
Seorang wanita tengah berkutat dengan papan penggorengan di dapur. Ia di buat terkejut oleh kedatangan sang suami yang tiba-tiba saja memeluknya dari belakang.
"Selamat pagi, istriku ..." Ucap Zico, Aylin menoleh dan mendapat sebuah kecupan singkat di pipi.
"Pagi juga, suamiku ..." balas Aylin.
"Masak apa hari ini? Wanginya tercium sampai sampai ke dapur. Sepertinya enak."
"Aku masak opor ayam kesukaanmu."
"Uumm .. Pantas saja perutku langsung lapar."
"Iya, tunggu sebentar, ya. Lima menit lagi semuanya siap."
"Iya, sayang."
Zico kembali mencium pipi Aylin sebelum ia melepaskan pelukannya dan duduk di kursi makan besar ukuran persegi panjang.
Pandangan Zico tidak terlepas dari kemanapun Aylin bergerak. Ia beruntung sekali memiliki istri secantik Aylin. Selain cantik, Aylin juga istri yang perhatian, pengertian, pintar memasak dan sedikit manja. Hanya kekurangannya satu, yaitu tidak bisa memberinya keturunan. Tapi di matanya, Aylin tetap wanita yang sempurna.
"Makanannya sudah siap." Aylin ikut duduk di kursi dekat suaminya usai menyiapkan menu makan nya di meja.
Namun Zico terus saja memandangi wajahnya.
__ADS_1
"Sayang .." Aylin melambaikan tangannya di depan wajah Zico, pria itu tersadar dari segala lamunannya.
"Iya, sayang. Kenapa?" tanya Zico sedikit gelagapan.
"Aku kenapa? Kau yang kenapa, sayang? Aku bilang makanannya sudah siap, tapi kau terus memandangi wajahku. Apa yang sedang kau pikirkan?"
Zico mengusap wajahnya, ia sama sekali tidak sadar jika barusan melamun.
"Iya, maaf, sayang. Maaf. Aku merasa bersyukur, aku beruntung bisa memiliki istri sepertimu. Cantik, pintar memasak, perhatian, pengertian. Dan sedikit manja juga. Aku suka semua yang ada pada dirimu. I love you, my wife."
Zico meraih buah tangan Aylin dan mencium punggung tangan tersebut, isa sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari wajah Aylin.
Aylin mengulas senyum yang membuat pria manapun akan jatuh hati jika melihat senyumannya.
"Love you more, my husband. Aku juga sangat bersyukur memiliki suami yang bisa menerima kekuranganku. Aku harap kekurangan yang ada dalam diriku membuatmu tetap setia dan sedikitpun tidak ada niat untuk berpaling pada wanita lain. Tidak ada manusia yang sempurna, tapi sempurnakan lah yang sudah ada," balas Aylin.
Senyum yang terukir di bibir Zico perlahan memudar. Kalimat Aylin seolah menampar dirinya yang baru saja berkhianat semalam.
"Kenapa?" tanya Aylin begitu melihat perubahan ekspresi di wajah suaminya.
Zico mendongak kemudian menggeleng. Ia memasang senyum agar Aylin tidak curiga padanya.
"Tidak, tidak apa-apa. Sekarang kita mulai saja makannya, aku sudah tidak tahan mencium aroma masakanmu. Cacing di dalam perutku sudah meronta-ronta."
__ADS_1
"Iya, aku ambilkan, ya," tawar wanita itu.
"Iya, sayang. Jangan banyak-banyak dulu, ya. Nanti gampang kalau aku mau nambah," pinta Zico di angguki oleh Aylin.
"Iya. Segini cukup?"
"Cukup."
Usai mengambilkan nasi dan lauk pauk ke piring suaminya, kini ia mengambil untuk dirinya sendiri. Sebelum makan di mulai, mereka membaca do'a yang di pimpin oleh Zico sebagai kepala rumah tangga.
Zico dan Aylin mengusap wajah masing-masing usai do'a di bacakan. Barulah mereka mulai makan.
"Bagaimana, enak?" tanya Aylin memastikan.
Zico mengacungkan jempol sebagai jawaban lantaran ia masih sibuk mengunyah.
"Masakanmu tidak pernah gagal, sayang. Aku selalu suka," puji Zico kemudian.
"Terima kasih," ucap Aylin senang.
"Sama-sama," balas Zico kemudian kembali menyantap makanannya.
_Bersambung_
__ADS_1