
Zico dan Aylin saat ini sedang berada di perjalanan menuju acara pesta pernikahan teman nya yang bernama Sitya.
"Bukankah tiga bulan lalu kau mengatakan jika temanmu yang bernama Sitya itu sedang kuliah di Eropa?" tanya Zico mengawali pembicaraan sekaligus membelah keheningan di dalam mobil.
"Ah iya, Sitya mengatakan demikian padaku."
"Lantas kenapa dia mendadak menikah?" tanya Zico lagi merasa ada yang aneh, biasanya Aylin akan menceritakan apapun sekalipun itu tentang temannya.
"Sitya itu pergi Eropa tidak benar-benar kuliah. Dia hanya ingin menghindar."
"Karena?"
"Dia hamil," jawaban Aylin terdengar sedikit mengejutkan.
"Maksudmu dia hamil saat masih berpacaran?"
Aylin mengangguk membenarkan. "Sitya satu-satunya teman yang sedikit berbeda dengan circle pertemanku yang lain. Dia kerap sekali ganti pasangan. Ketika dia merasa bosan, dia akan tinggalkan dan akan mencari pasangan baru. Lalu dia berhubungan dengan Alex, pria nackal dan bagi Sitya Alex itu pria keren. Oleh karena itu akhirnya mereka berpacaran. Dan sekarang Sitya mengandung anak Alex. Dia pergi ke Eropa karena Alex tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya," jelas Aylin panjang lebar.
"Tapi sekarang pria itu mau bertanggung jawab kan? Buktinya sekarang mereka menikah."
__ADS_1
Aylin mengangkat bahunya. "Aku tidak tahu juga kelanjutan ceritanya seperti apa. Tapi Sitya cerita padaku jika dia mulai menyerah dan hampir putus asa karena dia harus menanggung semua itu sendiri. Posisinya dia sedang hamil dan seharusnya Alex ada di sisinya di masa kehamilannya. Tapi Alex malah pergi dan membiarkannya sendiri. Oleh karena itu, Sitya memilih pulang ke rumah dan menceritakan rahasianya pada orang tuanya."
Kalimat Aylin barusan membuat Zico sedikit tersinggung. Mungkin apa yang di alami Sitya itu yang akan di alami oleh Naima.
"Jika aku berada di posisi Sitya, akupun akan memintamu untuk berada di sampingku setiap saat sepanjang waktu. Tapi sayangnya aku tidak akan pernah bisa di posisi itu. Kadang aku merasa jika Tuhan itu tidak adil, pasangan yang sudah menikah bertahun-tahun tidak akan bisa memiliki seorang anak. Tapi pasangan yang sebatas pacaran justru begitu mudah mendapatkan seorang anak." Aylin menunduk, ia sadar diri dengan kekurangannya.
Zico mengusap bahu Aylin dan meraih buah tangan istrinya.
"Jangan bicara seperti itu lagi ya, sayang. Bagi aku, kau adalah wanita sempurna. Ini semua sudah takdir. Kita terima saja apapun yang menjadi pemberian Tuhan, baik itu kelebihan maupun kekurangan. Jangan jadikan kekurangan membuat kita lupa bersyukur atas nikmat yang kita miliki."
Aylin menatap wajah suaminya. Ia tahu suaminya itu bisa menerima kekurangannya. Tapi ia yakin jika jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Zico pasti menginginkan seorang anak sementara ia tidak mampu memberinya. Ia berharap kekurangan yang ia miliki tidak membuat Zico goyah dan berpaling pada wanita yang bisa memberikan apa yang tidak bisa ia berikan.
"Terima kasih sudah datang Aylin," ucap Sitya merasa senang.
"Iya, sama-sama," balas Aylin.
"Ah ya, Aylin. Aku ingin bicara sebentar denganmu boleh?" pinta Sitya penuh harap.
Aylin menoleh pada suaminya yang berdiri di sampingnya. Zico mengangguk mengizinkan.
__ADS_1
"Iya, boleh. Dimana?"
Sitya mengedarkan pandangan mencari tempat yang pas untuk bicara dengan Aylin.
"Di sana." Sitya menunjuk ke salah satu kursi meja tamu yang kosong.
"Iya," sahut Aylin setuju. Ia kembali menoleh ke arah suaminya. "Sayang, aku bicara sebentar dengan Sitya, ya."
"Iya," jawab Zico.
Aylin pun pergi bersama Sitya menuju kursi meja tamu yang kosong tersebut. Sementara Zico masih berdiri di atas pelaminan bersama Alex.
"Jangan jadi pria peccundang yang tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya." Zico melontarkan kalimat itu pada Alex, tentu saja pria itu tersinggung.
"Apa maksudmu?"
Zico tidak menjawab pertanyaan Alex, ia melipir pergi dari sana. Meninggalkan kekesalan di wajah Alex.
_Bersambung_
__ADS_1