letaknya lumayan jauh dari rumah kayu gubuk yang ditempati oleh dirinya dan juga gurunya saat ini. Kakek Braja Sewu. Rasa letih yang dirasakan oleh Nurbaiti tidak di pedulikan olehnya. Sampai tiga bak kayu di kamar mandi itu mulai penuh semuanya.


Nurbaiti meluruskan kedua kaki nya. Dadanya naik turun karena nafasnya masih belum teratur.


Lumayan juga mengangkat air beberapa kali dari sumber mata air sampai di titik ini." gumam Nurbaiti. Kini Nurbaiti melesat ke atas pohon kelapa. Dirinya segera mengambil beberapa buah kelapa yang masih muda. Tentu saja airnya masih manis dan rasanya menyegarkan di leher nya.

__ADS_1


Namun sebelum Nurbaiti benar- benar menikmati air kelapa muda dan beristirahat. Ada beberapa ekor hewan buas berkaki empat mulai mendekati Nurbaiti. Sepertinya sekelompok ekor hewan buas itu hendak menyerah Nurbaiti. Matanya yang bersinar dan menyala hendak memangsa dan menerkam Nurbaiti yang saat ini duduk di bawah pohon kepala.


" Kurang ajar! Berani sekali kalian menganggu istirahat ku, hah?" umpat Nurbaiti yang dengan cepat mengeluarkan pedangnya yang panjang. Segera hewan itu mulai serentak menyerang dan mengepung Nurbaiti.


" Kalian pasti hewan betina yang berani nya main keroyokan. Tidak berani main satu lawan satu." kata Nurbaiti. Nurbaiti mulai mengarahkan senjatanya ke salah satu hewan yang berada di dekatnya. Sasaran Nurbaiti adalah kedua mata hewan itu.

__ADS_1


Nurbaiti mulai menyabet pedang panjangnya ke dua kaki hewan buas yang ada di dekat nya lagi. Hingga hewan itu seperti terduduk dan berguling-guling. Erangan karena suara hewan buas yang kesakitan itu terdengar di tempat itu. Nurbaiti semakin garang hendak memutuskan lehernya. Darah hewan buas itu sudah berceceran di mana-mana. Nurbaiti kini tinggal menghadapi dua ekor hewan buas lagi.


Kedua ekor hewan buas itu kini melompat ke arah Nurbaiti dan siap menerkam Nurbaiti. Nurbaiti yang fokus dengan salah satu ekor hewan buas tadi, akhirnya kena terkam oleh salah satu ekor hewan buas yang berukuran lebih besar diantara yang lain. Nurbaiti berguling-guling dengan hewan buas itu. Nurbaiti hendak menusukkan senjata berbentuk pedang panjang itu ke perut hewan buas itu. Nurbaiti terkena cakaran di lengan nya bagian kiri. Nurbaiti meringis menahan pedih. Namun lantaran sudah mulai emosi di ujung ubun- ubun, akhirnya Nurbaiti mulai menegaskan senjata panjangnya ke leher hewan itu setelah berhasil mengecoh hewan itu dan lepas dari terkaman nya.


Nurbaiti melihat kepala dan badan salah satu hewan itu terpisah dari sana. Darah semakin membanjir tempat itu. Kini tinggal salah satu ekor hewan buas yang masih menatap tajam ke arah Nurbaiti.

__ADS_1


" Kini giliran kamu! Pergi atau kamu akan mengalami nasib yang sama seperti teman- teman kamu yang lainnya." gertak Nurbaiti. Salah satu ekor hewan buas itu mundur beberapa langkah dari sana. Akhirnya tidak berani menyerang Nurbaiti. Seolah mengerti apa yang diucapkan oleh Nurbaiti, seekor hewan buas itu melarikan diri.


__ADS_2